


oleh Dinn · 18 Bab
SANCTUARY (Rumah itu kutemukan di cermin) ------------- Shika bersumpah, Arganla Davian Pradipta adalah manusia paling menyebalkan, cringe dan memuakkan. Akan tetapi, reputasinya yang terkenal nakal, suka melawan guru, dan menakutkan bagi siswa lainnya membuat Shika terpaksa mengurungkan niat. Argan memang tampan, tetapi tak mampu mencairkan hati Shika. Bukan karena Shika berhati dingin atau mati rasa. Namun, tingkah Argan yang menjengkelkan membuat ketampanannya tak berarti di mata Shika. Hingga suatu hari, kejadian membuat pandangan Shika terhadapnya perlahan berubah. Lalu, tanpa sadar, ia mulai menjadikan Argan rumahnya, menggantungkan semua harap, dan bersandar padanya sepenuhnya. Namun, benarkah dia rumah yang dicari Shika selama ini?
BUGH!
Suara hantaman yang cukup keras terdengar memenuhi lapangan sekolah diikuti erangan kesakitan seseorang.
Sebuah bola basket telah sukses mengenai kepala orang itu, hingga membuatnya mengaduh sembari mengusap-usap kepalanya.
Bola matanya bergerak, memindai sekitar dengan kilatan amarah yang tampak jelas.
"SIAPA YANG LEMPAR BOLA INI?!" tanyanya, berteriak dengan suara beratnya yang menggelegar.
Siswa-siswi kelas 11 MIPA 1 yang dipenuhi kebisingan, seketika menjadi sunyi mendengar suara penuh emosi itu.
Terlebih lagi orang itu adalah Arganla Davian Pradipta—cowok yang namanya dikenal sebagai pembuat onar.
Semua siswa di SMA Visiona Pratama mengenal Argan, entah secara langsung atau sekadar pernah mendengar ceritanya saja.
Argan memiliki reputasi jelek di sekolah. Dianggap sebagai biang onar, badboy-nya SMA Visiona Pratama, paling anti meminta maaf atau memaafkan, dan reputasi jelek lainnya.
Akan tetapi, detik ini, seseorang dengan beraninya melempar bola basket mengenai kepalanya. Meski tak sengaja, si pelaku tidak mungkin baik-baik saja.
Apalagi sekarang guru olahraga kelas 11 MIPA 1 sedang tidak ada di tempat. Beliau tengah mengikuti rapat sekolah. Alhasil, Argan bisa bebas 'mengapa-apakan' si pelaku.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang lempar bola ini?"
Kali ini, Argan tidak berteriak, melainkan berbicara dengan suara dingin, sembari memandang tajam satu per satu. Suasana di lapangan seakan membeku karenanya.
Diam-diam Karin menggeser tubuhnya, menyenggol lengan temannya yang berdiri tepat di sampingnya.
"Habis riwayat kamu, Shi," kata Karin, menakut-nakuti.
Gadis yang dipanggil 'Shi' itu menggigit bibir bawahnya gelisah. Matanya bergerak tak tentu arah.
"Masih nggak ada yang mau ngaku?!" tanya Argan dengan tatapan tajamnya. "Aku kasih waktu lima detik. Kalau masih nggak ada yang ngaku—"
"Dia!" Seseorang tiba-tiba saja menyela. "Dia orangnya!"
Zidan—salah satu siswa kelas 11 MIPA 1, menunjuk seorang gadis yang berdiri di tengah lapangan didampingi temannya.
Sontak, semua mata terarah padanya, begitu pun Argan. Dalam sekejap, gadis yang ditunjuk Zidan menjadi pusat perhatian seluruh siswa di lapangan.
Gadis itu meneguk ludahnya kasar. Keringat dingin mengucur membasahi wajah, bibirnya bergetar takut, jari-jarinya dimainkan secara gelisah.
Jantungnya terus memompa kencang hingga rasanya ia dapat mendengar suara detakannya.
"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Argan memastikan.
"Nggak!" Zidan menjawab tanpa ragu, meskipun dengan suara yang sedikit bergetar. "Aku lihat sendiri tadi."
Seringai tipis memenuhi wajah tampan Argan. Kakinya perlahan mendekat. Langkahnya santai, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku. Namun, hal itu justru menambah ketegangan suasana.
Jauh di lubuk hati Shika, ia merapalkan berbagai macam do'a, berharap guru olahraganya itu segera mengakhiri rapatnya dan datang ke lapangan.
Setidaknya itu bisa menghentikan Argan, walau mungkin hanya sementara.
Malangnya sang guru tetap tak hadir, bahkan setelah Argan sampai tepat di hadapannya.
Argan memiringkan kepalanya sedikit, memberi rasa was-was dalam hati Shika. Jantung Shika kian bertalu-talu, bahkan tanpa sadar ia menahan napas.
Ekspresi ketakutan Shika kentara jelas di mata Argan. Lelaki itu mengangkat sudut bibirnya, membentuk senyuman miring.
"M-maaf aku nggak sengaja," ucap Shika, terbata-bata. Lantas, ia merutuki gaya bicaranya sendiri.
Pandangan Shika beralih, menatap apa pun di sekitarnya kecuali Argan. Ia tak sanggup menatap mata tajam lelaki itu lebih lama lagi. Tak bisa disangkal, ia takut melihatnya.
Seluruh teman sekelasnya hanya bisa menatap iba. Tidak ada yang bisa mereka lakukan, meskipun sebenarnya ingin membantu. Reputasi buruk Argan membuat tak satu pun berani berurusan dengannya.
"Nggak apa-apa."
"Hah?" Bola mata Shika melebar, sementara bibirnya terbuka lebar mendengar kalimat Argan.
Tak hanya Shika, semua yang ada di sana pun membelalakkan matanya, terkejut bercampur bingung. Namun, seakan tak menyadari reaksi orang-orang, Argan kembali melakukan hal aneh lainnya.
Dia tersenyum lembut. Senyum yang sejauh ini tak pernah dia perlihatkan.
"Nama kamu?" tanya Argan. Suaranya selembut kapas dan sehalus kain sutra. Tatapannya yang tajam pun berubah menjadi sehangat mentari pagi.
"Shika." Shika tetap menjawab, meskipun wajahnya masih menampilkan kebingungan.
"Kelas?"
"Sebelas IPA satu."
Argan menganggukkan kepalanya sekali. Lalu, kakinya melangkah lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka. Ia membungkuk demi menyamai tinggi badannya dengan tinggi badan Shika.
"Kamu ...," jeda Argan, seakan sengaja melakukannya demi menciptakan suasana tegang. "Jadi pacar aku, ya?"
Itu bukan kalimat tanya, melainkan sebuah pernyataan yang menciptakan suara-suara heboh di area lapangan.
Seluruh mata terbelalak mendengar ucapan tak disangka itu. Banyak sorakan, bahkan jeritan yang memenuhi lapangan. Tak sedikit dari mereka yang menyebut nama Shika dan Argan.
Ketegangan dan hening yang mencengkam beberapa detik lalu, kini seolah tak pernah ada. Semua orang sibuk membicarakan mereka berdua.
Sementara itu, mulut Shika terbuka lebar, bola matanya membesar. Ia tak mengerti harus merespon seperti apa.
Otak kecilnya mencoba memproses kalimat Argan, mencari-cari maksud lain yang lebih masuk akal. Namun, ia tak menemukan jawabannya.
Seolah kalimat Argan tak cukup menghebohkan, tindakan cowok itu kembali membuat para siswi menjerit.
Argan meletakkan bola basket ke tangan Shika, kemudian mengacak gemas rambut gadis itu. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Shika, lalu berbisik, "Hati-hati kalau main bola."
Kejadian itu sudah 2 bulan yang lalu, di lapangan sekolah SMA Visiona Pratama, disaksikan oleh banyak siswa.
Pertemuan mereka begitu klise, serta sangat memalukan. Namun, tidak ada yang tahu, bahwa pertemuan itu menjadi awal seorang Shika Shilminka mencari rumahnya.

Dinn
20 Pengikut · 4 Novel