"Bunda, Pak Guru, aku mau ke toilet, ya.”
Seorang gadis dengan rambut kepang akan pergi sejenak. Kedua orang tua yang dimintai izin pun mengangguk.
Zahra, putri pertama Dalia. Larinya kencang dan gerakannya selalu seperti seorang anak laki-laki.
Wanita yang memiliki dua anak tersebut tersenyum manis kepada putri pertamanya yang sudah hilang di balik gedung. Sementara sosok pria di depannya ikut tersenyum gemas pada wajah imut dari Zahra.
"Dia sudah banyak berubah, semoga saja dia tetap menjadi seorang anak yang penurut." Zuan merasa bahagia saat salah satu murid hiperaktif akhirnya bisa ia ubah dalam waktu hampir dua tahun menempuh pendidikan di Taman Kanak-kanak.
Sebagai seorang ibu yang melahirkan putrinya, Dalia sangat bahagia dengan perubahan itu.
"Terima kasih banyak, Pak Zuan. Ini semua berkat Anda." Dalia tampak sangat senang sekali. "Dulu anak saya sangat nakal. Dia hiperaktif. Sejak berada di sini, dia menjadi anak yang penurut."
"Sebenarnya itu bukan saya yang mengubah Zahra," ungkap pria itu menundukkan kepalanya, tidak mau menatap wanita yang ada di depannya. Begitu pula dengan Dalia, dia memandang ke arah lain.
"Saya melihat sendiri kalau Pak Zuan yang melakukannya."
Dalia sedikit protes dengan pria yang terlalu baik baginya. Dia tidak mau menghilangkan kebaikan dari guru Zahra tersebut.
"Ini berkat kemauan Zahra sendiri."
"Maksud Anda?" Dalia butuh penjelasan rinci.
"Ehem ... sebenarnya ...."
Tiba-tiba Zuan ragu akan sesuatu. Lagi-lagi tidak kesampaian saat ia ingin mengungkapkan sesuatu.
"Jika ada masalah yang berkaitan dengan Zahra, tolong katakan kepada saya! Apa pun yang menyangkut anak saya, tentu setuju sekali."
Dalia antusias dan serius.
Pria itu belum ingin menjawab. Pikirannya seperti terganggu beberapa saat oleh suara ramai anak-anak yang mengenakan seragam. Mereka riang sekali bermain di tanaman bunga yang menjadi indah sejak lama.
Siapa lagi yang melakukan hal ini kalau bukan Zuan, guru paling disayang murid. Hal itu juga tidak bisa menghilangkan rasa kagum Dalia pada sosok pria yang umurnya satu tahun lebih muda dari Dalia.
Baginya masih muda karena Zuan berstatus lajang. Tapi dia sudah berpengalaman soal mengurus anak kecil. Sementara Dalia kini sudah berumur 30 tahun dan kerutan halus juga belum muncul sama sekali sehingga wanita itu terlihat awet muda.
"Maaf sebelumnya."
Pria itu menarik napas lebih panjang dari biasanya.
Dalia masih menunggu dengan kesabaran dan rasa penasaran.
"Sebenarnya ia membutuhkan seseorang." Akhirnya kini yang terpendam tidak lagi hanya sampai di kerongkongan meski samar.
Dalia belum bisa mengerti. "Seseorang siapa? Apa Zahra memiliki seorang teman?"
Pria itu menggeleng kecil. Saat itu juga Zahra sudah kembali. Gadis kecil itu tersenyum kepada Pak Guru serta ibundanya, kemudian melanjutkan permainannya.
"Dia membutuhkan sosok seorang ayah."
Dalia merasa tertegun. Tentu saja itu membuat Dalia tidak enak hati.
Zuan merasa bersalah setelah mengatakannya. "Maaf. Saya tidak bermaksud untuk—"
"Itu tidak apa-apa. Mungkin yang Pak Zuan katakan memang benar," potong Dalia. Hanya saja perasaan Dalia jadi ganjal. Dalia tidak pernah menceritakan hal ini kepada pria itu, dia merasa aneh saat Zuan mengetahui jika anaknya tidak dekat dengan Arzam.
Timbul pertanyaan serta pikiran macam-macam di dalam otaknya. Matanya memicing ke arah Zuan karena curiga.
"Bu Dalia jangan marah!" Pria itu bersikap siaga.
Dalia terkejut sendiri dan mengubah ekspresi wajahnya. Ia terdiam dengan pikiran berkelana. Saat itulah Zuan pamit untuk melanjutkan pelajaran. Mendengar bel pertanda masuk, anak-anak kembali masuk ke kelas.
Sesaat kemudian Dalia termenung.
Berdosakah aku bila mencurahkan isi hati pada seorang pria lain dan membicarakan keburukan suamiku?
Dalia merasa bersalah, memang tidak semua ia ungkapkan. Tetapi sikap tidak peduli seorang ayah terhadap anak membuat Zahra berbeda dengan anak lain. Dia lebih suka bermain dengan anak laki-laki ketimbang anak perempuan.
“Kayaknya asyik banget mengobrol dengan Pak Zuan?”
Viana duduk di sebelah Dalia yang sejenak melamunkan keluarganya. Sejak tadi Viana memandangi Dalia dan Zuan dari kantin sekolah saat bersama ibu-ibu yang lain. Yang Viana tangkap, keduanya tampak begitu dekat.
Wanita itu tersenyum tipis. “Kami membicarakan masalah Zahra. Kamu tahu sendiri jika Zahra sering kali berbuat ulah.”
“Ah, iya, itu benar sekali. Karmila sering dibuat nangis oleh Zahra.”
“Tapi sekarang Zahra sudah menjadi anak yang baik, loh,” timpal seorang ibu-ibu bersama rombongannya.
“Benar. Waktu itu Zahra buat Riva nangis. Beberapa hari lalu Zahra minta maaf sambil ngasih es krim.”
Dalia lega sekaligus diam-diam dia bangga kepada putri pertamanya.
Drrrt!
Ponselnya tiba-tiba berdering dari dalam tas. Dalia segera meraih benda pipih itu.
“Ada apa, Mbak Rin?”
“...”
“Baiklah, Mbak. Sebentar lagi saya pulang.”
Dalia menggigit bibir bawahnya dengan perasaan hati yang tidak enak.
Viana yang rumahnya ada di seberang jalan, tepat depan rumah sudah bisa menebak. “Pasti Vanya ngamuk lagi, ya?”
Dalia menatap wanita di sampingnya, kemudian mengangguk.
Saat itu bel pulang sekolah. Semua wanita yang menunggu anak-anak mereka antusias mendengar kabar anak-anaknya yang akan memberitahukan nilai hari ini.
“Pak Guru, Zahra senang sekali bisa dapat nilai seratus!”
Celoteh Zahra membuat Dalia beranjak dari duduknya. Dia tengah ada di gendongan Zuan.
“Zahra, turun! Tidak boleh seperti itu!”
Dalia tidak enak hati pada Zuan, melihat putrinya seenaknya melakukan itu.
“Tidak apa-apa. Zahra jangan dimarahi.”
Zuan tampak tidak keberatan, tetapi Dalia sebenarnya merasa kurang enak.
Sedetik kemudian, Zuan menurunkan Zahra.
“Bunda, Zahra dapat nilai seratus, loh.”
“Oh, ya? Itu bagus sekali.”
Dalia mengacak gemas rambut putrinya. Tentu semua ibu akan bahagia saat anaknya membawa kabar bagus.
“Rajin-rajin belajar, ya! Jangan nakal dan mendengarkan kata bunda!”
Zuan berjongkok dan mengingatkan Zahra dengan lembut, dan Zahra menanggapinya dengan mengangguk.
Perasaan Dalia menghangat melihat pemandangan yang ada di depannya, tidak pernah rasanya suaminya sendiri memperlakukan ini kepada putrinya. Padahal ia adalah anak kandungnya.
Saat berangkat tadi pagi bahkan Arzam pergi saat kedua putrinya tengah tidur pulas.
***
“Mas, tidak bisakah kamu memberikan waktu untuk anak-anak? Sehari saja.”
Raut wajah memohon dari Dalia hanya dibalas dengan wajah datar suaminya.
“Aku sibuk. Lain kali, ya.”
Pria itu pergi setelah Dalia mencium punggung tangannya.