


oleh Julwita AZ · 33 Bab
Di balik gemerlap bintang malam, Arumi menemukan dirinya dalam serangkaian pertemuan tak terduga. Dari ruang kelas hingga jalanan sepi, takdir seolah mempermainkan perannya. Bersama sahabat-sahabat setianya, ia menghadapi lika-liku kehidupan, pekerjaan, dan persahabatan. Namun, di antara semua itu, ada satu nama yang terus hadir, Azka. Rumah yang sama, organisasi yang sama, bahkan jalanan yang sama. Pertemuan demi pertemuan seolah mengisyaratkan sesuatu yang lebih. Apakah ini hanya kebetulan, ataukah takdir sedang merajut kisah yang tak terduga? Malam tanpa bintang menjadi saksi bisu, akankah hati mereka menemukan cahayanya?
Arumi merasa sangat senang karena dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangi dirinya. Saat pertemuannya tadi sore, bersama sahabat yang begitu khawatir melihat kondisinya dan keluarga Dania penuh perhatian. Membuat ia merasa memiliki keluarga baru dan mencurahkan segala isi hati melalui sebuah tulisan.
Nikmat Tuhan Mana Lagi yang Engkau Dustakan?
(ANR)
Saat berada di ambang kebimbangan
Kondisi keluarga yang membuat hatiku teriris
Tuhan mengirimkanku sahabat yang selalu menyemangatiku
Tak hanya itu
Tuhan menjawab segala doaku
Mempertemukanku bersama orang-orang yang memberi pekerjaan
Menerimaku dengan baik
Memberi perhatian dan kasih sayang
Sungguh, suatu kenikmatan yang tiada tara
Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?
Ya, surah Ar-Rahman
Itulah surah terindah
Yang jawabannya kini telah aku rasakan sendiri.
Hati penuh syukur, 12 Juli 2020
Setelah menulis beberapa untaian kata pada buku diary, Arumi merapikan dan menyimpannya dengan baik, kemudian mengistirahatkan badan. Helaan napas panjangnya mengiringi setiap lembar yang telah terisi, seolah melepaskan beban yang seharian ini dipikulnya. Bayangan Azka kembali hadir dalam benaknya. Menciptakan rasa hangat sekaligus tanya.
***
Pagi menyapa, sinar matahari perlahan memperlihatkan keberadaan setelah rembulan mengambil alih dan mengizinkannya kembali ke peraduan.
Tak seperti biasanya, pagi ini Azka masih berada di rumah. Padahal semalam mengatakan kepada Tari dan Dania bahwa ia ada kegiatan pagi hari. Semua kegiatan dibatalkan, hanya untuk membuat hatinya tenang dari berbagai pertanyaan tentang Arumi.
Seperti hari biasa, mereka akan sarapan bersama. Kali ini, tanpa dipanggil, Azka langsung menuju meja makan menghampiri Tari. Tapi, Dania belum terlihat olehnya.
“Pagi, Ma. Dania mana?” sapa Azka dan mencari-cari keberadaan adiknya.
“Pagi, sayang. Dania ada di kamar Nazha. Mereka akan turun bersama karena kaki Nazha masih terasa sakit, meski sudah bisa berjalan. Tapi, Mama takut dia jatuh di tangga kalau tidak ada yang menemani,” jelas Tari.
“Apa Azka ke atas bantu Nazha, Ma?” tanya Azka, menatap mamanya sejenak lalu melirik ke arah tangga.
“Tidak usah, duduk saja tunggu mereka datang,” jawab Tari dengan ekspresi kaget mendengar tawaran sang anak yang tak biasa.
“Baiklah, Ma,” ucap Azka pasrah dan duduk di samping Tari membelakangi arah tangga menuju lantai dua.
“Bagaimana kegiatanmu sebentar?” tanya Tari kembali.
“Tidak jadi, Ma,” jawab Azka singkat.
“Berarti bisa ‘kan pagi ini kamu antar Nazha berobat? Terlalu sore kurang baik untuk kesehatan Nazha, apalagi pulangnya pasti malam,” pinta Tari dengan menatap Azka penuh harap.
“Bisa, Ma. Jam sembilan aku antar, ya?” tanya Azka yang dijawab anggukan oleh Tari.
Di sela perbincangan Tari dan Azka, terdengar suara sapaan Dania.
“Pagi, Ma, Bang,” sapa Dania yang membantu Arumi berjalan.
Arumi belum sadar akan keberadaan Azka karena terlalu fokus dengan jalannya, sedangkan Azka asyik memandangi makanan di atas meja yang merupakan makanan kesukaannya. Dania membantu Arumi duduk tepat di hadapan Tari, Dania berhadapan Azka.
Setelah duduk Arumi memandangi wajah pria di hadapannya penuh teliti.
‘Azka? Aku tidak mungkin salah orang.’ Arumi melirik seseorang yang selalu menghantui pikirannya.
Begitupun dengan Azka yang tadinya fokus ke arah makanan, tiba-tiba mengalihkan pandangannya menuju Arumi.
‘Arumi? Jadi benar Nazha adalah Arumi? Jangan-jangan Zita juga Arumi?’
“Arumi!”
“Azka!” ucap Arumi dan Azka secara bersamaan dengan ekspresi kaget.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Dania. Menatap Azka dan Arumi bergantian.
“Iya, bukannya kemarin bilangnya belum pernah ketemu?” tambah Tari menatap Azka tanpa memedulikan nama yang disebut Azka. Arumi bukan Nazha.
“Sudah, Ma, Dek,” jawab Azka mengalihkan pandangannya bergantian ke arah Tari, Dania, dan kembali menatap Arumi.
“Kita makan dulu. Jelasinnya nanti saja setelah selesai makan, kita kumpul di ruang tengah,” ucap Tari menyudahi. Dirinya pun sangat penasaran.
Mereka pun memulai makan dengan keheningan. Hanya terdengar suara dentingan sendok yang beradu dengan piring. Sesekali Azka melirik ke arah Arumi, begitu pun Arumi yang tidak menyangka akan bertemu Azka kembali.
Acara makan malam telah selesai, lalu mereka berkumpul di ruang tengah sesuai perkataan Tari. Azka dan Arumi bergantian menceritakan kejadian yang membuat mereka bertemu. Tari dan Dania sempat kaget mendengar penuturan keduanya.
“Astagfirullah, untung kamu selamat, Nak.” Tari memandang Arumi dengan sendu.
“Sepertinya Bang Azka dan Kak Nazha berjodoh,” celetuk Dania tanpa melihat ekspresi Azka dan Arumi yang terlihat salah tingkah.
Tari yang menyadari keduanya salah tingkah segera meminta Azka mengantar Arumi ke rumah sakit untuk memeriksa luka yang ada pada tubuhnya.
Tiba pukul sembilan, Azka dan Arumi pun menuju rumah sakit. Tari menyiapkan barang bawaannya untuk kembali ke Semarang dan Dania mengerjakan tugas sekolah.
Azka melajukan mobil dan suasana terasa hening. Azka yang tidak bisa tinggal diam, mulut terasa gatal ingin berbicara menanyakan tentang Arumi. Hingga ia memulai membuka percakapan.
“Rum,” ucap Azka pelan.
“Hmm, ya?” balas Arumi gugup.
‘Aku ingin menanyakan kenapa kamu bisa kerja dan menjadi tutor Dania. Kenapa Mama dan Dania memanggilmu Nazha? Banyak ingin aku tanyakan, tapi sepertinya kurang tepat melihat kondisimu seperti ini.’ Azka hanya mampu memendam rasa penasaran dalam hati.
“Gimana keadaan kamu?” tanya Azka basa-basi karena tidak ingin kesunyian menemani perjalanan mereka.
“Sudah baikan, kok,” balas Arumi singkat. Tatapan masih fokus menghadap ke arah depan tanpa mengalihkan pandangan ke arah Azka.
“Syukurlah kalau begitu,” balas Azka disertai senyuman.
Lagi-lagi kesunyian menjadi teman perjalanan antara Arumi dan Azka. Azka yang ingin menanyakan berbagai hal pada Arumi namun diurungkan. Sedangkan Arumi masih merasa canggung hanya berdua dan tidak tahu harus membahas apa.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah sakit dan mengambil nomor antrean. Hingga tiba giliran Arumi, ia hanya diberikan resep obat untuk ditebus di apotek dan istirahat. Tidak ada luka yang terlalu serius, sakit yang dirasakan hal yang wajar ketika terjatuh.
Setelah itu, mereka memutuskan langsung pulang ke rumah. Di perjalanan, percakapan sudah mulai mencair, setidaknya tidak sekaku waktu mereka berangkat.
“Kalau butuh bantuan, jangan ragu untuk bilang,” tutur Azka, sesekali melirik Arumi.
“Insya Allah. Maaf sudah merepotkan kesekian kalinya,” ujar Arumi sedikit malu karena telah banyak dibantu oleh Azka.
Akhirnya Arumi dan Azka sampai di rumah dan meminta bantuan Bi Meri untuk memapah Arumi menuju kamarnya. Tidak mungkin kan Azka yang memapah Arumi? Hal itu pasti akan ditolak mentah-mentah oleh Arumi.

Julwita AZ
60 Pengikut · 3 Novel