Kepalanya berdenyut. Bau anyir besi dan sabun pembersih yang tajam menusuk hidungnya. Ia mencoba membuka mata, tetapi cahaya neon di atasnya menyiksa, menusuk retina laksana ribuan jarum panas.
“Di mana aku?” Suara yang keluar dari tenggorokannya sendiri terdengar asing, parau dan pecah, seolah sudah lama tidak digunakan.
Sunyi. Hanya keheningan yang memekakkan telinga dan nyeri yang berdenyut di pelipis kanannya. Ia memaksa tubuhnya untuk bangkit. Otot-ototnya kaku, menolak perintah. Saat telapak kakinya yang telanjang menyentuh lantai keramik, ia merasakan sesuatu yang dingin dan lengket.
Ia menunduk. “Bukan air,” gumamnya.
Genangan merah kehitaman membentang di bawahnya. Sebagian masih basah, sebagian lagi sudah mengering, membentuk retakan-retakan tipis seperti peta sebuah benua asing. Genangan itu melingkari kakinya, mengeluarkan aroma tembaga yang memuakkan. Naluri purbanya berteriak, darah.
“Tidak mungkin.” Ia menarik kakinya dengan sentakan, tetapi lapisan kering itu menahannya sejenak. “Ini bukan darahku. Aku, aku tidak terluka.”
Matanya memindai tubuhnya dengan liar. Gaun putih tipis yang ia kenakan kusut dan ternoda, tapi tak ada luka yang menganga. Hanya sebuah goresan panjang berwarna merah di lengan bawahnya. Bagaimana ia mendapatkannya? Ia tidak ingat. Ia tidak ingat apa pun.
“Siapa aku?” Pertanyaan itu menggema di benaknya, tetapi tak ada jawaban yang muncul. Nama, wajah, rumah—semuanya kosong.
Rasa dingin yang menusuk menjalari perutnya, merayap naik hingga mencekik tenggorokan. Ia merasa seperti boneka yang baru dihidupkan, tanpa masa lalu, tanpa tujuan. Tenang, sebuah suara dalam dirinya memerintah, dengan intonasi yang tidak ia kenali. Cari tahu apa yang terjadi. Lihat sekelilingmu.
Ia merangkak mundur, menjauhi genangan darah itu hingga punggungnya membentur dinding yang dingin. Pandangannya terpaku pada cermin besar di atas wastafel. Cermin itu pecah berkeping-keping. Ia mencondongkan tubuh, mencari pantulan dirinya di antara retakan-retakan tajam itu.
Hanya sepasang mata hijau yang menatap balik, melebar dalam horor.
“Mataku,” bisiknya lirih. Ia tidak mengenali mata itu, tetapi ketakutan di dalamnya terasa begitu nyata. Mata yang telah menyaksikan sesuatu yang mengerikan.
Jemarinya yang gemetar memungut pecahan cermin terkecil dari dalam wastafel. Di sana, ia melihat refleksi yang terdistorsi, wajah oval, rambut cokelat sebahu yang acak-acakan. Wajah orang asing.
“Aku harus pergi dari sini,” desisnya. Sebuah dorongan purba untuk bertahan hidup mengambil alih. Bersihkan ini. Sekarang.
Naluri untuk menyembunyikan bukti entah kenapa terasa lebih kuat daripada keinginan untuk mencari jawaban. Ia menyambar handuk putih dari rak dan mulai menggosok noda darah di lantai. Bukannya hilang, noda itu malah menyebar, mengotori handuk dan tangannya.
“Kenapa aku melakukan ini?” tanyanya pada pantulannya yang ketakutan di keran logam. “Apakah aku, pelakunya?”
Kata itu, pelaku, membuat perutnya bergejolak. Ia berlari ke toilet dan memuntahkan cairan pahit yang membakar tenggorokannya. Setelah itu, kepalanya terasa sedikit lebih jernih, meski tubuhnya lemas.
Ia kembali ke lantai, meraih botol pembersih beraroma lemon dan menyiramkannya ke bekas noda. Bau tajam klorin dan lemon sintetis bercampur dengan anyir darah, menciptakan aroma kimia yang menyesakkan. Ia menggosok, menggosok, dan terus menggosok hingga telapak tangannya perih.
Kalau ini hilang, berarti tidak pernah terjadi, ia meyakinkan dirinya dengan logika yang rapuh.
Setelah sepuluh menit yang terasa selamanya, lantai itu hampir bersih. Handuk yang basah oleh darah ia gulung rapat-rapat, memasukkannya ke dalam kantong plastik belanjaan, dan mengikatnya kuat-kuat.
Ia memindai kamar mandi sekali lagi. Ada tonjolan aneh di bawah karpet kecil yang basah. Ia menyingkapnya.
Di sanalah benda itu tergeletak, sepasang gunting dapur besar, bilahnya berkilat di bawah cahaya neon. Gagang hitamnya ternoda bercak merah yang tampak lebih segar, lebih pekat daripada darah di lantai. Ini senjatanya.
Tangannya bergetar hebat saat meraih gunting itu. Saat ia membaliknya, jantungnya seakan berhenti berdetak. Di gagang gunting, tercetak jelas sebuah sidik jari yang bukan miliknya. Jejak itu lebih besar, polanya lebih kasar.
“Bukan sidik jariku,” gumamnya. “Milik siapa ini? Ada orang lain di sini?”
Rasa takut akan amnesia seketika tergantikan oleh teror yang lebih dingin. Ia tidak sendirian. Seseorang telah melakukan sesuatu dengan gunting ini dan meninggalkannya di sini.
Saat jemarinya tanpa sadar menyentuh permukaan gagang itu, sebuah kilasan menyerang benaknya. Bukan ingatan, melainkan sensasi—kekuatan brutal dan rasa puas yang dingin. Ia menarik tangannya seolah tersengat listrik.
“Aku harus membuangnya,” katanya, suaranya nyaris histeris. “Aku harus menyingkirkan ini, sebelum—”
Sebelum apa? Sebelum pemiliknya kembali?
Dengan panik, ia memasukkan gunting itu ke dalam kantong plastik yang sama. Ia harus pergi, sekarang juga, tetapi saat ia berbalik, matanya menangkap gerakan di pecahan cermin terbesar yang masih menempel di bingkai. Sebuah bayangan. Bayangan yang bergerak di belakangnya, yang bukan miliknya.
“Siapa di sana?!” pekiknya, memutar tubuhnya secepat kilat.
Kosong. Hanya dinding putih, wastafel, dan tirai pancuran yang diam. Napasnya tersengal. Mungkin ia hanya berhalusinasi.
Ia melirik ke cermin itu lagi. Bayangan itu hilang. Kini hanya ada pantulan matanya. Mata yang tak lagi hanya dipenuhi ketakutan, tetapi juga keraguan akan kewarasannya sendiri.
Ia bergegas keluar dari kamar mandi, meninggalkan bau klorin dan darah yang samar. Ia harus menemukan pintu keluar.
Tepat ketika tangannya menyentuh kenop pintu depan yang terasa asing, ponsel di saku gaunnya bergetar. Ia bahkan tidak tahu ia punya ponsel. Layarnya menyala, menampilkan nomor tak dikenal.
Siapa ini? Polisi? Atau, pemilik gunting itu?
Dengan jari gemetar, ia menekan tombol jawab dan mendekatkannya ke telinga. Hanya ada suara desis statis. Lalu, suara itu terdengar.
Napas. Berat, lambat, dan terdengar begitu dekat, seolah orang di seberang sana sedang berdiri tepat di belakangnya.
“Halo?” bisiknya, nyaris tak bersuara.
Napas itu berhenti. Hening sejenak. Kemudian, sebuah suara berderit pelan, seperti bibir kering yang dipaksa tersenyum.
“Kau tidak boleh pergi,” sebuah bisikan serak, begitu dalam, begitu dingin, terdengar di telinganya. Suara itu terasa asing, tetapi di saat yang bersamaan, familier secara mengerikan.
“Tetaplah di sini. Di tempat kau aman.”
***
"Di mana kau aman." Suara itu terputus, digantikan bunyi klik yang mematikan. Panggilan berakhir.
Ponsel terlepas dari genggamannya, jatuh ke lantai tanpa suara. Jantungnya berdebar begitu keras, seolah hendak meremukkan tulang rusuknya dari dalam. Siapa? Bagaimana dia tahu?
Ketakutan mengancam melumpuhkannya, tetapi ia melawan. Kakinya terasa berat, seperti terendam semen, ia memaksa diri untuk bergerak. Kantong plastik berisi handuk kotor dan gunting itu terasa seperti pemberat yang menyeretnya ke neraka. Ia harus membuangnya.
Lari tidak akan mengubah apa pun, sebuah bisikan dingin bergema di benaknya.
Ia menyelinap keluar. Apartemen ini ada di lantai dua. Di belakang gedung, ia menemukan bak sampah komunal yang besar dan meluap. Dengan napas tertahan, ia mendorong bungkusan bukti itu jauh ke dalam tumpukan sampah yang basah dan berbau busuk, berharap benda itu akan ditelan selamanya.
Kembali di dalam, tangannya tanpa sadar meraba lengan bawahnya. Goresan merah di sana terasa panas dan perih. Di dapur, ia menemukan botol antiseptik. Cairan cokelat yang dingin itu menggigit lukanya, rasa perih yang tajam itu menariknya kembali pada kenyataan.
Ia menatap goresan itu lekat-lekat. Terlalu lurus. Terlalu rapi. Bukan luka akibat kepanikan atau kecelakaan. Ini, terukur.