


oleh Kikmatulla · 18 Bab
Cinta selalu datang bersama luka bagi Maulya Ezzira Rahma. Tunangan yang ia cintai pergi untuk selamanya sebulan sebelum menikah. Suami yang baru sebulan menemaninya pun dipanggil Tuhan dengan cara tragis. Dua kali kehilangan, dua kali hatinya hancur. Saat Ulya bersumpah tak ingin membuka hatinya lagi, hadir seorang pria asing yang berbeda dari yang lain. Wibawa dan kesholehannya memikat, tetapi ada rahasia kelam yang tersembunyi di balik senyumannya. Rahasia yang membuat Maulya gamang, karena jejak hidup pria itu terhubung erat dengan sosok yang ia benci, bahkan dengan kematian dua lelaki yang pernah mengisi hatinya. Akankah Ulya menerima pria untuk ketiga kalinya?
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Ulya berdiri di tepi jalan sendirian, tubuhnya kaku seakan orang hilang yang tak tahu arah pulang. Pandangannya terus menatap jalanan sepi, menanti sosok yang seharusnya sudah ada di sana sejak satu jam lalu.
Sebelumnya, Fardhan berjanji akan menjemputnya tepat pukul tiga. Namun, kenyataan berbicara lain, hingga kini bayangan pria itu sama sekali belum terlihat.
Detik demi detik berjalan, rasa kesal bercampur cemas mulai melingkupi hatinya. Ia menunduk, menggenggam jemari, lalu menghela napas panjang. Setelah menunggu cukup lama tanpa hasil, Ulya akhirnya pasrah.
Ia memilih pulang dengan menaiki becak yang kebetulan melintas. Sepanjang perjalanan, perasaan resah tak juga hilang. Ada firasat aneh yang membuat dadanya terasa berat.
Sesampainya di rumah, langkahnya terhenti begitu melihat pemandangan yang tidak biasa.
Kedua orang tuanya duduk di ruang tamu dengan wajah muram, tatapan kosong, seolah tengah memikirkan sesuatu yang sangat berat.
Mereka jarang terlihat seperti itu. Jantung Ulya menjadi berdegup lebih kencang.
“Abah, Umma, ada apa? Kenapa kalian terlihat begitu murung?” tanyanya dengan suara setengah bergetar.
Ayahnya menoleh perlahan, lalu menjawab lirih, “Ada kabar buruk, Nak.”
Ucapan itu membuat Ulya semakin gelisah. Kakinya terasa lemas, hingga ia memilih duduk di samping ayahnya, ia menatap penuh tanya. “Kabar buruk apa, Bah? Katakan pada Ulya,” desaknya.
Ibunya yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. “Kami baru saja mendapat kabar, katanya Fardhan kecelakaan, Nak.”
“Apa?!” Ulya spontan menatap ibunya dengan wajah pucat.
Ayahnya menimpali dengan nada berat, “Kami dengar, dia sedang dirawat di rumah sakit, dan kondisinya kritis.”
Kata-kata itu bagai tombak yang menancap langsung ke dadanya. Ulya menutup mulut, tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Hatinya menolak menerima kenyataan itu. “Tidak! Ulya tidak percaya! Itu pasti tidak benar!”
Orang tuanya hanya bisa diam. Mereka memahami betul kepedihan yang dirasakan putrinya. Sesekali mereka mencoba menenangkan, meski tahu tak ada kata yang cukup untuk meredam luka sebesar itu.
“Kalau benar Mas Fardhan masuk rumah sakit, Ulya akan pergi sekarang juga untuk memastikan!” seru Ulya.
Ia bangkit dengan cepat, lalu berlari menuju garasi. Tanpa pikir panjang, ia menyalakan motor ayahnya dan melesat menuju rumah sakit.
Hatinya dipenuhi doa dan harapan, semoga berita itu hanya kabar keliru.
***
Di rumah sakit, pemandangan yang ia temui justru semakin mengiris. Orang tua Fardhan duduk dengan wajah penuh duka, tangis tak terbendung. Ulya segera menghampiri dengan langkah tergesa.
“Assalamu’alaikum,” ucapnya dengan suara lirih.
“Wa’alaikumsalam, Nak,” jawab pasangan paruh baya itu serempak, namun tangis mereka justru semakin pecah melihat Ulya datang.
Ketegangan semakin menghimpit dadanya. Ulya berusaha menguatkan diri untuk bertanya langsung. “Maaf kalau saya lancang, tapi, apa benar Mas Fardhan kecelakaan?”
Calon ibu mertuanya mengangguk pelan, air mata terus mengalir di pipinya. “Iya, Nak. Kami sendiri tahu kabar ini dari polisi. Mas Fardhan kecelakaan.”
Jawaban itu membuat Ulya terdiam membeku. Tubuhnya lunglai, seolah tulangnya kehilangan daya. Bulan depan ia seharusnya berdiri di pelaminan bersama pria yang ia cintai, namun kini kenyataan menghantam begitu keras.
Air matanya kembali jatuh. Meski perih, ia berusaha menegakkan hati. “Mas Fardhan pasti bisa pulih. Mas Fardhan pasti kuat melawan rasa sakitnya,” gumamnya.
Dengan langkah gontai, ia berjalan menuju ruang perawatan. Dari kaca pintu, ia melihat tubuh Fardhan terbaring dengan berbagai selang dan perban. Pemandangan itu membuat napasnya tercekat.
Tak sanggup menahan perasaan, Ulya terduduk di kursi dan menangis sejadi-jadinya. Baginya semua ini masih terasa seperti mimpi. Betapa cepatnya kebahagiaan berubah menjadi derita.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah penuh beban. Ulya segera bangkit, lalu berlari mendekatinya bersama kedua orang tua Fardhan.
“Dokter, bagaimana kondisi pasien?” tanyanya terengah.
Dokter itu menatap mereka sebentar, lalu menunduk. Wajahnya suram. “M-maaf, pasien sudah meninggal dunia. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sekali lagi, mohon maaf.” Ia pun meninggalkan mereka begitu saja.
Deg! Dunia Ulya seakan runtuh. Kata-kata itu bagai petir yang menyambar tanpa ampun. Napasnya sesak, jantungnya terasa berhenti berdetak.
Mereka bertiga bergegas masuk ke ruangan.
Benar saja, layar monitor menunjukkan garis lurus panjang, tanda jantung tak lagi berdetak. Tangisan pun pecah serempak.
Ulya terisak hebat, lalu meraih tubuh Fardhan dan memeluknya erat. “Mas Fardhan, kamu janji mau nikahin aku, kan? Sekarang aku ada di sini, Mas, nikahin aku sekarang juga!” Suaranya pecah diiringi isak tangis yang memilukan.
Orang tua Fardhan hanya terdiam. Mereka tahu luka yang mengiris hati Ulya tak bisa diobati dengan kata-kata.
“Sudahlah, Nak. Mas Fardhan sudah tenang. Ini semua takdir Allah. Percayalah, nanti kamu akan menemukan jodoh yang lebih baik,” ucap ayah Fardhan dengan suara parau.
Ulya perlahan melepaskan pelukan. Air matanya tak kunjung berhenti. Rasa kehilangan, marah, kecewa, semuanya bercampur aduk.
Tak kuat lagi menanggungnya, ia berlari keluar rumah sakit tanpa sempat berpamitan. Tangisnya pecah sepanjang jalan, hari ini baginya berubah menjadi mimpi buruk yang nyata.
Sesampainya di rumah, Ulya masuk ke ruang tamu. Orang tuanya masih duduk di sofa. Ia ikut duduk dengan wajah kosong, matanya sembab.
“Eh, Nak, sudah pulang? Kamu habis jenguk Mas Fardhan, ya?” tanya ibunya dengan hati-hati.
Ulya hanya diam. Ayahnya memandang penuh kekhawatiran. “Ada apa denganmu, Nak? Kenapa wajahmu begitu?”
Ulya menggeleng. Mulutnya kelu, tak sanggup menjelaskan. Namun air matanya membocorkan semuanya.
Pipinya basah, bahunya bergetar.
“Ya Allah, Nak, apa yang terjadi?” Ibunya mulai panik.
Dengan terbata-bata, Ulya berkata, “Abah, Umma, a-aku mau m-memberi tahu sesuatu kalau ....”
“Bicara yang jelas, Nak,” potong ibunya.
Ulya menarik napas panjang, lalu berkata lirih, “Mas Fardhan, m-meninggal dunia.”
Seketika suasana membeku. Wajah orang tuanya berubah pucat, lalu saling berpandangan, tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
“Mas Fardhan ingkar janji! Dia pernah janji akan menikahiku, tapi sekarang malah pergi meninggalkanku untuk selamanya!” teriak Ulya, air matanya mengalir semakin deras.
“Jangan salahkan dia, Nak. Ini semua sudah takdir. Ajal tak ada yang bisa menolak,” jawab ibunya, mencoba menenangkan.
Ulya berlari ke kamarnya, dan mengunci pintu. Di dalam, ia menangis sejadi-jadinya. “Mas Fardhan sudah pergi, lalu bagaimana dengan aku? Bagaimana nasibku?” bisiknya lirih.
Hari-hari terasa kehilangan arti. Waktu berjalan, tapi baginya seolah berhenti. Di sela tangisnya, muncul pikiran gila. “Apa aku sebaiknya menyusul Mas Fardhan saja?”
Ia berdiri, melangkah keluar kamar dengan mata bengkak. Tangannya gemetar mengambil segelas air putih dan sebungkus racun tikus. Perlahan, ia tuangkan racun itu, hingga cairan dalam gelas berubah hijau pekat.
Sebelum meneguknya, perutnya mendadak mulas. Ia buru-buru ke toilet. Setelah selesai, ia kembali, meraih gelas itu, dan meneguk hingga habis tanpa sisa.
“Apa aku sudah mati?” gumamnya dengan mata terpejam. Anehnya, ia tak merasakan sakit. Tak ada gejala aneh.
Tubuhnya masih utuh, seakan racun itu tidak berefek apa-apa.

Kikmatulla
47 Pengikut · 3 Novel