


oleh Coretan_Alkhares · 100 Bab
‘Tak kenal, maka tak sayang’. Istilah tersebut, merupakan motivasi Aletta agar bisa bertahan menjalani rumah tangga dengan Levian. Pernikahan yang dipaksakan karena sebuah wasiat, membuat gadis cantik itu mau tak mau harus menerima Levian sebagai suaminya. Levian sendiri merupakan rekan bisnis dari ayah Aletta. Pria tampan, mapan dan matang, tetapi memiliki perangai yang dingin. Di saat Aletta berhasil menanamkan benih cintanya untuk Levian, rupanya ada suatu hal di balik surat wasiat tersebut. Belum lagi, masa lalu Levian yang mulai mengganggu. Akankah Aletta berhasil mengatasi semua permasalahan dalam rumah tangganya? Dan kisah apa, yang ada di balik surat wasiat sang ayah?
"Apa? Menikah?" kaget Aletta ketika ibunya membicarakan pernikahannya.
"Iya Nak, kau harus segera menikah!" jawab Rosalin.
"Tapi Bu, ayah baru saja meninggal." Aletta benar benar-benar tidak mengerti dengan pola pikir sang Ibu.
"Justru karena itu Aletta. Mendiang ayahmu-lah yang menginginkan pernikahan ini," jelas Rosalin.
"Ini, ini adalah surat wasiat yang ayahmu tulis." Rosalin memberikan lembaran kertas yang merupakan surat wasiat dari mendiang suaminya.
Aletta segera meraih kertas itu lalu membacanya. Sungguh, Aletta benar-benar tidak mengerti dengan ayahnya. Bagaimana bisa dirinya yang masih berusia 23 tahun harus menikahi rekan kerja ayahnya sendiri.
Sudah Aletta pastikan, jika pria yang akan menjadi suaminya adalah pria tua yang gendut dan juga beruban. Membayangkannya saja, membuat Aletta merinding. Tetapi mau bagaimana lagi. Aletta tidak mau dicap durhaka dan membuat ayahnya tidak tenang di atas sana. Oleh karena itu, Aletta dengan sangat terpaksa harus menerima pernikahan ini.
"Baiklah, aku bersedia memenuhi wasiat ayah. Asal dengan satu syarat!" tegas Aletta.
"Syarat apa Nak?" tanya Rosalin dengan penasaran.
"Aku, tidak ingin tidur satu kamar dengannya, dan aku tidak ingin diatur. Aku ingin tetap menjalankan kegiatanku seperti biasanya." Aletta bersedekap menatap ibunya dengan wajah yang kusut.
"Tidak bisa seperti itu sayang, di mana-mana, orang yang sudah menikah, harus tidur bersama." Rosalin mencoba mendekati Aletta dan merayu putri semata wayangnya itu.
"Tapi Bu, Aletta bahkan tidak mengenalnya. Apalagi mencintainya," keluh Aletta.
"Sayang, perasaan itu akan muncul seiring berjalannya waktu Nak." Rosalin mengelus rambut Aletta dengan sayang.
Jujur saja. Rosalin kasihan dengan anak gadisnya ini, tapi dia juga tidak mampu berbuat apa-apa. Mungkin saja, Dario memang memiliki maksud tertentu.
"Levian, pasti dia itu pria tua kan Bu? Di surat wasiat itu tertulis, pria itu rekan kerja ayah. Itu berarti usianya sama dengan ayah. 40 tahun?" tanya Aletta.
"Mungkin saja Nak, ibu juga tidak terlalu mengenalnya." Rosalin memang tidak asing dengan nama Levian.
Ketika keduanya sibuk dengan pemikiran masing-masing, mereka dikejutkan dengan suara ketukan pintu. Karena penasaran, Aletta segera beranjak untuk membukakan pintu. Setelah pintu mulai terbuka, Aletta mengerutkan dahinya ketika melihat seorang pria bertubuh tinggi berdiri di ambang pintu.
"Maaf, Anda siapa?" tanya Aletta.
"Levian," jawab pria itu singkat.
"Levian? Seperti tidak asing." Aletta tampak terdiam memikirkan sesuatu.
Ketika Aletta telah mengingatnya, sontak saja Aletta menutup mulutnya dengan mata yang melotot. Bagaimana tidak, pria yang dianggap tua dan gendut, ternyata tidak sama sekali. Pria itu justru terlihat jauh lebih muda.
Alis tebal, matanya yang setajam elang. Lalu hidungnya yang bangir membuat wajahnya terlihat hampir sempurna.
"Aletta? Siapa yang bertamu Nak? Kenapa tidak diajak masuk?" tegur Rosalin.
Rosalin segera menyusul ketika tidak mendapat jawaban dari Aletta.
"Aletta ... eh? Maaf, apakah Anda Tuan Levian?" tanya Rosalin kepada Levian.
"Benar, aku Levian." Levian menatap kedua wanita di hadapannya secara bergantian. Dan jangan lupakan wajah datarnya.
"Kalau begitu, silahkan masuk Tuan!"
Rosalin menarik pelan tangan Aletta agar ikut masuk bersamanya. Diikuti Levian yang berjalan dengan gaya angkuh di belakangnya. Kini ketiganya telah duduk di sofa ruang tamu. Aletta duduk berdampingan dengan sang ibu, sedangkan Levian duduk berhadapan dengan Aletta.
"Apakah dia yang bernama Aletta?" tanya Levian kepada Rosalin.
"Benar Tuan, ini Aletta putri semata wayangku dan juga Dario."
Levian mengangguk seraya menatap Aletta dengan intens. Sedangkan Aletta, gadis itu malah kembali menatap Levian lebih tajam.
"Apa? Kenapa menatapku seperti itu?" sinis Aletta.
"Aletta!?" tegur Rosalin.
Mendapat teguran dari sang ibu, Aletta mendengus, lalu membuang muka agar tidak bertatapan dengan Levian. Sedangkan Rosalin hanya bisa menghela nafas melihat kelakuan sang anak.
"Maaf Tuan, jika boleh saya tahu, ada perlu apa Anda kemari?" tanya Rosalin dengan sopan.
"Aku ingin membahas soal wasiat yang ditinggalkan Dario," jawab singkat Levian.
Hal itu membuat Aletta kembali menatap tajam Levian yang juga menatapnya. Apa-apaan, pikirnya. Kenapa pria ini kaku sekali.
"Hey Tuan, berbicaralah dengan benar, agar kami mengerti dengan apa yang kau bicarakan!" protes Aletta.
Mendengar protesan Aletta, Levian sedikit mengernyitkan dahi, lalu mengangkat sebelah kakinya untuk disilangkan. Dengan tangan yang bersedekap dada, Levian kembali menatap Aletta dengan seksama.
"Menikah, bukankah Dario memintamu untuk segera menikah? " jawab Levian dengan santainya.
Aletta mengacak rambutnya dengan frustasi setelah mendapat jawaban dari Levian.
"Lalu?" tanya Aletta dengan gemas.
"Tunggu, bagaimana Tuan bisa mengetahui soal wasiat dari mendiang suami saya? Apakah dia sempat membicarakannya dengan Anda?" sela Rosalin.
"Hemm ...," jawab Levian seraya menganggukan kepalanya.
"Ya Tuhan, berilah hamba kekuatan untuk menghadapi makhluk kaku ini!" gumam Aletta.
"Aku mendengarnya," ucap Levian tiba-tiba.
"Eeh benarkah??" heran Aletta.
"Baiklah, maafkan aku Tuan. Tentang pernikahan itu, Anda ingin menolaknya bukan? Sudah aku duga, syukurlah ... Anda memang terlalu tua untukku," cerocos Aletta tanpa menyadari raut wajah dari Levian.
"Aletta hentikan!!" tegur Rosalin.
Aletta kembali terdiam lalu menundukan kepalanya karena merasa bersalah kepada Rosalin. Dan semua itu tidak lepas dari tatapan tajam Levian.
"Lusa kau akan menikah denganku, dan aku tidak menerima penawaran apapun. Permisi," tegas Levian seraya meninggalkan Rosalin dan Aletta yang tercengang di tempatnya.
"A-apa? Lusa?"
Setelah kepergian Levian. Aletta menutup wajahnya lalu mengusaknya dengan kasar.
"Tidak, tidak. Aletta tidak mau Ibu, Aletta tidak akan sanggup hidup bersama orang sekaku dan sedingin itu, bantu Aletta Ibu ...," heboh Aletta .
"Maafkan ibu Aletta. Bukannya ibu tidak ingin membantumu. Tetapi ayahmu sudah mempersiapkan semuanya sayang. Dan bisa saja ayahmu memiliki alasan tertentu untuk ini. Hanya saja, kita tidak mengetahuinya." Rosalin mencoba menenangkan Aletta. Wanita itu mengelus punggung sang putrinya dengan sayang.
"Tapi, bagaimana jika dia jahat? Ibu lihat kan? Dia sangat dingin dan angkuh,"
"Ayahmu tidak akan sembarangan memilih calon suami untuk putri kesayangannya. Jadi, sudah dipastikan dia adalah orang terbaik pilihan ayahmu."
Rosalin mengurai pelukannya dengan Aletta. Lalu menatap wajah cantik Aletta seraya tersenyum hangat.
Aletta terdiam dengan segala bayangannya dengan sang ayah. Bahkan, dia harus merelakan masa lajangnya.
"Ibu benar. Selama ini, yah selalu memberikan yang terbaik untuk Aletta. Dan sekarang, sudah waktunya Aletta membalas semua kebaikan dan kasih sayang ayah." Aletta menyandarkan kepalanya di dada sang ibu.
"Aletta tidak ingin mengecewakan ayah."
***
Di sisi lain, setelah keluar dari rumah Aletta. Levian bergegas memasuki mobil untuk melanjutkan perjalanannya.
"Kembali ke perusahaan!" perintahnya kepada Bima.
"Baik, Tuan."
Bima segera melajukan kendaraan itu dengan kecepatan sedang.
Selama perjalanan menuju perusahaan, Levian terus saja memikirkan Aletta. Mulai dari cara gadis itu berbicara, marah, dan juga kesal.
'S*al, dia sangat cantik dan juga manis.'

Coretan_Alkhares
10 Pengikut · 3 Novel