


oleh Bagus_pekalongan · 10 Bab
Malam itu, sebuah gudang tua terbakar. Dari balik api dan asap, Surya dan Laras hanya menyelamatkan satu hal—peta kuno yang membawa mereka pada rahasia kelam kampung mereka sendiri. Namun, setiap langkah mendekat ke kebenaran, justru menjerumuskan mereka lebih dalam ke dalam kengerian. Bayangan-bayangan tanpa wajah mulai mengikuti, suara-suara asing memanggil dari balik gelap, dan sebuah lubang misterius terbuka seakan menunggu jiwa-jiwa yang berani masuk. Apakah mereka sanggup bertahan, atau justru menjadi bagian dari kutukan lama yang sudah lama terkubur? Di antara rasa takut, kehilangan, dan pengkhianatan, hanya ada satu jalan: menghadapi kebenaran yang bisa merenggut segalanya.
Arman berdiri di pinggir jalan, menenteng ransel lusuh yang sudah jadi saksi bisu perjalanan hidupnya selama di kota. Bus ekonomi yang tadi membawanya dari terminal utama baru saja melaju pergi, meninggalkan kepulan asap hitam pekat seolah ikut mengolok-olok keputusan Arman untuk kembali ke kampung halaman.
“Yaelah, pulang kampung bukan berarti jadi orang kampungan, kan? Hadeh, semoga aja nggak ada drama mistis di desa,” gumam Arman sambil menendang kerikil di jalanan.
HP-nya bergetar. Sebuah pesan singkat dari ibunya masuk.
“Man, cepetan pulang. Jangan mampir-mampir. Ada hal penting.”
Arman menghela napas panjang.
“Hal penting? Hmm, biasanya sih kalau emak bilang hal penting, ujung-ujungnya suruh kawin sama anak tetangga. Aduh jangan deh, duh, masih trauma liat mantan kawin kemarin. Kaya disiram kopi panas, rasanya perih tapi nggak bisa ngomel.”
Ia berjalan pelan menyusuri jalan tanah yang mulai becek karena hujan siang tadi. Pohon bambu di kiri kanan jalan bergoyang diterpa angin, menghasilkan bunyi gesekan yang khas.
Krekkk, krakkk, suara itu seperti irama tak teratur yang bisa bikin merinding.
Tapi Arman justru menutup kupingnya sambil berlagak kocak.
“Woy, jangan gesek-gesek begitu. Dikira, suara mantan lagi nggosipin saya.”
Tiba-tiba, suara lain ikut terdengar. Bukan dari bambu, bukan pula dari serangga malam. Itu seperti bisikan. Pelan, panjang, tapi jelas.
“Pulang- pulang, jangan lama.”
Arman berhenti. Matanya melotot.
“Waduh, ini bukan suara emakku kan? Soalnya kalau emak yang ngomong biasanya sambungannya begini: pulang- pulang beliin bawang merah sekilo.”
Ia mencoba menertawakan dirinya sendiri, tapi bulu kuduknya sudah berdiri tegak. Angin bertiup lebih kencang, membuat dedaunan berjatuhan. Di kejauhan, lampu rumah-rumah mulai tampak redup, sebagian bahkan padam seolah kampung itu tidak ramah bagi orang yang baru datang.
Arman menelan ludah. saya Melangkah lebih cepat.
“Oke, oke, mungkin Saya halu. Kebanyakan nonton film horor kali ya. Tenang, Man. Nggak ada pocong pake kuota unlimited di sini.”
Namun, beberapa langkah kemudian, bisikan itu terdengar lagi. Kali ini lebih dekat.
“Arman!”
Dia langsung refleks menoleh ke belakang. Kosong. Jalan desa hanya gelap gulita, ditemani suara jangkrik yang bersahut-sahutan.
Arman berusaha menguatkan diri, meski suaranya gemetar.
“Oke, kalau ada yang manggil nama saya, sebutin juga NIK sama alamat lengkap. Kalau nggak, jangan sotoy deh.”
Langkahnya makin cepat, hampir berlari kecil. Sadar, apa pun suara itu, bukan hal biasa. Ada sesuatu yang menunggu di kampung ini,sesuatu yang bahkan ibunya mungkin sengaja sembunyikan.
Arman akhirnya sampai di pertigaan jalan desa. Dari sini, jalannya terbagi dua: ke kanan menuju rumah Pak RT yang biasanya suka reseh kalau ada tamu malam-malam, ke kiri menuju rumah ibunya yang berdiri di ujung dusun.
Ia berhenti sejenak, mengusap keningnya yang mulai berkeringat meski udara dingin menusuk-nusuk.
“Hmm, kalau lewat rumah Pak RT pasti ditanya macam-macam: kerja apa, udah nikah belum, kapan punya anak. Lah, nikah aja kagak, gimana mau punya anak, Pak RT? Bisa-bisa di ceramah sampe sahur nanti. Jadi, fix, ke kiri aja.”
Dia memilih jalan ke kiri, jalan setapak yang lebih sepi dan dipenuhi semak-semak liar. Saking sepinya, jangkrik yang tadi ribut kini malah berhenti bersuara. Keheningan itu bikin suasana makin aneh.
Arman celingukan, mencoba menenangkan diri dengan guyonan.
“Halo, ada yang nongkrong di semak? Kalau ada, tolong jangan ngagetin ya. Saya punya penyakit lemah jantung, lemah kalau liat mantan jalan sama suaminya.”
Dia ngakak sendiri, tapi tawanya langsung berhenti ketika sebuah bayangan melintas di depan jalan setapak. Cepat, samar, tapi jelas berbentuk tubuh manusia.
Arman berhenti mendadak. Matanya melotot, jantungnya berdegup keras.
“Eh, eh, eh, siapa tuh? Jangan main petak umpet tengah malam dong, Bro. Nggak seru!”
Bayangan itu tidak menjawab. Justru seperti menunggu, berdiri membelakangi Arman beberapa meter di depan. Rambutnya panjang, tergerai kusut. Tubuhnya membungkuk sedikit.
Arman mengusap matanya, berharap itu hanya ilusi. Tapi ketika ia membuka mata lagi, sosok itu masih ada. Kali ini malah lebih jelas,dan perlahan menoleh.
Arman langsung mundur setapak.
“Waduh, jangan bilang ini yang namanya ‘mbak-mbak balik badan setengah shift'.”
Sosok itu benar-benar menoleh. Wajahnya pucat, matanya hitam pekat tanpa bola mata. Bibirnya sobek sampai ke pipi, dan dari mulutnya terdengar suara berbisik.
“Pulang, kamu tidak seharusnya kembali.”
Arman kaku. Badannya gemetar. Tapi insting komedinya masih berusaha melawan rasa takut.
“Eh, Mbak, kalo nggak boleh pulang, terus saya harus kos di mana? Di rumah kos pocong? Harga sewa murah nggak, Mbak?”
Tapi suara itu semakin mendekat, semakin menusuk telinga. Seperti bergema langsung di dalam kepalanya.
“Pergi, sebelum terlambat.”
Arman langsung refleks lari tunggang-langgang. Ranselnya hampir jatuh, sandal jepitnya copot satu, tapi dia tidak peduli. Napasnya memburu, jantungnya nyaris meledak.
“Ya Allah, ya Tuhan, udah kaya lomba lari 17 Agustus, bedanya kalau ini kalah bisa jadi tumbal!”
Ia terus berlari sampai akhirnya rumah ibunya mulai terlihat di ujung jalan. Rumah sederhana dengan dinding papan yang sudah mulai rapuh, tapi baginya itu seperti istana penyelamat. Lampu minyak di teras masih menyala, tanda ibunya belum tidur.
Arman menabrak pagar bambu dan langsung masuk.
“Maaaak!!! Tolongin anakmu ini sebelum dijadiin konten dunia lain!”
Ibunya, seorang perempuan paruh baya dengan wajah teduh tapi penuh kekhawatiran, buru-buru keluar.
“Arman? Astaghfirullah, kenapa kamu teriak-teriak gitu, Nak?”
Arman terengah,engah, menunjuk ke arah jalan.
“Mak, tadi ada, ada, cewek horor, rambut panjang, wajahnya, aduh jangan ditanya. Mak, sumpah, itu tadi beneran bukan halu.”
Ibunya langsung menarik tangan Arman masuk ke rumah.
“Cepat masuk. Jangan bicara sembarangan di luar. Nanti dia dengar.”
Arman bengong.
“Lho? Mak juga tuhu? Berarti tadi itu, beneran?”
Ibunya hanya menutup pintu rapat-rapat, lalu menyalakan dupa kecil di sudut ruangan. Aroma menyengat bercampur asap memenuhi rumah, membuat suasana semakin mistis.
Arman makin bingung.
“Eh, Mak, serius ini apaan sih? Kok aku baru nyampe udah disambut kayak gini? Emang saya bawa kutukan apa?”
Ibunya menatapnya dalam-dalam. Wajahnya terlihat pucat, seolah menyimpan sesuatu yang selama ini dirahasiakan.
“Man, ada hal yang belum pernah kamu tahu tentang kampung ini. Tentang keluarga kita”
Arman menelan ludah. Suasana hening. Hanya suara kayu rumah yang berderit, seakan ikut menyimak percakapan mereka.
Dan dari luar jendela, samar-samar terdengar lagi bisikan itu.
“Arman.”

Bagus_pekalongan
20 Pengikut · 2 Novel