Ceysa melangkah perlahan menyusuri lorong hotel, senyum lebar menghiasi wajahnya. Bunga-bunga segar berjejer rapi di sepanjang lorong, seolah menyambut hari bahagianya.
Hari ini, secara resmi, ia menjadi istri dari Olsen Miller, pria yang ia harap bisa membawanya pergi dari rumah yang selama ini seperti neraka.
“Sekarang aku bebas dari Papa. Aku bisa tinggalkan semua,” bisiknya pelan sambil terus berjalan. Gaun pengantin putih elegan menyapu lantai marmer di bawah kakinya.
Olsen bukan pria yang ia cintai. Mereka dijodohkan, dan keduanya sepakat menikah demi kepentingan masing-masing.
Bagi Ceysa, pria itu adalah jalan keluar. Tiket menuju kehidupan baru, jauh dari ayah yang selama ini lebih banyak menyakiti daripada melindungi.
Saat sang ayah mengenalkan Olsen dan mengusulkan perjodohan demi kerja sama bisnis, Ceysa menyetujuinya tanpa ragu. Ia bahkan merasa sedikit lega. Apa pun asal bisa pergi dari rumah itu. Dari ayahnya.
Setelah prosesi pernikahan selesai, Ceysa mengganti pakaian. Ia harus menghadiri pesta mewah yang diadakan di ballroom hotel berbintang lima.
Acara itu megah, mewah, mahal, tapi semua orang tahu, pesta itu bukan untuk merayakan cinta. Itu panggung. Panggung untuk ayahnya dan Olsen membangun relasi bisnis.
Ceysa tidak peduli. Yang penting malam ini, ia pergi dari rumah itu untuk selamanya.
Sesampainya di kamar pengantin, ia melepas gaun putih dan mengenakan gaun pesta yang lebih sederhana.
Saat akan mengambil kalung, matanya tertumbuk pada sebuah amplop putih di atas meja rias. Namanya tertulis rapi di sana.
Ceysa mengambilnya, membalik amplop itu. Tidak ada nama pengirim, tapi rasa penasaran lebih besar dari rasa ragu. Ia membuka amplop itu. Dunia runtuh seketika.
Beberapa foto bertebaran di tangannya yang mulai gemetar. Foto-foto Olsen bersama seorang wanita. Fania. Aktris cantik, seksi, terkenal.
Beberapa foto menunjukkan mereka di ranjang. Senyum Fania terasa begitu menyebalkan di mata Ceysa.
Tapi yang paling menghantam adalah satu gambar USG. Tertulis nama Fania di sana. Di balik foto itu, ada sebuah pesan: "Saat ini aku sedang mengandung anak Olsen. Kalau kamu tahu diri, tinggalkan dia sebelum aku merebutnya."
Jantung Ceysa seperti diremas. Napasnya tercekat. Kenangan lama menghantam. Ibunya hancur karena dikhianati, meninggal di pelukannya.
Tubuhnya mulai bergetar. Ia tak sanggup berdiri. Ia pikir Olsen akan berbeda, tapi ternyata sama saja. Sama seperti ayahnya. Ceysa hanya berpindah dari satu luka ke luka yang lain.
“Aku nggak sudi hidup sama kamu, Olsen.”
Dengan langkah tergesa, ia keluar dari kamar. Gaun pesta masih melekat di tubuh. Ia tak peduli. Ia hanya ingin pergi.
Begitu sampai di jalan, ia menyetop taksi dan pergi. Jauh dari pesta, dari gedung, dari semua kebohongan.
Tangisnya pecah di dalam taksi. Sakit itu tumpah ruah. Sopir taksi hanya sesekali melirik lewat kaca spion, lalu bertanya pelan, “Ibu mau ke mana?”
Ceysa menyebut alamat rumah tempat tinggalnya selama ini, tapi setibanya di sana, ia sadar. Olsen tahu alamat ini. Dia pasti akan mencarinya.
“Bisa tunggu sebentar? Saya cuma ambil barang.”
Sopir mengangguk. Ceysa masuk, mengemasi beberapa benda penting, lalu kembali naik.
“Sekarang ke mana?” tanya sopir lagi.
“Jalan aja dulu. Nanti saya kasih tahu.”
Sudah dua kali mereka keliling kota. Sopir mulai gelisah. Akhirnya ia menepi.
“Nona, kalau nggak ada tujuan pasti, lebih baik turun dulu aja.”
Kalimat itu seperti tamparan. Menyadarkannya dari kekacauan pikiran.
“Maaf. Aku lupa alamat temanku, tapi sekarang ingat. Kita lurus aja.”
Ia sebutkan alamat apartemen Calvin sahabat kuliahnya. Orang satu-satunya yang terlintas.
Sesampainya di sana, ia berdiri lama di depan pintu. Ragu. Apakah ia pantas datang?
Mereka sempat menjauh. Sejak ia bicara soal pernikahan, Calvin jadi dingin. Ia tak pernah tahu kenapa.
“Seharusnya aku nggak ke sini,” bisiknya.
Akan tetapi, sebelum ia berbalik, pintu terbuka.
“Ceysa?” Calvin berdiri di sana, kaget. “Kamu kenapa?”
Ceysa menunduk. “Aku?”
“Bukankah hari ini pernikahanmu? Kenapa kamu di sini?”
Matanya redup. “Maaf, aku nggak undang kamu.”
Calvin menyeringai getir. “Aku tahu tempatku, Ces. Aku bukan pebisnis, tapi kenapa kamu datang sekarang?”
“Aku nggak tahu harus ke mana. Pernikahanku hancur.”
Ceysa jatuh terduduk. Tangis meledak. Ia menutupi wajah. Ia sudah tak kuat menahan semuanya.
Calvin mematung. Ia ingin memeluk. Ingin mengatakan ia mencintai wanita itu sejak lama, tapi semuanya terasa terlambat. Ceysa sudah menikah. Namun, ia tak bisa tinggal diam.
Calvin berjongkok di hadapannya. “Hei, jangan kayak gini. Ceritain aja semuanya. Aku masih di sini, Ceys. Seperti dulu.”
Ceysa menatapnya, matanya sembab. Napasnya berat. “Aku merasa bodoh, Cal. Aku pikir menikah bisa buat hidupku lebih baik, tapi ternyata-”
“Dia nyakitin kamu?”
Ceysa mengangguk. “Dia selingkuh. Sama Fania, dan dia punya anak dari wanita itu.”
Calvin mengepalkan tangan. “Bajingan,” gumamnya, lirih.
Ceysa tertawa getir. “Ironis ya? Aku lari dari Papa yang selingkuh, malah nikah sama orang yang sama aja.”
“Kamu nggak pantas dapet yang kayak gini.” Suara Calvin menegang. “Kamu layak dapet yang lebih baik.”
“Aku udah nikah, Cal. Udah jadi istri orang. Mau ke mana pun aku pergi, status itu menempel.”
“Status bisa berubah, tapi sekarang, lukamu harus sembuh dulu, dan aku-”
Ia berhenti, menatap mata Ceysa dalam-dalam.
“Aku di sini. Kalau kamu mau, aku bisa jadi tempat pulang.”
Ceysa terdiam. Hatinya seperti disentuh sesuatu yang hangat.
“Kenapa kamu baru bilang sekarang?”
Calvin menarik napas. “Karena aku bodoh. Waktu kamu bilang mau nikah, aku marah. Bukan karena kamu nggak undang aku, tapi karena aku nggak bisa bayangin kamu hidup sama orang lain.”
Air mata Ceysa jatuh lagi, tapi kali ini, bukan karena sakit.
Ada sesuatu yang lain. Harapan kecil.
“Aku nggak tahu harus bilang apa.”
“Bilang aja kamu butuh tempat tinggal malam ini. Besok, kalau kamu mau kita mulai dari awal. Pelan-pelan aja.”
Ceysa menatap Calvin. Lama.
Lalu ia mengangguk.
“Terima kasih, Cal.”