


oleh Catur Kristiyani · 65 Bab
Albert, seorang anak berkekuatan super dikurung oleh John selama 10 tahun. John tak ingin kekuatan super anaknya diketahui oleh orang lain. Karena rasa khawatir yang berlebihan, membuat sang anak tidak nyaman dengan sang ayah. Albert kabur dari rumah, tetapi malah terjebak di hutan larangan yang dikuasai oleh penyihir.
Albert berjalan mondar-mandir di dalam ruangan usang. Di sana penuh dengan pakaian bekas. Ada yang diletakkan di depan pintu, sebagai penutup lubang dinding, ada pula yang dipakai untuk menutup lubang di atas pintu.
Albert adalah satu-satunya anak John yang hidup bertiga sekeluarga. Sangat disayangkan, Jennifer ibunya Albert, menderita alzheimer. Dia tak bisa mengingat apa pun yang baru saja dilakukan.
"Pa, apakah aku berhak bahagia?" tanya Albert kecil.
"Mengapa kau bertanya begitu, Nak?" timpal ayahnya.
"Mungkin saja aku bisa bahagia tanpa Mama dan Papa," jawabnya sembari berlalu menuju kamar.
"Astaga, ini anak ... kepalanya terbuat dari batu kali, ya," umpat John berapi-api.
Saat di kamar, Albert asyik dengan bukunya. Sengaja sang ayah membelikannya agar anak itu tak ada keinginan untuk keluar rumah. Namun, semakin sering dilarang, semakin kukuh pula keinginannya.
"Mengapa Papa tak mengizinkanku keluar?" tanya bocah itu lagi ketika dirinya mendapati sang ayah berada tepat di belakangnya.
"Haruskah aku menjawab?" Pertanyaan John malah membuat tanda tanya besar pada Albert kecil.
"Tentu saja, kenapa tidak?" tanyanya lagi.
"Jika aku memberitahumu, maka tak akan ada rahasia lagi di dunia ini."
"Baiklah jika itu mau Papa. Kerugian pasti akan datang untuk orang-orang yang gemar membuat hati anaknya hancur," ujar Albert berkaca-kaca.
"Dunia ini adil, Sayang!" ucap John.
"Aku tahu, karena yang tidak adil adalah Papa." Albert kembali membuka halaman demi halaman buku yang ada di tangannya.
Di ruang tengah, telah duduk perempuan berambut panjang. Dia ibunya Albert.
Si penderita Alzheimer itu duduk tak jauh dari koper berisi uang kertas. Entah berapa dolar uang itu, yang jelas Jennifer tak akan mampu menghitungnya.
Sengaja tak diobati, agar keluarga tersebut tidak keluar dari rumah. Benar-benar kehidupan di abad 21 yang sangat berbeda.
"Sampai kapan aku harus seperti ini? Benar-benar memuakkan. Rencana pasti akan datang di saat yang tepat. Andai saja ada yang bisa membantuku," batin Albert.
Di sisi lain, John merasa tak tega dengan anak semata wayangnya. Namun, dia tak ingin orang sekitar mengetahui jika Albert memiliki kekuatan super.
Bagi John, kekuatan Albert sangat berbahaya karena tak bisa mengendalikan emosi. Satu-satunya cara untuk menjaga rahasia adalah dengan mengurung Albert di dalam rumah.
John sendiri tak akan menceritakan perihal kekuatan super sebelum Albert benar-benar dewasa.
"Bagaimana jika Papa menceritakan alasannya saat kau dewasa nanti?" John tiba-tiba terobsesi dengan perkataan itu saat Albert masih berusia tiga tahun.
Brak!
"Aaa ... Papa, aku takut."
Tiba-tiba Albert membuang bukunya tak tentu arah. Dirinya sangat ketakutan setelah mendengar suara keras tersebut. Kedua telapak tangannya dingin, dirinya mulai mendengar suara-suara dari bulan. Padahal saat ini Albet masih memijak bumi, hal ini membuatnya semakin ketakutan.
Jennifer hanya tertawa kecil, berdiri dari tempat duduk kemudian berlalu menuju kasur yang sudah usang. Diraihnya selimut tebal tanpa memedulikan Albert yang masih dalam pelukan John.
"Papa akan melihat apa yang sebenarnya terjadi. Tunggu saja di sini bersama Mama!" pinta John pada anaknya.
"Tidak, aku benci Mama. Mama juga penakut, tak pernah peduli denganku, apalagi berbaik hati."
John menghela napas panjang, memeluk Albert semakin erat. Dirinya tak ingin lagi berdebat dengan anaknya yang memiliki rasa ingin tahu lebih tinggi. Suasana semakin mencekam, tak ada suara apa pun selain embusan napas mereka bertiga.
"Pa, maafkan Albert," serunya sembari memegang dagu John.
"Anakku, di dunia ini tak ada manusia yang bisa luput dari kesalahan. Sekecil apa pun kesalahan itu, manusia harus bisa mempertanggungjawabkannya. Apakah kau tahu?"
"Aku tahu, Pa. Tapi, tidak dengan Mama. Aku tak mau ikut campur. Bukankah Papa pernah bilang, tak ada anak yang ingin dilahirkan di dunia. Orang tuanya saja yang membuat mereka memiliki eksistensi."
"Sekarang tidurlah, hari sudah gelap."
Kasihan Albert, dia tak tahu seperti apa indahnya awan, gemerlap bintang, dan cantiknya rembulan. Dirinya hanya tahu tempat lusuh dominan hitam yang menghiasi rumahnya.
Di ruang tamu, tak ada seseorang yang datang membawakan kue hari ulang tahun, ataupun hidangan manis seperti di mimpinya. Yang ada hanyalah buku-buku dengan tulisan yang membuatkan semakin sesak setiap hari. Ingin rasanya kabur dari rumah itu.
Namun, satu hal yang membuatnya susah adalah caranya. Dirinya tak mengerti ilmu sihir yang bisa menembus pintu. Padahal sebetulnya kekuatannya lebih dari itu, sayangnya John menyembunyikannya.
"Apakah kau lapar, Sayang? Mama membuatkan makanan untukmu. Ini, silakan ambil!" ujar Jennifer saat pagi tiba.
Namun, Albert tak bisa membedakan antara pagi dan malam. Bahkan, dirinya tak mengerti seperti apa indahnya siang dan malam. Sungguh beruntung mereka yang bisa memanfaatkan mata untuk melihat siang dan malam. Sungguh, nikmat yang sangat luar biasa bagi mereka yang tak dikurung.
"Percuma aku makan, jika keluar saja tak diizinkan," seru Albert pada mamanya dengan pandangan tak suka.
"Siapa yang melarangmu keluar, Nak? Sekarang keluarlah kalau kau mau. Tak ada yang melarangmu."
Wajah Albert berbinar, tetapi seketika itu pula John datang dan menampar pipi kiri Jennifer keras-keras. Albert tersentak dan refleks sedikit mundur menjauhi mereka.
Akan tetapi, pada detik ketiga Albert yang hendak memukul John, ia tahu apa yang seharusnya dilakukan. Segera dirinya mengambil cermin dan mengarahkan ke Albert. Tiba-tiba si anak jatuh tersungkur kesakitan terkena kekuatan yang kembali kepadanya karena pantulan cermin.
Di kursi busa penuh debu, Jennifer tergugu dan menyimpan rasa takut yang teramat dalam. Dia tak mengetahui jika yang dilakukan itu salah.
"Baiklah, Pa, aku tak akan keluar rumah sampai Papa mengizinkan. Tapi, izinkan aku memohon satu permintaan. Jangan pernah pukul mama, kalau Papa mau memukul seseorang, ada aku yang siap untuk dijadikan korban."
"Bukankah kau membenci mamamu?" tanya John memastikan.
"Aku bukan hanya membencinya, Pa. Aku juga tak ingin siapa pun melukai Mama. Hanya aku yang boleh membenci karena dia mamaku, tapi tak seorang pun boleh seenak hati memukulnya!" pekik Albert keras.
"Jadi, karena dia mamamu, kau boleh seenak hati membencinya?" bentak John tak kalah kerasnya.
"Jadi, karena dia istri Papa, Papa boleh seenak hati memukulnya?"
"Albert, maafkan Papa."
Mereka bertiga ke ruang TV setelah sebelumnya mereka saling berpelukan. Albert sedang membawa makanan buatan Jennifer lalu melahapnya karena memang lapar.
Di pikirannya hanya ada satu keinginan yaitu keluar dari rumah. Perbincangan dengan John tadi hanyalah perkataan belaka, dia tak benar-benar mau tinggal di rumah itu tanpa keluar sebelum John mengizinkannya.
Hanya saja, untuk menciptakan perdamaian antara orang tuanya, dia berani berkata tak akan keluar rumah sampai John mengizinkan.
Sebetulnya tak ada yang kurang dari hidup John. Seorang laki-laki tegap dan berotot tersebut adalah pengusaha batu bara.
Dirinya memanfaatkan kecerdasannya untuk menghasilkan uang dan mengontrolnya melalui ponsel.
Semua pekerjaan diserahkan kepada para karyawan. Dia menerima uang dari transfer dan sesekali ada rekannya yang datang mengantarkan uang di dalam koper.
Karena dirinya hampir setiap hari memesan makanan melalui kurir, jadi dia butuh uang tunai untuk membayar. Sementara saldo, dia terbiasa untuk membeli token listrik, pulsa, kuota, dan pesanan on line lainnya.
Sebetulnya John juga bosan hidup seperti ini, tetapi dia tak punya pilihan lain. Keputusannya sudah bulat untuk menyembunyikan Albert dari publik.
Dia teringat sebelum menikah dengan Jenifer, dia ingin sekali memiliki anak super agar tak ada siapa pun yang bisa membullynya. Namun, ternyata saat keinginan terkabul, dia memiliki rasa khawatir yang teramat sangat.
Hal ini yang membuatnya serba salah. Dulu, dirinya kerap dipojokkan oleh kawan mainnya. Dipukul, ditendang, bahkan pernah dijatuhkan ke dalam sungai.
Karena dirinya lemah, maka tak bisa menghindari itu semua. Berharap anaknya bisa membantunya, tetapi lagi-lagi John tak ingin memperlihatkan anaknya ke orang lain.

Catur Kristiyani
15 Pengikut · 1 Novel