


oleh Acha · 9 Bab
“Andai hidup bisa dimulai ulang.” Itulah kalimat yang selalu Shenina Serrana bisikkan dalam hati—hingga semesta benar-benar mengabulkannya. Di usia dua puluh tahun, Shenina tiba-tiba mendapati dirinya kembali ke masa 3 tahun lalu. Dunia seperti direset. Semua berjalan seperti biasa, kecuali Shenina. Tak ada satu pun yang menyadari perubahan itu ... sampai Raka Oxvandra muncul. Kehadiran murid baru itu memicu serangkaian kilasan aneh di kepala Shenina—potongan ingatan yang terasa begitu nyata, seolah mereka pernah saling mencintai. Meski ia yakin tak pernah mengenal sebelumnya. Apakah ini hanya delusi semata Shenina atau kebaikan Tuhan pada Shenina untuk memperbaiki kehidupan dan masa depannya?
Di kursi tunggu rumah sakit seorang gadis berambut panjang menundukkan kepalanya. Tetes demi tetes air mata membasahi amplop cokelat yang ia simpan di atas paha. Isakan kecil yang menyayat hati itu terdengar pilu sekali.
Dia, Shenina Serrana.
Gadis yang detik ini menyerah atas segala-galanya. Ia tidak tahu harus melangkah ke mana dan ia tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih lagi. Semuanya hanya berakhir sia-sia dan semuanya hanya meninggalkan penyesalan di hati Shenina.
“Andai hidup bisa dimulai ulang, aku ingin memperbaiki semuanya!”
SET!
“Shenina! Bangun, Sayang! Ini sudah jam berapa? Ayo cepat sekolah.”
Suara itu mengusik tidur seorang gadis berambut panjang yang masih bergulung dengan selimutnya. Dengan mata yang masih terpejam, ia terduduk dari baringnya. Tangannya meraba untuk meraih ikat rambut yang ia simpan di atas nakas.
“Sini Ibu ikat biar cepat,” ucap Ibu yang mengambil alih ikat rambut di tangan Shenina.
Selagi Ibu Yessa mengikat, Shenina mengucek matanya yang masih berat untuk dibuka. Setelah selesai, gadis itu malah hendak menjatuhkan kembali tubuhnya pada kasur.
“Eh!” jerit Ibu.
“Mandi sana! Ngapain tidur lagi?” pintanya.
“Iya-iya,” sahut Shenina.
Gadis itu pun turun dari ranjangnya, lalu menyambar handuk yang ia gantung di gagang pintu lemari.
“Nanti habis itu cepat ke bawah buat sarapan,” ucap Ibu.
Sesampainya di kamar mandi, Shenina memijat-mijat bahu serta lengannya. Ia merasa ada yang aneh. Seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal bahkan lelah.
“Hah?” Saat Shenina menatap dirinya pada cermin, ia tersentak.
“Aku habis nangis? Mata aku kok sembap?” tanyanya sendiri.
Sejenak, Shenina mengingat saat-saat malam.
“Habis baca novel, dengar musik sambil nugas, terus habis itu tidur sambil nonton Ytube. Enggak ada tuh aku nangis-nangis, tapi kenapa mata aku bengkak?”
Wangi roti bakar dengan olesan mentega menyeruak di meja makan. Ada Ibu, ada Ayah dan juga anak semata wayangnya—Shenina. Mereka berkumpul di satu meja setiap harinya untuk menyantap menu-menu sarapan buatan Ibu.
Ayah yang memperhatikan Shenina mengernyitkan keningnya.
“Kamu kenapa? Diputusin cowok?” tanya Ayah.
Shenina tersentak, lalu menjawab, “Cowok dari mana Ayah? Anak perempuanmu ini single.”
“Terus matanya kenapa?” tanya Ayah lagi.
Shenina mengangkat bahunya, lalu menjawab, “Aku pun bingung. Tiba-tiba saja sembap.”
Mendengar itu Ibu jadi melirik pada wajah Shenina. “Hati-hati loh kencing kecoa,” ujar Ibu.
“Tapi enggak gatal Bu, selain mata sembap badan aku pegal sama merasa capek saja gitu. Padahal aku enggak ngapa-ngapain, kenapa ya?” tanya Shenina.
“Kecapean kali,” sahut Ayah dan Ibu berbarengan.
Sudah menjadi rutinitas Shenina untuk pergi ke sekolah. Gadis itu akan melompat-lompat kecil menyusuri jalanan sekitar komplek rumahnya sambil bersenandung ceria. Setelah keluar dari area komplek, ia berjalan ke arah halte bus.
“Hah ….” Shenina menghela napasnya setelah bersandar pada kursi bus.
Pandangan gadis itu tidak akan beralih selama perjalanan, ia akan terus menatap samping jendela. Melihat jalanan dan orang-orang yang berlalu-lalang di jalan.
■■■
Adventy II School
Gedung yang luas dan megah itu menjadi tempat di mana Shenina menimba ilmu. Gadis itu senang bisa belajar di sekolah ini. Sekolah yang terkenal sangat unggul, selain banyaknya murid-murid berprestasi, Adventy II School juga adalah pilihan murid-murid dari keluarga berekonomi kelas atas.
Jadi jangan ditanya berapa banyak perempuan cantik di sana dan berapa banyak laki-laki tampan di sana.
Salah satunya Shenina Serrana.
Gosip-gosip tahun ini, dia akan menjadi ambassador Adventy II School. Di mana wajahnya akan terpampang di brosur serta baliho sekolah.
“My Shen-Shen! Selamat pagi!” teriak perempuan berambut pendek.
Leana Zialeya.
“Pagi, Nana!” sapa Shenina.
Gadis itu terduduk di kursinya yang berada di tengah-tengah pada baris pertama dekat jendela. Leana pun ikut duduk di samping Shenina, karena memang kursinya juga.
“Kamu baca berita di grup sekolah enggak, Shen?” tanya Leana.
Shenina yang tengah mengikat rambutnya menggeleng.
“Katanya hari ini di kelas kita kedatangan murid baru loh, namanya Raka,” jelas Leana.
Lirikan Shenina teralih pada ponsel di tangan Leana yang menunjukkan profil murid baru tersebut. Penasaran, Shenina membaca profilnya.
[Foto]
Nama: Raka Oxvandra
Umur: 17 Tahun
Birthday: 02 Juni 2004
Hobi: Koleksi mobil
Tanda Pengenal: “Aku anak dari seorang dokter dan ilmu kedokteran sudah aku kuasai beberapa. Kalau sakit, call me.”
Shenina mengangguk-angguk, lalu berkata, “Oh … Pak Dokter.”
“Bisa nih sembuhin luka di hati aku. Tandain, Shen,” sahut Leana.
“Enggak minat sama Pak dokter, kamu saja yang tandain,” ucap Shenina.
Obrolan mereka soal murid baru itu terhenti setelah Leana melihat cuplikan drama Korea terbaru. Kedua perempuan itu sibuk menonton sampai-sampai tidak sadar bahwa di sisi kiri dan kanan, lalu belakang mereka ada tiga laki-laki yang ikut menyaksikan.
“Anyyeong!”
Sontak Leana dan Shenina terperanjat. Benar-benar mereka tidak menyadari adanya orang lain di sisi dan belakang mereka.
“Ih! Ngagetin aja!” sentak Shenina.
“Kalian datang dari mana?” tanya Leana.
“Dari pintulah, ngaco. Terus dari mana lagi? Bawah lantai?” ucap Junior.
“Gini nih, cewek kalau sudah nonton yang ganteng lupa sama dunia,” ujar Satria.
“Mending lihat aku, aku sama kayak aktor Korea,” ucap Rio penuh percaya diri.
“Ewwh!” Serentak Shenina dan Leana menatap Rio jijik.
“Sudah sana ah, ngapain sih ngelilingin kita? Panas tahu!” ketus Leana.
“Kamu banyak setannya, Nana,” sahut Junior sambil berjalan ke kursinya, diikuti kedua temannya.
“Kamu setannya,” ucap Nana.
Bel masuk sudah berbunyi. Shenina beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil buku absen di laci meja guru yang ada di depan.
“Yuk, absen dulu, Anak-Anak!”
“YANG ENGGAK HADIR ANGKAT TANGANNYA!” teriak Shenina.
“Mulai, mulai begonya,” sahut Adit.
“Adit, kamu sekolah?” tanya Shenina bercanda.
“Terus aku siapa kalau enggak sekolah?” tanya Adit.
Obrolan mereka terhenti setelah melihat Bu Anna selaku wali kelas berjalan masuk menuju kelas.
KELAS 11 - IGA
“Kocak yang ngasih nama,” ucap Raka sebelum masuk ke dalam kelas.
“Selamat pagi, Anak-Anak,” sapa Bu Anna, yang langsung dijawab oleh seluruh anak didiknya.
Bu Anna berdiri di depan tidak sendiri sekarang, melainkan bersama murid baru yang bernama Raka Oxvandra itu. Mereka tidak lagi heran, karena sudah tahu berita soal murid baru ini.
“Halo semuanya, perkenalkan nama saya Raka Oxvandra. Saya murid pindahan dari International School Gesha Bakti yang akan jadi teman baru kalian semua, terima kasih,” jelas Raka.
Setelah perkenalan singkat itu, Raka dipersilakan untuk duduk oleh Bu Anna. Kebetulan Rio duduk sendiri jadi Raka duduk bersama Rio di sana. Saat langkahnya menuju kursi Rio yang terletak di samping kursi Shenina dan Leana, laki-laki itu tidak sengaja bertemu pandang dengan Shenina.
Saat bertemu pandang seketika di benak Shenina muncul kilasan—seperti flashback yang sudah terjadi pada kehidupan Shenina sebelumnya.
“Aku mencintaimu, Raka.”
“Aku mencintaimu, Shenina.”
SET!
Shenina terperanjat, lalu napasnya terengah-engah. Gadis itu terdiam sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
Kejadian apa tadi?

Acha
0 Pengikut · 1 Novel