


oleh Bintang Jatuh · 43 Bab
Bagaimana jika pria yang paling kau hindari justru menjadi satu-satunya pemegang kunci menuju mimpimu? Bagi Aurora Meschach, perjodohan ini adalah bencana. Namun, saat Rasya menantangnya bermain peran, Aurora meladeni. "Aktingmu hebat, Tuan Pradana." Aurora memangkas jarak, merapikan kerah kemeja pria itu, dan berbisik seduktif. "Bisa bayangkan serunya sandiwara kita ke depannya... Sayang?" Senyum main-main di wajah Rasya lenyap seketika, tangannya mengepal erat. Aroma manis Aurora bukan hanya menggodanya, tapi membangunkan insting primitif Rasya yang selama ini terkekang.
Suara gemerisik lembaran kertas yang dibolak-balik mendominasi keheningan ruangan. Di atas meja kerja, setumpuk kertas berisi sketsa gaun berserakan bercampur dengan beberapa sampel kain tulle dan satin. Jemari Aurora bergerak luwes, menyisihkan beberapa desain ke sisi meja, sementara matanya meneliti lekat-lekat lembar sketsa di tangannya.
Malam ini, ia tengah berada di dalam paviliun pribadi—sebuah bangunan modern minimalis yang terpisah di halaman belakang rumah utama. Bangunan yang biasa menjadi guest house itu telah ia sulap menjadi ruang kerja lengkap dengan segala fasilitasnya, menjadi tempat isolasi paling nyaman baginya.
Tok-tok-tok.
"Masuk aja, pintunya nggak aku kunci," sahut Aurora sedikit keras, matanya masih terpaku pada detail payet di sketsanya.
Suara kenop pintu yang diputar disusul derap langkah pelan. "Malam, Sayang," sapa Martha.
"Malam, Bunda." Aurora menoleh sekilas, lalu kembali sibuk memilah-milah tumpukan kertas.
"Ini sudah malam lho, Ra. Harusnya kamu sudah istirahat." Martha mendudukkan dirinya di sofa panjang tak jauh dari meja kerja.
"Iya, Bun. Sebentar lagi, ya, soalnya ini nanggung."
Martha mendengkus pelan, sedikit melongok ke arah meja. "Buat acara apa emangnya?"
"Oh, ini untuk koleksi terbaru minggu depan. Aku masih mau milih mana yang paling cocok." Aurora menyingkirkan anak rambut yang jatuh menutupi mata, masih belum menyadari perubahan hawa di ruangan itu.
Hening sebentar, sebelum akhirnya Martha kembali bersuara.
"Aurora, Sayang ... bisa ke sini sebentar?" Martha meminta dengan intonasi serius, tangannya menepuk bantalan sofa di sampingnya.
Mendengar nada suara itu, perut Aurora mendadak terasa melilit. Gerakan tangannya yang sedang memilah sketsa terhenti seketika. Firasatnya langsung menangkap sinyal bahaya.
"Aurora?" panggil Martha lagi, suaranya lembut namun memiliki ketegasan yang tak terbantahkan.
"Hah? Oh, iya bisa. Sebentar." Aurora meletakkan lembaran sketsa dengan enggan, menarik napas panjang sebelum menghampiri dan duduk di samping bundanya.
"Ada apa, Bun?"
Martha mendaratkan tangan kirinya pada paha kiri Aurora, memberikan usapan menenangkan yang justru membuat dada Aurora semakin bergemuruh. "Gini ... Bunda ingin kamu bertemu dengan putra temennya Bunda."
"Lagi, Bunda?" balas Aurora cepat, tubuhnya otomatis sedikit menjauh. "Seriously?" Ia menatap Martha tak percaya.
Martha beralih mengelus punggung putrinya. "Kali ini beda, Sayang."
"Menurutku sama saja, Bun." Aurora menyilangkan kedua tangan di depan dada.
Martha menghela napas panjang, terdengar lelah namun pantang menyerah. "Terserah kamu mau bilang apa, intinya Bunda mau kamu ketemu sama anak sahabat Bunda itu. Titik.”
Aurora mendelik aneh. "Tadi katanya temen, sekarang sahabat. Jadi mana yang betul, Bun?"
Martha tampak berpikir sejenak. "Ya ... sama saja, kan?"
"Ya ampuuun, beda dong. Lagian temen Bunda yang mana sih? Soalnya hampir semua temen Bunda, sahabat Bunda itu semuanya aku tahu."
"Hampir kan? Berarti belum semuanya kamu tahu."
"Iiih Bundaaa." Aurora memelas seraya menggelengkan kepalanya.
"Bunda ingat terakhir kali aku ketemu anak temen Bunda? Nggak berhasil. Jadi, jangan aneh-aneh lagi deh."
"Itu karena kamu tidak ada niat dan kamu terlalu cuek," balas Martha.
"Kan memang dari awal aku bilang nggak mau. Lagi pula, aku masih muda, masih mau berkarier, belum mau terikat dengan siapa pun."
"Setidaknya kamu harus mencoba dulu. Yang ini, Bunda jamin kamu bakalan suka deh," ucapnya sedikit antusias.
"Dengarkan Bunda, Ra. Peraturannya masih sama dengan yang lalu. Kalau kamu merasa tidak match atau dia yang menolak, maka pertemuan itu cukup sampai di situ saja."
"Lagian ... Bunda juga nggak habis pikir sih. Kenapa anak cantik, cerdas dan membanggakan seperti kamu bisa-bisanya ditolak. Apa jangan-jangan kamu yang mengancam mereka?" tanya Martha penuh selidik.
Aurora mendengkus pelan, merasa dituduh secara tidak masuk akal. Ia langsung bangkit berdiri. "Bunda pikir aku mafia? Segala ada ancam-ancam. Jangan ngaco ah."
Ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya. "Kalo nggak ada yang mau dibicarakan lagi, aku mau lanjutin kerjaan dulu."
Martha mendengkus geli, selalu seperti ini.
"Ya sudah, silakan lanjutkan, nanti kita bicarakan lagi. Jangan terlalu malam, ingat! Kamu itu manusia, bukan robot. Butuh istirahat juga," ucap Martha sambil bangkit dari sofa.
"Iya, Bun."
Menatap pintu kayu yang kini tertutup rapat, Aurora membiarkan kesunyian paviliun kembali merangkulnya. Sketsa gaun yang sebelumnya tampak begitu memikat, kini mendadak kehilangan daya tarik. Tangannya beralih meraih sepotong kain satin di ujung meja, mengusap permukaannya yang halus dan dingin. Sensasi itu perlahan meredakan isi kepalanya yang kusut. Baginya, menyatukan potongan kain jauh lebih masuk akal dan mudah dikendalikan daripada merajut hubungan dengan manusia.
Aurora menghela napas berat. "Maafkan aku, Bun, aku tidak bermaksud membangkang. Aku hanya tidak ingin menambah luka di hatiku lagi."
Aurora Iskandar Meschach adalah anak pertama dari salah satu pasangan dokter paling dihormati di kota itu. Ayahnya, Fattah Iskandar Meschach, adalah seorang dokter ahli bedah kardiotoraks legendaris yang kini memimpin sebuah rumah sakit swasta miliknya sendiri. Sementara Martha Adinda Meschach, adalah seorang dokter bedah saraf yang brilian.
Tumbuh di tengah dunia medis yang penuh presisi dan kecerdasan, Aurora justru memilih jalan yang berbeda.
Alih-alih mengikuti jejak orang tuanya, ia lebih memilih menjadi seorang desainer busana dan merintis usahanya sendiri. Dan, di usianya yang seperempat abad ini, ia sudah menjadi pemilik sebuah butik yang mulai dikenal masyarakat luas.

Bintang Jatuh
2 Pengikut · 1 Novel