“Di mana dia, Tabib Tua? Jangan berpura-pura. Kami tahu pewaris itu kau sembunyikan!”
Teriakan kasar itu menggema di antara rumah-rumah kayu Lembah Sunyi. Malam yang biasanya penuh aroma pinus justru dipenuhi bau asap, darah, dan tanah hangus. Di langit, bulan tampak menyala merah seakan ada luka menganga yang meneteskan darah ke seluruh lembah.
Tabib Yue berdiri di ambang pintu rumahnya. Tubuh tuanya tampak ringkih, tapi sorot matanya malam itu berbeda ada ketegasan yang jarang muncul, bahkan di hadapan Liang Chen yang telah ia besarkan sejak kecil.
“Aku tak menyembunyikan siapa pun,” kata Tabib Yue pelan. “Kalian salah alamat.”
Di balik lemari obat, Liang Chen berusaha menahan napas. Lembah tempat ia tumbuh selama delapan belas tahun itu tak pernah sekalipun diselimuti teriakan ataupun suara pedang. Namun, malam itu, denting logam, langkah kasar, dan jeritan warga terdengar dari segala arah.
Dari celah dinding bambu yang retak, ia mendongak. Bulan merah menggantung sangat rendah. Tabib Yue pernah memperingatkan purnama berdarah adalah malam ketika batas dunia melemah. Ia selalu mengira itu hanya cerita lama untuk menakut-nakuti anak kecil. Kini ia tahu itu bukan dongeng.
Di halaman berdiri enam orang berjubah hitam. Topeng perak polos menutupi wajah mereka, hanya mata dingin yang terlihat. Pemburu Bayangan nama yang biasa diceritakan para pedagang keliling, sering kali dalam bisikan takut.
Pemimpin mereka maju selangkah. Tubuhnya besar, pedang panjang di punggungnya memantulkan cahaya merah bulan.
“Kami datang untuk Pedang Langit,” ujarnya. “Atau lebih tepat darah yang mampu membangkitkannya.”
Tabib Yue menghela napas dalam. “Pedang itu hanya legenda. Tidak ada lagi yang tersisa.”
“Kalau begitu,” jawab sang pemimpin sambil mengangkat pedangnya, “Kuil Qionglin musnah karena apa? Dongeng?”
Ia menerjang tanpa peringatan. Tebasan pedang menyapu udara seperti kilatan petir.
Liang Chen spontan memejam, dan jeritan tak terdengar. Ketika ia mengintip, yang ia lihat justru membuat tubuhnya kaku.
Tabib Yue menghindar.
Gerakannya bukan gerakan seorang tua yang biasa mengeluh tulang pegal atau punggung sakit. Ia bergerak seperti seseorang yang pernah berdiri di garis depan ratusan pertempuran. Tongkat jatinya berputar, menahan pedang yang jauh lebih berat darinya. Percikan cahaya tercipta saat kayu bertemu baja dan sesuatu yang seharusnya mustahil.
“Jurus Tangkisan Langit,” gumam salah satu Pemburu Bayangan, tak percaya.
Pemimpin mereka surut dua langkah. “Jadi benar. Kau Penjaga Lembah Sunyi. Kukira klanmu sudah habis.”
“Kematian klanku bukan urusan kalian,” jawab Tabib Yue. “Yang pasti, anak itu takkan kalian sentuh.”
Ia menyerang balik. Tiga pukulan berturut-turut memaksa para Pemburu Bayangan bergerak mundur. Tapi lawan mereka terlalu banyak. Ketika Tabib Yue sibuk menahan serangan di depan, dua orang lain menyelinap lewat jendela dapur tanpa suara, seperti bayangan.
Langkah mereka menuju lemari tempat Liang Chen bersembunyi.
“Itu dia,” bisik salah satu sambil mengangkat belati beracun.
Liang Chen ingin lari, tapi tubuhnya tak mau bergerak. Selama ini ia hanya belajar meracik ramuan, bukan bertarung. Tabib Yue tak pernah membiarkannya belajar ilmu bela diri.
“Kekuatan sering kali membawa malapetaka,” begitu selalu kata sang tabib.
Ironis, karena kini justru ia berada di ujung maut.
Sebelum belati itu menyentuh kulitnya, suara ledakan tenaga dalam mengguncang seluruh rumah. Cahaya putih menyembur dari tubuh Tabib Yue, menyapu halaman dengan kekuatan luar biasa. Para Pemburu Bayangan terpental seperti daun diterbangkan badai. Namun, serangan itu menguras semua sisa tenaga Tabib Yue.
Tubuh tuanya limbung. Saat ia hendak bangkit lagi, sebuah belati beracun melesat dari samping dan menancap dalam di bahu kirinya. Darahnya langsung menghitam.
Tabib Yue terhuyung, dan masih sempat berteriak,
“Chen! Lari!”
Suara itu bukan sekadar perintah itu suara seorang ayah yang tahu ia tidak punya waktu lagi.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh jubahnya lalu melempar sebuah bungkusan kecil.
“Pergi ke Utara! Jangan kembali!”
Liang Chen menangkapnya. Ketika ia melihat Tabib Yue jatuh bersimbah darah, dadanya terasa diremas. Para Pemburu Bayangan yang tadi terpental mulai bangun, penuh amarah.
“Bunuh anak itu!” teriak pemimpin mereka. “Pewaris tidak boleh hidup!”
Liang Chen tak menunggu lebih lama. Ia melompat keluar jendela belakang, melewati dapur yang mulai terbakar. Suara kayu retak, panas api, dan teriakan pengejar terdengar di belakangnya.
Ia menuruni lereng lembah, menembus gelap hutan yang diterangi cahaya bulan merah. Semak berduri menyalak kulitnya, akar-akar menjegal langkahnya, tapi ia terus berlari hingga paru-parunya terasa terbakar.
Beberapa saat kemudian, suara pengejar menghilang. Liang Chen baru berhenti ketika ia mencapai tepi Sungai Naga. Permukaan air memantulkan warna merah bulan, tampak seperti sungai darah yang mengalir pelan.
Dalam lelah dan gemetar, ia membuka bungkusan dari Tabib Yue.
Di dalamnya ada dua benda.
Pertama, sebuah fragmen logam seukuran ibu jari, memancarkan cahaya biru lembut. Begitu jari Liang Chen menyentuhnya, benda itu seakan berdenyut hidup dan sebuah kesadaran asing menyelinap masuk ke dalam pikirannya.
“Aku kembali.”
Bukan suara, bukan bahasa. Lebih seperti ingatan tua yang bangun dari tidur panjang.
Fragmen Pedang Langit.
Benda kedua adalah selembar perkamen tua. Peta kasar dengan jalur pelarian, tanda perguruan kuno di Timur Jauh, dan simbol-simbol yang tak ia pahami. Namun, bagian terpenting titik pada Puncak Bintang sobek besar melintanginya.
Entah sengaja disobek untuk menjaga rahasia, atau rusak saat Tabib Yue bertarung. Yang tersisa hanya satu kata kecil di sudut peta.
Utara.
Liang Chen menggenggam fragmen pedang itu erat. Malam itu, di bawah cahaya purnama berdarah dan sungai yang tampak seperti mengalirkan darah dunia, ia menyadari satu hal:
Dunia yang ia kenal telah lenyap, dan sejak detik itu, takdirnya mulai bergerak.