


oleh Phine Femelia · 106 Bab
Teror terus menghantui kehidupan Lucy dan Meli. Anehnya, selama kedua kakak-beradik itu tinggal dengan Nadia, mereka merasa tidak memiliki kesalahan besar di masa lalu pada siapa pun. Bahkan setelah Lucy menikah, teror itu tetap menghantui dirinya, tetapi tidak dengan Meli. Adiknya tidak lagi mendapatkan teror yang selama ini mereka rasakan. Hingga akhirnya Lucy menceritakan semua pada suaminya, berharap sang suami bisa membantu. Bisakah sang suami membantu Lucy? Lalu siapa sebenarnya sosok peneror itu? Dan apa alasan di balik semua teror itu?
Lucy menatap sekelilingnya dengan cemas, ketakutan kian merayap bersama dengan setiap langkahnya, membuat tubuhnya gemetar. Tempat ia berdiri saat ini, dikelilingi pepohonan raksasa yang tinggi dan gelap, tempat yang juga menyembunyikan kegelapan yang menakutkan.
"Aku ada di mana?" batin Lucy.
"Meli! Meli! Kamu dengar aku?!" teriak Lucy memanggil nama adiknya. Dia terkejut, melihat keadaan sang adik.
Lucy kembali berjalan dengan napas terengah-engah karena ketakutan. "Meli!" teriak Lucy. Lucy membalikkan badannya ketika muncul sosok pria berbaju serba hitam menepuk pundaknya. Wajah pria itu tertutupi dengan kain berwarna hitam bak perampok, dan hanya kedua mata yang terlihat.
Tidak jauh dari tempat Lucy berdiri, ada sebuah pohon besar. Di sana, terikat kedua tangan Meli dengan bibirnya yang diisolasi. Meli menggeleng, matanya menyorotkan wajah ketakutan.
"Ah!!" teriak Lucy. Dia bahkan menutup wajahnya sebentar dengan menggunakan kedua tangan, tubuhnya semakin gemetar karena ketakutan.
"Kamu … tolong jangan bunuh adik saya," kata Lucy sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada, dia memohon. Dia sangat takut dan panik.
"Hahahaha," tawanya menggelegar ke seluruh tempat itu, terdengar seperti nada yang begitu seram, ditambah dengan suasana malam yang mencekam.
"Kamu mau apa? Katakan saja tapi tolong … jangan membunuh adik saya," kata Lucy berusaha mengumpulkan keberaniannya. Tiba-tiba, sebuah pistol dikeluarkan dari balik tubuh pria bertopeng itu, Lucy seketika terkejut.
"Hmph! Ehhmm! Ugh!"
Di sisi lain, Meli mencoba berteriak dengan mulut yang masih diisolasi, kakinya yang terikat dientakkan untuk memberitahu sang kakak bahwa dirinya ada di samping peneror itu.
Meli juga meronta, meminta ampun kepada pria bertopeng itu. Dia bahkan tidak tahu telah melakukan kesalahan apa padanya. Di balik topeng, tercetak ujung bibirnya yang naik ke atas karena merasa punya kendali atas korbannya, dia mengarahkan pistol ke kepala Lucy, dan menekan pelatuknya.
Dor!!!
Seketika Lucy terbangun dari tidurnya. "Tidak! Jangan!" teriaknya.
Keringat membanjiri tubuhnya, mimpi itu seolah nyata. Dirinya ditembak oleh seorang pria yang selama ini menjadi peneror dalam hidupnya. Bahkan, Meli juga disandera.
Mimpi ini, bukan yang pertama. Sudah sering Lucy bermimpi aneh, setiap kali mimpi itu hadir sekujur tubuhnya akan gemetar.
Lucy yang masih mengontrol dirinya, tiba-tiba tersentak karena mendengar suara Meli dan juga ketukan pintu, sehingga dirinya segera menoleh dan melihat ke arah pintu.
"Ya, Mel. Masuk saja," kata Lucy dengan sedikit frustrasi.
Meli membuka pintu dan masuk ke dalam lalu segera berjalan menghampiri Lucy. Meli sangat khawatir, gadis itu duduk di sebelahnya.
"Kak," panggil Meli pelan.
Meli semakin khawatir melihat kondisi kakaknya, wajah Lucy penuh dengan keringat dan terlihat sangat ketakutan. Lucy mengubah posisinya menjadi duduk. Meli memegang tangan kanan Lucy. "Kakak baru saja bermimpi. Apa mimpi itu lagi? Aku mendengar teriakan Kakak. Aku buru-buru datang, agar Kakak cepat bangun dari mimpi," kata Meli prihatin.
Lucy tidak menjawab, dia berusaha untuk melupakan mimpi itu. Perlahan, Lucy melepaskan tangan Meli dan mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat, dia juga berusaha berhenti gemetar.
"Kakak jangan terlalu memikirkan teror itu, akhirnya terbawa mimpi kan?" kata Meli pelan.
"Aku mimpi ...." Lucy tidak mampu melanjutkan perkataannya, dia menelan sebentar saliva dan berusaha tenang. Meli mengelus pelan lengan Lucy, seakan memberikan ketenangan padanya. "Sudah jangan dilanjutkan, Kak. Aku juga ngeri kalau mendengar ceritanya," kata Meli gelisah.
Tanpa sengaja Lucy melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00. Meli melepaskan genggaman tangannya. "Astaga. Aku akan terlambat," kata Lucy sambil menyingkap selimutnya.
Lucy segera turun dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi dan masuk. Meli menghela napas, melihat tingkah kakaknya. Sebenarnya dia khawatir pada Lucy.
Pukul 07.45
Lucy berjalan keluar dari kamar dengan menerima telepon Brio.
"Gak apa-apa, Sayang. Taksi online aku sudah sampai."
"Kamu yakin? Atau mau diantar sopir rumahku? Aku akan segera memerintahkan Pak Supri untuk secepatnya datang ke rumah kamu."
"Sudah. Aku yakin. Lagi pula taksi online sudah sampai di rumah."
"Ya. Hati-hati, Sayang. Lain waktu biarkan aku jadi alarm berjalan buatmu."
"Yakin?" kata Lucy terkekeh.
"Kenapa gak yakin?"
Lucy terkekeh ketika Brio bicara begitu. Karena pada kenyataannya, Lucy yang lebih bisa bangun pagi. Sementara, Brio hanya sesekali saja, jika memang pekerjaannya mengharuskan dirinya untuk bangun pagi.
"Kamu jangan pikirin aku terus ya? Taksi online pesananku sudah tiba, aku mau berangkat."
"Oke kalau begitu. Nanti jadi pulang bareng kan?"
"Tentu saja jadi. Aku rindu, mau ketemu kamu," kata Lucy dengan nada manja. Brio tersenyum senang.
"Ya. Nanti kita ketemu."
"Bye."
"Ya. Bye, Sayang."
Melihat Meli yang duduk di sofa ruang tamu sambil memainkan ponsel, Lucy berhenti di depannya.
"Kamu sibuk pagi ini?"
"Ya, Kak. Aku masih harus menyusun pameran yang akan diselenggarakan," kata Meli dengan melihat sebentar Lucy.
"Baiklah. Aku berangkat, Mel.”
"Kakak sudah merasa lebih baik?" tanya Meli berhenti sejenak dengan handphone.
"Tentang mimpi itu? Ya, lumayan baik meskipun sesekali aku masih kepikiran," kata Lucy.
Meli sangat prihatin. "Kakak jangan terlalu memikirkan hal itu. Aku paham kita gak akan pernah tenang setiap menerima pesan dari peneror itu, tapi … kalau dipikirkan terus, Kakak juga yang akan sakit!” kata Meli.
“Kakak juga akan menjalani hidup baru dengan Kak Brio, jangan terlalu memikirkan teror itu,” tambah Meli.
Lucy mengangguk pelan. "Aku akan berusaha. Aku berangkat ya. Sudah siang, taksi online-ku juga sudah di depan," lanjut Lucy.
"Ya. Hati-hati, Kak." Lucy mengangguk dan berjalan pergi.
Pukul 18.30
Lucy tiba di taman dan duduk di kursi. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat, sambil sesekali melamun.
Lucy bahagia karena sebentar lagi dirinya akan bertemu dengan tunangannya, Brio. Sudah beberapa hari tidak bertemu karena kesibukan mereka.
Sambil menunggu, Lucy mengenang beberapa kejadian ketika awal bersama Brio. Setiap kenangan, membuat dirinya bahagia.
***
Brio telah tiba lebih dulu, sementara Lucy baru saja sampai. Di mobilnya, Brio menunggu, dia sudah meminta Lucy untuk masuk ke dalam mobilnya, dan Lucy menghampirinya.
"Terima kasih, Pak," kata Lucy pada sopir taksi sambil tersenyum. Dia pun menghampiri mobil Brio.
Brio melihat gadis itu sejak taksi yang ditumpanginya sampai, tanpa dia sadari jika Lucy sudah duduk di sisi lainnya.
Lucy mendekatkan dirinya karena mencari tahu apa yang terjadi pada atasannya yang sejak tadi diam. Jarak mereka hanya beberapa sentimeter, tiba-tiba, Brio mencium bibir Lucy. Hal itu membuat Lucy tersentak kaget hingga kedua bola matanya membulat dan suasana di sekitarnya berubah menjadi canggung. "Astaga. Ini," gumam Lucy.
Lucy berusaha yakin kalau dirinya tidak sedang bermimpi. Selang beberapa detik, Brio tersadar dengan yang dilakukannya. Seketika, Brio berhenti mencium bibir Lucy. Gadis itu terdiam, tidak berkedip. Brio sendiri mulai gugup, dia merasa bersalah, akan tetapi dia juga bahagia. "Kenapa bisa aku menciumnya?" batin Brio.
"Bapak?" Lucy memanggil pelan. Dia tidak menyangka hal itu akan terjadi.
Brio melirik sebentar Lucy untuk melihat raut wajahnya. "Astaga. Apakah dia akan memarahiku? Sepertinya aku salah jika menilai dirinya senang menerima hal itu," batin Brio mulai tidak tenang dan merasa bersalah.
"Maaf," kata Brio pelan. Satu kata saja yang lolos dari bibirnya.
Setelah sekian lama saling diam akhirnya kata itu keluar dari bibir Brio.
"Kenapa hanya kata “maaf” yang keluar dari mulut Pak Brio? Kenapa dia belum jelaskan?" batin Lucy tidak mengerti.
"Aku sungguh minta maaf," kata Brio pelan dengan merasa bersalah.
"Apa? Aku?"

Phine Femelia
40 Pengikut · 1 Novel