


oleh BaraBee · 33 Bab
Bagi Nate, Zoe adalah guru yang menyebalkan, selalu memberinya hukuman. Sedangkan bagi Zoe, Nate adalah murid yang selalu berulah, tidak pernah taat aturan. Pertemuan kembali mereka di luar masa sekolah, menjadi titik awal hubungan keduanya. Nate harus kehilangan mimpinya, dan Zoe kembali kehilangan Nate karena malam panas yang mereka habiskan bersama. Karena malam itu, Nate hamil. Ia pun diusir. Saat Nate berharap tidak bertemu lagi dengan Zoe, takdir dengan kejam kembali mempertemukan mereka. Kali ini Zoe terus mengganggunya, memberinya perhatian yang tidak terduga, meski Nate tahu bukan dirinya yang laki-laki itu suka.
“Selamat, Anda hamil!”
Telinga Nate berdenging saat mendengar perkataan Dokter Ren. Dia hamil, jadi benar dia hamil.
Nate menggenggam erat alat testpack di saku jaketnya. Entah dia harus merasa sedih atau marah. Yang jelas ini semua terasa konyol.
“Usianya berapa, Dok?”
Dokter Ren menatap aneh pasien di depannya. Untuk seorang wanita yang sudah menikah, mendengar kehamilannya tentu menjadi hal yang membahagiakan.
Akan tetapi, hal itu tidak terlihat dari wajah pasiennya. Benarkah pasiennya itu sudah menikah seperti yang dikatakannya sebelumnya?
“Dihitung sejak terakhir kali masa menstruasi Anda. Kandungan Anda sudah menginjak usia satu bulan.”
Nate menarik garis bibirnya, tersenyum samar. Semuanya persis seperti yang dibayangkan.
Satu bulan lalu dia melakukan ‘hal terlarang dengan seorang pria’, dan kini dia hamil. Artinya dia termasuk perempuan yang subur?
Ternyata, pernyataan mamanya saat itu salah. Mamanya pernah berkata jika dia tidak akan bisa hamil.
Dia penasaran, seperti apa reaksi kedua orang tuanya ketika nanti mengetahui kabar kehamilan Nate.
Apakah ibunya akan mengacuhkannya lagi? Apakah papanya akan seperti kebakaran jenggot?
Bagaimanapun reaksi mereka nanti, Nate tidak sabar untuk melihatnya. Kini, dibandingkan rasa takut, hatinya dipenuhi rasa penasaran yang menggelitik.
Sinar matahari begitu terik, Nate seperti orang bodoh. Dia memakai jaket super tebal di siang hari seperti ini.
Dia baru saja keluar dari rumah sakit dengan membawa selembar foto USG. Terdapat lima lingkaran kecil yang lucu di foto itu. Nate lalu teringat dengan perkataan Dokter Ren.
“Anda sangat beruntung, mereka semua sehat. Kandungan Anda juga sangat kuat. Suami Anda pasti akan senang mendengar kabar ini.”
“Ya, dia akan senang.” Nate menjawab singkat. ‘Andaikan begitu, tetapi ayah mereka saja tidak tahu tentang mereka,’ lanjutnya dalam hati.
“Sebelumnya, mohon maaf jika pertanyaan saya ini sedikit lancang. Mengapa Anda datang ke rumah sakit seorang diri? Di mana suami Anda? Hemm, apakah Anda benar-benar sudah menikah?”
Untuk seorang dokter, pantaskah menanyakan pertanyaan seperti itu kepada pasiennya?
Nate tidak menjawab, dia juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan dokter itu untuk tidak penasaran. Lagi pula, siapa yang tidak akan curiga melihat seorang perempuan remaja datang ke dokter kandungan dengan penampilan sepertinya.
“Suami saya sedang kerja di luar kota. Dokter, meski saya terlihat muda, saya sudah menikah tahun lalu.” Meski hanya praktik menikah waktu di SMA, tepatnya. “Kalau pemeriksaannya sudah selesai, saya pamit pergi dulu, Dok. Terima kasih.”
Meski kesannya dia melarikan diri, tapi ini lebih baik daripada dokter itu semakin menaruh curiga padanya.
Nate mengusap perutnya yang masih datar, dia masih tidak percaya ada kehidupan lain dalam perutnya. Baru beberapa bulan lalu dia mengenakan seragam SMA, dan sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu. Tapi apakah perasaan seorang calon ibu akan sekosong ini?
Tidak.
Seharusnya bukan seperti itu.
Tak jauh darinya, ada sepasang suami istri yang keluar dari rumah sakit dengan wajah gembira, mereka juga membawa hasil foto yang sama dengannya. Bukankah seharusnya seperti pasangan itu? Dia seharusnya juga bahagia, sama seperti mereka.
Bahagia atau tidaknya sekarang bukan itu yang penting. Bau matahari mulai membuatnya merasa mual. Panggilan telepon yang sejak tadi membuat HP-nya bergetar membuat mualnya semakin bertambah.
“Hoek ..., hoek ....” Nate segera berlari ke arah pohon. Di sana dia memuntahkan semua isi perutnya.
Orang-orang melihatnya aneh, apalagi jaket tebal yang membungkus tubuhnya. Namun, bukan tanpa alasan dia memakai jaket super tebal di hari yang terik ini.
Alasan pertama mungkin karena bawaan hamil, dia jadi tidak mau terkena sinar matahari langsung. Kedua, dengan berpakaian seperti ini, alibi dia sedang tidak enak badan untuk mengelabui orang rumah agar bisa ke rumah sakit menjadi semakin kuat.
“Aduh, Non! Non, nggak apa-apa?”
Pak Jamal, sopirnya datang dengan membawa sebotol air untuknya, melihat nona-nya yang muntah-muntah membuat Pak Jamal tidak bisa tidak merasa cemas.
“Tahu begini tadi saya ikut Non ke dalam rumah sakit,” katanya, sambil menepuk-nepuk punggung Nate.
Nate hanya tersenyum sebagai tanggapan. “Nate nggak apa-apa, kok, Pak, cuman masuk angin biasa kata dokternya tadi.”
“Makanya, Non jangan sering-sering keluar malam dengan pakaian tipis, jadi begini, kan, akibatnya,” kata Pak Jamal memperingatkan. Mendengarnya, Nate tersentuh, dia tidak menyangka ada yang memperhatikan kebiasaannya keluar sebelum tidur.
“Siap, Pak Mal.” Nate tersenyum, dia menaruh tangannya di pelipis membentuk sikap hormat.
Pak Mal hanya geleng-geleng kepala, dia lalu memapah Nate untuk menuju ke arah mobil. “Pak Mal, kunci mobil, mana?” pinta Nate tiba-tiba.
“Kenapa, Non?” tanya Pak Mal yang tak langsung menyerahkan kuncinya pada Nate.
Nate menggeledah tubuh Pak Mal. Pria berumur itu jelas tidak akan memberikan kuncinya begitu saja. Alhasil, Nate sendiri yang harus mencari keberadaan kunci itu.
“E-ehh, Non, kuncinya, Non mau apa?!”
Senyum puas terpancar di wajah Nate saat menemukan kunci itu, sementara pak Mal terlihat pucat. “Pak Mal, Nate yang nyetir, ya?” ucap Nate dengan riangnya.
“T-tapi, Non?”
“Shttt! Pak Mal duduk aja yang tenang, nggak akan ada apa-apa, kok.” Nate mendorong tubuh Pak Mal masuk ke dalam mobil. Dia sendiri masuk lewat pintu sebelah.
Firasat Pak Mal sudah tidak enak. Terutama ketika Nate sudah menghidupkan mesin, buru-buru Pak Mal memasang seatbelt-nya.
“N-Non … Non, kan, sedang sakit. Kalau Tuan dan Nyonya melihatnya, bisa-bisa saya kehilangan pekerjaan, Non.” Pak Mal berpegangan pada pegangan di atas pintu, saat Nate mulai menyalakan mesin mobil.
“Pak Mal sudah kenal Nate kan? Lagipula, kapan mereka punya waktu memperhatikan Nate. Dan ya … Nate bukan Nalla.” Nate mengatakannya sembari fokus mengeluarkan mobil dari parkiran.
Mau sakit atau tidak, kapan mereka pernah peduli. Bagi mereka, Nathania hanya anak tambahan yang tidak mereka harapkan. Mau dia urakan, binal, atau jadi j*l*ng sekalipun, mereka tidak akan peduli.
Kedua orang tuanya hanya memikirkan adalah citra baik keluarga saja, sedangkan citra Nate selama ini sudah dikenal buruk. Nate bahkan menjadi langganan masuk ruang guru dan BK.
Di luar sekolah dia sering berurusan dengan polisi, terutama karena pelanggaran lalu lintas. Balapan liar dan kebut-kebutan sudah menjadi rutinitasnya.
Akan tetapi tidak sekalipun dari kegiatan itu mampu membuatnya merasa bergairah, takut, sekaligus bersemangat seperti sekarang.
Kata dokter, kandungannya kuat, tapi dia tidak menyangka jika akan sekuat ini. Bahkan, dia ngidam hal ekstrim ini.
Saat jalanan tampak lengang, Nate memacu mobil dengan kecepatan penuh. Tidak menghiraukan teriakan Pak Mal yang baru pertama kali diajak ngebut oleh Nate.
Nate justru tertawa, mengendarai dengan kecepatan tinggi di jalanan saat siang hari adalah tindakan bodoh. Bersyukur dia tidak bertemu polisi, dan tidak terlibat kecelakaan.
“Nak, kalian yang meminta ini, doakan ibu agar bisa selamat dan melahirkan kalian nantinya,” ucapnya dalam hati.

BaraBee
1 Pengikut · 1 Novel