


oleh Sfrauf · 96 Bab
Aura Keana mengira SMA Cakrawala hanyalah persinggahan membosankan, sampai ia bertemu Arsenio Javas—sang juara bertahan yang kaku dan perfeksionis. Di balik persaingan sengit memperebutkan peringkat pertama, rahasia masa kecil mulai terkuak. Arsen yang dingin ternyata adalah "Seno", bocah cengeng yang dulu selalu Aura lindungi. Kini, meja belajar menjadi saksi bisu adu gengsi dan debar jantung yang tak sinkron. Saat konflik bisnis keluarga di masa lalu membayangi, mereka harus memilih. Tetap menjadi rival yang saling menjatuhkan atau mengakui bahwa cinta jauh lebih rumit daripada soal olimpiade fisika. Ternyata, musuh bebuyutan bisa jadi rumah tempat pulang.
Jakarta itu panas, berisik, dan egois. Setidaknya, itulah yang aku simpulkan saat kakiku pertama kali menapak di aspal SMA Cakrawala. Aku meremas tumbler ungu metalik kesayanganku—benda yang selalu jadi pelarianku kalau merasa gugup. Dinginnya air di dalam sana setidaknya bisa sedikit meredam suhu Jakarta yang rasanya mau membakar seragam abu-abu baruku.
"Ra, jangan melamun. Jalannya tegak," tegur Papa yang mengantarku sampai depan lobi.
Aku mengembuskan napas panjang. "Iya, Pa. Aku masuk dulu."
Aku berjalan melewati koridor yang lantainya begitu bersih sampai aku bisa melihat pantulan wajahku sendiri. Di sepanjang dinding, berjejer piala yang seolah-olah sedang memamerkan prestasi sekolah ini. Aku berhenti di depan sebuah mading digital raksasa. Di sana, tertulis daftar peringkat paralel kelas sebelas.
Mataku tertuju pada satu nama di puncak paling atas.
1. ARSENIO JAVAS – Rata-rata: 98,8
Aku berdecak pelan. Angka itu hampir sempurna. Di samping nama itu, ada foto profilnya. Seorang cowok dengan wajah yang luar biasa tampan, tapi ekspresinya sedingin es kutub. Matanya tajam, seolah-olah dia sedang menatap remeh siapa pun yang berani melihat namanya.
"Kamu murid baru itu, ya? Aura Keana?"
Aku menoleh. Seorang gadis dengan rambut sebahu dan senyum yang sangat ramah menyapaku. Di dadanya tersemat pin OSIS.
"Iya, aku Aura," jawabku sambil mencoba tersenyum balik.
"Aku Zea. Jangan terlalu lama menatap mading itu, nanti kamu kena mental," Zea terkekeh pelan. "Arsen itu nggak bisa disentuh. Dia raja di sini. Pinter, tajam, dan nggak punya perasaan. Kamu lihat headphone putih di foto itu? Dia selalu pakai itu di kelas. Katanya, suara manusia lain itu berisik dan nggak penting buat dia."
Aku menyesap air dari tumblerku. "Masa? Sepertinya dia cuma belum ketemu lawan yang bisa bikin dia melepas headphonenya itu."
Zea mengangkat alis, tampak terkejut sekaligus tertarik. "Wah, aku suka gaya bicaramu. Ayo, aku antar ke kelasmu. MIPA 1."
Begitu aku melangkah masuk ke kelas, suasana yang tadinya riuh mendadak senyap. Puluhan pasang mata menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala. Aku berusaha tetap tenang, memegang tumblerku dengan erat sebagai pegangan.
"Anak-anak, ini Aura. Dia pindahan dari Bandung," kata Pak Bambang, wali kelasku. "Aura, silakan duduk di sebelah Arsen. Arsen, angkat tanganmu."
Di barisan tengah, cowok yang tadi fotonya kulihat di mading perlahan mengangkat tangannya. Dia bahkan tidak melihat ke arahku. Headphone putih melingkar di lehernya, dan dia sedang asyik menulis sesuatu yang terlihat seperti rumus Fisika tingkat dewa.
Aku berjalan ke arahnya dan duduk. "Hai, aku Aura."
Dia hanya melirikku sekilas—sangat singkat sampai aku ragu dia benar-benar melihatku—lalu kembali fokus ke bukunya. "Jangan menaruh botol airmu terlalu dekat dengan buku catatanku. Meja ini kecil, aku butuh ruang."
Suaranya rendah, datar, dan benar-benar tidak ramah. Aku mengerutkan kening. "Meja ini dibagi dua, kan? Aku punya hak di sisi sebelah sini."
Arsen berhenti menulis. Dia menoleh ke arahku, menatapku dengan mata hitamnya yang dalam tapi dingin. "Bicara secukupnya saja. Aku nggak suka berisik."
Aku hampir saja menyemburkan air yang sedang kuminum. Oke, selamat datang di Jakarta, Aura. Kamu baru saja duduk di sebelah robot tanpa perasaan.
Kejutan sesungguhnya baru dimulai di jam pelajaran Fisika. Pak Bambang tiba-tiba menuliskan sebuah soal di papan tulis. Soal olimpiade tentang mekanika yang sangat rumit.
"Siapa yang bisa menjawab ini dalam lima menit? Saya beri poin tambahan untuk UTS," tantang Pak Bambang.
Seisi kelas mendadak hening. Raka, cowok berkacamata yang kudengar peringkat tiga, tampak sibuk mencoret-coret kertasnya dengan wajah berkeringat. Arsen? Dia mulai menulis dengan tenang. Gerakan tangannya sangat stabil, seolah jawabannya sudah ada di luar kepala.
Aku tidak mau kalah. Aku menutup tumblerku, mengambil pulpen, dan mulai membedah soal itu. Memoriku kembali ke saat-saat aku belajar keras di Bandung. Ini soal logika substitusi. Aku tidak butuh cara panjang yang biasa diajarkan di buku.
Dua menit berlalu. Aku meletakkan pulpenku.
"Selesai, Pak," ucapku tenang.
Seluruh kelas menoleh. Arsen yang sedang di tengah-tengah menghitung mendadak terhenti. Dia menatapku dengan dahi yang berkerut tipis.
"Silakan, Aura. Kerjakan di depan," perintah Pak Bambang.
Aku maju, menuliskan jawabanku dengan cepat. Hanya butuh empat baris pengerjaan untuk sampai ke jawaban akhir. Pak Bambang terdiam, memeriksa angka-angkaku, lalu tersenyum lebar. "Tepat sekali! Cara yang sangat cerdas, Aura. Kamu lebih cepat sepuluh detik dari rekor Arsen biasanya."
Aku kembali ke tempat dudukku dengan perasaan puas. Aku melirik ke arah Arsen yang sekarang sedang menatap papan tulis dengan tatapan tajam, seolah sedang menganalisis di mana dia kehilangan waktu.
"Rekormu baru saja pecah," bisikku pelan.
Arsen melirikku. Rahangnya mengeras. Dia tidak bicara apa-apa, tapi dia langsung memasang kembali headphonenya ke telinga, menaikkan volume sampai aku bisa mendengar samar suara musik klasik dari sana. Dia menutup diri sepenuhnya.
Sore harinya, aku pikir aku bisa beristirahat. Tapi Mama sudah heboh menyuruhku mandi dan berpakaian rapi.
"Kita mau makan malam di rumah Pak Bramantyo, Ra. Itu tetangga depan rumah kita yang baru. Ternyata mereka teman lama Papa!" seru Mama semangat.
Aku menghela napas, mengikuti kemauan mereka. Kami berjalan menyeberang jalan menuju rumah mewah di depan. Begitu masuk, seorang wanita cantik menyambut kami dengan pelukan hangat.
"Aura! Kamu sudah besar sekali!" Tante Shinta membelai rambutku. "Ayo masuk. Seno! Turun sini! Teman kecilmu datang!"
Aku mengerutkan kening. Seno?
Lalu, seorang cowok turun dari tangga dengan wajah malas. Dia memakai kaos polo sederhana. Begitu mata kami bertemu, kami berdua membeku di tempat.
"Kamu?" Aku menunjuknya dengan jari gemetar.
"Kamu?" balasnya dengan nada yang sama terkejutnya.
Pak Bramantyo tertawa melihat reaksi kami. "Loh, jadi kalian sudah ketemu di sekolah? Bagus dong! Ra, kamu ingat kan Seno? Anak laki-laki yang dulu sering kamu tangis-tangisin karena mainannya kamu ambil? Dia ini Arsenio Javas, tapi dulu panggilannya Seno."
Aku ingin tertawa kencang saat itu juga. Arsen, si raja dingin sekolah, si jenius yang nggak tersentuh, ternyata adalah Seno. Bocah kecil yang dulu selalu ingusan dan suka sembunyi di belakang ketiak ibunya setiap kali aku gertak.
Aku tersenyum penuh kemenangan, menatap Arsen yang sekarang wajahnya sudah memerah padam karena malu.
"Hai ... Seno," ucapku dengan nada paling manis yang bisa kubuat. "Apa kabar? Masih suka nangis kalau mainannya diambil?"
Arsen mengepalkan tangannya, menatapku dengan tatapan "bunuh diri". Aku tahu, mulai hari ini, takhtanya tidak akan pernah tenang lagi. Karena aku punya rahasia terbesarnya.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel