Beberapa abad yang lalu, di alam gaib Kerajaan Shinyar.
Gemuruh musik dan tawa riang memenuhi istana megah yang terbuat dari kristal dan api biru. Pilar-pilar berkilau memantulkan cahaya magis, sementara para jin dan ifrit dari berbagai klan bangsawan berkumpul dalam pesta perjodohan termegah yang pernah digelar dalam satu abad terakhir. Namun, di tengah kemeriahan itu, terdapat satu titik di mana suara seolah mati. Udara membeku. Dingin merambat perlahan, menekan setiap makhluk yang menyadari bahwa sesuatu sedang terjadi.
Di atas singgasananya, Pangeran Malikazar sang pewaris takhta Kerajaan Jin Shinyar, duduk dengan sikap angkuh. Sorot matanya memancarkan kemenangan dan nafsu kepemilikan. Tatapannya terkunci pada sosok yang berdiri di hadapannya.
Namanya Layla.
Seorang jiniah dari keturunan tinggi.
Kecantikannya bukan sekadar anugerah, melainkan senjata. Tubuhnya bergerak anggun bak aliran sungai di tengah gurun, dibalut gaun sutra yang seakan ditenun dari cahaya bulan dan embun malam. Setiap langkahnya memikat, bukan karena dibuat-buat, melainkan karena ia memang lahir dengan pesona yang tak dapat disangkal.
Kulitnya berkilau keemasan seperti pasir yang disapa senja. Matanya berwarna ungu tua, tajam dan hidup, dihiasi kelopak yang seolah selalu menyimpan senyum genit dan mata yang menyembunyikan ribuan cerita, ejekan, dan keberanian. Namun, di balik pesona itu, tersembunyi kekuatan purba. Kekuatan yang mampu menggerakkan badai pasir dan menundukkan bumi atas kehendaknya.
Malikazar bangkit dari singgasananya dan mengulurkan tangan dengan penuh keyakinan.
“Layla,” ucapnya. Suaranya bergema berat, seperti batu yang saling bergesekan.
“Malam ini, kau akan resmi menjadi milikku. Permaisuri bagi kekuatan Shinyar. Terimalah takdirmu.”
Semua mata tertuju pada Layla. Namun, senyum sensual di bibir jiniah itu tidak memudar. Ia bahkan tidak segera menjawab.
Sebaliknya, pandangannya menyapu seluruh aula, seolah mencari sesuatu yang jauh lebih menarik daripada calon suaminya sendiri.
“Takdir?” Layla akhirnya bersuara. Nadanya ringan, semeriah gemerincing lonceng kecil, tetapi menusuk tajam.
“Wahai Pangeran, aku lebih memilih menentukan takdirku sendiri, dan itu jelas bukan menjadi permaisuri seorang tiran yang mengukur kekuasaannya dari seberapa besar ketakutan yang bisa ia ciptakan.”
Istana seketika senyap.
Musik terhenti. Api-api biru bergetar hebat, seolah ikut merasakan kemarahan yang mulai mendidih.
Malikazar bangkit sepenuhnya. Wajah tampannya berubah, urat-urat amarah muncul, menjadikannya tampak seperti monster.
“Kau menolakku?!” bentaknya. “Di hadapan seluruh bangsawan Shinyar?!”
Layla memiringkan kepala sambil memainkan sehelai rambutnya yang berkilauan.
“Ah, akhirnya kau memahami maksudku,” katanya santai.
“Aku bukan hiasan yang bisa kau klaim sesuka hati, Pangeran. Aku adalah badai pasir yang bebas, dan badai tidak bisa dikurung di dalam sangkar emas, semewah apa pun sangkar itu.”
“Kebebasanmu akan berakhir malam ini!” geram Malikazar.
Energi hitam pekat mengalir dari telapak tangannya, berdenyut penuh ancaman.
“Kau akan tunduk, atau kau akan hancur!”
Layla terkekeh kecil.
Ia mengangkat tangannya, dan pusaran pasir halus berkilauan seperti mutiara muncul mengelilingi tubuhnya, bergerak anggun mengikuti irama yang hanya ia pahami.
“Kekuatanmu berasal dari rasa takut, Malikazar,” ucapnya dingin.
“Kekuatanku berasal dari bumi dan angin gurun, hal-hal yang tak pernah bisa kau kendalikan. Cobalah, jika kau berani.”
Pertarungan singkat dan dahsyat pun meletus.
Energi hitam Malikazar menghantam, tetapi terpental oleh dinding pasir bercahaya milik Layla. Setiap serangan dibalas dengan gerakan anggun dan senyum sinis. Bahkan di tengah pertempuran, Layla sempat membetulkan sanggulnya yang sedikit miring.
Sungguh memalukan.
Amarah Malikazar memuncak. Matanya bersinar merah menyala.
Sial.
Mengalahkannya dengan kekuatan kasar hanya akan mempermalukanku.
Harga dirinya menjerit. Ia adalah pangeran. Tidak mungkin ia kalah terlebih oleh seorang jiniah.
Dengan mata menyipit penuh kebencian, Malikazar mengubah strategi. Senyum licik terukir di bibirnya.
“Jika kau begitu mencintai kebebasanmu, Layla,” teriaknya. “Maka aku akan memberimu keabadian untuk merenungkannya!”
Ia tidak menyerang Layla secara langsung.
Sebaliknya, Malikazar memusatkan kekuatannya pada sebuah benda kecil yang dipegang oleh penasihat tuannya, sebuah cermin antik berbingkai emas, bertatahkan permata rubi di sudutnya. Cermin itu memancarkan energi kurungan yang sangat kuat.
Mantra kutukan kuno pun dilantunkan.
Layla terkejut. Ia merasakan kekuatannya dialihkan disedot ke arah cermin itu.
‘Ini bukan sihir pertarungan,’ batinnya geram. ‘Ini pengkhianatan.’
“Tidak!” teriak Layla. Bukan karena takut, melainkan jijik.
Tubuhnya tersedot. Cahaya pasirnya tercerabut, ditarik oleh kekuatan cermin yang kejam. Ia melawan sekuat tenaga, tetapi sihir itu terlalu licik.
Cahaya ungu dari matanya menerangi seluruh istana untuk terakhir kalinya sebelum akhirnya padam.
Wujud Layla memudar, terserap ke dalam permukaan cermin yang kini berdenyut dengan cahaya ungu lemah.
Hening.
Malikazar, terengah-engah, meraih cermin bermata rubi itu. Di dalamnya, bayangan Layla terperangkap, menatapnya dengan amarah membara.
“Kau menginginkan kebebasan?” desis Malikazar. “Maka di sinilah tempatmu. Selamanya. Hingga suatu hari, seorang manusia yang hina dan lemah menemukannya, lalu kau akan menjadi budaknya.”
Cermin itu dibungkus kain hitam, disegel dengan tujuh segel perak, lalu dilemparkan melalui gerbang antardimensi menuju dunia manusia, dan di dalam kegelapan sunyi, Layla menunggu.
Bukan untuk diselamatkan.
Melainkan untuk membalas.
Petualangan Sang Penakluk Gurun pun dimulai dari sebuah kutukan.
“Kau masih bisa mendengarku, bukan?” Suara Malikazar terdengar menggema, terdistorsi oleh permukaan cermin.
Bayangan Layla di dalam cermin menyeringai. Meski terkurung, sorot matanya tetap tajam, penuh api perlawanan.
“Sayangnya, iya,” jawabnya dingin.
“Itu berarti aku masih cukup hidup untuk mengutukmu kembali.”
Malikazar mendengkus. “Keberanianmu tidak ada artinya di dalam penjara itu.”
“Oh, jangan terlalu yakin.” Layla mendekat ke permukaan cermin, telapak tangannya seolah menekan kaca dari dalam.
“Penjara hanya efektif bagi mereka yang menyerah. Aku bukan tipe itu.”
Penasihat tua itu melangkah gugup. “Yang Mulia, sebaiknya kita—”
“Diam!” potong Malikazar. Matanya tak lepas dari Layla.
“Nikmati saja kesendirianmu, Jiniah. Dunia akan melupakanmu.”
Layla tertawa kecil, suaranya menggema halus dan mengganggu.
“Dunia mungkin lupa,” katanya pelan. “Namun, gurun tidak pernah lupa pada badai yang pernah melahirkannya.”
Retakan tipis menjalar di permukaan cermin. Malikazar tersentak, refleks mundur selangkah.
“Apa yang kau lakukan?” hardiknya.
“Sekadar mengingatkan,” jawab Layla santai, meski wajahnya sedikit menegang.
“Kutukanmu memang kuat, tapi setiap segel selalu punya celah.”
Penasihat itu berteriak panik. “Yang Mulia! Energinya—"
Malikazar menggertakkan gigi. Ia mengangkat cermin tinggi-tinggi.
“Cukup! Lemparkan benda ini sekarang juga!”
Gerbang antardimensi terbuka, angin liar menyedot segalanya. Layla terhuyung di dalam cermin, dan ia masih sempat tersenyum—senyum berbahaya.
“Ingat wajahku, Malikazar,” katanya cepat sebelum pusaran menelan suaranya.
“Saat aku bebas nanti, gurun akan menagih hutang darah.”
“Bebaskan?” Malikazar tertawa keras. “Itu tidak akan pernah terjadi!”
Cermin itu terlempar, menghilang dalam pusaran cahaya.
Keheningan kembali menyelimuti istana.
Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk bangkit.