


oleh khilda baiti · 89 Bab
Kesetiaan tidak pernah gratis. Ia dibayar dengan air mata, pengkhianatan, dan kehilangan yang tak bisa diulang. Khumaira percaya bahwa mencintai dengan tulus akan cukup untuk membuatnya bahagia. Namun, hidup membuktikan sebaliknya. Pernikahan di usia muda, pengkhianatan demi pengkhianatan, hingga status janda yang harus ia sandang saat hatinya belum benar-benar sembuh. Ketika ia kembali percaya pada cinta dan pernikahan, luka yang sama justru datang dari arah yang tak pernah ia sangka. Jika setia adalah pilihan, mengapa justru yang setia selalu paling menderita?
Di dalam sebuah kardus bekas yang basah, bagian atasnya terbuka, kain tebal yang mulai lembap membaluti tubuh seorang bayi mungil di dalamnya.
Hujan turun cukup deras.
Seorang wanita lari terbirit-birit di bawah guyuran air hujan, sambil membawa sebuah kardus berisikan bayi yang seolah sedang membawa sebuah beban yang ingin ia lepaskan secepat mungkin. Napas wanita itu memburu, tangannya gemetar hebat. Setiap langkahnya seperti diliputi dengan rasa bersalah, tetapi ia tetap melangkah, dan terus melihat ke depan dan tidak berani menoleh ke belakang.
Ketika sampai di depan sebuah rumah, wanita itu berhenti. Ia melihat terlebih dulu ke arah kardus, seperti ingin memastikan bahwa bayi itu masih baik-baik saja. Kemudian, dengan cepat ia meletakkan kardus itu di depan pintu rumah itu.
Ia mengetuk pintu beberapa kali dengan pelan. Lalu berlari pergi tanpa menoleh ke belakang, membiarkan suara hujan menelan jejak langkahnya.
Bayi itu menangis. Tangisnya terdengar jelas, seperti memanggil siapa pun yang mau memberikan kasih sayang padanya. Dalam dinginnya malam, tubuh bayi mungil itu bergetar. Bayi itu merasa kedinginan, lapar, dan takut.
Tak lama, pintu rumah itu terbuka. Seorang wanita keluar, berniat menutup pintu yang terbuka sedikit karena angin kencang. Namun, langkahnya terhenti saat pandangannya menangkap sebuah kardus basah yang tergeletak tepat di depan pintu rumahnya.
Ia mengerutkan alis. “Astaghfirullah,” gumamnya pelan.
Perlahan ia mendekat. Ketika ia membuka kain yang menutupi isi kardus itu, tubuhnya seketika menegang. “Ya Allah.” Suaranya pecah, napasnya tertahan.
Tanpa pikir panjang, ia mengangkat bayi itu ke dalam pelukannya, seolah ingin menyalurkan kehangatan dari tubuhnya yang masih hangat. Ia membawa bayi itu masuk, menutup pintu rapat-rapat, lalu mendekapnya dengan erat.
“Cantiknya kamu, Nak,” bisiknya sambil menahan air mata. “Tapi apa salahmu lahir ke dunia ini sampai orang tuamu tega meninggalkanmu seperti ini?”
Air matanya jatuh membasahi kening bayi itu. Bayi itu berhenti menangis sesaat, seperti merasakan kasih sayang pertama dalam hidupnya, bukan dari darah dagingnya sendiri, tetapi dari seseorang yang hatinya masih penuh belas kasih.
***
Beberapa tahun berlalu.
“Khumaira, tolong buatkan teh hangat untuk Ibu, ya.” Suara lirih terdengar dari kamar kecil yang sederhana.
Dari arah dapur, seorang anak menjawab dengan lantang, “Iya, Bu! Sebentar!”
Wanita itu bernama Rokhayah, ia menghela napas pelan. Wajahnya tampak pucat, tangannya dingin, bibirnya membiru. Ia memejamkan mata sejenak, lalu menatap langit-langit kamar, seolah mencari keajaiban yang mampu meringankan rasa sakit yang perlahan-lahan mempersempit hidupnya hari demi hari.
Tak lama, seorang gadis kecil berusia sekitar sepuluh tahun masuk membawa segelas teh hangat. Gadis itu cantik, berkulit bersih, bermata teduh, dan memiliki senyum lembut yang mampu membuat siapa pun merasa tenang. Dia adalah Khumaira.
Ia menarik kursi, dan duduk di samping ibunya. Dengan hati-hati, ia memegang tangan ibunya yang dingin.
“Ibu sakit, ya?” tanya Khumaira dengan polos, meski ada kecemasan yang jelas terbaca di matanya.
Rokhayah menggeleng pelan, dan memaksa tersenyum. “Tidak, Ibu tidak sakit.”
Khumaira memajukan bibir, tidak puas dengan jawaban itu. “Ibu bohong. Maira tahu kok kalau Ibu sedang sakit. Ibu sering batuk, terus wajah Ibu pucat.”
Rokhayah menepuk kepala putrinya dengan lembut. “Sudah, jangan pikirkan Ibu. Kamu harus fokus belajar. Minggu depan kamu ulangan akhir semester, kan?”
Khumaira mengangguk kecil. “Iya. Ini tehnya diminum ya, Bu. Maira mau belajar dulu. Semoga Maira bisa dapat peringkat satu.”
Rokhayah tersenyum kecil, meski senyum itu tidak mampu menyembunyikan rasa sakit yang ia tahan.
Khumaira pergi ke kamarnya. Ia duduk di tepi jendela. Dari luar, daun-daun pohon bergoyang lembut ditiup angin sore, dan suara anak-anak bermain terdengar samar.
Hidup seolah tidak memberinya kesempatan untuk menjadi polos selayaknya anak-anak lain.
“Ibu makin sering berbaring di kamar, pasti karena kelelahan menjahit sampai malam,” gumamnya, menatap jari-jarinya sendiri. “Kalau Ibu sakit terus, pemasukan bakal berhenti. Terus kalau pemasukan berhenti, nanti mau makan apa?”
Ia menepuk pipinya. “Ayo Maira, kamu harus bantu Ibu. Kamu ini udah besar!”
Setelah berpikir lama, sebuah ide terlintas di benaknya. Ia langsung berlari keluar kamar.
“Ibu! Maira izin main dulu ya!” teriaknya dari halaman.
Tanpa menunggu jawaban, ia berlari menuju rumah tetangganya.
***
“Assalamu’alaikum, Bu Narsih.”
Pintu terbuka. Wanita yang tak lain bernama Narsih itu tampak kebingungan melihat Khumaira berdiri di depan rumah.
“Lho, Maira? Ada apa, Nak?”
Khumaira meremas ujung bajunya. “Begini, Bu, Khumaira mau menawarkan diri jadi asisten. Kalau Ibu butuh bantuan bersih-bersih, nyapu, nyuci, atau apa saja, Maira siap!”
Narsih membelalakkan mata. “Nak, kamu masih kecil. Kerja itu capek, lho.”
Khumaira mengangguk mantap. “Maira insyaallah kuat, Bu.”
Melihat kesungguhan dalam mata anak kecil itu, Narsih tersenyum haru. “Ya sudah, kamu bisa bantu Ibu bersihin halaman dan nyetrika, ya?”
“Siap, Bu!”
Khumaira langsung bekerja.
Meski panas, dan keringat menetes tanpa henti, ia tetap tersenyum. Ia merasa berguna. Ia juga merasa senang bisa membantu demi mendapatkan uang.
Setelah selesai, Narsih memberikan beberapa lembar uang. Khumaira menerimanya, dan memegangnya erat-erat.
“Alhamdulillah,” bisiknya, bahagia.
Ia belum berhenti. Ia berjalan ke rumah lain, menawarkan jasa yang sama.
Ada yang menerimanya, ada juga yang menolak. Namun, Khumaira tidak putus asa. Ia bekerja sampai matahari hampir tenggelam.
***
Sementara itu, di rumah, Rokhayah tampak gelisah. Napasnya semakin pendek. Ia berulang kali memanggil putrinya.
“Maira, kamu di mana, Nak?”
Ketika ketakutannya hampir menelan seluruh pikirannya, tiba-tiba terdengar suara salam dari depan rumah.
“Assalamu’alaikum!”
Rokhayah tersenyum lega. “Wa’alaikumussalam.”
Khumaira masuk sambil membawa plastik hitam. Ia berjalan mendekati ibunya.
“Ibu, Maira bawa sesuatu buat Ibu,” katanya pelan.
Sebelum menerima, Rokhayah bertanya, “Dari mana saja kamu? Sudah mau magrib baru pulang. Ibu jadi khawatir!”
Khumaira menunduk. “M-Maira tadi habis main sama Visa, maaf ya Bu. Maira nggak lihat waktu.”
Ia berbohong. Ia takut jika berkata jujur, ibunya akan sedih dan merasa tidak berguna.
Rokhayah menatapnya lama. “Jangan diulangi, ya. Kalau langit sudah gelap, kamu harus pulang.”
“Iya Bu. Em, ini ada sesuatu buat Ibu,” ucap Khumaira sembari memberikan plastik itu pada ibunya.
Rokhayah menerimanya, dan langsung membuka plastik itu. Di dalamnya ada obat. Ia menjadi terkejut.
“Kamu dapat dari mana ini?” wajahnya berubah menjadi serius.
Khumaira terdiam.
“Nak?” tanya Rokhayah dengan nada lembut.
“Maira beli ini di apotek, pakai uang tabungan Maira, Bu,” jawab Khumaira pelan.
“Apotek jauh lho, Nak. Kamu ke sana jalan kaki?”
Khumaira mengangguk.
Air mata Rokhayah jatuh tanpa bisa ditahan. Ia memeluk kepala putrinya.
Anak sekecil itu sudah memikul beban sebesar ini.
***
Di kamar, Khumaira tengah merebahkan diri. Rasa lelah menyelimuti tubuhnya, tetapi pikirannya jauh lebih lelah.
“Andaikan aku masih punya Ayah,” batinnya, “pasti Ibu nggak harus kerja keras sendirian.”
Ia tidak pernah mengenal ayahnya. Hanya nama yang samar-samar diceritakan ibunya, tanpa wajah, tanpa kenangan. Sosok ayah baginya seperti mimpi yang tidak pernah bisa ia ingat.
“Tapi nggak apa,” ucapnya sembari menatap langit-langit kamar. “Suatu hari nanti, Ibu nggak akan kerja sendirian lagi. Aku yang akan jaga Ibu sekaligus bantu cari pemasukan.”
Ia menutup mata, menyimpan tekad itu dalam-dalam. Meski ia belum berani mengatakan apa pun pada ibunya, ia sudah memilih jalannya sendiri, jalan seorang anak kecil yang tumbuh dewasa terlalu cepat karena hidup memaksanya begitu.
Di luar, hujan turun pelan, suaranya terdengar nyaring. Di kamar kecil yang sederhana, Khumaira memeluk dirinya sendiri, berharap besok ia punya cukup tenaga untuk kembali berjuang demi satu-satunya orang yang ia miliki di dunia ini.

khilda baiti
5 Pengikut · 4 Novel