


oleh Yenie Iria · 8 Bab
Karena ingin membalas perbuatan Raka, yang mengaku berselingkuh tepat di hari pernikahan kami, aku pura-pura jatuh cinta pada pria mapan dan memintanya menikahiku. Lelaki bernama Danar itu setuju, tetapi setelah akad ia memberikanku kontrak pernikahan. Tak masalah, aku juga tak menginginkan pernikahan sungguhan. Namun, sejak Sara, wanita dari masa lalu Danar datang, aku tak bisa melepaskan suamiku begitu saja.
Wajah kedua orang tuaku terlihat panik. Bapak mondar-mandir meyakinkan tamu, sedangkan Ibu berulang-ulang meminta kepastian.
Aku mulai gelisah karena sudah berkali-kali menghubungi Raka. Namun, tak satu kali pun ia menjawab. Ke mana sih dia!
Bukankah sudah dari kemarin kuperingatkan untuk tak datang terlambat? Aku semakin tak nyaman ketika tamu undangan terlihat mulai berbisik-bisik sementara kami tak bisa berbuat apa pun selain menunggu.
"Bagaimana, Nduk? Jam berapa Raka akan datang?" Dengan penuh khawatir Ibu bertanya.
Aku menggeleng sambil tertunduk. Setelah menelan ludah, aku baru menjawab pertanyaan ibu.
"Masih belum ada kabar, Bu."
Bapak yang kini berada di samping Ibu menghela napas.
Ketegangan semakin terasa. Waktu terus berjalan, dan semua mata kini tertuju padaku, pengantin wanita yang duduk di depan penghulu tanpa pengantin pria di sisinya.
Aku mencoba tersenyum, meski dadaku penuh rasa sesak. Suara-suara pelan dari para tamu yang berbisik tak dapat kuhindari.
"Kenapa catinnya belum datang?"
"Jangan-jangan ada masalah."
"Kasihan anak itu."
"Apa dia tak bisa datang tepat waktu, kami sudah lelah."
Beberapa detik berikutnya, penunjuk waktu online di profil WhatsApp calon suamiku terlihat. Bergegas aku mengiriminya pesan.
[Penghulu dan para tamu sudah lama menunggu, kamu di mana, Raka? Apa ada masalah? Tolong cepat balas pesanku.]
Ketika status mengetik muncul, hatiku yang sempat beku mulai mencair. Sebuah senyuman kecil muncul. Sungguh rasanya sangat lega.
"Sepertinya dia sebentar lagi sampai," aku berujar nyaring dengan percaya diri, mencoba meyakinkan diri sendiri sekaligus semua orang di ruangan itu.
Namun, keyakinanku langsung runtuh ketika pesan itu masuk. Sebuah foto yang tak pernah aku duga sebelumnya. Raka berdiri di depan cermin, tampak masih mengenakan kemeja putih yang sedikit kusut dan berantakan.
Namun, yang membuatku tercekat adalah bayangan di belakangnya, seorang wanita, berbaring di ranjang dengan pakaian yang kurang bahan.
Aku membeku. Dunia seakan berhenti. Telingaku berdenging, tubuh gemetar. Belum selesai aku memproses foto itu, pesan lainnya masuk.
[Maaf, Rin. Aku sudah mendapat tambatan hati yang lain. Dia jelas lebih baik dari kamu. Kehidupannya mapan, dia juga berpendidikan. Aku menyesal kenapa lebih dulu mengenalmu daripada dia. Aku rasa, ini yang terbaik untukku.]
Kata-kata itu menusuk jauh ke dalam hatiku. Aku berusaha membaca ulang pesan tersebut, berharap ini hanyalah kesalahpahaman. Namun tidak, ini adalah kenyataan pahit yang sulit kuterima.
Tenggorokanku seketika tercekat, air mata perlahan merembes, tak bisa lagi kutahan. Sungguh ini sangat menyesakkan. Kenapa Raka melakukan ini tepat di hari pernikahan kami?
Aku harap ini hanya prank. Dia akan membuat kejutan setelahnya. Tapi kalau tidak?
Bagaimana aku menghadapinya sendirian? Aku harus mengatakan apa pada orang tuaku?
Mereka juga pasti menanggung malu pada sanak saudara. Raka tentu saja tak memikirkannya karena ia tak perlu mengkhawatirkan hal itu. Kedua orang tuanya sudah tiada.
Aku terdiam, menatap kosong ke sekitar dengan isi kepala yang sudah semrawut.
"Kenapa, Nduk? Apa yang terjadi dengan Raka?" Ibu bertanya dengan cemas, menyentuh lenganku yang gemetar.
Aku tidak menjawab. Kata-kata terasa terjebak di tenggorokanku. Dengan tangan gemetar, aku melepaskan rangkaian melati dari kepala, membuangnya tanpa peduli.
Ponsel kumasukkan ke dalam tas, lalu tanpa memedulikan tatapan panik orang-orang, aku menyeka air mata dan beranjak dari kursi.
"Ibu, Bapak, aku harus pergi," ucapku singkat sambil berjalan cepat menuju pintu keluar.
Di belakang, kudengar suara Ibu memanggil-manggil namaku. Tamu-tamu yang awalnya hanya berbisik kini terkejut, beberapa di antaranya bahkan mencoba menghentikanku.
Namun tekadku sudah bulat. Aku harus menemui Raka sekarang juga!
Aku tahu di mana ia berada, dan aku tidak akan membiarkan semua ini berlalu tanpa penjelasan darinya.
Angin siang yang panas menyambutku di luar. Aku berlari kecil menuju mobil yang terparkir di halaman, mengenakan kebaya pengantin yang kini terasa seperti beban. Hatiku penuh dengan amarah, kecewa, dan rasa malu yang membara.
Jika ini akhir dari pernikahan yang tak pernah dimulai, maka setidaknya aku harus melihat wajahnya sekali lagi dan ingin tahu alasannya membuat keluargaku malu seperti ini.
"Memangnya sehebat apa perempuan yang berhasil membuatmu berpaling di saat-saat terakhir, Raka!"
Aku mencengkeram erat setir dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Ini sungguh menyakitkan.
Dengan perasaan yang disayat-sayat, aku melaju seperti orang kesetanan. Bahkan seandainya aku tak beruntung, bisa saja dengan kecepatan tinggi begini, aku malah menemui malaikat maut.
Masa bodoh, jika terlambat sedikit saja, Raka mungkin akan meninggalkan kamar tempat ia bersama jalang itu. Dan selamanya aku akan hilang kesempatan untuk melihat dengan mata kepala sendiri bukti dari perbuatan mereka.
***
Aku mengetuk pintu dengan menahan emosi yang sudah memuncak di tenggorokanku. Tidak ada alasan untuk menutupi rasa marah yang mendidih di dadaku, tapi aku tahu, ini harus kulakukan dengan kepala dingin.
"Siapa?"
Suara itu terdengar dari balik pintu, suara Raka, penuh dengan nada curiga, seolah-olah dia tahu bahwa langkah ini akan berujung pada kehancuran baginya.
"Layanan kamar. Hotel sedang mengadakan promo untuk makan siang." Kebohongan meluncur dari mulutku dengan nada datar yang kuhias dengan kehampaan.
Sebenarnya, suaraku hampir bergetar, tapi aku menahannya, menyamarkan emosi yang siap meledak. Aku tak ingin gagal menemui Raka hanya karena emosi ini.
Hening. Detik-detik berlalu dengan berat, sebelum suara langkahnya mendekat ke pintu. Saat akhirnya pintu itu terbuka, wajahnya melongo, tidak ada kata lain untuk menggambarkannya.
Raka terlihat seperti orang yang baru saja melihat hantunya sendiri. Matanya membesar, rahangnya menganga. Dia tidak menyangka melihatku di tempat ini.
"Bagaimana kau tahu aku ada di sini?" tanyanya gugup, suaranya naik beberapa oktaf.
Aku menyeringai, tapi senyum itu penuh racun, penuh amarah yang kutahan mulai merayap ke permukaan. Beragam kalimat sumpah serapah bertebaran di kepala, hanya saja aku tak ingin terlihat bodoh dengan mengatakan itu semua.
"Kau bodoh menggunakan voucher hotel yang seharusnya jadi kamar malam pengantin kita, Raka!" Kalimat itu kulepaskan dengan histeris, menusuk udara di antara kami.
"Dia siapa?" Suara wanita itu memecah ketegangan, dan seolah tak cukup menyakitkan, ia muncul di ambang tempat tidur, hanya berbalut pakaian dalam.
Matanya yang indah membelalak, wajahnya terkejut. Ia buru-buru menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, gerakannya terlihat canggung.
Aku melirik sekilas ke arahnya. Tidak perlu waktu lama untuk menyadari apa yang membuat Raka memilih dia. Dan aku tak perlu lagi menanyakan Raka tentang alasannya meninggalkanku.
Wanita ini adalah gambaran sempurna dari apa yang tidak kumiliki. Tubuh ramping, wajah cantik tanpa cela, rambutnya jatuh sempurna meski baru saja bangun dari posisi berbaring.
Bahkan pakaian yang berserak di lantai terlihat mahal, mencolok dengan kesan mewah yang sama sekali tidak kumiliki.
Namun bukan kecantikannya yang paling menyakitkan, bukan keindahan fisiknya yang membuatku merasa hancur.
Lebih dari itu, kenyataan bahwa Raka, yang selama ini bersumpah mencintaiku, memutuskan aku bisa digantikan oleh seseorang yang memiliki materi lebih. Seseorang yang mungkin bisa membelikan apa pun yang dia inginkan.
Jelas berbeda saat bersamaku yang sering kali memperhitungkan segala pengeluaran.
"Aku bisa menjelaskan ini," ucap Raka. Bukan padaku, tapi pada wanita yang tentunya jauh lebih 'berharga' itu
Tanganku terkepal, dan sebelum bisa menahan diri, aku melayangkan tamparan keras ke pipinya.
Suara tamparan itu memecah kesunyian, menggema di kamar, membuat wanita itu menjerit tertahan.
Raka terhuyung ke belakang, tangannya terangkat ke pipi yang memerah. Aku yakin rasa sakit yang ia terima dari tamparan ku masih belum sebanding dengan luka yang telah ia perbuat.
"Hei! Kau sudah melakukan kekerasan dan mengusik ketenangan orang lain! Kau tak tahu aku siapa? Aku bisa menuntutmu dengan bantuan pamanku yang kaya!" Wanita itu melontarkan kalimat penuh kesombongan. Nada suaranya tajam, menusuk seperti pisau yang berusaha mempermalukanku.

Yenie Iria
0 Pengikut · 2 Novel