Memutuskan untuk menulis kisah ini, tentu tidaklah mudah. Ada banyak pertimbangan yang harus saya pikirkan, agar tak ada yang merasa terluka.
Saya ulangi, agar tidak ada yang merasa terluka.
Benarkah? Entahlah. Sebab, kami semua sudah terluka. Luka yang sepertinya disengaja adanya, agar di antara kami mati perlahan, lalu sirna. Ah! Terlalu mendramatisir sekali. Toh, nyatanya saya dan anak-anak, hingga saat ini masih saling bernyawa, bahkan—tak dapat dipungkiri, jika banyak canda tawa yang telah kami lalui—semenjak semua kejadian buruk itu menimpa nahkoda rumah tangga yang saya jalani.
Jakarta, 27 Juni 2014
Suasana hening. Tidak ada satu pun yang bertepuk tangan, setelah seorang anak laki-laki berusia delapan tahun, membacakan puisi berjudul 'Hujan Tanpa Pelangi' yang dipersembahkan untuk sang Mama. Namanya Adla, dia anak dari sahabat saya Galuh.
Saya menatap Adla masih berdiri di atas panggung, kedua mata teduhnya, terarah ke sosok wanita yang saat itu tengah duduk di kursi penonton, berdampingan dengan saya. Galuh menatap kebingungan, bibirnya gemetar sambil sesekali menarik ujung baju. Meminta agar kami segera pergi dari aula.
“Ini, untuk, Mama,” ucap Adla disusul dengan air mata.
Kesedihan dalam hati Adla, seakan menjalar ke hati semua orang, termasuk saya. Tak ada satu pun yang hadir mampu menahan air mata. Semua turut menangis, termasuk saya. Walau beberapa dari mereka menghapusnya dan berusaha tetap kuat menahan rasa haru yang berhasil dihadirkan oleh anak laki-laki Galuh tersebut.
“Luh, kenapa kamu nggak ngerespon apa yang dibaca sama Adla. Lihat, penonton semua tersentuh dengan puisi anak kamu, Luh.” Saya berbisik pada Galuh yang tampak sedang menahan rasa panik dan takut. “Please, Luh, jangan sekarang. Kasihan, Adla,” sambung saya kemudian.
Adla masih berdiri, berharap, jika sang Mama akan bangkit lalu memberikan Standing applause untuk dirinya.
“Aku ingin pulang, aku takut!” Galuh mendadak berdiri lalu pergi ke luar gedung.
Jujur, saya kaget dan bingung, antara mengejar Galuh atau tetap tinggal dan mendatangi Adla yang tampak menangis.
Galuh Widiastuti. Wanita yang usianya sudah mencapai 34 tahun itu, saat ini tengah mengidap bipolar disorder—suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati. Mulai dari posisi terendah depresif/tertekan hingga ke arah tertinggi/manik. Dan saat ini, ia tengah dilanda kecemasan yang berlebih, karena sosok sang suami—Indra.
Sebelum saya dan Galuh memutuskan untuk menghadiri acara kenaikan kelas di sekolah Adla. Indra sudah berpesan pada sang istri; jika dia tak boleh pergi, lalu saya memaksa Galuh untuk tetap pergi, memberi semangat untuk Adla sang putra, yang kebetulan saat itu ditunjuk sebagai salah satu siswa yang membacakan sebuah puisi karyanya sendiri.
Awalnya, Galuh menolak, karena dia takut akan ancaman yang diberikan oleh Indra. Ya, pria berbadan tambun itu, memang kerap kali mengancam Galuh, dia akan menceraikan sang istri jika mengabaikan apa yang dikehendakinya. Lalu, siang itu, Galuh mendapat telepon dari Indra, bertanya sedang di mana saat ini? Galuh pun menjawab, jika dirinya tengah berada di sekolah sang putra, menghadiri acara akbar yang memang hanya setiap setahun sekali digelar. Mungkin saja, Indra telah mengancam dia lebih dari yang telah dilontarkannya saat pagi. Hingga membuat Galuh segera bergegas dan pergi meninggalkan gedung aula tempat Adla membaca puisi.
Adla tampak masih menangis, isaknya membuat sebagian orang yang hadir ikut menumpahkan air mata.
“Kenapa dia pergi?”
“Bukankah dia Mama Adla, ya?”
“Dengar-dengar, katanya, Mama Adla itu punya penyakit gila yang tiba-tiba kambuh, gitu.”
“Bukannya kasih tepuk tangan untuk anaknya, malah lari ke luar gedung. Aneh!”
Saya mendengar beberapa orang tengah membicarakan Galuh. Tentu saja, sebagai sahabat saya merasa tersinggung. Namun, saya tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali mendatangi Adla ke depan podium.
“Adla, anak hebat, Sayang!” Saya berucap sambil berlutut dan mengepakkan kedua tangan, agar bocah delapan tahun itu mau masuk dalam pelukan saya.
“Kenapa, Mama, pergi, Tante?” Suara Adla terdengar parau dan serak. Sesekali terisak dalam tangisannya yang masih burai di kedua pipinya. Saya berusaha menghapus air mata tersebut. Membujuk bocah itu agar tidak lagi bersedih. “Puisi ini untuk, Mama. Tapi, kayaknya, Mama, nggak suka—“ Adla kembali berseloroh.
“Bukan. Bukan begitu, Nak. Mama Adla ada kepentingan mendadak. Nanti, usai acara, kita temui Mama kamu, ya?” bujuk saya pada Adla.
^^^^
Saya berdiri di halaman rumah Galuh bersama dengan Adla yang masih memakai seragam sekolah lengkap. Lamat-lamat, dari luar saya mendengar pertengkaran terjadi lagi, bahkan, ada sesuatu yang pecah. Entah siapa pelakunya. Namun, yang jelas pasti pertengkaran itu dilakukan oleh Indra dan Galuh.
Saya memegang pundak Adla, mencoba untuk menenangkan dengan cara memegang erat kedua pundaknya.
“Kanapa, Mama sama Papa sering tengkar, Tante?” tanya Adla dengan tubuh sedikit gemetar.
Saya bingung harus menjawab apa pada bocah delapan tahun ini. Ini bukan perkara kecil dan biasa, dua orang dewasa yang telah berumah tangga, harus selalu bertengkar setiap hari, hingga membuat buah hati mereka pun seperti sudah tidak nyaman dengan situasi seperti itu.
“Mama sama Papa kamu nggak lagi tengkar, kok, Nak. Mereka hanya beda pendapat saja.”
Adla terdiam. Tak ada jawaban lagi dari bibir mungil bocah ini. Saya tahu, mungkin saat ini hatinya begitu terpukul harus mendengar gedebum barang-barang pecah dari halaman rumahnya.
Tak berselang lama, Indra ke luar membawa sebuah tas ransel berukuran lumayan besar. Saya menatap begitu dalam pada pria yang saat ini sedang bekerja di salah satu stasiun televisi swasta di di tanah air.
“Papa, mau ke mana?” tanya Adla, boca itu menepis kedua telapa tangan saya yang masih memegang kedua pundaknya, lalu sejurus kemudian, Adla beringsut menuju sang Papa yang tampak membuka pintu mobil. “Papa. Papa mau ke mana?” Adla mengulang pertanyaannya lagi.
“Kerja!” seloroh Indra dengan wajah cuek tanpa peduli dengan sang putra yang sedang berdiri di samping mobil terios bercorak silver miliknya.
Saya segera berjalan menuju Adla, lalu kembali menatap nyalang pada Indra. “Kamu keterlaluan, Ndra!” ujar saya dengan ketus.
Indra membalas menatap nyalang pada saya. “Kamu terlalu ikut campur masalah rumah tanggaku, Meth. Sekarang, urus orang gila itu!”
Setelah berujar demikian, Indra berlalu, menancap pedal gasnya dengan kecepatan tinggi, pergi dari areal rumah Galuh.
Galuh tampak menangis di ambang pintu, mulutnya ternganga, dengan burai air mata yang tak kunjung mengering. Saya lantas menarik tangan Adla untuk segera menghampiri sang Mama.
“Mama, kenapa? Papa bikin Mama nangis lagi, ya?” Adla menyeka air mata Galuh yang memang sudah tumpah ruah.
Galuh menatap sinis pada sang putra, napasnya memburu dengan keadaan bibir gemetar.
Plaaak!!!
Satu tamparan mendarat di salah satu pipi milik Adla. Ya, dengan berapi-api, Galuh menampar bocah delapan tahun itu.
“Anak pembawa sial! Semua gara-gara kamu! Suamiku jadi berpaling!” seloroh Galuh murka.
“Galuh! Apa-apaan kamu! Adla anak kamu sendiri? Luh!” sergah saya sambil mendorong tubuhnya yang membungkuk.
Galuh berteriak histeris, sambil menyugar frustrasi rambutnya sendiri. Wanita berambut gelombang kecoklatan itu saat itu sedang bergelut dengan penyakitnya yang kambuh. Dia berjongkok di tepi pintu sambil terus menangis dan menceracau agar Indra tak meninggalkannya. Entah apa yang telah dilakukan pria asal Ponorogo tersebut, hingga membuat ia murka dan menampar Adla.
Saya memeluk Adla. Dalam situasi seperti ini, tentu saja saya tidak bisa meninggalkan kedua orang yang saling tersakiti tersebut.
Pipi Adla tampak merah, tercetak jelas empat jari milik sang Mama di sana. Saya menangis melihat kejadian itu. Jika kalian menganggap, kenapa Galuh tidak memilih untuk berpisah dari Indra? Atau, membawa Galuh ke psikiater? Semua jawabannya mungkin akan membuat kalian mengelus dada. Galuh tidak pernah mau meninggalkannya, meski kerap kali sang suami menganiaya. Namun, ia tetap pada pendiriannya, karena terlalu mencintai sang suami.