Langit Arkhavel berwarna merah besi ketika perang pecah di dataran Karsen. Panji-panji terbakar, pedang beradu, dan tanah menyerap jeritan seperti dahaga lama yang akhirnya terpuaskan.
“Jangan biarkan mereka menembus barisan!” teriak Jenderal Varkun, suaranya pecah oleh asap. Ia menebas seorang penunggang kuda, lalu berbalik. “Tahan! Demi gerbang timur!”
“Gerbang timur runtuh!” sahut prajurit di sampingnya, terhuyung dengan darah di lengan. “Mereka datang dari bawah!”
Varkun terdiam sepersekian napas. ‘Dari bawah?’ pikirnya. ‘Tak ada terowongan di sini.’
Di sisi lain medan perang, Kael berdiri dengan napas memburu. Ia bukan siapa-siapa, hanya prajurit bayaran yang bertahan hidup dengan insting. Namun, malam itu, kulit di lengannya terasa panas. Simbol samar berdenyut di bawah kulit, seperti tulisan yang ingin keluar.
“Apa itu?” tanya Lira, pemanah yang berdiri di belakangnya. Matanya menyipit. “Lenganmu bercahaya.”
“Tidak apa-apa,” jawab Kael cepat, menutupinya. ‘Jangan sekarang,’ batinnya. ‘Tolong jangan sekarang.’
Dentuman keras memecah tanah. Retakan terbuka, memuntahkan asap hitam dan bau besi tua. Dari celah itu, sosok-sosok berzirah kusam merangkak naik, mata mereka kosong, langkah mereka serempak.
“Itu bukan pasukan mana pun!” teriak Lira. “Mereka tidak bernapas!”
“Semua mundur!” Kael berteriak. “Formasi pecah!”
“Kael, dengar aku!” Lira menarik lengannya. “Simbol itu aku pernah melihatnya di naskah terlarang. Itu tanda ritual.”
“Kau salah,” bantah Kael, suaranya gemetar. ‘Atau jangan-jangan benar?’ Ia teringat mimpi-mimpi darah, bisikan dari tanah, dan suara yang memanggil namanya tanpa wajah.
Di tengah kekacauan, seorang biarawan tua muncul, jubahnya basah darah. Ia menatap Kael lurus-lurus. “Akhirnya kau bangun.”
“Apa maksudmu?” Kael mengangkat pedang. “Mendekat selangkah lagi—”
“Pedangmu tak akan menjawab pertanyaan itu,” potong si biarawan. “Darahmu yang akan.”
Lira menyela, panahnya terbidik. “Siapa kau?”
“Penjaga rahasia yang gagal,” jawabnya lirih. “Lalu, dia.” Jarinya menunjuk Kael. “Kunci yang tersisa.”
Teriakan kembali menggema. Varkun berlari ke arah mereka, helmnya retak. “Jika kalian punya jawaban, katakan sekarang! Pasukan kita runtuh!”
Biarawan itu menarik napas panjang. “Ritual Darah tidak pernah mati. Ia hanya dilupakan.”
Kael menelan ludah. Simbol di lengannya menyala terang, tanah di bawah kakinya bergetar. ‘Aku tidak meminta ini,’ batinnya. ‘Aku hanya ingin hidup.’
“Kael!” seru Lira. “Lihat aku. Apa pun yang terjadi, kau tidak sendirian.”
Ia menatapnya, lalu medan perang yang terbakar. “Jika aku kunci,” katanya pelan. “Maka perang ini bukan kebetulan.”
“Benar,” jawab si biarawan. “Pilihanmu akan menentukan siapa yang bertahan esok hari.”
Dari retakan tanah, sosok terakhir bangkit dan lebih tinggi, lebih gelap, membawa pedang hitam yang berdenyut. Ia berbicara tanpa bibir bergerak.
“Darah telah dipanggil.”
Kael mengangkat pedangnya, jantungnya berdentam. “Kalau begitu,” gumamnya. “Aku akan memaksanya menjawab.”
Perang terus mengaum, dan di bawah jeritannya, sesuatu yang jauh lebih tua akhirnya terjaga.
***
“Apa itu?” Varkun terhuyung, berlutut. “Itu bukan manusia.”
Makhluk tinggi itu mengangkat kepala. Rongga matanya kosong. Namun, suara keluar, berat dan berlapis. “Perang hanyalah pintu. Kalian membukanya dengan darah.”
Kael melangkah mundur setengah tapak. Tenang. Jangan biarkan rasa takut memegang kendali. “Kau dipanggil oleh siapa?” tanyanya lantang.
Makhluk itu menoleh. “Olehmu.”
“Aku tidak pernah—”
“Kau menolak ingatanmu,” potongnya. “Seperti semua sebelum dirimu.”
Lira mendekat, panahnya bergetar di tali. “Kael, simbol di lenganmu berubah.”
Kael melirik. Cahaya itu kini membentuk lingkaran patah, seperti segel yang retak. ‘Apa yang mereka sembunyikan dariku?’
“Biarawan,” serunya. “Jika kau tahu sesuatu, katakan sekarang!”
Biarawan tua itu tersenyum pahit. “Ritual membutuhkan saksi, penjaga, dan pengorbanan. Kau—” ia menunjuk Kael. “Adalah saksi yang hidup.”
“Pengorbanannya siapa?” tanya Varkun kasar.
Biarawan terdiam.
“Jawab!” Varkun menggebrak tanah dengan gagang pedang.
Makhluk itu melangkah maju. Tanah membeku di jejaknya. “Pengorbanan selalu mereka yang bertahan.”
Lira memanah. Anak panah menghantam dada makhluk itu, terpental, patah. “Tidak mempan!”
“Lari!” teriak seorang prajurit.
“Tidak!” Kael justru maju. Jika aku lari, semuanya selesai. “Kau bilang aku memanggilmu. Maka aku juga bisa menghentikanmu.”
Makhluk itu menunduk, seolah menilai. “Coba.”
Kael memejamkan mata. Ia mengingat mimpi-mimpi itu dan tanah berbisik, darah mengalir ke satu nama. Namanya. “Jika ritual ini terikat padaku,” gumamnya. “Maka dengarkan aku.”
Simbol di lengannya membakar. Ia menahan jerit. Jangan pingsan. Jangan lepas kendali.
“Apa yang kau lakukan?” Lira berteriak, panik.
“Mengambil kembali sesuatu yang dicuri dariku,” jawab Kael terbata.
Makhluk itu tersentak. “Tidak mungkin.”
“Diam!” Kael membuka mata. Cahaya redup, berubah gelap. “Kau bukan penguasa perang ini. Kau hanya sisa.”
Makhluk itu meraung. Gelombang hitam menyapu, menjatuhkan prajurit dan musuh sekaligus.
Varkun menyeret tubuhnya bangkit. “Kael! Jika kau mati—”
“Aku tahu!” Kael menoleh sekilas. “Jaga mereka.”
Biarawan berbisik, nyaris tak terdengar, “Ia memilih jalan terberat.”
“Jalan apa?” tanya Lira.
“Jalan yang membuat semua pihak membencinya,” jawabnya. “Namun, memberi dunia kesempatan bernapas.”
Makhluk itu mulai retak, tubuhnya berderak. “Ini belum berakhir.” Suaranya menggema. “Ritual tidak pernah puas.”
Kael menurunkan pedang, napasnya tersengal. “Aku juga belum.”
Ketika makhluk itu runtuh menjadi debu hitam, medan perang terdiam sesaat hening yang menipu. Kael tahu, di balik diam itu, perang baru saja menemukan namanya.
***
Abu hitam melayang, lalu lenyap ditiup angin. Kael berdiri terpaku, pedangnya bergetar di tangan.
“Kael,” panggil Lira pelan, melangkah mendekat. “Kau masih di sini?”
“Aku di sini,” jawabnya, suaranya serak. ‘Atau mungkin sudah terikat di tempat lain,’ batinnya.
Varkun menoleh ke sekeliling. “Pasukan musuh mundur,” katanya heran. “Seolah menunggu sesuatu.”
“Bukan menunggu,” sela si biarawan. “Mereka mendengar.”
“Mendengar apa?” Lira menatapnya tajam.
“Nama,” jawabnya singkat.
Kael mengangkat kepala. “Namaku?”
Biarawan mengangguk. “Sejak malam ini, setiap peperangan akan mencarinya.”
“Itu kutukan,” geram Varkun.
“Atau beban,” sahut Kael pelan. Ia menutup lengannya yang masih hangat. Jika ini harga hidup, aku tak boleh ragu.
Lira menatapnya, mata berkaca. “Kau tidak harus memikulnya sendirian.”
Kael menarik napas panjang, menatap medan yang hangus. “Aku tidak akan,” katanya. “Kita tidak bisa berhenti.”
Di kejauhan, genderang perang kembali dipukul dan perlahan, teratur. Kael mengepalkan tangan. Mereka datang, dan kali ini, bukan hanya untuk bertempur, tapi untuk memburuku.