“Jangan pernah mendaki ke sana saat malam Satu Suro, Angga. Gunung itu bukan sekadar tumpukan tanah dan batu. Ada gerbang yang terbuka ketika manusia sibuk mencari berkah yang keliru.”
Angga masih mengingat jelas getaran suara kakeknya malam itu. Lelaki tua itu berbicara dengan tatapan lurus menembus kepulan asap rokok klobot yang diisapnya.
Di beranda rumah kayu mereka yang sunyi, wejangan itu terasa berat, seolah setiap kata membawa beban gaib dari masa lalu. Namun, bagi Angga yang tumbuh besar di tengah riuhnya kepungan arus informasi digital Jakarta, peringatan tersebut menguap begitu saja, kalah telak oleh rasa penasaran dan gengsi di hadapan teman-teman sekampusnya.
Kini, embusan angin gunung yang menusuk tulang memaksa Angga merapatkan ritsleting jaket gunungnya. Ia berdiri di basecamp jalur pendakian Gunung Lawu via Candi Cetho. Suasana malam itu sangat berbeda dari hari biasa. Alih-alih sepi, tempat tersebut justru dipadati oleh manusia.
Sebagian adalah pendaki muda dengan tas keril raksasa, tetapi sebagian lagi adalah peziarah berbaju hitam yang datang dengan pandangan kosong serta langkah yang senyap. Bau kemenyan samar-samar berbaur dengan aroma mi instan dari warung-warung sekitar, menciptakan perpaduan udara yang aneh dan menyesakkan dada.
“Angga! Malah melamun. Ayo, rombongan kita sudah mau jalan,” panggil mamas pemandu, seorang lelaki lokal bernama sersan yang malam itu memimpin barisan.
Angga tersentak, lalu membetulkan letak tali ranselnya.
“Iya, Mas. Siap.”
Sambil melangkah membelah kegelapan malam mendampingi empat temannya yang lain, ingatan Angga kembali melesat pada malam terakhir ia berpamitan dengan sang kakek di desa kaki gunung, beberapa hari sebelum ia berangkat ke pos pendakian.
Kakeknya, seorang mantan jagawana yang menghabiskan separuh umurnya di lereng Lawu, tidak hanya melarang. Beliau memberikan tiga pantangan mutlak yang harus dipatuhi jika Angga tetap nekat melangkah ke atas tanah sang prabu.
Pertama, jika kamu melihat atau menemukan barang apa pun di tengah jalan yang bukan milikmu, jangan pernah sekali-kali mengambil atau menyentuhnya.
Kedua, jika telingamu mendengar suara yang memanggil namamu, kendalikan lidahmu, jangan pernah menjawab atau menoleh. Ketiga, jika ada yang menawarkan sesuatu kepadamu di tempat yang tidak semestinya, tolak dengan halus, jangan pernah menerima pemberian itu meski hanya sebutir pasir.
“Tiga larangan itu adalah pembatas antardunia,” ucap Kakek kala itu sembari meraba sebuah bungkusan kain jarit usang di atas meja.
“Jika kamu melanggarnya, kamu bukan lagi tamu di gunung itu, melainkan tawanan.”
Angga mendengkus pelan mengingatnya saat ini. Di zaman modern seperti ini, mistisisme sering kali hanyalah cara orang tua untuk menakut-nakuti anak muda agar menjaga sopan santun di alam liar.
Logika pemuda dua puluh satu tahun itu menolak mentah-mentah segala bentuk ketakutan tanpa dasar ilmiah. Baginya, mendaki Lawu pada malam Satu Suro hanyalah sebuah pencapaian premium yang akan terlihat sangat estetik di laman media sosialnya kelak.
Langkah kaki rombongan mulai memasuki batas hutan. Pepohonan besar menjulang tinggi di kanan dan kiri, menghalangi cahaya bulan yang temaram.
Hanya sorot lampu senter kepala milik para pendaki yang memotong kegelapan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di atas permukaan tanah berbatu. Suara jangkrik dan serangga malam saling bersahutan, perlahan-lahan menenggelamkan riuh rendah suara manusia di belakang mereka.
Jalur Candi Cetho terkenal dengan tanjakannya yang rapat dan vegetasinya yang rapat. Udara dingin mulai menembus pori-pori kulit Angga, membuat napasnya menguar dalam bentuk uap putih setiap kali ia mengembuskan udara dari paru-paru. Teman-teman sekelompoknya mulai berjalan lebih lambat, terengah-engah melawan gravitasi bumi.
“Kita istirahat sebentar di depan,” teriak Mas Sersan dari barisan paling depan.
Angga memilih untuk tetap berdiri, bersandar pada sebuah pohon besar yang kulitnya terasa lembap dan dingin. Ia mengambil botol air minum dari kantong samping tasnya, meneguknya sedikit demi sedikit untuk membasahi tenggorokannya yang mulai terasa kering.
Di sekelilingnya, kegelapan malam terasa semakin pekat, seolah-olah hutan ini sedang perlahan-lahan menutup diri dari dunia luar.
Entah mengapa, bulu kuduk Angga mendadak berdiri tegang. Suasana di sekitarnya mendadak berubah menjadi sangat hening.
Suara obrolan teman-temannya yang berada hanya beberapa meter di sampingnya terdengar menjauh, lamat-lamat seperti tertelan oleh lapisan dinding yang tak kasat mata.
Bau tanah basah yang semula segar kini berganti dengan aroma wewangian bunga kenanga yang sangat pekat, menusuk hidung dengan kelebatan yang ganjil.
Angga mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencoba mencari sumber bau tersebut melalui sorotan senter kepalanya.
Sinar putih dari lampunya menembus sela-sela pohon, tidak menemukan apa pun selain jalinan akar dan semak belukar yang diam membeku. Tidak ada angin yang berembus, dedaunan di atas kepalanya mendadak berdesik pelan, seolah-olah ada sesuatu yang sedang merayap di antara ranting-ranting pohon yang tinggi.
Tepat saat ia ingin memanggil Mas Sersan untuk menanyakan kondisi aneh ini, sebuah suara berbisik dari arah semak-semak gelap di sebelah kanannya.
Suara itu sangat tipis, mengalun lembut di antara desau hutan, tapi entah bagaimana, bunyinya terdengar begitu jelas tepat di lubang telinganya.
“Angga.”
Pemuda itu membeku di tempatnya berdiri, jantungnya mendadak berdegup dua kali lebih cepat. Bisikan itu tidak terdengar seperti suara angin. Itu adalah suara seorang perempuan, bernada parau, dan memanggil namanya dengan sangat fasih.