Inti masih terdiam dan menyerap semua ucapan yang terlontar dari mulut Letjen Angga. Ia masih bingung dengan situasi ini. Di satu sisi ia merasa sedih karena kematian pria di hadapannya, lalu tiba-tiba ia kembali dikejutkan dengan kenyataan bahwa itu hanyalah drama dalam acara lamaran.
"Seandainya saya menolak, apa yang akan Bapak lakukan." Inti mengajukan pertanyaan.
"Seperti yang saya katakan. Saya hanya mengandalkan Allah dalam merebut hati kamu. Sebab, hanya Dia yang mampu membolak-balikkan perasaan manusia, Sang Maha Cinta," jawab Letjen Angga.
"Pak Angga tahu bukan? Inti jauh dari kata sempurna. I hanya seorang gadis muda yang manja dan masih mengandalkan orang tua untuk segalanya. I tidak pandai memasak, membersihkan rumah, juga mencuci pakaian atau piring kotor. Apa Bapak yakin bahwa I akan menjadi istri dan ibu yang baik?" tanya gadis itu kembali.
"Saya tahu, kamu tidak sempurna, begitu juga dengan saya. Karena itu, saya meminta pada Allah agar menyatukan kita dalam sebuah pernikahan, sehingga kesempurnaan itu hadir dalam rumah tangga kita nantinya." Letjen Angga menjawab dengan tenang. "Setelah bersama saya, maka kamu wajib bermanja dan mengandalkan suamimu bukan?"
"Lagipula, saya menjadikan kamu seorajg istri dan ratu, bukan pembantu. Jika kamu tidak mampu, maka kita bisa belajar bersama-sama. Saling membantu, juga bergotong royong membangun rumah tangga yang diberkahi oleh Allah!" tegas Letjen Angga.
"Kalau begitu, datanglah ke hadapan Papa dan Mama saya. Katakan pada mereka tentang perasaan Bapak terhadap saya, itu pun jika berani," tantang Inti dengan senyum manisnya.
Letjen Angga menaikkan sebelah alisnya. "Menantang saya, hm?"
Inti mengedikkan bahu. "Mungkin!"
"Saya akan datang ke hadapan mereka dan mengatakan segalanya. Siapa yang bisa menolak pesona Letjen Angga, hm? Tentu mereka akan berpikir dua kali, jika menolak orang tampan dan mapan seperti saya," ujar Letjen Angga dengan penuh percaya diri.
"Narsis," sahut Inti dengan terkekeh pelan.
"Bagaimana dengan kejutan ini?" tanya Letjen Angga dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
Inti merona mengingat apa yang telah gadis itu lakukan saat Letjen Angga berbaring lemah, bersimbah darah, dan tidak bernapas. Menangis tersedu-sedu sembari meminta pria tersebut bangun. Berteriak dan melontarkan kalimat-kalimat memalukan.
"Lumayan," jawab Inti.
"Lumayan apa?"
"Lumayan membuat I jantungan!" pekik gadis itu, lalu memukul-mukul Letjen Angga dengan kesal sembari terisak kembali.
"Maaf, hanya dengan cara ini saya bisa bernapas lega," ucap Letjen Angga dengan tulus. "Benda ini saya masukkan terlebih dulu, ya? Hanya formalitas saja, biar terkesan romantis," lanjutnya.
Inti mencubit lengan Letjen Angga, membuat pria itu terkekeh pelan. Semua pasang mata yang melihat hal itu hanya bisa memberikan tatapan dengan berbagai arti. Kebanyakan mereka memandang penuh rasa iri, gemas, dan bahagia. Hanya tiga orang yang memberikan tatapan sedih sekaligus tidak suka. Mereka adalah Dokter Ayrin, Dokter Melani, dan Pak Arga yang memang berada tidak jauh dari sana.
"Ekhem!" Bang Rizal berdeham lumayan keras.
"Ekhem-ekhem!" Bang Ricky ikut-ikutan.
Bahkan, yang lain juga ikut berdeham. Mereka seakan mengingatkan sesuatu, tetapi entah apa itu? Inti dan Letjen Angga mengerutkan dahi. Menatap ke arah dua objek yang menjadi fokus dehakan beberapa orang.
"Ada yang salah, tapi nggak merasa!" pekik Bang Rizal.
"Ada yang iri, tapi takut dosa!" Bang Ricky ikut memekik.
"Ada yang modus, tapi sok biasa!" timpal Galuh dengan berteriak.
"Aha! Ada yang jatuh cinta, tapi tak kunjung berkata!" Dio ikut berteriak.
Jenderal Pradika hanya diam karena tidak mengerti dengan apa yang dimaksud keempatnya. Ia tidak sadar jika Bang Rizal, Bang Ricky, Galuh, dan Dio menyindir ke arah pria itu. Sedangkan Hidayah sudah menyadari bahwa kalimat-kalimat yang dilontarkan keempat pria berbeda usia dan profesi itu tertuju untuknya dan Jenderal Pradika.
"Ada yang nyindir, tapi nggak dipeduliin! Haha! Kasihan banget, anjir!" papar Hidayah dengan nada naik satu oktaf, membuat yang lain tertawa.
Hidayah mengangkat pandangan ke arah wajah Jenderal Pradika. Baru kali ini ia berdekatan dengan pria yang beruntungnya sangat tampan. Rasanya meleleh melihat perlakuan Jenderal Pradika yang tengah memeluknya dari samping dengan satu tangan.
"Udah, dong! Kasihani yang jomblo, ngenes! Scene adegan romantisnya udahan juga masih aja dipeluk," sindir Galuh.
"Definisi orang syirik, ya banyak omong!" sahut Jenderal Pradika dengan ketus.
Hidayah pun melepaskan pelukan Jenderal Pradika. "Bapak cari kesempatan dalam kesempitan," ujar Hidayah dengan sinis.
"Saya nggak cari kesempatan dalam kesempitan, justru saya memanfaatkan keadaan," bantah pria itu.
"Idih, modus banget!"
"Lah, daripada saya menyia-nyiakan peluang yang ada? Kan, nggak baik. Dalam usaha, pasti ada yang namanya peluang. Nah, saya juga sedang berusaha, makanya Allah kasih peluang," ungkap Jenderal Pradika yang tidak mau kalah.
"Ternyata orang bucin sama orang bego beda tipis, ya, Bang Zal, Bang Rick?" Galuh bertanya.
"Yang bodoh itu kamu! Sudah tahu disuruh akting lari ke dekat Letjen Angga, sambil memanggil namanya. Malah ikut nangis tersedu-sedu, cengeng sekali. Kan, yang disuruh akting nangis itu saya, tetapi saya hanya pura-pura keluarin air mata, itu pun cuma setetes. Dasar." Jenderal Pradika berubah menjadi cerewet seperti ini.
"Astaghfirullah, itu kata bodoh langsung terucap. Pake basmalah dulu kenapa pas mau ngucapinnya?"
"Oh, jadi kalian semua di sini kerja sama? Hm, terlibat drama gila ini?" Hidayah menatap tajam ke arah ketiga temannya dan dua pria berseragam loreng.
"Kok, drama gila, Day? Ini drama terhebat sepanjang masa tahu, acara lamaran yang jarang terjadi," bantah Dokter Thalita.
Hidayah tersenyum dan menjauh dari Jenderal Pradika. "Yang bilang drama ini hebat, berarti otaknya konslet. Pikirannya bukan lagi pakai otak kanan atau otak kiri, tapi pakai otak-otak. Hal gila dibilang hebat, ngaco ini mereka, astaga," cerocos Hidayah.
"Nggak gila, Day," sanggah Letjen Angga.
"Apanya yang nggak gila?! Tadi siapa yang sok-sokan sakaratul maut sambil baca syahadat, hah?!" pekik Hidayah yang benar-benar kesal luar biasa.
"Untung malaikat lagi baik, males cabut nyawa orang katanya. Coba kalau lagi mode ganas? Niat settingan, malah jadi boomerang," racau gadis itu.
Hidayah pun melangkah pergi meninggalkan semua orang di sana dengan raut wajah tercengang mereka, karena serentetan kalimat dari mulut gadis itu. Ia menarik lengan Inti untuk pergi dari sana.