


oleh Dina0505 · 102 Bab
Kematian suami Andina Zairin memberikan kesan duka mendalam di hatinya. Namun, Andina mempunyai keyakinan sang suami tidak pernah meninggalkannya, hanya saja sedang mencari jalan kembali untuk bersamanya. Sampai suatu ketika Andina bertemu dengan sosok pria yang memiliki kriteria sama dengan suaminya. Mampukah Andina melepas bayang masa lalu bersama sang suami dan memulai kehidupannya bersama pria yang saat ini bersamanya? Yuk baca kisahnya selanjutnya.
"Cinta pertama tidak akan mati, tetapi cinta sejati akan selalu hidup." Begitulah perumpamaan dengan cinta yang dimiliki Andina pada Dika.
Awal pertemuan yang tak disengaja dari sebuah insiden, siapa yang menduga menjadi awal dari kedekatan keduanya.
"Haduh, pagi-pagi malah direpotkan sama urusan motor mogok. Mana jalanan sepi lagi. Mau minta bantuan siapa?" Andina menggerutu dengan keadaan yang dia alami.
Tin tin. Suara klakson motor seseorang mengagetkan Andina. "Mbak motornya, di pinggirin dong. Saya lagi buru-buru ni." Pria dari dalam mobil menyembulkan kepalanya.
"Mas, saya juga ga mau kayak begini. Cuma masalahnya, motor saya mogok."
Pemuda itu segera turun dari mobilnya. "Sini saya bantu."
"Eh, Mas. Mau ngapain? Katanya buru-buru," seru Andina lagi.
"Saya cuma mau bantu, lagian kalau motor Mbak mogok terus pasti makin lama perjalanannya." Pemuda itu langsung turun tangan membantu memperbaiki motor Andina dengan keahliannya.
Andina merasa kagum dengan kepiawaian pemuda itu, setelah lama menunggu akhirnya, motor Andina selesai diperbaiki.
"Nah, ini sudah beres Mbak. Coba dicek lagi." Pemuda itu menyerahkan kunci motor dan Andina menyalakan motornya.
"Wah, ini sudah bisa, Mas." Wajah gadis muda itu tampak sumringah. Pemuda itu ikut tersenyum bahagia.
"Makasih Mas, kalau bukan karena bantuan kamu saya ga tahu harus minta tolong ke mana?"
"Ya sudah, saya berangkat dulu, ya." Permuda itu segera naik ke atas mobilnya.
"Eh, tunggu dulu. Saya belum tahu nama kamu." Andina sedikit bersorak karena pemuda itu sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Aku Dika," ujarnya sambil tersenyum lalu dia berlalu dari hadapan Andina.
Andina segera menuju ke rumah sakit, tempatnya bekerja. Di ruang kerjanya, Andina masih teringat akan pertemuannya dengan Dika, singkat tapi cukup memberi kesan manis. Dia tersenyum mengingat kejadian bersama Dika.
Akan tetapi, Andina tersentak dari lamunannya saat ponselnya berdering. Gadis itu segera mengangkat panggilan masuk dari ponselnya.
"Halo Sayang, tumben pagi-pagi sekali menghubungiku."
"Sayang, sepertinya hari ini aku dapat kontrak kerja baru. Kayaknya, aku harus pergi lagi," ucap Barley sang kekasih do seberang sana.
"Kok gitu sih? Baru tiga hari kamu pulang udah mau pergi lagi." Andina merasa sedih saat kekasihnya mengatakan akan pergi lagi.
"Maaf, Sayang, ini tuntutan pekerjaan, tapi tenang nanti aku belikan kamu tas baru. Kemarin kamu bilang mau tas keluaran terbaru." Barley mencoba membujuknya.
"Aku butuh kehadiran kamu, bukan tas mewah yang selalu kamu belikan!" Andina sedikit meninggikan suara lalu memutuskan panggilan Barley.
Singkat cerita, Barley pergi untuk melanjutkan kontrak kerjanya. Hari-hari Andina terasa mulai terasa hampa.
Hubungan Andina dan Barley bisa dikatakan hubungan jarak jauh, sehingga membuat Andina merasa kesepian, sehingga Andina menjadikan media sosial Facebook untuk mengisi kekosongan hatinya.
Saat Andina sendang mengecek akun facebook-nya, tanpa sengaja Andina menemukan akun Dika. Meski sedikit ragu, Andina memberanikan diri menyapanya. Si pemilik akun belum juga membalas.
Lama tidak mendapat respons, Andina beralih pada teman-teman lainnya. Setelah dua jam berlalu, Dika mulai membalas, tetapi sikapnya masih cuek. Andina yang masih penasaran, tetap mengajaknya bicara. Sampai akhirnya, mereka merasa nyaman satu sama lain. Keduanya juga, menanyakan kabar satu sama lain.
Andina sadar, kedekatannya dengan Dika hanya akan memberi harapan lebih pada Dika. "Apa yang sudah kulakukan? Apa aku sudah berbuat salah? Maaf, Barley, kamu terlalu sibuk. Aku juga sering melihat foto-foto kebersamaanmu dengan rekan-rekan kerjamu. Kamu lebih mementingkan pekerjaan daripada aku. Aku tidak sanggup kalau terus-terusan seperti ini." Andina merasa tertekan dengan hubungan jarak jauh ini.
Dika sendiri, merasa nyaman dengan sikap Andina yang perhatian dan kebaikan Andina membuatnya merasa hidup yang yang selama ini sepi, menjadi lebih berwarna. Dika mulai sadar ada sesuatu yang kini dia rasakan pada Andina. Apakah Dika telah jatuh cinta pada Andina
"Aku tahu, kamu sudah punya kekasih, tapi aku yakin sekali masih ada ruang di hatimu untukku. Aku akan tetap berusaha mendapatkan kamu, Ndin. Kamu sangat berarti bagiku." Dika yakin sekali dengan tekadnya
Dika berpikir keras untuk mengungkapkan perasaannya pada Andina. Ada sesuatu yang berbeda dari Andina, dulu dia dekat dengan wanita hanya untuk bersenang-senang. Setelah dekat dengan Andina, ada sesuatu yang tidak pernah dia rasakan dari wanita lain. Dika meyakini hatinya sudah terpikat pada Andina.
Tepat pada pagi hari, Dika menghubungi Andina, sekedar bertanya tentang keadaan Andina. Tidak perlu waktu lama, Andina membalas chat dari Dika dan memberitahukan apa saja aktivitas pagi yang dia lakukan. Akan tetapi, pagi itu berbeda sekali. Dika seperti ingin menyampaikan sesuatu pada Andina.
"Andina, kamu lagi sibuk?"
"Nggak, Dik, ada apa?"
"Ada sesuatu yang mau aku bicarakan padamu. Apa kamu mau mendengarkan?"
"Bilang aja Dika, aku akan mendengarkan, tetapi sambil kerja ya." Andina masih berjibaku dengan kertas-kertas kerja di hadapannya. Ada perasaan bingung dan penasaran dalam hati gadis muda itu.
"A–aku, aku suka sama kamu Din, aku mau kita menjalin hubungan serius." Dengan perasaan campur aduk Dika mengungkapkan isi hatinya.
Sontak saja, ucapan Dika membuat Andina terkejut. Nyaris saja, Andina tidak percaya dengan pengakuan Dika. Sejenak, dia pun terdiam dan tidak membalas chat dari Dika. Andina mencoba merenungkan ucapan Dika.
Merasa tidak enak hati, Dika meminta maaf karena bersikap lancang padanya. Sebab dia tahu, kalau Andina telah mempunyai kekasih.
Di sisi lain, Andina merasa sungkan dan dia mengatakan kalau dirinya juga menyukai Dika, hanya saja perasaannya kepada Dika hanya sebatas sahabat, tidak lebih.
Dika tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba meyakinkan Andina dan sedikit memaksa untuk menerimanya. Saking nekatnya, Dika sampai berkata, mau menjadi yang kedua asal bisa bersama Andina.
Andina yang mempunyai prinsip kuat, tentu saja tidak mau. Andina kukuh tetap bersahabat dengan dika
Satu tahun berlalu, persahabatan mereka semakin terasa akrab dan selalu saling menguatkan satu sama lain. Dika semakin yakin, dia bisa mendapatkan hati Andina.
Tepat satu tahun saling mengenal, Dika memberanikan diri mengungkapkan perasaannya kembali pada Andina,
"Din, aku tahu ini konyol, tapi aku ga bisa membohongi perasaanku padamu. Aku benar-benar ingin menjalin hubungan serius sama kamu."
Andina terdiam sejenak, tetapi untuk kali ini tidak ada penolakan dari Andina. "Baiklah kita jalani saja dulu." Entah apa yang dirasakan gadis itu, tiba-tiba saja, hatinya mau menerima Dika dengan segala keadaannya.
Dika terkejut tak percaya, Andina menerima cintanya. Dika menanyakan tentang keseriusan Andina menjalani hubungan dengannya dan memutuskan berpisah dengan kekasihnya. Bukan karena dirinya tak setia, tetapi Andina merasa nyaman bersama Dika.
Lima tahun menjalin hubungan, Andina memutuskan untuk menikah dengan Dika. Dari pernikahan mereka memiliki sepasang anak kembar, yaitu Syaquila dan Syaqil.
Pada akhirnya, setiap pertemuan selalu ada perpisahan. Dika memberitahukan keadaan dirinya yang sedang sakit. Andina berusaha untuk melakukan yang terbaik demi kesembuhan Dika. Namun, Tuhan berkehendak lain.

Dina0505
113 Pengikut · 12 Novel