


oleh Pinyo · 60 Bab
Namaku Salvatore Kael Albrecht. Inspektur muda dengan wajah tampan, rambut rapi, dan jadwal tidur yang lebih berharga daripada gaji bulanan. Sayangnya, ada satu masalah besar, serial killer di Kota Jolwey punya hobi merusak hidupku. Dia penyebab korban berjatuhan, warga panik, dan yang paling parah dia membuatku harus lembur setiap malam. Kalau kalian ikut aku mencari pelakunya, aku janji satu hal, anggapan kalian tentang aparatur negara bakal berubah seratus persen.
Jolwey Town. Kota kecil yang kelihatannya damai dari luar. Penduduknya lumayan padat, tapi entah kenapa semuanya tetap terasa kondusif, seakan masalah selalu memilih kota lain untuk mampir. Sayangnya, beberapa hari ini kota jadi berisik karena ada kasus pembunuhan.
Udara malam berembus pelan, menampar lembut wajahku dan menerbangkan beberapa anak rambut yang sejak tadi mengganggu pandangan. Aku sedang berpatroli, mobil dinas melaju santai menyusuri jalanan yang mulai sepi. Dari luar mungkin terlihat keren, inspektur muda, mobil polisi, malam yang tenang.
Sayangnya, wajahku jelas tidak memancarkan kebahagiaan. Kenapa? Ya siapa juga yang tahu. Bahkan aku sendiri sudah terlalu lelah untuk mencari alasannya.
“Hoam, luar biasa sekali,” gumamku sambil menguap panjang. “Pukul sebelas malam, dan aku belum tidur selama tiga hari.”
Nada kesalku memenuhi kabin mobil. Kalau angin bisa bicara, mungkin dia akan merutukiku dan memintaku pulang lalu tidur.
“Penjahat kecil itu membuat hidupku berantakan beberapa hari ini. Dasar menyebalkan,” bisikku pelan, seperti sedang merutuki takdir yang juga ikut membuatku kesal.
Kota yang biasanya damai dan tenang mendadak berubah mencekam. Lihat saja apa yang dia rusak. Bukan hanya ketenangan Jolwey, tapi waktu tidurku yang sudah setara harga nyawanya, hancur tanpa sisa.
Aku mengarahkan mobil patroli ke tepi jalan dan menghentikannya. Aku butuh udara segar sebelum kepalaku benar-benar meledak. Kantuk mulai menyerang dari segala arah, membutakan fokusku.
Aku keluar dari mobil, mencari udara segar sebelum otakku benar-benar padam. Kudongakkan kepala sedikit, menarik napas dalam sambil bersandar pada pintu mobil. Angin malam menyentuh wajahku lembut, nyaris seperti bujukan. Ah, kasur di kamarku pasti sedang memanggil, merayu agar aku segera pulang dan tidur selama seribu tahun.
Tiba-tiba handy talky di dadaku berderik keras. Suaranya merobek ketenangan yang baru saja tercipta.
“Halo, halo, Kael, kau di sana?”
Ah, suara itu. Suara yang otomatis menaikkan tensi dan mood, menyebalkan.
“Aku di sini,” jawabku dengan nada yang mungkin terdengar seperti ancaman halus untuk memakan pemilik suara itu hidup-hidup.
“Jangan tidur,” ujarnya dari seberang. “Kirimkan koordinat rute patroli, aku akan menemanimu.”
Aku mendesah panjang. Tentu saja dia menggangguku. Dia selalu begitu. Meski begitu, entah kenapa tanganku tetap mengirimkan lokasi saat ini, seperti tubuhku punya logika sendiri yang lebih patuh dibanding otakku.
“Bawakan aku kopi hitam,” kataku sebelum mematikan HT tanpa menunggu jawaban.
Aku Salvatore Kael Albrecht. Nama yang indah, kan? Ya, itu pemberian Mama dan jujur saja, beliau punya selera yang luar biasa.
Setiap kali orang mendengar namaku, mereka biasanya langsung membayangkan sosok dengan wajah tampan, tubuh ideal, pahatan sixpack rapi, rambut hitam yang selalu disisir rapi warnanya kontras dengan mata, dan senyum yang katanya memikat. Aku tidak berusaha menyangkal apa pun. Memang seperti itulah aku sekarang. Selain namaku yang indah, aku dengan segala kerendahan hati mengakui, jika diriku termasuk hasil karya Tuhan yang terbaik.
Kaca etalase toko yang gelap memantulkan tubuhku dengan cukup jelas. Tidak heran ibu-ibu di sekitar rumah selalu berusaha menawarkan putri mereka padaku. Ini bukan narsistik, hanya pengakuan jujur bahwa aku memang setampan itu.
Kekagumanku pada pantulan sendiri langsung hilang ketika sebuah mobil patroli ikut berhenti di belakang mobilku. Lampunya mati, tetapi suaranya cukup untuk membuatku menoleh. Tepat saat aku memandang ke arahnya, seorang pria muncul dari dalam.
Hudges Marcel. Nama itu tertera jelas di dada seragamnya. Usianya tiga puluh tahun, dua tahun lebih tua dariku. Wajahnya lumayan, tapi tetap saja jauh jika dibandingkan dengan aku.
Dia sosok yang menyebalkan menurutku, tapi anehnya dia selalu menempel padaku seperti bakteri yang susah dibasmi.
Dia tersenyum ke arahku sambil membawa dua cangkir kopi, satu di tiap tangan. Senyum itu, astaga. Rasanya ingin sekali kuhancurkan. Dia jelek, tapi entah kenapa selalu percaya diri.
“Wohaha, kau terlihat berantakan, kawan,” ujar Marcel sambil mendekat dan ikut bersandar di mobilku, seolah itu mobilnya.
“Berhenti menggangguku. Aku benar-benar lelah,” balasku sambil melirik sekilas. Lirikannya saja sudah cukup untuk menunjukkan kalau aku tidak sedang ingin bercanda.
Marcel menyodorkan satu cangkir kopi ke arahku. “Apa kau menemukan pelakunya?” tanyanya dengan wajah menyebalkan yang tampaknya sudah bawaan lahir.
“Kita tidak akan menemukannya,” jawabku sambil menerima kopi hangat itu. Rasanya lumayan. Tidak cukup untuk memulihkan otak, tapi cukup untuk menunda kematian.
“Entah kenapa aku setuju dengan ucapanmu. Kurasa Letnan Arthur memang ingin membuat hidup kita sengsara,” ujar Marcel sambil meniupkan napas lelah.
Aku mengangguk. Untuk sekali ini, dia benar. Selain kami tidak menemukan jejak pelaku, identitasnya pun tidak terdeteksi. Yang kami temukan hanya jasad korban, dingin, kaku, dan penuh misteri yang tidak memberi jawaban apa pun.
“Rokok?” Marcel mengulurkan kotak rokok kelas atas miliknya.
Aku tersenyum kecil menatap bungkus rokok itu, lalu mengalihkan pandangan ke depan sambil menyesap kopi. “Aku tidak merokok.”
“Ah, sial. Aku lupa kalau Salvatore Kael Albrecht adalah pria baik-baik,” katanya sambil menyalakan rokok dan ikut menatap lurus ke depan, seolah memeriksa kegelapan malam yang mungkin menyembunyikan jawaban.
“Aku mengenalmu sejak sekolah menengah, tapi aku tidak pernah sekalipun melihatmu merokok,” ujar Marcel sambil menghembuskan asap.
“Mama melarangku,” jawabku spontan, dan itu memang bukan kebohongan.
Marcel tertawa keras sampai hampir tersedak. “Ahaha sial, Kael. Kau selalu berhasil menghiburku.”
Aku menoleh ke arahnya. “Kenapa?”
“Aku tidak tahu kalau kau se-taat itu pada Bibi Carles,” katanya masih terkekeh.
Aku menyunggingkan senyum kecil. “Aku patuh sama Mama. Lagi pula, rokok bisa membuat Kael Junior jadi loyo.”
Marcel hampir tersedak mendengar kalimatku barusan. “Kurasa kau satu-satunya orang di Precinct Jolwey Town yang tidak narkoba dan tidak merokok.”
“Orang tampan seperti aku tidak butuh benda-benda itu untuk terlihat keren,” jawabku santai sambil menyesap kopi yang mulai kehilangan panasnya.
Marcel mendecak, wajahnya terlihat sedikit kesal, seolah aku baru saja mengatakan sesuatu yang benar tapi menampar.
Setelah kalimat terakhirku, keheningan menyelimuti kami. Aku masih diserang kantuk yang menusuk kepala, sementara Marcel sibuk dengan rokok mahalnya, memperlakukan benda itu seperti harta karun.
Aku mengangkat kepala menatap bulan di atas sana. Indah, seperti senyum Mama yang selalu menenangkan. Ya tuhan, aku baru ingat, sudah lama tidak mengunjunginya. Semua gara-gara serial killer bajingan itu. Hidupku, jadwalku, bahkan waktu untuk membawakan bunga Mama pun ikut berantakan.
Lamunanku tentang kerinduan terhadap Mama pecah, saat suara dari mobil patroli kami menyala.
“Patroli berakhir. Kalian boleh beristirahat dan kembali ke kediaman masing-masing.”
Suara Letnan Arthur terdengar tegas melalui radio. Keras, datar, tanpa belas kasihan seperti biasanya.
“Akhirnya kita akan tidur,” seru Marcel. Suaranya seperti sorak kemenangan dari orang yang berhasil selamat dari perang.
“Aku benar-benar merindukan pelukan hangat istriku. Bagaimana denganmu?” ujar Marcel lagi sambil menaik-turunkan alisnya. Jelas, dia sedang mengejekku.
“Diam dan pulanglah sebelum kupatahkan kakimu,” jawabku ketus. Rasanya aku sudah cukup bersabar untuk satu malam ini.
“Oh, oh, oh, Tuan Kael,” katanya sambil mundur beberapa langkah, tawanya meledak. “Aku akan mengakui kau pria tulen kalau berhasil tidur dengan Nona Rhea itu. Buktikan padaku kalau Kael Junior tidak loyo seperti yang kau bilang.”
Sebelum sempat kupukul mulutnya, Marcel langsung kabur menuju mobilnya. Bajingan itu bahkan sempat menyeringai sebelum menutup pintu.
Aku bisa merasakan darahku naik ke kepala. Sialan. Dia memang ahli membuatku tersulut emosi.

Pinyo
22 Pengikut · 4 Novel