Seorang gadis berlari terengah-engah di tengah hutan. Kakinya berpacu secepat mungkin, menembus semak dan ranting yang mencambuk kulitnya. Dari arah belakang, terdengar suara berat langkah seseorang tubuh besar dengan wajah tertutup topeng. Di tangannya, sebuah gergaji mesin berlumuran darah terus meraung, memecah keheningan malam.
“Jangan lari, Sayang. Kakimu akan terluka,” ucap pria bertopeng dengan nada lembut yang justru terdengar mengerikan. Ia terus mengejar tanpa henti.
Gadis itu menoleh sekilas, lalu mempercepat langkahnya. Napasnya memburu, matanya liar mencari jalan keluar. Meski kakinya telanjang dan penuh luka, ia tidak merasa sakit sedikit pun. Satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya hanyalah bertahan hidup.
Hutan itu terasa begitu luas, seolah tak berujung. Setiap langkahnya hanya membawanya kembali ke kegelapan yang sama. Ia menjerit sekuat tenaga.
“Tolong! Tolong!”
Suara teriakannya menggema, memantul di antara pepohonan tinggi yang seolah diam menyaksikan penderitaannya. Tidak ada jawaban, tidak ada tanda kehidupan selain raungan serangga malam dan deru mesin pemotong kayu di belakangnya.
Di tempat itu, selain hewan dan pepohonan, tidak ada satu pun yang bisa mendengarnya apalagi menyelamatkannya dari pria bertopeng yang terus mengejar dengan langkah berat dan sabar, seperti pemburu yang menikmati tangisan buruannya.
Keringat menetes dari pelipisnya, bercampur dengan darah yang mengalir dari luka di kakinya. Napasnya tersengal, tubuhnya gemetar. Ia melangkah tersandung akar, lalu terjatuh keras ke tanah lembab. Dedaunan dan tanah menempel di wajah serta lengannya.
Raungan gergaji mesin terdengar makin dekat. Gadis itu menahan napas, merayap perlahan ke balik batang pohon besar. Jantungnya berdetak begitu keras hingga ia takut suaranya akan terdengar.
Langkah berat pria itu mendekat.
“Di mana kau, Sayang?” Suaranya serak, bercampur tawa pendek yang membuat bulu kuduk berdiri. “Jangan sembunyi. Aku tak suka bermain terlalu lama.”
Gadis itu menutup mulutnya rapat-rapat. Matanya menatap tanah, air mata menetes tanpa suara. Ia bisa mencium bau bensin dari gergaji mesin, bisa mendengar desis napas di balik topeng itu.
Hening.
Ia berpikir pria itu telah pergi, sampai suara langkah berat itu tiba-tiba berhenti tepat di belakang pohon tempatnya bersembunyi.
“Oh Tuhan, selamatkan aku,” batinnya lirih sambil meneteskan air mata.
Suasana kembali hening. Hanya suara dedaunan yang bergesekan pelan dihembus angin malam. Gadis itu menunggu beberapa saat, menahan napas sebelum memberanikan diri melangkah keluar dari tempat persembunyian.
“Apa dia sudah pergi?” bisiknya nyaris tak terdengar, bertanya pada diri sendiri.
Langkahnya tertatih, perlahan menyeret kaki yang terluka parah oleh sayatan besar di betis. Setiap gerakan membuat darah menetes di tanah, meninggalkan jejak samar.
Malam terasa makin pekat. Udara di sekelilingnya menekan, seolah hutan itu sendiri tidak ingin melepaskannya.
Saat sedang menyeret kakinya yang luka, tiba-tiba sesuatu menarik rambutnya dengan keras.
“Mau pergi ke mana, Sayangku?” Suara bariton berat itu kembali terdengar, dalam dan menyeramkan. Pria bertopeng itu berdiri di belakangnya, kali ini berhasil menangkapnya dan membuat tubuh gadis itu terjatuh ke tanah.
Gadis itu menjerit dan meronta sekuat tenaga. “Lepaskan aku! Tolong! Tolong!” Suaranya pecah di antara tangis dan ketakutan.
Pria itu tertawa pelan, tawa yang terdengar seperti raungan rendah dari binatang buas.
“Ayo pulang, Sayang. Jangan berkeliaran larut malam seperti ini,” ucapnya tenang sambil menarik rambut gadis itu makin keras, membuat tubuhnya terseret di atas tanah yang penuh ranting dan batu tajam.
“Aku mohon lepaskan aku! Ampun! Tolong!” Gadis itu berteriak putus asa, suaranya parau menembus dingin malam.
Si pria menunduk, menatap wajah gadis itu dari balik topengnya yang kotor dan berlendir darah. “Kita pulang dulu, Sayang,” katanya datar. “Kita bicara di rumah.”
Ia menarik paksa tubuh gadis itu dengan sekuat tenaga, meninggalkan jejak seret panjang di tanah hutan yang lembap dan gelap.
Lama gadis itu diseret hingga seluruh tenaganya habis. Tubuhnya lemas, matanya buram oleh air mata dan debu tanah. Ketika si pria akhirnya berhenti, tubuhnya terlempar begitu saja ke sebuah ruang tamu.
Tempat itu terdapat tiga tubuh tergeletak dan darah di mana-mana. Bau anyir menusuk hidung, membuat perutnya mual. Ia ingin menjerit, tetapi suaranya sudah habis.
“T-tolong lepaskan aku. Aku ingin pulang,” katanya lirih, suaranya bergetar karena ketakutan.
Pria itu menatapnya dari balik topeng yang mulai terangkat separuh. “Kita sudah di rumah, Sayang. Mau pulang ke mana lagi, huh?” tanyanya sambil melepaskan topeng itu sepenuhnya.
Gadis itu menatap wajah di balik topeng itu wajah pucat dengan mata kosong, seperti tak lagi mengenal batas antara manusia dan monster.
“Jangan bunuh aku, kumohon, ampun,” desisnya pelan, hampir tanpa tenaga.
“Sudah, sudah. Jangan menangis,” ucap pria itu lembut, kontras dengan darah yang masih menetes dari tangannya. Ia menyentuh pipi gadis itu, menghapus air mata dengan ujung jarinya. “Ayo tidur. Kau pasti lelah.”
Tanpa memberi kesempatan melawan, ia menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya, lalu memasang rantai borgol di salah satu pergelangan tangannya. Dengan mudah, ia mengangkat tubuh yang lemas itu dan membawanya ke lantai atas.
Sesampainya di kamar, pria itu membaringkan sang gadis dengan lembut, seolah ada kasih dalam gerakannya. Ia mengikat ujung rantai yang lain pada tiang ranjang, memastikan tak ada jalan kabur.
“Kau haus, kan? Ayo minum,” ucapnya, menyodorkan segelas air putih dan sebutir pil kecil. Pil itu adalah obat tidur.
Gadis itu menggeleng pelan, air mata kembali jatuh dari sudut matanya.
“Tak apa,” katanya lagi dengan nada sabar. “Ini tidak berbahaya. Ayo minum dan tidur dengan baik. Jadilah penurut.”
Tanpa kekuatan untuk menolak, gadis itu menatapnya sejenak lalu menelan air dan pil itu dengan gemetar.
“Gadis pintar,” bisik pria itu sambil tersenyum tipis. “Tidurlah. Aku akan membereskan pekerjaanku.”
Ia menunduk, mencium kening sang gadis dengan lembut, lalu menyelimuti tubuh yang penuh luka itu, seolah memperlakukan korban sebagai sesuatu yang berharga.
Di luar kamar, pria itu sibuk membersihkan tiga mayat yang berserakan di lantai. Ia menyeret satu per satu tubuh tak bernyawa itu menuju ruang bawah tanah.
Satu mayat diletakkannya di atas meja besi berkarat, sementara dua lainnya ia masukkan ke dalam peti es besar di sudut ruangan.
“Kalian akan menjadi furnitur yang bagus,” gumamnya sambil tersenyum tipis.
Tangannya bergerak cekatan, menguliti mayat di hadapannya dengan keahlian yang mengerikan seolah ia sudah terbiasa melakukannya.