


oleh Sunflower · 100 Bab
Vincent, seorang mahasiswa sederhana, tak pernah menyangka hidupnya berubah setelah bertemu Sintya, sosialita anggun berusia empat puluhan. Hubungan mereka terlarang, penuh godaan dan rahasia. Di antara glamor, cinta, dan bahaya, Vincent harus memilih: mundur sebelum semuanya hancur, atau terus hanyut dalam pelukan yang tak seharusnya.
Hujan sore itu menetes pelan di atap kos-kosan reyot yang ditempati Vincent Cassanova. Pemuda berusia dua puluh satu tahun itu duduk di kursi kayu tua, menatap layar laptop yang sudah penuh stiker mengelupas. Cahaya redup dari bohlam lima watt membuat kamar sempit itu tampak semakin muram.
Kosan Vincent hanya berukuran tiga kali empat meter. Di dalamnya ada kasur tipis, meja belajar kayu bekas, gantungan baju seadanya, dan rak kecil berisi buku-buku manajemen yang setengahnya dipinjam dari perpustakaan. Dindingnya berwarna kusam, cat terkelupas di beberapa sisi. Bagi banyak orang, tempat itu mungkin tak layak disebut rumah. Tapi bagi Vincent, itu satu-satunya ruang yang bisa ia sebut “miliknya”.
Vincent adalah anak panti asuhan sejak kecil. Ia tidak pernah tahu siapa orang tuanya. Sejak bayi, ia ditinggalkan di depan gerbang panti, terbungkus kain lusuh tanpa identitas. Namanya bahkan bukan nama asli pemberian darah dagingny. Itu hanya sebutan yang diberikan salah satu pengurus panti karena bayi itu lahir pada malam Valentine. Ironis, mengingat hidupnya justru jauh dari kisah romantis.
Masa kecil di panti mengajarinya kerasnya hidup. Segala sesuatu serba terbatas—makanan, pakaian, kasih sayang. Ia tumbuh bersama puluhan anak lain, berbagi ranjang bertingkat, berbagi pakaian bekas sumbangan, berbagi mimpi yang seringkali pupus sebelum sempat tumbuh. Namun dari semua keterbatasan itu, Vincent belajar satu hal: harga diri tak boleh ikut miskin.
Itulah sebabnya meski hidup serba pas-pasan, Vincent selalu menjaga penampilan. Jaketnya mungkin murahan, tapi selalu bersih dan disetrika rapi. Sepatunya bekas, tapi dipoles sampai mengilap. Rambutnya dipotong sederhana, namun tertata. Cara bicaranya tenang, intonasinya jelas, seolah ia tumbuh di lingkungan kelas menengah ke atas. Banyak orang kaget saat tahu dia anak panti—karena auranya jauh dari kesan “kurang mampu”.
Ada paradoks di dirinya. Mahasiswa miskin, tapi gayanya elit. Bukan karena sok gaya, melainkan karena memang begitulah Vincent. Ia terbiasa membaca buku-buku filsafat dan majalah bisnis bekas dari donasi kampus. Ia meniru gaya bicara tokoh-tokoh sukses yang ia tonton lewat video gratis di perpustakaan digital. Di matanya, elegan bukan soal uang, tapi soal sikap.
Di balik aura itu, kenyataan hidupnya pahit.
Setiap bulan, uang beasiswa hanya cukup untuk bayar kos, makan sederhana, dan transportasi. Itu pun masih harus dibagi untuk biaya kuliah. Seringkali Vincent menahan lapar dengan mie instan, atau menunda bayar listrik demi bisa membeli buku.
Kesalahan terbesarnya adalah ketika ia tergoda pinjaman online. Awalnya hanya untuk menutup biaya kuliah yang mendadak naik. “Cuma sekali ini,” pikirnya. Tapi bunga yang mencekik membuat utang itu membengkak. Dari satu aplikasi ke aplikasi lain, hingga sekarang, Vincent terjebak dalam lingkaran setan.
Ponselnya bergetar di meja. Notifikasi masuk pesan dari nomor tak dikenal.
"Besok batas waktu terakhir. Kalau tidak bayar, alamat kosmu kami datangi. Jangan coba-coba kabur."
Vincent menelan ludah. Bayangan dua debt collector, Anton dan Joko, menghantui pikirannya. Mereka pernah menemuinya sekali, menekan dengan tatapan garang, memaksa tanda tangan perjanjian. Sejak saat itu, tidur Vincent tak pernah nyenyak.
Di luar semua itu, Vincent bukan tipe yang gampang menyerah. Ia tetap kuliah, tetap masuk kelas, tetap mengerjakan tugas dengan sungguh-sungguh. Bahkan, ia masih bisa tampil sebagai mahasiswa yang disegani karena kepintaran dan wibawanya. Dosen-dosen sering menjadikannya contoh ketika presentasi. Teman-temannya, seperti Dimas dan Bagas, mengandalkannya untuk tugas kelompok.
Kadang ada cewek kampus yang terpesona dengan caranya berbicara atau gaya berpakaian rapi, tapi Vincent selalu menjaga jarak. Ia tahu dirinya bukan siapa-siapa, bukan orang yang bisa memberi jaminan.
Malam itu, setelah berjam-jam mencoba fokus pada tugas manajemen keuangan, ia menutup laptop dengan berat hati. Listrik kos hampir habis tokennya. Perutnya keroncongan, tapi dompet hanya berisi lembaran lima ribuan. Ia menghela napas panjang, lalu menyalakan rokok murahan satu batang—satu-satunya “kemewahan” yang bisa ia beli.
Dari jendela sempit kosnya, ia menatap lampu kota yang berkelip di kejauhan. Dunia seolah terbagi dua. Ada dunia mewah penuh cahaya, pesta, dan tawa, lalu ada dirinya, di kamar sempit, berjuang agar tidak tenggelam dalam jeratan utang.
Jauh di lubuk hatinya, Vincent selalu percaya. Suatu hari, hidupnya akan berubah. Entah bagaimana caranya, ia akan keluar dari lingkaran ini.
Hujan malam itu turun deras, menutup langit kota dengan tirai air yang nyaris tak berhenti. Jalanan macet, klakson bersahutan, dan lampu-lampu kendaraan memantul di genangan yang mengalir deras menuju selokan. Di trotoar yang licin, seorang pemuda dengan jaket abu kusam melangkah cepat, menunduk agar wajahnya tak sepenuhnya basah. Dialah Vincent Cassanova.
Vincent menggigil, tubuhnya lelah setelah seharian kuliah. Tas ransel yang ia peluk sudah lusuh, resletingnya longgar, tapi tetap jadi satu-satunya pelindung buku dan laptop tuanya. Dompet di sakunya hanya berisi selembar lima ribuan, dan itu pun sudah dialokasikan untuk makan besok.
Ponselnya bergetar. Vincent berhenti sebentar di bawah atap toko, menyalakan layar. Sebuah pesan masuk dari nomor asing.
"Vincent, jangan coba-coba kabur. Besok jatuh tempo. Kalau kamu nggak bayar, kami datang langsung. Jangan salahkan kalau tetanggamu ikut tahu."
Jantungnya berdegup kencang. Itu pasti Anton atau Joko, debt collector yang beberapa kali mengintai kosnya. Tangan Vincent gemetar mematikan layar. Ia menarik napas panjang, menegakkan tubuh, lalu kembali berjalan cepat.
Saat itu pandangannya jatuh pada sebuah kafe di sudut jalan. Pintu kacanya berembun, cahaya hangat lampu gantung kristal memancar keluar. Aroma kopi segar seolah menembus kaca, menenangkan pikirannya yang kalut. Tanpa pikir panjang, Vincent mendorong pintu masuk.
Bersambung.

Sunflower
20 Pengikut · 9 Novel