Matahari bulan Januari di Jakarta sedang lucu-lucunya, alias panasnya minta ampun. Di dalam rumah keluarga Pak Gunawan, Siti sedang berlutut di lantai ruang tamu. Ia sibuk membelit sebuah bola hiasan pohon natal berwarna emas dengan kertas.
Di sampingnya, Isabel, atau akrab dipanggil Ibel, sedang berusaha memasukkan dahan-dahan pohon natal plastik ke dalam kardus besar yang sudah mulai robek di bagian pinggirnya.
“Mbak Siti, ini si pohon kenapa jadi lebih gendut sih pas mau dimasukkan kardus? Padahal pas keluar kemarin ramping-ramping aja,” gerutu Ibel sambil menekan-nekan dahan plastik itu dengan lututnya. Rambutnya yang diikat asal-asalan sudah basah oleh keringat.
Siti tertawa kecil, tangannya tetap lincah membungkus ornamen. “Itu tandanya pohonnya betah di luar, Bel. Malas dia masuk gudang lagi, pengap katanya.”
“Bisa aja, Mbak,” sahut Ibel sambil nyengir.
Sudah enam bulan Siti bekerja di rumah ini sebagai asisten rumah tangga. Awalnya, ia yang berasal dari sebuah desa kecil di Jawa Barat sempat ragu. Dia seorang muslimah yang taat, sedangkan keluarga Pak Gunawan adalah Katolik.
Kemudian, keraguan itu luntur sejak hari pertama. Alih-alih diperlakukan seperti pelayan, Siti malah merasa seperti punya adik perempuan baru yang super cerewet bernama Isabel. Dia baru berusia dua puluh tahun, sementara anak majikannya tujuh belas.
Di rumah ini, Siti tidak dipanggil ‘Bibi’. Pak Gunawan dan Bu Rina memanggilnya Siti, sementara Ibel memanggilnya Mbak Siti. Sebaliknya, ia memanggil Ibel langsung dengan namanya, sesuai permintaan Ibel yang katanya merasa ‘tua banget’ kalau dipanggil Non.
“Siti, Ibel, sudah mau selesai beresinnya?” Suara lembut Bu Rina terdengar dari arah dapur. Beliau muncul sambil membawa dua gelas es jeruk yang embun dinginnya tampak sangat menggoda.
“Dikit lagi, Bu. Tinggal lampu-lampu ini yang belibet banget kayak benang layangan,” jawab Siti sambil menerima gelas pemberian majikannya. “Makasih ya, Bu.”
Bu Rina duduk di sofa, ikut memperhatikan tumpukan barang-barang sisa kemeriahan Desember lalu. Beliau mengelap dahinya dengan tisu, lalu menatap kalender dinding yang ada di dekat meja makan.
“Nggak terasa ya, dekorasi natal sudah mau masuk gudang, tapi sebentar lagi kita sudah mau bulan Februari,” ujar Bu Rina pelan. Beliau tampak berpikir sejenak. “Eh, Siti, puasa tahun ini jatuh bulan berapa ya? Saya kok agak lupa jadwalnya.”
Siti mendongak, matanya berbinar. “Sepertinya pertengahan Februari sudah masuk tanggal satu Ramadan, Bu. Sekitar dua mingguan lagi kalau nggak salah.”
Ibel yang tadinya hampir berhasil menutup kardus, langsung berhenti. Matanya membulat. “Hah? Dua minggu lagi? Berarti Mbak Siti bakal mulai bangun jam tiga pagi buat masak-masak sendirian dong di dapur?”
Siti mengangguk santai. “Iya, Bel. Sudah biasa kok. Di rumah dulu juga gitu.”
Ibel mengerutkan kening, tampak sangat prihatin. “Yah, masa Mbak Siti sahur sendirian? Nanti kalau ngantuk terus salah masukin garam ke teh gimana? Kan bahaya. Apa aku ikut bangun aja ya, buat nemenin?”
“Hush, kamu itu susah bangun pagi, Bel. Biasanya aja jam tujuh baru melek,” timpal Bu Rina sambil tertawa. “Nanti Siti, kamu atur saja ya menunya. Kalau mau masak apa buat sahur, bilang ke saya biar sekalian kita belanjakan.”
Hati Siti menghangat. Kata orang di kampung, kerja di rumah yang beda agama itu bakal susah ibadahnya. Sedangkan di sini? Dia malah dipikirkan teman sahurnya.
“Nggak apa-apa, Bu, benaran. Siti sudah biasa mandiri,” jawab Siti tulus.
“Mbak, aku benaran mau tahu.” Ibel mendekat, duduk bersila di depan Siti sambil memegang lampu kelap-kelip. “Aku sering liat di TikTok, katanya sekarang ada yang namanya War Takjil. Itu benaran sebrutal itu ya? Sampai rebutan gorengan kayak rebutan tiket konser?”
Siti tertawa sampai bahunya terguncang. “Wah, itu mah seru, Bel! Apalagi kalau dapat es pisang ijo pas menit-menit terakhir sebelum azan. Rasanya kayak menang lotre.”
Ibel langsung memasang wajah serius. “Oke. Fix. Ramadan tahun ini, aku bakal jadi partner ‘war takjil’ Embak. Aku nggak mau liat Mbak lemes di kerumunan ibu-ibu berdaster.”
“Emang kamu berani sama ibu-ibu yang naik motor sen kiri, tapi belok kanan, Bel?” goda Siti.
“Dih, meremehkan!”
Di tengah obrolan seru itu, ponsel Siti yang tergeletak di lantai bergetar hebat. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari Ikbal, pacar Siti yang bekerja sebagai mekanik di bengkel motor.
“Lagi apa, Sayang? Kok teleponku nggak diangkat dari tadi? Lagi sama siapa?”
Siti buru-buru membalas sambil tersenyum-senyum sendiri. “Maaf Mas, lagi beresin barang natal sama Ibel. Kenapa?”
Tiga detik kemudian, ponselnya bergetar lagi.
“Ibel? Ibel siapa lagi? Cowok mana itu? Siti, jangan main-main ya, aku di sini kerja keras buat tabungan kita!”
Siti menepuk jidatnya. Dia lupa, Ikbal itu tipe cowok yang punya radar cemburu setajam silet. Dia belum pernah bercerita kalau Isabel, anak majikannya, biasa dipanggil Ibel. Bagi Ikbal yang telinganya kurang akrab dengan nama modern, "Ibel" terdengar seperti nama cowok kota suka tebar pesona.
“Kenapa, Mbak? Pacarmu ya?” tanya Ibel sambil mengintip sedikit.
“Iya, ini Si Ikbal. Dia kira kamu cowok, Bel,” ucap Siti sambil menahan tawa.
Ibel langsung tertawa terpingkal-pingkal sampai terguling di lantai. “Aduh. Kasih tahu dia, Mbak! Bilang Ibel itu cantik, imut, tapi galak kalau urusan rebutan makan.”
Siti hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengetik balasan untuk meredam api cemburu Ikbal yang salah alamat.
“Dia anak majikanku. Puas!” balasnya.
“Oh iya, Siti.” Bu Rina kembali bersuara. “Nanti kalau sudah selesai, kita makan siang bareng ya. Saya tadi beli ayam goreng. Sebelum kamu mulai puasa dan kita nggak bisa makan siang bareng lagi, mari kita puas-puasin.”
Siti tersenyum lebar. “Siap, Bu!”
Tangan Siti kembali bekerja, membungkus bola-bola emas terakhir. Dia menatap ke arah luar jendela, jalanan kompleks sebentar lagi akan dipenuhi pedagang kaki lima dengan tenda warna-warninya. Ada rasa tidak sabar yang menggelitik.
Meski nanti ada drama cemburu Ikbal yang salah sangka, atau keringat dingin saat mengantre kolak, Siti tahu babak baru hidupnya di kota ini akan sangat menarik untuk ditulis.
“Mbak Siti!” panggil Ibel tiba-tiba, membuat lamunan Siti buyar.
“Apa lagi, Bel?”
“Nanti pas hari pertama puasa, aku mau ikutan war takjil pakai kostum ninja ya? Biar lawan nggak tahu pergerakan kita!”
Siti tertawa keras. “Terserah kamu deh, Bel!”
Hari itu, debu-debu Natal akhirnya hilang, berganti dengan rencana-rencana seru menyambut hilal. Di rumah itu, toleransi tidak pernah diucapkan dengan kata-kata besar. Namun, Siti bisa merasakannya sendiri dengan hati.