Hujan baru saja berhenti ketika Nadia memasuki tempat pembuangan barang bekas di pinggir kota.
Tanah berlumpur menempel pada sol sepatunya. Udara dipenuhi bau besi basah, oli, dan tanah yang lama tertutup sampah. Di kiri-kanan, tumpukan kendaraan tua menjulang seperti bukit-bukit kecil. Kabel kusut bergelantungan dari badan mesin yang sudah tidak memiliki roda. Sesekali terdengar suara tetesan air jatuh dari lembaran seng ke genangan di bawahnya.
Nadia menarik tudung jaketnya.
"Seharusnya aku tidak datang sendirian."
Ia menghela napas, lalu menatap daftar barang yang dibawanya.
Sebuah baterai lama. Dua kabel tembaga. Motor penggerak kecil.
Itulah yang dicarinya.
Bukan karena ia menyukai barang bekas, melainkan karena Nadia sedang memperbaiki sebuah pesawat kecil rakitannya sendiri. Pesawat itu belum mampu terbang jauh, bahkan belum benar-benar pantas disebut pesawat luar angkasa. Namun, Nadia memiliki satu keyakinan yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Suatu hari nanti, ia akan meninggalkan Bumi.
Ia menyelipkan kertas itu ke saku.
"Kalau aku menemukan motor penggeraknya, tinggal memperbaiki sistem tenaga."
Nadia berjalan lebih dalam.
Kakinya berhenti ketika terdengar bunyi aneh.
Krek.
Ia menoleh.
Tidak ada apa-apa.
Hanya tumpukan televisi tua dan badan mobil yang berkarat.
Nadia melanjutkan langkah.
Krek.
Kali ini lebih jelas.
Ia berhenti lagi.
"Siapa di sana?"
Tidak ada jawaban.
Angin menyusup melewati celah-celah bangkai kendaraan. Sebuah pintu mobil yang menggantung bergerak perlahan.
Kreeek.
Nadia menelan ludah.
Tangannya meraih batang besi kecil yang tergeletak di tanah.
"Kalau ada orang, keluar."
Tetap sunyi.
Rasa ingin tahu perlahan mengalahkan rasa takut.
Nadia mengangkat batang besi itu dan mendekati sumber suara. Ia menyingkirkan lembaran logam, kardus basah, dan beberapa bagian mesin.
Sebuah tangan logam muncul dari bawah tumpukan.
Nadia tersentak mundur.
"Astaga!"
Batang besi di tangannya hampir terlepas.
Ia menatap tangan itu beberapa detik.
Tidak bergerak.
Nadia mendekat lagi.
Tangan tersebut jelas bukan milik manusia. Jari-jarinya terbuat dari logam tua yang sudah berubah warna. Ada kabel mencuat dari pergelangan, beberapa di antaranya terputus.
"Robot?"
Nadia berjongkok.
Dengan hati-hati, ia membersihkan puing-puing di sekitarnya. Sedikit demi sedikit, tubuh sebuah robot terlihat.
Ukurannya hampir setinggi manusia. Tubuhnya kurus, dilapisi pelindung logam yang penuh goresan. Salah satu bahunya penyok. Mata kirinya retak, sedangkan mata kanannya tertutup lapisan debu tebal.
Di bagian dadanya terdapat lambang aneh.
Sebuah lingkaran dengan tiga garis menyerupai orbit planet.
Nadia menyentuh lambang itu.
Dingin. Namun, sepersekian detik kemudian, lambang tersebut menyala.
Cahaya biru menjalar seperti urat nadi ke seluruh tubuh robot.
Nadia langsung berdiri.
"Jangan-jangan ...."
Mata robot itu terbuka.
Satu cahaya biru menyala di tengah wajahnya.
Kepalanya bergerak perlahan.
"Sistem gagal."
Nadia membeku.
Robot itu mencoba bangkit, tetapi salah satu lututnya langsung ambruk.
Brak!
"Hei!"
Nadia refleks menangkap bahunya.
Robot tersebut menoleh.
"Identifikasi lokasi."
"Tempat pembuangan barang bekas."
"Planet?"
Nadia mengerutkan kening.
"Bumi."
Robot itu diam.
Cahaya pada matanya berkedip tiga kali.
"Bumi."
Suaranya terdengar serak, seperti radio tua yang baru dinyalakan.
"Masih ada?"
Nadia terdiam.
Pertanyaan itu terasa aneh.
"Tentu saja masih ada. Kau kira Bumi sudah hilang?"
Robot tersebut tidak menjawab.
Ia justru menatap langit yang terlihat di antara celah atap seng.
Kemudian tubuhnya bergetar.
"Berapa tahun?"
Nadia mengerutkan kening.
"Berapa tahun apa?"
"Sejak kapal induk jatuh."
Dada Nadia terasa sesak.
"Kapal induk?"
Robot itu menatapnya.
"Apakah Armada Orion masih beroperasi?"
Nadia menggeleng perlahan.
"Aku tidak pernah mendengar nama itu."
Robot itu terdiam.
Untuk pertama kalinya, Nadia melihat sesuatu yang menyerupai kegelisahan pada gerakan mesin tersebut. Kepalanya menunduk.
"Berarti mereka gagal."
"Siapa mereka?"
Robot itu tidak menjawab.
Sebaliknya, ia mencoba berdiri.
Nadia membantu menarik tubuhnya keluar dari tumpukan rongsokan.
Beratnya luar biasa.
"Namamu siapa?" tanya Nadia.
Robot itu diam cukup lama.
"Roko."
"Nah, Roko. Kau tahu kenapa kau ada di sini?"
"Ya."
Nadia menunggu.
Roko mengangkat kepalanya.
"Aku sedang menunggu seseorang."
"Siapa?"
"Penjelajah."
Nadia hampir tertawa.
"Di tempat seperti ini?"
"Ya."
"Sudah berapa lama?"
Roko menatapnya.
"Seratus tujuh puluh dua tahun."
Senyum Nadia langsung hilang.
Hujan yang tersisa menetes dari ujung atap.
Tik tik tik.
Nadia menatap robot itu dengan wajah tidak percaya.
"Kau bercanda?"
"Aku tidak memiliki fungsi untuk bercanda."
"Kalau begitu, siapa yang kau tunggu?"
Roko mengangkat tangan dan menunjuk dada Nadia.
Nadia refleks melihat dirinya sendiri.
Tidak ada apa-apa.
"Kau."
Nadia mundur satu langkah.
"Aku?"
"Ya."
"Mengapa?"
Roko tidak menjawab.
Tiba-tiba terdengar bunyi pendek dari tubuhnya.
Tit.
Sebuah panel kecil terbuka di dadanya.
Di balik pelindung logam itu terdapat sebuah kristal biru yang menyala terang.
Nadia mendekat.
Cahaya kristal tersebut memantul pada wajahnya.
"Apa itu?"
"Koordinat."
"Koordinat menuju mana?"
Roko mengangkat tangan dan menyentuh kristal itu.
Seketika sebuah gambar muncul di udara.
Bintang-bintang.
Planet.
Garis-garis cahaya yang membentuk jalur panjang di antara keduanya.
Nadia terpaku.
Ia belum pernah melihat peta seperti itu.
"Ini."
"Tujuan terakhir Armada Orion."
Sebuah titik merah berkedip di ujung peta.
Nadia mendekat.
"Planet apa?"
"Belum diketahui."
"Belum diketahui?"
"Karena tidak ada kapal yang pernah kembali."
Nadia merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Jadi, mengapa kau ingin pergi ke sana?"
Roko menatapnya.
"Aku tidak ingin pergi."
Nadia mengerutkan kening.
"Lalu?"
"Aku harus mengantarmu."
Sebelum Nadia sempat menjawab, terdengar suara gemuruh dari kejauhan.
Grrrmmm.
Tumpukan logam bergetar.
Nadia menoleh cepat.
"Apa itu?"
Roko mendadak diam.
Mata birunya berubah menjadi merah.
"Bahaya."
"Apa?"
"Jangan bergerak."
Terlambat.
Dari balik pagar tempat pembuangan, muncul cahaya putih menyapu seluruh kawasan.
Nadia menyipitkan mata.
Suara mesin terdengar semakin dekat.
Sebuah kendaraan hitam tanpa tanda melayang rendah di atas tumpukan rongsokan.
Lampunya menyapu tanah.
Kemudian berhenti tepat di tempat Nadia dan Roko berdiri.
Nadia berbisik, "Siapa mereka?"
Roko menarik lengannya.
"Kita harus pergi."
"Ke mana?"
"Ke pesawatmu."
Nadia menatapnya tajam.
"Bagaimana kau tahu aku punya pesawat?"
Roko tidak menjawab.
Kendaraan hitam itu menurunkan sebuah benda berbentuk bulat. Benda tersebut jatuh ke tanah dan membuka empat kaki logam.
Sebuah drone pencari.
Lampu merah menyala pada tubuhnya.
Suara mekanis menggema.
"Objek ditemukan."
Nadia menggenggam batang besi.
Roko berdiri di depannya.
Tubuh tua robot itu bergetar, tetapi kedua tangannya mengepal.
"Roko."
"Berjalanlah."
"Kau mau melawan benda itu?"
"Tidak."
Roko menoleh.
"Aku akan memastikan kau selamat."
Drone tersebut mengangkat senjata.
Nadia menarik napas.
Di belakangnya, tumpukan rongsokan menghalangi jalan.
Di depannya, drone mulai mengunci sasaran.