


oleh Selvia Anggraini · 64 Bab
"Aku udah muak sama kamu, Nayla!" bentak Raka, menatap gadis di depannya dengan penuh frustrasi. Nayla hanya menyeringai sambil melipat tangan. "Lah, siapa suruh kamu sok jadi polisi sekolah? kamu kira aku takut?" "Kalau kamu masih bikin ulah, aku bakal pastikan kamu dikeluarin dari sekolah ini!" ancam Raka. "Silakan, Ketua OSIS tersayang. Tapi kalau aku dikeluarin, kamu bakal kehilangan orang paling seru di hidup kamu," Nayla menjawab santai, matanya berkilat menantang. "Oh ya, Raka. Jangan galak-galak amat sama aku, aku cantik pinter bikin orang jatuh cinta soalnya." Nayla sengaja berkedip nakal menggoda Raka sebelum pergi meninggalkan Raka begitu saja.
"NAYLA ARDANA! KAMU LAGI-LAGI BIKIN MASALAH!"
Suara berat dan penuh amarah itu menggema di lorong sekolah. Semua siswa yang sedang berkeliaran langsung menepi, memberi jalan bagi seorang cowok berseragam rapi dengan lencana Ketua OSIS yang terpampang jelas di dadanya. Tatapan tajamnya terkunci pada seorang gadis yang berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya penuh rasa tak bersalah.
Setiap hari pasti dia selalu sibuk mengurusi gadis nakal yang satu ini.
"Apaan sih, Raka? Pagi-pagi sudah cari ribut," balas Nayla santai, bersandar di loker dengan sikap masa bodoh.
Raka Pratama menghembuskan napas panjang, mencoba meredam emosinya. "Jangan pura-pura bodoh! Aku sudah bilang berapa kali? Tidak boleh mencoret-coret tembok sekolah!"
Raka tidak mengerti dengan bahasa seperti apa lagi dia harus menasehati gadis nakal ini.
Nayla melirik ke belakangnya. Sebuah mural besar penuh warna terpampang jelas di dinding sekolah. Gambar seorang guru dengan jubah superhero dan tulisan besar berbunyi: “PAHLAWAN SEJATI TIDAK HANYA MEMBERIKAN TUGAS, TAPI JUGA MENGERTI SISWANYA.”
"Aku sih merasa ini seni," kata Nayla santai sambil menatap karyanya. "Bagus, kan?"
Nayla begitu percaya diri memperlihatkan hasil karya seni yang dia maksud membuat Raja serasa ingin menggunakannya hidup-hidup.
"Bagus dari mananya? Ini vandalisme!" bentak Raka, urat di lehernya mulai terlihat.
Raka benar-benar emosi sekarang, Raka rasa tidak pernah sehari pun dia tidak emosi gara-gara Nayla.
Nayla mendecak. "Dasar Ketua OSIS sok suci. Kamu pikir sekolah ini penjara? Sedikit warna tidak akan membuat gedung ini runtuh, tahu."
"Kamu benar-benar tidak peduli aturan, ya?" Raka semakin geram saja menghadapi biang kerok yang satu ini.
Nayla tersenyum miring. "Aturan itu dibuat untuk dilanggar."
Oh ayolah! perumpamaan dari mana itu?
Raka mengerang frustrasi. "Aku sumpahi kamu akan kena hukuman yang membuatmu kapok, Nayla."
"Silahkan. Aku tidak takut," jawab Nayla enteng, meski jauh di lubuk hatinya, ia tahu satu hal: kalau Raka yang berbicara, berarti itu bakal jadi masalah besar.
Dan benar saja. Dua jam kemudian, namanya sudah terpampang di papan pengumuman. Ulah siapa lagi jika bukan si ketua OSIS menyebalkan menurut Nayla.
"Nayla Ardana – Wajib Bekerja Sama dengan Ketua OSIS dalam Proyek Festival Sekolah."
Nayla menatap tulisan itu dengan ekspresi horor.
"APAAA?!"
Sementara itu, dari kejauhan, Raka hanya menyeringai puas.
---
"Aku tidak mau!" Nayla menolak mentah-mentah sambil melipat tangan di dada.
Di depannya, Raka duduk di kursi Ketua OSIS dengan ekspresi puas. "Kamu tidak punya pilihan, Nay. Ini perintah kepala sekolah."
Nayla mendengus. "Aku lebih baik disuruh membersihkan toilet sekolah sebulan daripada harus bekerja sama denganmu."
Raka mengangkat alis. "Boleh saja. Mau aku ajukan ke kepala sekolah?"
Nayla mendengus kesal. "Bangsat kamu."
Raka hanya tersenyum sinis. "Santai, Nay. Aku juga tidak senang-senang amat harus bekerja sama denganmu."
Mereka berada di ruang OSIS yang cukup luas, penuh dengan tumpukan berkas dan papan rencana untuk acara festival sekolah. Setiap tahun, festival ini selalu menjadi ajang bergengsi yang menentukan reputasi OSIS, dan sekarang … Nayla harus ikut campur di dalamnya.
"Dengar, kamu hanya perlu membantuku mengurus beberapa hal, lalu kita bisa pura-pura tidak saling kenal lagi setelah ini," kata Raka, menyodorkan selembar kertas ke arah Nayla.
Nayla mengambil kertas itu dengan malas. Matanya menyipit saat membaca daftar tugas yang Raka buat. "Mengurus sponsor? Dekorasi? Pengisi acara? Kamu gila?! Aku bukan budakmu, Ketua OSIS sok kuasa."
"Aku tidak meminta kamu menjadi budak, aku meminta kamu bekerja," balas Raka santai. "Atau kamu mau dihukum lagi?"
Nayla menggeram. "Kamu mengancamku?"
"Aku hanya mengingatkan."
Nayla menatap Raka tajam. Dalam hati, ia ingin melempar kursi ke arah cowok itu. Tapi, di sisi lain, dia tahu tidak ada gunanya melawan kali ini. Kalau dia tidak mau dikeluarkan dari sekolah, satu-satunya pilihan adalah … bertahan.
"Baiklah, Ketua OSIS sok perfeksionis. Aku akan membantu. Tapi ingat, kalau kamu menyuruh-nyuruh aku seperti pesuruh, kamu akan menyesal."
Raka terkekeh. "Kita lihat saja nanti."
---
Nayla mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja, menatap ruangan OSIS dengan tatapan bosan. Raka berdiri di depan papan tulis, menjelaskan rencana festival sekolah dengan detail yang menurut Nayla terlalu berlebihan.
"Jadi, kita perlu memastikan semua sponsor sudah deal sebelum akhir bulan," kata Raka, matanya menyapu seluruh anggota OSIS yang duduk di sekeliling meja, "dan Nayla akan bertanggung jawab atas dekorasi serta konsep acara utama."
Nayla mendengus. "Kamu yakin tidak salah memberi tugas? Kenapa bukan kamu saja yang mengurus?"
Raka menghela napas panjang. "Karena kamu yang paling kreatif di sini, meskipun sering membuat masalah. Jadi, manfaatkan kreativitasmu untuk sesuatu yang berguna."
Semua mata tertuju pada Nayla, menunggu reaksinya. Dia menatap Raka dengan tatapan tidak percaya sebelum akhirnya mendecak. "Baiklah. Tapi aku tidak akan bekerja sendirian. Siapa yang membantuku?"
"Dafa dan Alya akan membantumu," kata Raka cepat.
Dafa, yang duduk di sudut ruangan, mengangkat tangan dengan malas. "Aku? Serius?"
Alya hanya tersenyum tipis. "Aku sih oke saja, asalkan Nayla tidak menghilang tiba-tiba."
Nayla mengangkat bahu. "Santai saja, aku akan bekerja … dengan caraku sendiri."
---
Hari pertama Nayla bekerja sebagai panitia festival sekolah berjalan … luar biasa buruk.
"NAYLA! APA-APAAN INI?!" Raka berteriak begitu memasuki aula sekolah dan melihat dekorasi yang jauh dari ekspektasinya.
Nayla menoleh santai dari tangga, tempat dia sedang menggantung lampion warna-warni yang tampak lebih cocok untuk pesta ulang tahun anak-anak dibanding festival sekolah. "Kamu bilang aku harus kreatif, kan? Nah, ini kreativitasku."
Raka mengurut pelipisnya. "Kamu bercanda, kan? Aku minta dekorasi yang elegan dan formal, bukan—bukan sirkus seperti ini!"
Dafa yang berdiri di dekatnya hanya terkekeh. "Sebenarnya, menurutku ini keren sih. Unik."
"UNIK?!" Raka hampir frustrasi. "Kepala sekolah akan marah kalau melihat ini! Nayla, kamu harus mengubah semua ini."
Nayla turun dari tangga dan berdiri di depan Raka dengan tangan bersedekap. "Aku sudah bekerja keras untuk ini. Kamu pikir ini mudah? Aku tidak akan mengubah apa pun, Ketua OSIS sok perfeksionis."
"Aku juga sudah bekerja keras agar acara ini berjalan lancar! Dan aku tidak mau ada satu pun kesalahan!" Raka membalas dengan nada yang sama tegasnya.
Alya yang sedari tadi menyaksikan pertengkaran itu akhirnya angkat bicara. "Oke, sebelum kalian berdua saling bunuh, bagaimana kalau kita mencari jalan tengah?"
Nayla dan Raka saling menatap tajam sebelum akhirnya mendengus bersamaan.
Dafa tertawa kecil. "Ini baru hari pertama, Bro. Kamu siap dengan lebih banyak drama?"
Raka hanya bisa menghela napas. Ini baru permulaan, dan dia sudah merasa kehabisan tenaga.

Selvia Anggraini
35 Pengikut · 2 Novel