Langit Halim masih kelabu, ketika Mayor Raka Dirgantara turun dari kokpit pesawat tempurnya. Udara pagi menusuk tulang, tapi keringat tetap membasahi pelipisnya. Mesin F-16 baru saja dimatikan, tapi gemuruh di dadanya belum juga reda.
“Lima belas menit tepat. Seperti biasa, kamu ngalahin semua jam digital di pangkalan ini.”
Letnan Satu Fajar, rekan sekaligus sahabat Raka, menyambut di ujung landasan dengan senyum lebar.
Raka hanya mengangguk. “Jam digital bisa rusak. Insting enggak.”
Fajar terkekeh. “Insting juga bisa buntu, kalau kebanyakan mikir masa lalu.”
Diam. Sekilas, wajah Raka berubah tegang. Kalimat itu menekan tombol yang tak seharusnya disentuh.
“Tunggu. Kau ngelamun, ya, tadi di atas?” Fajar melirik serius.
“Raka, tadi kau hampir kebablasan waktu turun di Menteng. Aku lihat di radar.”
“Aku tahu, Faj,” jawab Raka pelan, melepas helm dan menatap langit kosong. “Cuma tadi aku dengar suara itu lagi.”
Fajar mengernyit. “Suara?”
“Radio mati, tapi aku denger ‘Jangan tinggalkan aku, Mayor.’” Suara Raka nyaris tak terdengar. “Suaranya Tama.”
Fajar langsung diam. Bahkan langkahnya ikut berhenti.
“Raka itu sudah dua tahun lalu. Tama gugur waktu misi di Kalimantan. Kita semua tahu itu, bukan salahmu.”
“Hanya saja, aku yang kasih perintah.”
Raka menatap Fajar, matanya penuh luka yang belum sembuh.
“Dia nurut karena dia percaya sama aku.”
Fajar membuka mulut, tapi tak tahu harus berkata apa.
Akhirnya ia tepuk pelan bahu sahabatnya. “Kau belum sembuh, Rak. Kau butuh-”
“Jangan bilang psikolog,” potong Raka tajam. “Aku nggak butuh didudukin, disuruh ngomong soal trauma, terus disuruh tarik napas. Aku baik-baik saja.”
“Bohong,” gumam Fajar. “Itu jawaban khas orang yang nggak baik-baik saja.”
***
Di ruang briefing satu jam kemudian, suara Komandan Elang Biru menggema tajam.
“Mayor Raka Dirgantara, atas nama Kementerian Pertahanan, Anda dan tim Elang Biru ditugaskan dalam program diplomasi udara dengan negara sahabat. Mulai minggu depan, tim akan aktif kembali untuk simulasi lintas wilayah.”
Satu ruangan terdiam. Raka bangkit perlahan.
“Siap, Komandan, tapi izinkan saya tahu siapa saja personel pendukung.”
Komandan menatapnya sebentar. “Termasuk satu orang baru dari Divisi Psikologi Militer. Namanya Dokter Aluna Sasmita.”
Raka sempat menahan napas. “Psikolog?”
“Ya. Itu perintah langsung dari pusat. Kamu harus kerja sama.”
***
Di lorong pangkalan, Raka berjalan cepat sambil membuka kancing atas seragamnya. Langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita berdiri menatap peta besar di dinding.
“Mayor Raka Dirgantara?” Suara itu lembut, tapi tegas.
Dia menoleh. Wanita itu mengenakan seragam krem khas staf medis. Rambutnya disanggul rapi, sorot matanya tajam. Tegas, tapi tidak dingin. Beda dari bayangannya.
“Dokter Aluna?”
“Dokter Aluna Sasmita.” Ia mengulurkan tangan, “psikolog militer penempatan langsung dari Jakarta.”
Raka tidak langsung menjabat tangan itu. Matanya menelusuri wajah sang dokter. Terlalu muda. Terlalu tenang. Terlalu berani masuk ke dunia yang penuh bara.
“Kita tidak butuh psikolog di langit,” katanya akhirnya.
Aluna tersenyum. “Cuma manusia tetap manusia, bahkan di ketinggian 30.000 kaki.”
Raka sempat menelan ludah. “Kamu yakin bisa menangani pasukan yang pernah melihat rekan mereka meledak di udara?”
Aluna membalas cepat, “Dan kamu yakin bisa memimpin pasukan yang hatinya tidak pernah sembuh?”
Diam.
Kali ini, Raka yang kalah satu langkah.
Aluna melangkah mendekat, pelan, tapi mantap. “Saya tidak di sini untuk menyelamatkan siapa pun. Saya di sini untuk memastikan tak ada lagi yang harus diselamatkan dengan keterlambatan.”
Raka mengangguk kecil, tapi wajahnya tetap datar. “Baik, Dokter. Kita lihat nanti siapa yang lebih dulu terjun, saya dari langit atau Anda dari posisi ini.”
“Kalau saya jatuh, Mayor,” Aluna menatapnya tenang, lalu melanjutkan, “saya pastikan bukan karena saya takut.”
Senyap.
Lalu, suara speaker menggelegar, memanggil seluruh kru ke aula utama. Wajah Raka kembali ke mode profesional.
“Tugas dimulai besok. Briefing 05.30. Jangan terlambat, Dokter.”
“Mayor,” jawab Aluna singkat, matanya tak bergeming dari pandangan Raka.
“Kalau saya boleh tanya, kamu selalu begini ke semua orang baru atau hanya ke orang yang kamu anggap ancaman?” Ia melanjutkan sebelum Raka sempat pergi.
Raka berbalik perlahan. Ada jeda sebelum ia menjawab, seperti menimbang seberapa jauh dia ingin menyeret perempuan ini ke dalam pertahanannya.
“Bukan soal ancaman,” katanya pelan. “Cuma aku pernah kehilangan terlalu banyak orang karena terlalu cepat percaya.”
Aluna mengangguk, lalu melangkah maju, satu meter jaraknya dari Raka.
“Dan kamu pikir aku akan jadi salah satu dari ‘terlalu banyak’ itu?”
“Belum tahu, tapi kamu datang membawa sesuatu yang paling kutolak: cara bicara, cara melihat orang, cara kamu menyimpulkan.” Raka menatapnya balik.
Aluna tak mundur. Justru tersenyum tipis. “Aku enggak datang buat merusak sistemmu, Raka. Aku datang buat jaga nyawa timmu tetap utuh.”
Raka menghela napas. “Kadang, nyawa itu harganya terlalu mahal.”
“Dan kadang,” Aluna menyambung cepat, “yang terlalu mahal justru luka yang nggak pernah diobati.”
Sunyi, tapi bukan sunyi dingin.
Lebih seperti ketegangan dua samurai yang saling uji tatap sebelum duel.
Lalu, Raka akhirnya melangkah pergi sambil berkata tanpa menoleh, “Besok pagi. Briefing. Lima tiga puluh. Jangan terlambat.”
Aluna menjawab tenang, “Kalau aku datang lebih dulu, kamu yang jangan telat.”
Raka hampir tersenyum. Hampir, tapi hanya diam dan terus berjalan. Pagi itu, langit Halim tetap kelabu.
Di bawahnya, dua jiwa sedang menguji garis batas masing-masing dan mungkin saja, di sanalah awal dari sesuatu yang tak terduga.