Jakarta malam itu sedang murung. Hujan turun begitu deras, membasuh jalanan ibu kota dengan sisa-sisa amarah dari langit. Aruna berlari dengan napas yang mulai tersengal, berusaha mencari perlindungan di sebuah gang sempit yang gelap. Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena lelah, melainkan karena bayang-bayang wajah ibunya yang terbaring lemah di bangsal rumah sakit tadi sore.
Ibunya kritis, dan Aruna tidak punya apa-apa untuk menyelamatkannya. Jangankan biaya operasi, untuk makan besok saja ia harus memutar otak.
"Tolong ... siapa pun, tolong aku," rintih Aruna. Suaranya hilang ditelan gemuruh petir yang bersahutan.
Ia bersandar pada tembok gang yang dingin dan lembap. Air matanya jatuh, menyatu dengan rintik hujan yang membasahi pipi. Di depannya hanya ada jalan buntu—sebuah tembok kusam yang seolah menggambarkan akhir dari harapannya.
Tapi, saat Aruna mengusap matanya yang buram, sebuah keajaiban muncul. Di antara tumpukan kardus basah, berdiri sebuah pintu kayu jati berwarna merah tua yang terlihat sangat megah.
Pintu itu tampak ganjil, seolah tidak seharusnya berada di sana. Di bagian atasnya, tergantung sebuah papan kayu dengan ukiran emas yang berkilau meski tanpa cahaya: Toko Nasib: Bayar dengan apa yang kau miliki, dapatkan apa yang kau inginkan.
Aruna tertegun. Ia merasa seperti sedang bermimpi di tengah keputusasaan. Tapi, dorongan untuk menyelamatkan ibunya jauh lebih kuat daripada rasa takut. Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu itu.
Ting!
Suara lonceng kecil berdenting lembut. Seketika, hiruk-pikuk badai di luar lenyap. Suasana berganti dengan aroma kopi yang menenangkan dan wangi kertas-kertas tua yang memenuhi ruangan.
"Kau terlambat lima menit, Aruna."
Aruna tersentak. Di ujung ruangan, di balik meja kayu besar yang antik, seorang pria sedang duduk dengan tenang. Pria itu mengenakan kemeja hitam, wajahnya tampak rupawan tapi memiliki tatapan yang begitu dingin, seolah ia sudah terbiasa melihat ribuan duka manusia.
"Kamu ... tahu namaku?" tanya Aruna pelan. Bajunya yang basah kuyup mulai menciptakan genangan di lantai toko yang bersih.
Pria itu menutup buku tebal di hadapannya. "Aku Arka. Dan di toko ini, aku tahu setiap jiwa yang datang dengan rasa putus asa."
Arka berdiri dari kursinya. Aruna refleks mundur selangkah. Pria itu memiliki aura yang sangat kuat—misterius sekaligus mengintimidasi.
"Ibumu tidak punya banyak waktu lagi, bukan?" Arka berujar tanpa nada, seolah sedang membicarakan hal yang remeh.
"Tolong, Arka ... aku akan melakukan apa pun asal Ibu selamat. Aku tidak punya uang, tapi ...."
"Aku tidak menerima uang," potong Arka cepat. Ia berjalan mendekat, tapi tiba-tiba berhenti dalam jarak yang cukup jauh dari Aruna. Ia tampak menjaga jarak dengan sangat tegas.
Arka menunjuk sebuah botol kaca kosong di atas meja. "Aku bisa membuat ibumu kembali sehat malam ini juga. Tapi ada harga yang harus kau bayar. Aku menginginkan suaramu. Mulai besok, kau tidak akan bisa bicara lagi. Selamanya. Bagaimana?"
Dunia Aruna seakan berhenti berputar. Ia menatap Arka, mencari secercah kebohongan di mata pria itu, tapi yang Aruna temukan hanyalah keseriusan yang mutlak. Kehilangan suara berarti kehilangan cara untuk mengungkapkan kasih sayang pada ibunya, atau bercanda dengan Luna. Tapi, jika itu satu-satunya cara ...
"Ambil saja," jawab Aruna dengan suara yang mantap meski hatinya bergetar. "Selamatkan ibuku."
Arka memberikan senyum tipis yang sulit diartikan. "Kesepakatan dibuat."
Seketika, lonceng di atas pintu berdenting sangat keras. Ting! Ting! Ting!
Tenggorokan Aruna mendadak terasa panas, seperti terbakar oleh api yang tak terlihat. Ia ingin berteriak, tapi tak ada satu pun bunyi yang keluar. Pandangannya mulai mengabur, dan hal terakhir yang ia lihat adalah Arka yang tiba-tiba mencengkeram dadanya sendiri dengan ekspresi yang sangat gelisah.
°°°°Pagi Tanpa Suara°°°°
Cahaya matahari menyusup paksa melalui celah gorden kamar Aruna yang sudah mulai menipis warnanya. Aruna mengerjap, merasakan pening yang luar biasa di pangkal kepalanya, seolah ada seseorang yang baru saja menghantamnya dengan balok kayu. Ia mencoba bangkit, tapi tubuhnya terasa sangat berat.
Hal pertama yang ia ingat adalah hujan. Gang buntu. Dan pria bernama Arka dengan pintu merahnya yang ganjil.
"Mimpi?" bisik Aruna dalam hati.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debar jantungnya. Tapi, saat ia mencoba memanggil Ibunya, ada sesuatu yang salah. Aruna membuka mulutnya, berusaha mengeluarkan suara, tetapi yang terdengar hanyalah embusan napas kosong. Ia mencoba berdehem, memaksa tenggorokannya untuk bekerja, tapi rasanya seperti ada dinding tak kasat mata yang menyumbat jalur suaranya.
Aruna panik. Menyentuh lehernya dengan tangan gemetar. Mencoba berteriak, memberikan seluruh tenaganya untuk mengeluarkan satu kata saja, tapi hasilnya nihil. Kamar itu tetap sunyi senyap.
Ketakutannya memuncak hingga suara pintu depan rumahnya terbuka dengan keras.
"Aruna! Kamu sudah bangun?"
Itu suara Ibunya. Suara yang seharusnya tidak mungkin terdengar sebugar itu setelah berbulan-bulan hanya bisa merintih kesakitan di ranjang rumah sakit. Aruna melompat dari tempat tidur dan berlari menuju ruang tengah.
Di sana, Bu Lastri berdiri dengan apron di tubuhnya, sedang menata piring di atas meja kayu mereka yang reyot. Wajahnya tidak lagi pucat pasi. Tidak ada selang oksigen, tidak ada aroma obat-obatan yang menyesakkan. Ibunya tersenyum, senyuman paling cerah yang pernah Aruna lihat selama bertahun-tahun.
"Ibu ...." Aruna menggerakkan bibirnya, tapi tak ada suara yang keluar. Matanya seketika memanas. Ia segera menghambur ke pelukan Ibunya, menangis sejadi-jadinya di sana.
"Lho, kenapa menangis, Nak? Ibu sudah sehat. Dokter bilang ini keajaiban. Kemarin malam tiba-tiba kondisi Ibu membaik dan mereka memperbolehkan Ibu pulang pagi ini," ujar Bu Lastri sambil mengusap punggung Aruna.
Aruna hanya bisa mengangguk dalam tangisnya. Keajaiban itu nyata. Tapi harga yang harus ia bayar juga nyata. Suaranya telah diambil sebagai alat tukar.
Ting tong!
Bel rumah yang sudah agak rusak itu berbunyi dengan berisik. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan muncul sosok Luna dengan napas tersengal-sengal. Di tangannya ada sebuah kantong plastik besar berisi sarapan.
"Aruna! Aku dengar dari tetangga Ibu kamu sudah—" Kalimat Luna terhenti saat melihat Aruna yang hanya diam membisu dengan mata sembab. "Na? Kamu kenapa? Kok nangis?"
Aruna melepaskan pelukan Ibunya, ia menatap Luna dengan tatapan nanar. Aruna meraih selembar kertas dan pulpen dari atas meja kerja kecilnya di sudut ruangan.
"Suaraku hilang, Lun. Aku nggak bisa ngomong."
Luna membaca tulisan itu dengan mata terbelalak. "Maksudnya apa? Kamu sakit tenggorokan? Ayo kita ke dokter!"
Aruna menggeleng kuat-kuat. Ia menulis lagi dengan cepat. "Bukan sakit. Ini bayaran untuk kesembuhan Ibu."
Luna terdiam. Ia menatap Aruna, kemudian beralih menatap Bu Lastri yang juga tampak bingung. Luna tahu Aruna tidak pernah bercanda soal hal-hal seperti ini. Luna mendekat, memegang bahu sahabatnya itu dengan erat.
"Apa ini ada hubungannya dengan toko aneh yang kamu ceritain kemarin?" bisik Luna pelan agar tidak terdengar oleh Bu Lastri.
Aruna hanya bisa mengangguk pelan. Ia teringat kata-kata Arka semalam. Tentang kontrak yang harus ia jalani sebagai asisten. Aruna tahu, keajaiban ini bukan hadiah gratis. Ada jam kerja yang harus ia penuhi di toko yang hanya muncul saat keputusasaan datang.