


oleh purplexyiii · 110 Bab
Aku Seraphina Langley, hanya ingin menghancurkan pesta pernikahan mantanku—bukan malah terjebak dalam pernikahan lain yang lebih berbahaya. Lucian Devereaux, CEO dingin dan penuh rahasia, tiba-tiba menawariku pernikahan kontrak. Aku butuh balas dendam dan dia butuh warisan. Seharusnya sederhana, tapi semakin lama aku berada di sisinya, semakin sulit membedakan mana kesepakatan … dan mana perasaan yang nyata. Kontrak ini ada akhirnya. Namun, bagaimana jika hatiku tidak ingin melepaskannya?
Aku tidak diundang ke sini, dan aku tidak peduli. Ruangan ini penuh dengan suara tawa dan ucapan selamat yang berulang-ulang.
Gaun mahal berkibar saat para tamu bergerak, menyesap sampanye dan menikmati kemewahan pesta yang seharusnya tidak pernah terjadi.
Aku berdiri di tengah ruangan, jantungku berdegup kencang, jemariku mencengkeram gelas anggur yang dingin.
Mereka tidak menyadari kehadiranku—belum. Mataku tertuju pada satu sosok. Pengantin pria. Damien Vaughn.
Dulu aku berpikir nama itu akan menjadi bagian dari hidupku selamanya. Dulu aku percaya dia adalah takdirku.
Namun, sekarang dia berdiri di sana, mengenakan setelan hitam sempurna dengan dasi putih dan tersenyum kepada wanita yang kini menjadi istrinya. Celeste Moreau. Wanita dengan nama belakang yang lebih berarti dalam dunia bisnis daripada milikku.
Aku seharusnya menjadi orang yang berdiri di sisinya. Aku seharusnya yang mengenakan gaun pengantin itu. Tapi tidak—karena baginya, aku tidak cukup baik.
Aku mengangkat gelas anggurku, menyesap sedikit, lalu tanpa berpikir panjang, aku melemparkan seluruh isinya ke arah mereka.
Cairan merah membasahi gaun putih Celeste, meninggalkan noda yang tidak mungkin dihapus begitu saja. Ruangan yang tadinya dipenuhi tawa kini hening seketika.
Celeste terperangah sambil menatap noda di bajunya dengan horor. Damien pun menegang, matanya bertemu denganku dalam keterkejutan yang segera berubah menjadi amarah.
Aku menyeringai. “Ups.”
Seseorang di antara kerumunan tersentak, bisikan mulai menyebar seperti api. Aku bisa merasakan puluhan pasang mata menatapku untuk menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Damien melangkah maju dengan ekspresinya yang penuh kemarahan. “Seraphina, apa yang kau lakukan?!”
“Aku hanya ingin mengucapkan selamat,” kataku santai, meskipun hatiku berdebar kencang. “Dan aku pikir, pernikahan ini membutuhkan sedikit warna.”
Celeste terengah-engah, matanya membelalak tidak percaya. “Kau perempuan gila!”
Aku terkekeh kecil. “Oh, baru sekarang kau sadar?”
Aku tidak tahu apa yang membuatku melakukan ini. Mungkin kemarahan yang kupendam selama ini, atau mungkin kepuasan melihat wajah Damien yang menegang. Aku ingin melihatnya hancur, seperti bagaimana dia menghancurkanku.
Damien menggeram, lalu menoleh ke arah salah satu penjaga di sudut ruangan. “Bawa dia keluar dari sini!”
Aku merasakan ketegangan di udara sebelum aku benar-benar menyadarinya. Beberapa penjaga mulai bergerak ke arahku. Langkah mereka terdengar mantap dan jelas berusaha mencegahku kabur. Astaga.
Aku bisa saja berlari. Bisa saja mencoba melawan. Namun, aku tidak punya kesempatan menghadapi mereka semua. Jadi aku menegakkan dagu dan bersiap menghadapi apa pun yang akan terjadi.
Lalu tiba-tiba, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tanganku dan menarikku mundur dengan cepat.
Aku hampir tersandung tumitku sendiri saat aku terseret keluar dari ballroom dalam kecepatan yang sulit untuk diikuti.
Aku berbalik, berniat memprotes, tapi kata-kata itu tertelan saat aku melihat siapa yang membawaku pergi. Lucian Devereaux.
Jantungku hampir berhenti. CEO Devereaux Corporation. Pria paling berkuasa di ruangan ini, mungkin bahkan di kota ini.
Dingin, tidak tersentuh, dan dikenal tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Apa yang dia lakukan?
Aku tidak punya waktu untuk bertanya. Dia membawaku melewati koridor hotel yang sepi, jauh dari tatapan para tamu.
Napasku memburu saat akhirnya dia berhenti di ruangan yang lebih pribadi, melepaskan cengkeramannya, lalu berbalik menghadapku.
Aku menyentakkan tanganku dan menatapnya tajam. “Apa yang kau lakukan?!”
“Menyelamatkanmu dari kebodohanmu sendiri.”
Aku mendengkus keras. “Aku tidak butuh penyelamatan.”
Dia mengangkat alis, seolah meragukan ucapanku. “Benarkah? Kau ingin dijebloskan ke dalam tahanan atas tuduhan mengganggu acara publik? Atau lebih buruk lagi, menjadi musuh dari Damien Vaughn?”
Aku spontan mengepalkan tangan. “Dia sudah menjadi musuhku sejak lama.”
Lucian mengamati wajahku sejenak dengan ekspresinya yang sulit ditebak. “Kalau begitu, bagaimana jika aku memberimu kesempatan untuk membalas dendam?”
Aku menyipitkan mata, benar-benar merasa curiga. “Apa maksudmu?”
Dia tiba-tiba mendekat, memberikan suara yang lebih rendah dan lebih tajam. “Menikahlah denganku.”
Aku reflek menahan napas. “Apa–“
Lucian melanjutkan dengan nada datarnya yang khas. “Kau ingin membuat Damien menyesal, dan aku membutuhkan seorang istri.”
Aku menatapnya tajam untuk mencoba menemukan niat tersembunyi di balik matanya yang abu-abu tajam. Ini gila. Lebih gila dari semua hal yang telah kulakukan malam ini.
Namun, mungkin ... ini juga kesempatan yang tidak bisa kusiakan.
Aku menatap Lucian dengan skeptis, mencoba memahami maksud di balik kata-katanya. Pernikahan? Dengan pria yang bahkan tidak kukenal secara pribadi? Ini pasti semacam lelucon.
“Apa kau sedang bercanda?” tanyaku mencoba mencari tanda-tanda bahwa dia hanya bermain-main.
“Apakah aku terlihat seperti orang yang suka bercanda?”
Tidak. Tidak sama sekali. Aku melangkah mundur, mencoba menenangkan diri. Ini terlalu cepat. Baru beberapa menit yang lalu, aku melemparkan anggur ke gaun pengantin Celeste, dan sekarang aku berdiri di hadapan pria paling berkuasa di ruangan itu, yang entah bagaimana menawarkan sesuatu yang lebih gila dari aksiku sendiri.
Aku tertawa sinis, lalu menyilangkan tangan di depan dada. “Jadi, kau ingin menikah denganku hanya untuk membuat Damien menyesal? Itu rencana yang sangat kekanak-kanakan untuk seseorang sepertimu, Tuan Devereaux.”
Lucian menghela napas, seolah tidak terkesan dengan reaksiku. “Kau salah paham. Aku tidak peduli dengan Damien atau siapa pun.
Aku membutuhkan seorang istri untuk memenuhi persyaratan dalam wasiat keluarga. Dan kau menginginkan cara yang lebih efektif untuk menghancurkan pria yang telah mengkhianatimu. Ini murni kesepakatan bisnis.”
Aku diam. Lucian melanjutkan, suaranya tetap stabil. “Dengan menikah denganku, kau akan memiliki lebih banyak kekuatan dari pada yang pernah kau miliki sebelumnya. Damien akan melihatmu di sampingku, dan dia akan tahu bahwa dia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya.”
Kata-kata itu menggema dalam pikiranku. Membayangkan ekspresi Damien ketika melihatku menjadi istri Lucian ... ada sesuatu yang begitu memuaskan tentang gagasan itu.
Namun, pernikahan?
Aku menggelengkan kepala, masih mencoba berpikir jernih. “Mengapa aku? Kau bisa memilih wanita lain, seperti seseorang yang lebih cocok dengan citramu.”
Lucian tersenyum tipis, tapi matanya tetap dingin. “Karena kau tidak akan jatuh cinta padaku.”
Aku seketika membeku. Lucian melanjutkan seolah dia baru saja mengatakan sesuatu yang sepele.
“Aku tidak tertarik pada pernikahan yang berujung pada drama emosional. Aku membutuhkan seseorang yang mengerti batasannya. Dan kau, Seraphina, jelas masih terjebak dalam kebencianmu terhadap pria lain. Itu membuatmu jadi kandidat yang sempurna.”
“Jadi, menurutmu aku ini apa? Alat untuk membantumu memenuhi syarat warisanmu?”
Lucian mengangkat bahu. “Dan aku hanyalah alat untuk membantumu membalas dendam. Kita sama-sama mendapat keuntungan.”
Aku menggigit bibir, mencoba menenangkan detak jantungku yang menggila. Semuanya terjadi begitu cepat, tapi bagian terdalam dalam diriku tahu bahwa ini adalah kesempatan yang tidak bisa kusiakan.
Aku ingin Damien menyesal. Aku ingin dia melihatku berdiri lebih tinggi dari pada yang pernah dia bayangkan.
Lucian sepertinya bisa membaca pikiranku, karena dia mengambil satu langkah mendekat. Udara di antara kami terasa berat, seolah dia sedang memberiku pilihan yang tidak bisa kutolak.
“Ambil tawaranku, Seraphina. Ini satu-satunya cara untuk menang.”
Aku menatapnya. Mata abu-abunya tidak menunjukkan kebohongan, hanya ketegasan. Dingin. Berbahaya. Namun, juga menawarkan sesuatu yang tidak pernah kumiliki sebelumnya—kekuatan.
Aku menarik napas dalam. Semua yang terjadi hari ini terasa gila, tapi bukankah hidupku memang sudah berantakan?
Jika aku bisa menghancurkan Damien dan membangun kembali diriku sendiri dari puing-puing ini, bukankah itu layak dicoba?
Jadi, aku mengangkat daguku dan menjawab, “Baiklah. Aku terima.”
Lucian menyunggingkan senyum tipis, seolah sudah menduga jawabanku. “Bagus. Kalau begitu kita mulai sekarang.”
“Hah? Sekarang?”
Lucian merogoh ponselnya, menelepon seseorang, lalu berbicara dengan nada datar, “Siapkan semuanya. Aku ingin pernikahan ini terjadi dalam waktu secepat mungkin.”
Jantungku mencelos. Aku memang baru saja membuat keputusan besar. Namun, aku belum siap untuk apa yang akan terjadi selanjutnya.

purplexyiii
8 Pengikut · 13 Novel