


oleh Mu'ala · 29 Bab
Bagi Fania, Glasgow seharusnya menjadi tempat persembunyian, bukan panggung percintaan. Lari dari duka yang melumpuhkan, ia menenggelamkan diri pada satu-satunya pelipur lara. Bram, seorang karakter puitis dari novel romantis usang. Namun, ketika takdir mempertemukannya dengan seorang pria di sebuah toko bunga, dunia Fania terguncang. Bram seolah melompat langsung dari halaman novel favoritnya. Di tengah kabut Skotlandia yang magis, Fania merasakan hatinya yang beku mulai mencair. Ketika tirai fiksi tersingkap, akankah cinta yang terasa begitu nyata mampu bertahan dari kebenaran yang menghancurkan? Atau, apakah Bram hanyalah bab terindah sebelum hati Fania hancur berkeping-keping?
Kabut, bagaikan selimut tua yang lapuk, mengendap perlahan di permukaan Loch Lomond. Udara dingin yang tajam, membawa aroma tanah basah dan pinus Skotlandia yang kuno, merambat masuk ke pori-pori. Hanya suara debur ombak kecil yang memecah kesunyian, berbisik pada bebatuan purba yang menghiasi tepian.
Di antara lanskap dramatis gunung-gunung yang menjulang dan air yang kelabu kebiruan, Fania memperketat coatnya lebih rapat. Hangat, tetapi ada yang lebih hangat, kehadiran seseorang yang ada di sampingnya sekarang, terasa kontras dengan dinginnya alam yang mencekam, seolah ia adalah satu-satunya mercusuar yang tersisa di tengah kegelapan yang mengancam.
Fania menegapkan tubuh, iris hitam pekatnya memancarkan pantulan cahaya senja yang memudar. Ada kerapuhan yang nyata di balik sorot matanya, sebuah kesedihan yang tak bisa disembunyikan lagi. Beberapa minggu terakhir ini, sejak kegiatan kampus makin padat, rasa tidak percaya diri makin tinggi, menariknya dari dunia, bahkan dari Bram.
“Aku takut, Bram,” bisiknya, suaranya nyaris tenggelam oleh desiran angin. Ia menarik napas dalam, menahan getaran yang menjalar di sekujur tubuh.
“Takut sekali.”
Bram mengulurkan tangan dan menggenggam lembut tangan Fania. Kehangatan sentuhannya memberikan sedikit ketenangan, tetapi tak mampu menghalau awan gelap yang berkumpul dalam benak Fania.
Ketika jari-jemari saling bertaut, Fania merasakan detak jantung Bram yang stabil di dadanya, sebuah ritme yang seharusnya menenteramkan, tetapi kali ini, hanya memperdalam jurang ketakutan yang ia rasakan.
“Apa yang kamu takutkan, Fania?” tanya Bram, suaranya rendah dan merdu, persis seperti melodi yang selalu menenangkan Fania.
Fania mendongak, matanya berkaca-kaca. “Semuanya. Masa depan. Aku … aku sendirian sekarang, Bram. Tanpa Ayah, tanpa Ibu. Aku takut ... aku tidak bisa menyelesaikannya studi masterku, mengecewakan mereka yang sudah pergi."
Air mata yang selama ini ia tahan, akhirnya luruh, mengalir hangat di pipinya yang dingin, suaranya tercekat oleh tangisan yang tertahan.
“Bagaimana jika aku tidak bisa? Bagaimana jika aku gagal? Aku … aku sangat takut.”
Kesedihan Fania, begitu nyata, menusuk langsung ke relung hati Brian. Rasa bersalah melilitnya bagaikan tali tambang yang basah dan dingin. Setiap isakan kecil Fania adalah palu yang menghantam dinding kebohongannya, meretakkannya satu per satu.
Inilah saatnya, Brian tahu. Momen paling rapuh Fania, momen ketika ia membuka jiwanya seutuhnya, adalah momen yang sama dengan pengakuannya. Ia bisa menghentikan semua ini, kebohongannya. Ia bisa membebaskan dirinya dari beban yang selama ini menghimpit, mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya, dan menjelaskan mengapa ia telah menggunakan kutipan-kutipan Briana, saudara kembarnya yang telah tiada, untuk membangun citra dirinya.
Namun, ketakutan itu … ketakutan akan kehilangan Fania, melihat kilatan kekecewaan di mata itu, rasa jijik yang mungkin akan muncul. Ketakutan itu melumpuhkan Brian, lebih kuat dari rantai baja. Bagaimana ia bisa menghancurkan kepercayaan yang begitu berharga, yang baru saja ia peroleh kembali setelah tragedi itu?
Fania yang begitu rapuh sekarang sangat membutuhkan Bram—sosok yang telah ia ciptakan, yang mampu melihat jauh ke dalam jiwanya. Brian merasa dadanya sesak, tenggorokan terasa kering, dan pengakuan yang ingin ia ucapkan, permohonan maaf, seolah terperangkap di antara gigi-giginya.
Brian menatap ke hamparan loch yang gelap, ke arah kabut yang semakin pekat, berusaha mengumpulkan kekuatan. Ia ingat kata-kata Briana. Kata-kata yang telah ia hafal, yang telah ia gunakan begitu sering hingga terasa seperti miliknya sendiri. Kata-kata yang selalu berhasil menyentuh Fania. Ia menarik napas dalam, mengunci rapat pintu hati nuraninya.
“Dengarkan aku, Fania,” ucap Brian, suaranya bergetar tipis, tetapi dengan upaya keras ia menjadikannya stabil dan menenangkan.
Brian yang berubah cepat untuk sandiwaranya menjadi Bram, menatap lamat-lamat mata Fania yang mulai merah, tetapi tetap indah di bawah cahaya senja.
“Lihatlah loch ini, Fania. Lihatlah betapa luas dan dalamnya. Ia telah melewati ribuan tahun, menyaksikan kegembiraan dan kesedihan yang tak terhitung jumlahnya. Tapi ia selalu ada di sana, tenang di bawah permukaannya yang terkadang bergejolak.”
Fania mendengarkan, napasnya yang terengah-engah mulai mereda, terhipnotis oleh kata-kata Bram.
“Duka adalah bagian dari keindahan, sama seperti kabut ini adalah bagian dari loch,” lanjut Brian, mengutip kalimat dari buku harian Briana.
“Ia melunakkan tepian, menciptakan misteri, dan mengingatkan kita bahwa ada kedalaman yang tak terlihat. Kamu tidak sendirian. Kita tidak pernah sendirian selama kita memiliki gema di hati kita, gema cinta yang abadi. Orang tuamu … mereka akan selalu ada dalam dirimu, Fania. Dalam setiap embusan napasmu, dalam setiap impianmu. Mereka adalah akarmu, dan akar tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya memperkuat pohon untuk menghadapi badai berikutnya.”
Suara Bram, diucapkan dengan begitu tulus dan penuh keyakinan, menembus kabut kesedihan Fania. Setiap kata terasa seperti embun pagi yang menyejukkan hati yang kering. Ia menatap Bram, sosok yang selama ini menjadi penghiburnya di Glasgow. Bram tidak hanya menghibur, ia memahami. Ia melihat jauh ke dalam lubuk jiwanya, melihat kerapuhan dan ketakutannya, lalu membalutnya dengan kata-kata yang begitu indah, begitu tepat.
Air mata Fania kembali mengalir, tetapi kali ini, air mata kelegaan yang mengalir, air mata cinta yang tak terkira. Ia merasa sangat dipahami, sangat dicintai. Di dunia yang terasa begitu asing dan menakutkan, Bram adalah satu-satunya kebenaran yang ia pegang. Fania membenamkan wajahnya di antara dua lututnya, meringkuk, memeluk tubuhnya sendiri dengan seluruh kekuatan yang tersisa.
“Aku mencintaimu, Bram,” bisiknya, suaranya sarat dengan emosi. “Aku sangat mencintaimu.”
Meskipun pelan, tetapi suara Fania terdengar jelas. Brian menahan napas. Kata-kata itu, diucapkan dengan ketulusan murni, menusuknya lebih dalam daripada pisau mana pun.
Brian ikut menunduk, lalu memejamkan mata, rasa hangat dan dingin bercampur aduk dalam dada. Kelegaan karena Fania merasa terhibur dan sekaligus rasa muak pada dirinya sendiri karena kebohongan telah semakin kokoh.
Kali ini Brian yang mempererat mantel. Di antara gerakan itu, Brian merasakan sesuatu yang tajam di saku mantelnya. Jurnal kecil yang lusuh, milik Briana, tempat semua kalimat puitis berasal. Brian telah melupakan catatan sakti itu ada di sana. Ujung sampulnya yang keras menusuk kulit, sebuah pengingat yang menyakitkan, sebuah tanda tangan dari hantu masa lalu yang menuntut untuk diakui.

Mu'ala
17 Pengikut · 5 Novel