


oleh Sfrauf · 23 Bab
Di sekolah, Raka adalah bayangan yang tak terlihat. Di game Aethelgard, dia adalah Nadir—pemain "cacat" yang dianggap sampah. Namun, saat gerbang keluar tertutup rapat dan nyawa menjadi taruhan, hanya Nadir yang menyadari bahwa dunia ini sedang hancur. Bersama Zenith, sang dewi penyihir yang menyimpan rahasia rapuh, Raka harus menantang logika sistem yang kejam. Saat sihir tak lagi bekerja sesuai aturan, mampukah Raka menjadi pelindung bagi gadis yang ia cintai dari kejauhan? Dua dunia, dua nama, satu takdir. Petualangan untuk pulang baru saja dimulai.
Kipas angin langit-langit kelas berputar malas, bunyinya berdecit halus setiap lewat putaran tertentu. Ckit-ckit-ckit. Aku benci bunyi itu. Rasanya kayak diingatkan kalau dunia ini terus berputar tapi aku tetap diam di tempat yang sama.
Namaku Raka, dan di kelas 2 SMP ini, eksistensiku mungkin setara dengan debu di pojok lemari. Ada, tapi nggak ada yang peduli.
"Raka, jangan melamun terus. Kerjakan soal nomor lima," tegur Bu Ratna. Suaranya datar, kayak penggaris kayu yang dipegangnya.
Aku mengerjap, buru-buru menunduk ke buku cetak yang halamannya masih bersih. Di sebelahku, Gavin lagi asyik bisik-bisik sama gengnya soal Aethelgard. Game VR-RPG itu lagi jadi tren gila-gilaan.
Katanya, kalau kamu punya gear yang bagus, kamu bisa jadi raja di sana. Aku cuma bisa mendengarkan sambil pura-pura nulis. Aku nggak punya gear mahal, aku cuma punya laptop tua warisan kakakku dan rasa penasaran yang nggak sehat.
Sepulang sekolah, aku langsung lari ke kamar. Tas kulempar asal ke atas kasur yang sprei-nya sudah agak pudar warnanya.
Aku memakai headset VR murah yang busanya sudah mulai mengelupas, hadiah ulang tahun dari Ayah yang dibeli di toko barang bekas. Begitu alat itu menempel di kepalaku, kegelapan muncul, berubah jadi kilatan cahaya biru yang menyakiti mataku.
"Selamat datang di Aethelgard, Nadir." Suara mesin yang lembut menyapaku.
Nadir. Itu namaku di sini. Nama yang kupilih karena aku merasa hidupku memang sedang ada di titik terendah. Begitu mataku terbuka, aku nggak lagi di kamar pengap berbau minyak telon.
Aku berdiri di sebuah padang rumput yang luasnya nggak masuk akal. Langitnya berwarna biru laut dengan gradasi ungu di pinggirnya. Cantik banget, sampai-sampai mataku agak perih pas lihat ke arah matahari digital itu.
Ada yang aneh.
Biasanya, di area pemula begini, ada banyak pemain yang lari-lari ngejar kelinci atau latihan pedang. Sekarang? Sepi. Sunyi banget sampai aku bisa dengar detak jantungku sendiri yang berdegup kencang di balik dada.
Aku mencoba menekan tombol Menu di udara. Tanganku bergerak lincah, tapi jariku malah menembus layar hologram itu.
"Lho, kok nggak bisa?" gumamku panik.
Aku mencoba lagi. Kali ini lebih keras, seolah kalau aku menekannya dengan emosi, sistemnya bakal nurut. Tetap nggak bisa. Layar menu itu malah bergetar hebat, warnanya berubah jadi merah darah, lalu pecah jadi butiran piksel yang jatuh ke tanah.
"Woi! Ada orang nggak?!" Aku berteriak. Suaraku menggema, tapi nggak ada balasan.
Aku mulai lari. Aku nggak tahu lari ke mana, yang penting bergerak. Tiba-tiba, tanah yang kupijak terasa lembek. Pas aku lihat ke bawah, aku hampir muntah. Rumput hijau yang tadi segar berubah jadi barisan angka nol dan satu yang berputar-putar kayak pusaran air. Kakiku mulai tenggelam.
"Sial, sial, sial! Masa baru masuk sudah kena bug sih?" Aku merutuk, napas mulai tersengal. Jantungku rasanya mau copot, beneran deh, ini bukan kayak rasa takut di game biasa. Ini rasanya ... nyata.
Tiba-tiba, sebuah tangan menarik kerah belakang bajuku dengan kasar. Tubuhku tersentak ke belakang sampai aku jatuh terduduk di tanah yang masih padat. Aku mendongak, mataku menyipit karena silau matahari. Di depanku berdiri seorang cewek dengan jubah putih biru yang berkibar pelan. Dia memegang tongkat panjang yang ujungnya ada permata bersinar.
Dia kelihatan keren banget, kayak karakter di poster-poster mahal. Wajahnya tenang tapi tatapannya tajam, bikin aku mendadak merasa minder karena cuma pakai baju kain rami standar pemain baru.
"Jangan diam saja, Noob. Dunia ini lagi pecah," katanya dingin. Suaranya ... aku kayak pernah dengar suara ini, tapi di mana ya?
"Kamu siapa?" tanyaku bego.
Dia nggak jawab. Dia malah melihat ke arah langit yang tiba-tiba retak, kayak kaca yang dipukul palu godam. Dari retakan itu, muncul makhluk raksasa hitam tanpa wajah yang badannya terus-menerus berubah bentuk. Makhluk itu mengeluarkan suara melengking yang bikin telingaku berdenging hebat. Aku refleks menutup telinga sambil mengerang kesakitan. Rasanya kepalaku mau meledak.
"Dengarkan aku, Nadir." Cewek itu berjongkok di depanku. Dia memegang bahuku keras-keras, sampai aku bisa merasakan jemarinya yang agak dingin. "Jangan coba-coba buat logout. Tombolnya sudah hilang. Kalau kamu paksa keluar sekarang, otakmu bakal hangus."
Aku melongo. "Maksud kamu apa? Ini cuma game, kan? Aku mau pulang! Aku belum ngerjain tugas Bu Ratna!"
Cewek itu mendengus, hampir kayak ketawa tapi lebih ke arah kasihan. "Nama aku Zenith. Dan buat sekarang, anggap saja kita lagi ada di neraka versi digital. Ikut aku kalau masih mau hidup."
Tepat saat itu, kejutan yang sebenarnya terjadi. Di depan mataku, sebuah kotak dialog muncul. Bukan kotak dialog misi atau level up yang biasa. Warnanya hitam dengan tulisan kuning yang berkedip-kedip cepat.
[WARNING: LOGIC ERROR DETECTED]
[USER "NADIR" HAS GRANTED ADMIN-ACCESS TO THE VOID]
[CURRENT OBJECTIVE: DELETE THE REALITY?]
Aku menatap tulisan "Delete the Reality" itu dengan tangan gemetar. Di bawah kakiku, angka-angka tadi mulai merambat naik ke betis, rasanya panas kayak disundut rokok. Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi satu hal yang pasti: aku baru saja dapat kekuatan untuk menghancurkan tempat ini, padahal aku bahkan belum tahu cara pakai pedang.
"Nadir! Ayo lari!" teriak Zenith sambil menarik tanganku.
Aku bangkit berdiri, menyeka keringat di dahi dengan punggung tangan yang gemetar. Duniamu mungkin membosankan, Raka, tapi dunia ini gila. Dan entah kenapa, rasanya ini baru saja dimulai.

Sfrauf
21 Pengikut · 9 Novel