


oleh Eliyona · 136 Bab
Aku memutuskan menjadi penulis novel setelah resign, tapi tulisanku seakan mengandung kutukan. Tulisan itu hanya fiksi. Karyaku hanya imajinasi isi kepala, lalu kenapa semua menjadi kenyataan setelah novel aku tamatkan. Apakah aku gila? Atau memang benar kalau aku pemilik lidah bertuah?
Aku menerobos masuk ke dalam rumah.
Bruk!!
Rasa kesal membuatku tak lagi bisa mengontrol emosi. Aku melempar tas kerjaku ke lantai. Ibu yang sedang menonton televisi, langsung menoleh. “Kamu kenapa, Nduk?” tanyanya. “Kok sampai main lempar tas begitu?”
Tanpa menjawab, aku langsung masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan kasar.
Brak!!
Engsel berderak, suasana ruangan terasa panas. Kubanting tubuh di atas kasur, menatap langit kamar. Pikiranku menerawang, sejenak mengingat kejadian yang membuatku sakit hati.
Tak lama, suara pintu diketuk pelan, kemudian dibuka. Ibu masuk dengan wajah cemas, mengambil duduk di samping ranjang, lalu mengelus pundakku lembut. “Ada apa, Nduk? Kenapa kamu emosi begitu?”
Aku menghela napas panjang. Melirik Ibu tanpa membalas. Emosiku belum reda, emosi masih membuncah.
“Nduk,” tutur Ibu, suaranya masih lembut, menyejukkan. “Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri. Ceritakan sama Ibu, biar kamu merasa tenang.”
Penuturan Ibu membuat amarahku mereda. Aku langsung beranjak, mengambil posisi duduk, menatap Ibu. Suaraku gemetar saat mulai bicara, “Aku capek, Bu,” desisku. “Bos di kantor selalu saja mencari kesalahanku.”
Ibu mengernyit.
Aku kembali melanjutkan. “Apapun yang kulakukan selalu salah, bahkan bernapas pun, aku salah. Dia selalu membesar-besarkan masalah kalau itu terkait denganku. Masa tadi waktu aku memberikan laporan, dia bilang SK berubah. Kapan? Kalau berubah kenapa tidak didiskusikan terlebih dahulu. Katanya sudah meeting. Ya kali, meeting nggak melibatkan aku.”
Ibu menatapku dalam. “Nduk, Sabar. Jangan emosi, opo sing ditandur bakale cukul. Biarkan saja, nggak usah diambil hati.”
Aku mencebik. “Bagaimana nggak diambil hati, Bu. Aku lho sudah menunduk bahkan sampai ndlosor, dia saja yang NPD,” cuapku.
Ibu mengangguk perlahan, mendengarkan keluhanku. “Sabar. Wes, sekarang cuci kaki, makan. Lalu tidur, biar hatimu tenang.”
“Nggak, Bu. Malas aku.” Aku mencelos, mengambil gawai dan mulai memainkannya.
“Mbokyo, jangan begitu. Kalau kamu nggak makan, nanti sakit bagaimana?” Ibu beranjak dari ranjang, bersiap menuju pintu. “Cuci kaki, jangan langsung tidur.”
“Ibu ini cerewet sekali! Ntar aku juga cuci kaki kok.” Aku terus memainkan gawaiku.
“Sebelum masuk rumah, cuci kaki dulu. Wetonmu itu balung wangi, sensitif sama hal gaib.”
Penuturan Ibu, jujur membuatku kesal. Dia terlalu percaya dengan hal gaib, padahal itu belum tentu nyata.
“Aku masih kesal, Bu. Rasanya pengen nyumpahin Mak Lampir itu.”
Ibu menoleh. “Mak Lampir?”
Aku mengangguk. “Iya, aku menyebut Bu Wati itu Mak Lampir.”
Aku melihat Ibu mengelus dada sambil menggeleng pelan. Aku kembali melanjutkan, “Aku yakin, besok dia pasti cari gara-gara lagi. Semoga saja dia kecelakaan atau apalah, biar nggak masuk kerja.”
Ibu membulatkan mata, berkata dengan nada tinggi, “Hust, jangan bilang begitu! Gak ilok! Wetonmu itu maedahi, omonganmu itu bisa jadi kenyataan!”
Aku mencebik, selalu saja dikaitkan dengan takhayul. “Aku nggak percaya itu.”
“Nggak percaya? Berapa kali kamu asal nyerocos, bilang ada orang mau mati? Ternyata beneran terbukti, orangnya mati. Ati-ati, Nduk."
“Ibu masih saja begitu, itu hanya kebetulan, Bu. Kalau benar apa yang aku katakan menjadi kenyataan, aku mau wanita setan itu mati. Kalau bisa ketabrak truk, tubuhnya hancur!”
Plak! Tamparan keras tiba-tiba mendarat cepat. Aku kaget, spontan memegang pipi.
“Hust! Gak boleh ngomong gitu! Gak ilok!”
Aku menatap Ibu dengan mata panas. “Biarin! Dia harus kapok! Minimal ketabrak motor. Kalau nggak bisa mati, ya cacat!”
Wajah Ibu pucat. Tangannya langsung mengetuk dahinya, lalu tembok. Aku hitung tiga kali dia melakukan hal aneh itu.
“Amit-amit, Gusti, pun ngrungokake omongan lare ngawur!” Ibu lalu menatapku tajam. “Wetonmu itu sekti, Nduk, balung wangi sama ilat geni, itu kalau disatukan bisa jadi sabdo dadi. Apapun yang kamu katakan, selama itu hal buruk, bisa jadi kenyataan. Ini serius, jangan menggampangkan sesuatu. Pas kamu dan saudaramu lahir, banyak hal aneh terjadi."
Aku memutar bola mata, malas. "Masih saja percaya hal begituan. Ini sudah zaman milenial, tahun 2010. K-Pop saja sudah melanda, masa Ibu masih berkutat sama takhayul, mitos, gaib. Itu musyrik.”
Ibu terdiam, menatapku dengan campuran takut dan bingung.
“Aku nggak percaya mitos, takhayul dan sejenisnya. Aku mau bobok.” Aku langsung berbaring, menarik selimut dan membalik badan, tidur.
—
Pagi itu, aku berangkat ke kantor dengan wajah kusut dan langkah berat. Kata-kata Ibu begitu mengganggu. Aku sampai malas untuk sarapan. Ilat geni, balung wangi, sabdo dadi, istilah apa itu? Aku tak mengerti.
Amarahku pada Mak Lampir juga masih belum reda. Ini yang membuatku malas berangkat, karena di mata Bu Wati, apa pun yang aku lakukan selalu saja salah.
Setiap kali melihatnya, tubuhku seakan menegang, jantung berdegup lebih cepat, sepertinya aku mengalami fobia melihat wajahnya. Entahlah, ini jenis fobia macam apa, aku tak tahu.
Baru saja menginjakkan kaki di parkiran kantor, Pak Yanto, satpam, menghampiriku. “Mbak, sudah tahu berita heboh belum?”
Aku mengerutkan kening, bingung. “Berita? Apa?”
“Bu Wati kecelakan, Mbak, kasihan, kondisi tubuhnya hancur. Ngeri. Ada beritanya dikirim di grup.”
Aku terhenyak. Antara percaya dan tidak. Tubuhku mendadak dingin. Kata-kata Ibu kembali terngiang, tapi aku dengan cepat menepis. Ini hanya kebetulan. Bukankah kecelakaan bisa terjadi pada siapa saja?
Aku memilih abai, tapi tetap ikut prihatin. Meskipun jujur aku sangat membencinya.
Siang saat jam istirahat, aku dan beberapa rekanku seperti biasa berkumpul untuk makan siang. Kami membahas tentang Bu Wati, yang katanya meninggal di tempat.
“Tubuhnya tergeletak di jalan, hancur. Otaknya berhambur keluar, kepala pecah dan darah tercecer. Saksi mata mengatakan, truk menghantam motor Bu Wati.”
Celetukan Maya membuat aku jijik, sampai tak menyentuh makananku, padahal aku belum sarapan.
Pulang kerja, aku dan beberapa rekan kantor melayat ke rumah duka. Ternyata almarhumah masih tinggal dengan orang tua. Aku menggeser duduk di antara para pelayat. Baru saja duduk, bisik-bisik mulai terdengar.
“Itu lakinya yang morgando.”
“Lumayan. Mirip laki yang lagi viral itu, tuh.”
“Percuma ganteng doang, kerja kagak.”
“Kasihan. Almarhumah cari nafkah sendiri.”
Aku hanya diam. Mendengar bisik yang membicarakan betapa malang, nasib Bu Wati semasa hidup.
Di tengah ruangan, foto Bu Wati terpajang di atas peti tertutup. Dua anak kecil menangis memanggil ‘Ibu’, sambil mengetuk peti.
Aku baru tahu, kalau Bu Wati adalah tulang punggung keluarga. Pantas saja, Bu Wati adalah atasan di kantor, tapi rumah saja tidak punya dan penampilannya sangat sederhana. Dadaku langsung sesak. Aku menyesal.
Malamnya, aku tak bisa tidur. Rasa bersalah menumpuk di dada, membuat napasku berat. Aku menatap lampu di langit-langit kamar.
“Kenapa aku bicara bodoh?” gumamku lirih. Aku memang tak percaya mitos, tapi bukan berarti aku bisa sembarangan bicara.
“Momulo, lek ngomong ati-ati, Mundak ono wali lewat.’’
Aku terhenyak. Siapa yang bicara?
Mataku mengedar, tak ada siapa pun, bahkan pintu masih dalam keadaan tertutup. Aneh.
Sampai aku merasa udara mendadak dingin. Aku menggigil. Lampu kamar berkedip sebentar, lalu mati total.
Srek ... srek ....
Terdengar suara seperti sapu lidi yang diseret.
Tubuhku membeku. Aku menoleh. Kosong.
Srek ... srekkk!
Kali ini suara itu lebih dalam, tapi seperti menjauh.
Aku beranjak. Semua gelap. Sepertinya memang listrik padam. Aku mengambil gawai, menyalakan senter.
“Sssshttttt!”
Aku tercekat. Cahaya dari gawaiku mengarah tanpa sengaja ke sosok wanita berambut kusut, berseragam batik kantor lusuh, diam, berdiri di pojok ruangan. Wajahnya remuk. Mata kanannya keluar, bibirnya robek. Dari sekujur tubuhnya keluar darah dan nanah busuk.
Sekuat tenaga aku berusaha menggerakkan tubuh, tapi tidak bisa. Tubuh ini seakan dipaku di tempat.
Sosok itu mendekatkan tubuhnya yang sudah tak berbentuk. Wajah retak itu, sangat dekat, bau anyir dari tubuhnya mencekik. Aku tak bisa bernapas.
"Omongan ngawurmu sudah membunuhku,” bisiknya.
Aku menjerit, tapi tak ada suara keluar.
“Aku tidak terima! Aku mati, kau juga harus mati!”
Slashhhh!
Aku merasakan sosok itu menindih tubuhku.

Eliyona
104 Pengikut · 10 Novel