


oleh Ailah Sarii · 70 Bab
Demi uang, seorang gadis belia rela dinikahi pria tengil. Parasnya memang rupawan, tetapi jika sikapnya tidak mengenakkan perasaan, bagaimana indahnya pernikahan?
Di sebuah kafe, seorang gadis tengah bekerja, tetapi tiba-tiba saja gadis lain mengajaknya untuk pulang.
"Apa-apaan sih, aku baru juga datang ke sini."
"Cepat pulang, ini menyangkut masalah hidup dan matimu."
Wanita itu tercengang, tangannya ditarik dengan kencang tanpa ada penjelasan. Barulah ketika sampai di rumah ia dikejutkan dengan dua orang pria yang sedang mengobrak-abrik seisi rumahnya.
Di sana ada seorang wanita paruh baya sedang menangis dan meminta ampun untuk tidak merusak semuanya. Namun, tidak ada ampun baginya.
Bahkan, ketika gadis tersebut mencoba untuk menghentikan mereka, justru ia malah didorong dengan kejam hingga tersungkur ke lantai.
"Bayar semua utang-utang kalian pada bos saya atau semua barang-barang di rumah ini akan saya hancurkan!" salah satu pria menegaskan.
"Beri kami waktu, saya mohon." Ibu dari wanita itu angkat bicara.
"Saya beri waktu satu minggu dan utang-utang itu harus sudah lunas, paham?!"
Hanya bisa mengangguk, itulah yang mereka lakukan. Gadis itu mendekati ibunya dan mengusap tangannya. "Ibu yang sabar, ya. Pasti nanti aku akan cari uang buat bayar semua utang-utangnya."
"Ibu gak tahu harus nyari uang ke mana untuk membayarnya," ucap wanita paruh baya itu lirih.
"Aku janji sama Ibu akan melunasinya."
Wanita itu mengusap lembut kepala putrinya. Keesokan harinya seusai kejadian tersebut, gadis itu sering melamun ketika bekerja, sehingga seringkali ditegur oleh atasannya. Kelalaiannya dalam bekerja membuatnya dipecat karena kesalahan, menumpahkan jus pada baju pembeli
Gadis itu memohon untuk tidak dipecat karena memang sangat membutuhkan uang untuk membayar utang-utang orang tuanya, tetapi atasannya itu tidak peduli dengan apa yang dikatakan olehnya. Akhirnya diusir dari sana, berjalan lunglai di pinggir jalan raya. Setibanya, di rumah ia terlihat begitu lemas di mata sang ibu.
"Sekar, kamu kenapa? Apakah semuanya baik-baik saja?"
Sekar Widuri, gadis yang baru menginjak usia 20 tahun itu hanya menggelengkan kepalanya saja. Ia tidak berdaya jika harus mengatakan pada ibunya kalau pekerjaan satu-satunya telah melayang.
Apalagi, Sekar tidak tega jika akan menambah beban pikiran ibunya. Kondisi sang ibu memang sangat mengkhawatirkan. Ibunya memang sedang tidak sehat akhir-akhir ini, seringkali pusing karena tekanan darahnya yang tinggi.
"Ini ada uang untuk menambah bayar utang Ibu," ucap Sekar seraya menyodorkan amplop.
"Ini uang dari mana, bukannya kamu belum tanggal gajian, ya?"
Itu adalah uang gaji di bulan ini yang diberikan sebelum waktunya karena sudah dipecat, tetapi Sekar hanya mengatakan kalau uang itu adalah bonus dari bosnya karena pengunjung kafe sedang ramai akhir-akhir ini sehingga memberikan bonus pada setiap karyawan.
Ketika hari kembali berganti, Sekar pamit pergi pada ibunya. Tanpa sepengetahuan ibunya, Sekar pergi untuk mencari pekerjaan baru, bukan untuk bekerja.
Ketika dalam langkahnya untuk melamar kerja, ia membuka dompet, melihat uangnya tinggal sisa beberapa lembar saja.
"Uangku tinggal segini, harus cukup sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi."
Cepat-cepat Sekar memasukkan kembali uang tersebut pada tempatnya karena melihat seorang pria sedang dihadang oleh dua orang penjahat. Pria itu menarik dasi yang melekat di lehernya, menyuruhnya untuk memberikan semua barang-barang atau akan dihabisi.
"Lepaskan dia!" tegas Sekar yang membuat dua pria itu berbalik sambil tersenyum sinis.
"Hey, anak kecil. Minggir atau kamu akan pulang tinggal namamu saja!"
Sekar tidak takut pada mereka, justru ia malah menantangnya. Tentu saja dua pria paruh baya itu merasa tertantang. Satu-persatu pria itu berhasil dikalahkan oleh Sekar dengan waktu yang tidak lama.
Sekar memang ahli dalam bidang bela diri karena ketika sekolah ia selalu mengikuti kompetisi tersebut. Mereka berlari terbirit-birit karena ketakutan. Sekar mendekati pria berjas hitam yang napasnya masih tersengal-sengal.
"Bapak baik-baik saja?" tanya Sekar.
Pria itu memperhatikan penampilan Sekar yang terlihat sangat biasa saja. Tentu saja hal itu membuat Sekar merasa tidak nyaman karena diperhatikan oleh orang tidak dikenal.
"Kamu pasti sekongkol kan, sama pria-pria tadi supaya saya ngasih kamu uang karena udah bantuin saya?" tuduh pria itu.
"Lah, saya sudah susah payah bantuin Bapak, tapi malah dituduh yang tidak-tidak. Lagian, saya tidak kenal sama mereka."
"Saya tahu cewek modelan kayak kamu ini pasti nyari duit dengan cara yang tidak benar," ledeknya lagi.
Sekar angkat bicara sambil pergi. "Saya memang butuh uang, tapi bukan berarti mendapatkan uang dengan cara seperti ini. Bukannya berterima kasih, malah menuduh."
Sekar berjalan dengan cepat karena ia sudah mendapatkan tempat untuk melamar pekerjaan. Kantor yang sangat besar, ia akan mencoba datang ke sana. Namun, sesampainya di sana ia malah kembali bertemu dengan pria tadi.
Ketika mata mereka saling bertemu, tentu saja keduanya sama-sama terkejut. Pria itu menuduh Sekar mengikutinya karena pasti ingin dibayar atas aksi kebaikannya tadi. Sekar merasa tidak terima dengan penuduhan tersebut. Ia hendak menjelaskan kalau tujuannya ke tempat itu untuk melamar kerja bukan mengikutinya.
"Ambil uang ini, lalu pergi dari sini."
Sekar tidak menerimanya, justru ia kembali memberikan uang tersebut padanya. Sekali lagi pria itu menegaskan padanya untuk tidak memperlihatkan wajahnya di hadapannya. Sekar mengepalkan kedua tangannya, ia ingin melayangkan pukulan pada pria itu.
"Dasar pria tengil, belagu banget! Lagian gak sudi saya juga lihat muka kamu lagi!"
"Ya sudah sana pergi," usirnya.
Sekar membelalakkan matanya sambil bertanya-tanya di dalam hatinya, siapakah pria itu sehingga dengan sombongnya mengusir orang lain dari area perkantoran tersebut. Setelah pria pemilik kulit putih itu memasuki tempat tersebut, barulah Sekar berjalan jauh di belakangnya.
Ia menyerahkan surat lamaran kerja pada petugas di sana. Hanya ada beberapa orang saja yang juga ikut melamar di sana, sehingga wawancara kerja akan dilangsungkan hari ini juga.
Sekar merasa tidak percaya diri karena memang ia tidak memiliki kemampuan untuk bekerja menjadi staf di kantor tersebut, apalagi ia hanya lulusan SMP. Walaupun nilainya sangat bagus, tetapi tidak membuatnya yakin diterima.
Satu-persatu pelamar itu masuk ke salah satu ruangan untuk interview langsung dengan pemilik perusahaan tersebut. Setibanya giliran Sekar, ia berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.
Ceklek, suara pintu terbuka. "Permisi."
"Silakan masuk," ucap seorang pria yang tengah duduk membelakanginya.
Perlahan-lahan, gadis berambut sebahu itu pun memasuki ruangan tersebut. Ruangannya terasa begitu dingin dan hening, lalu pria tersebut menyuruhnya untuk duduk. Pria itu membuka-buka CV milik Sekar.
"Kamu lulusan SMP dan mau bekerja sebagai staf di sini? Sebaiknya, kamu melamar pekerjaan lain yang lebih cocok dengan pendidikanmu."
"Tapi, Pak. Tidak ada salahnya saya mencoba melamar untuk posisi yang lebih tinggi, barulah saya melamar yang lebih rendah jika yang tinggi tidak diterima."
Mendengar penuturan Sekar, pria itu berbalik sambil mengatakan kalau Sekar tidak diterima. Sekar memohon sambil menutup matanya. Pria itu terhenyak melihat gadis yang ada di hadapannya.
"Buka matamu, bukan waktunya untuk tidur. Pergi dari sini, saya tidak mau melihatmu berkeliaran di sini!"
Ketika membuka matanya, Sekar terkejut melihat pria itu.

Ailah Sarii
36 Pengikut · 2 Novel