


oleh Mihari Elara · 13 Bab
Rikuya Asahina hanya ingin hidup tenang di SMA barunya. Sayangnya, ia malah sebangku dengan Ayaka Minazuki—gadis separuh gyaru dengan sifat tsundere yang suka menyeretnya ke segala macam masalah. Masalahnya, Ayaka adalah siswi pindahan yang hanya akan bersekolah di sini selama satu tahun. Seiring berjalannya waktu, perselisihan kecil mereka berubah menjadi momen-momen yang justru sulit dilupakan. Tapi di balik tawa dan candaan, ada rasa takut yang tumbuh: bagaimana jika waktu satu tahun itu habis sebelum mereka sempat mengungkapkan semuanya?
Matahari musim semi menyelinap pelan melalui celah tirai kamar Rikuya Asahina, menebar cahaya hangat ke permukaan meja belajarnya yang penuh dengan buku dan peralatan sekolah. Bunyi alarm jam weker yang sudah tua berdenting lembut. Ia mengusap wajahnya yang masih setengah mengantuk dan menarik selimut dengan enggan.
“Ya ampun, hari pertama di sekolah baru kenapa harus pagi banget sih,” gumamnya dengan nada setengah mengeluh.
Di seberang kamar, terdengar suara dari dapur, tanda orang tuanya sudah mulai beraktivitas. Ia menarik napas panjang, berdiri dari tempat tidur, dan mulai bersiap-siap. Mandi pagi itu terasa lebih segar dari biasanya, udara dingin menampar kulitnya hingga rasa kantuk perlahan menghilang.
Saat mengenakan seragam sekolah barunya, Rikuya sempat berdiri di depan cermin, mengamati dirinya sendiri. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan ia rapikan seadanya, mata cokelat tua menatap cerminan dirinya dengan ekspresi campur aduk antara percaya diri dan ragu.
Tas sekolahnya yang sudah diisi buku dan tentu saja kamera polaroid kesayangannya tergantung santai di bahunya. Kamera itu sudah menemani perpindahan kota demi kota, seakan menjadi saksi bisu dari setiap perjalanan hidupnya.
Sambil berjalan ke ruang makan, aroma sarapan pagi sudah menguar harum. Ibunya, dengan rambut hitam sebahu yang diikat longgar, sedang menata piring dan roti di meja, sementara ayahnya membaca koran sambil sesekali menyeruput kopi hitam hangat.
“Selamat pagi, Nak,” sapa ibunya dengan senyum hangat saat melihat Rikuya masuk.
“Pagi, Bu,” jawabnya singkat sambil duduk.
Ayahnya mengalihkan pandangan dari koran. “Bagaimana perasaanmu di hari pertama ini? Sudah siap menghadapi dunia baru?”
Rikuya mengangkat bahu. “Ya aku cuma ingin satu hal: melalui tahun ini tanpa ribut-ribut.”
Ibunya menepuk ringan pundaknya. “Bagus. Jangan lupa makan yang cukup, dan jangan terlalu banyak mikir.”
Rikuya tersenyum tipis. “Iya, aku janji.”
Setelah sarapan selesai, Rikuya kembali ke kamarnya sebentar untuk memastikan semua perlengkapan sudah lengkap.
Di luar rumah, angin musim semi berembus lembut, membawa aroma bunga sakura yang mulai bermekaran.
Di dalam bus, suasana ramai dengan siswa lain yang juga menuju sekolah yang sama.
Sesampainya di depan gerbang SMA Hoshizora, Rikuya menuruni bus dan berjalan memasuki kompleks sekolah. Bangunan tiga lantai itu tampak megah dengan taman sakura di sisi kiri. Kelopak-kelopak bunga berjatuhan lembut, seolah menyambut kedatangannya.
Ia memotret sebatang pohon sakura yang sedang mekar penuh. Bunyi klik dari polaroid memberi sensasi bahwa setiap momen bisa diabadikan.
Di depan kelas 2-B, suasana sudah mulai ramai. Beberapa siswa bercengkerama, ada yang sibuk dengan ponsel, dan beberapa guru tampak memeriksa daftar nama.
Saat ia membuka pintu kelas, seorang pemuda dengan rambut cokelat gelap dan mata hazel tersenyum ramah.
“Hei, kamu yang baru? Aku Haruto Kaji. Selamat datang!”
Rikuya mengangguk. “Terima kasih. Aku Rikuya Asahina.”
Beberapa siswa lain melirik ke arahnya dengan rasa ingin tahu, tapi tidak ada yang langsung menyapanya selain Haruto.
Tidak lama setelah itu, pintu kelas terbuka kembali. Seorang gadis dengan rambut cokelat karamel sebahu yang diwarnai gradasi pirang di ujung masuk. Matanya yang amber terang menatap kelas sejenak, lalu berhenti pada Rikuya.
Dia berjalan ke bangku sebelahnya dan duduk dengan ekspresi setengah acuh tapi penuh waspada.
“Hm, anak baru ya? Jangan harap aku bakal gampang ngalah sama kamu,” katanya dengan nada tegas, tapi ada senyum kecil menyembul di bibirnya.
Rikuya mengangkat alis. “Santai aja. Aku juga nggak niat ganggu.”
“Kalau gitu jangan bikin aku repot,” jawabnya sambil memasang pita rambut pastel di kepalanya, ciri khas yang selalu membuatnya terlihat berbeda dari siswi lain.
Pelajaran pun dimulai. Guru wali kelas menyapa dengan hangat.
“Selamat pagi, Anak-Anak. Hari ini kita kedatangan siswa pindahan, Rikuya Asahina. Semoga kalian semua bisa menerima dia dengan baik.”
Selama pelajaran, Rikuya berusaha mengikuti dengan seksama, tetapi tatapan Ayaka yang tajam dan komentar-komentar kecilnya di sela pelajaran selalu membuatnya sedikit tersentak.
Saat jam istirahat, Rikuya hendak membuka kotak bekalnya, namun tiba-tiba tangan Ayaka merampasnya dengan sigap.
“Hei, ini makananku?” protes Rikuya.
Ayaka hanya tersenyum nakal. “Lihat dulu bekalmu. Lumayan buat aku.”
“Kembalikan,” desak Rikuya.
“Terserah. Tapi kalau nggak mau bagi, aku bilang ke ketua kelas kalau kamu sering ketiduran di kelas,” goda Ayaka dengan nada main-main.
Rikuya menatapnya sinis. “Kamu ini ancaman hidup.”
“Makanya duduk di samping aku, biar aku awasi kamu,” jawab Ayaka santai sambil menggigit roti manis bekalnya.
Sore hari tiba dengan cepat, dan pelajaran terakhir berakhir. Saat bel pulang berbunyi, Ayaka menghentikan Rikuya di pintu.
“Kamu ada waktu?” tanyanya tiba-tiba.
“Untuk apa?” Rikuya terlihat ragu.
“Latihan klub drama. Mereka butuh pemeran pengganti cowok,” jawabnya tanpa basa-basi.
Rikuya hampir menolak, tetapi Ayaka mengancam, “Kalau kamu nolak, aku bilang ke guru kalau kamu ketiduran terus.”
Dengan enggan, Rikuya setuju.
Saat mereka berlatih di ruang klub yang penuh dengan kostum dan dekorasi, Ayaka menunjukkan sisi lain dirinya. Dia ceria, impulsif, tapi juga terlihat sedikit rapuh saat jauh dari tatapan orang lain.
“Ekspresimu kayak patung,” cibirnya sambil tertawa.
“Ini bukan keahlianku.” Rikuya menjawab santai.
Tapi Ayaka menatapnya lama. “Tapi aku nggak benci lihatnya.”
Dalam perjalanan pulang, suasana berubah hening. Angin musim semi menggerakkan kelopak sakura yang jatuh ke bahu Ayaka.
Dia memandang Rikuya dengan mata yang tak biasa.
“Kamu tahu nggak? Aku cuma akan ada di sekolah ini selama satu tahun.”
Rikuya terdiam, terkejut.
“Setahun, lalu aku harus pergi,” tambahnya pelan.
Mereka berjalan menyusuri jalan kecil di belakang sekolah, di mana pohon-pohon sakura berjajar rapi. Kelopak bunga yang berguguran menari lembut diterpa angin, menciptakan suasana yang entah kenapa terasa lebih pribadi daripada di dalam kelas tadi.
“Aku nggak pernah suka pindah-pindah sekolah,” kata Ayaka tiba-tiba, memecah keheningan.
Rikuya menoleh, sedikit terkejut. Biasanya Ayaka selalu punya kata-kata tajam dan sindiran pedas, tetapi kali ini suaranya terdengar lirih dan nyaris tanpa ekspresi.
“Kenapa?” tanya Rikuya, berusaha mengisi ruang kosong di antara mereka.
Ayaka menggeleng. “Nggak ada yang abadi. Semua orang cuma pergi, atau aku yang pergi. Susah buat deket sama siapa-siapa kalau gitu.”
Rikuya diam, mencoba mencerna kata-katanya. Entah kenapa, ia merasa sisi lain dari Ayaka yang selama ini tersembunyi mulai terbuka sedikit demi sedikit.
“Kalau aku …, cuma pengen tahun ini berjalan lancar,” ucapnya akhirnya.
Ayaka menoleh, memandangnya dengan mata amber yang kini sedikit redup.
“Kamu yakin bisa bertahan dengan aku? Aku …, bukan orang yang mudah didekati.”
“Justru itu,” jawab Rikuya. “Aku nggak pengen setahun ini cuma lewat tanpa arti.”
Mereka berjalan beriringan sampai akhirnya sampai di persimpangan jalan dekat halte bus. Ayaka berhenti, menarik napas panjang, seolah mengumpulkan keberanian.
“Dengar, Rikuya,” katanya pelan. “Aku nggak mau kamu salah paham. Aku bukan tipe cewek yang gampang percaya sama orang baru, apalagi cuma buat setahun.”
Mereka saling bertatapan sebentar. Dalam senyuman kecil Ayaka, ada kerentanan yang selama ini ia sembunyikan di balik sikap tsunderenya.
“Yah, anggap aja ini awal dari pertemanan kita,” ucap Ayaka, lalu menepuk bahu Rikuya dengan santai.
Rikuya tertawa kecil. “Pertemanan dengan cewek tsundere, ya?”
Ayaka menyikut pelan lengannya. “Jangan bikin aku marah di hari pertama.”
Malam harinya, di kamar Rikuya, ia duduk di mejanya dan membuka album foto kecil yang berisi kumpulan polaroid perjalanan hidupnya. Di halaman terakhir, ada foto pohon sakura tadi pagi, dengan tulisan tangan kecil di bawahnya: Awal baru.
Ia menghela napas, lalu membuka laptop untuk mengetik catatan harian pertamanya di sekolah baru.
Rikuya Asahina, hari pertama sekolah dan aku duduk sebangku dengan Ayaka Minazuki. Tsundere dengan hati yang sulit ditebak.
Di balik jendela kamarnya, lampu jalan berkelap-kelip, dan angin malam berembus membawa janji akan hari-hari penuh warna yang akan datang.

Mihari Elara
15 Pengikut · 1 Novel