


oleh Shyvraauthor · 100 Bab
Michael Revander tak butuh cinta, ia hanya butuh kendali. Namun, ketika seorang gadis polos bernama Amelia hadir dalam hidupnya, semuanya mulai berubah. Bukan karena cinta, tapi karena obsesi. Di balik pesonanya yang manis, Amelia menyimpan kekuatan yang mampu mengguncang dunia dingin milik pewaris keluarga Revander. Ini bukan kisah cinta. Ini kisah tentang penaklukan, pengkhianatan, dan kekuasaan. Dan Michael ..., belum pernah segelisah ini
Cahaya matahari senja menerobos melalui jendela besar yang mengelilingi ruangan, menciptakan semburat oranye keemasan di atas lantai marmer hitam yang mengilap.
Di bawah sana, lampu-lampu gedung menyala satu per satu, seolah menari dalam bayangan petang Kota Levelland.
Di tengah ruangan yang luas dan mewah, sebuah meja besar dengan permukaan kaca hitam berdiri kokoh, mencerminkan siluet seorang pria yang bersandar santai di kursinya.
Michael Revander, mata tajamnya menatap kosong ke dalam gelas kristal berisi wiski, jari-jarinya dengan malas memutar cairan emas itu.
Rak buku tinggi berjejer rapi di sisi ruangan, menampung lebih dari sekadar literatur bisnis dan politik. Di antara deretan buku dan dokumen itu, tersembunyi rahasia-rahasia yang lebih berharga daripada nyawa orang-orang yang menuliskannya.
Tak jauh dari sana, lampu-lampu dinding memberikan cahaya redup keemasan, menambah kesan eksklusif dan dingin.
Suasana itu nyaris sempurna, hening, teratur, dan tanpa gangguan, tapi justru itulah yang membuatnya bosan.
Ketukan pintu memecah kesunyian.
Michael tidak langsung menjawab. Ia menyesap wiski dinginnya dengan lambat, menikmati sedikit kehangatan yang mengalir di tenggorokannya sebelum akhirnya membuka suara.
“Masuk.”
Pintu terbuka, memperlihatkan sosok pria dengan jas rapi yang melangkah masuk dengan tenang.
Ren adalah tangan kanan sekaligus satu-satunya orang yang cukup tahan menghadapi dirinya. Ia membawa sebuah tablet, layar yang menyala memantulkan ekspresi profesionalnya yang selalu terkendali.
“Tuan, hari ini Anda memiliki pertemuan dengan beberapa eksekutif dari cabang perusahaan. Mereka ingin membahas proyek baru yang akan segera dibangun di Kota Reinfield,” lapornya tanpa basa-basi.
Michael menghela napas pelan, nyaris malas. Angka-angka, dokumen, keputusan-keputusan strategis dan semua berjalan sebagaimana mestinya. Terlalu lancar, terlalu mudah. Dan jika ada satu hal yang paling ia benci dalam hidup, itu adalah kebosanan.
Ia meletakkan gelasnya di meja, lalu menatap Ren dengan sorot mata yang penuh maksud.
“Ren, carikan aku seorang wanita. Aku ingin mainan baru.”
Ren tidak bereaksi. Tidak ada keterkejutan di matanya, tidak ada tanda protes. Seperti biasa, ia hanya mengembuskan napas samar sebelum mematikan layar tabletnya dan meletakkannya di atas meja.
“Kalau boleh tahu, seperti apa yang Anda inginkan?” tanyanya datar.
Michael tersenyum kecil, memiringkan kepalanya sedikit, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu.
Lalu dengan nada ringan ia menjawab, “Cantik, tentu saja.” Ia memutar gelasnya, menatap pantulan cahaya di dalam cairan wiski. “Dan dia harus penurut. Tidak boleh punya pilihan selain tunduk padaku.”
Ren menundukkan kepalanya sebelum berbalik dan keluar dari ruangan, langkahnya stabil tanpa tergesa. Ia menuju kantornya sendiri, ruangan yang jauh lebih sederhana dibanding milik atasannya.
Dengan gerakan terlatih, ia menyalakan komputer dan mulai menyaring data keluarga bangsawan yang tengah berada di ujung kehancuran.
Beberapa jam kemudian, ia kembali dengan sebuah map hitam, meletakkannya di atas meja kaca dengan presisi.
“Saya menemukan tiga pilihan yang mungkin menarik untuk Anda, Tuan.”
Michael mengambil map itu dengan satu tangan, membukanya tanpa terburu-buru. Tatapannya menyapu daftar nama dan deskripsi yang disusun dengan rapi.
Michael menyeringai tipis, ujung jarinya mengetuk-ketuk permukaan meja kaca dengan ritme pelan. Matanya menyapu nama-nama di daftar itu dengan ekspresi penuh perhitungan.
Pena hitamnya bergerak. "Aku tidak butuh wanita yang memiliki skandal. Itu hanya akan memberi masalah yang tidak perlu." Catherine Elmsworth dicoret dari daftar.
Tatapannya beralih ke nama berikutnya. "Yang ini bisa-bisa bunuh diri hanya karena aku tatap." Nada suaranya penuh sinisme saat pena itu menggores nama Isabella Whitmore dari daftar.
Kini hanya tersisa satu nama. Michael menatapnya beberapa detik lebih lama, membiarkan senyum kecil muncul di sudut bibirnya. Amelia Greville. Sempurna.
Ia bisa membayangkannya dengan jelas seorang gadis yang begitu rapuh, terbiasa menundukkan kepala, mungkin sedikit gemetar saat berada di hadapannya. Polos, tunduk, dan terlalu naif untuk memahami bahwa dunianya akan segera berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap.
Gadis seperti ini akan mudah dikendalikan. Hanya butuh sedikit tekanan, sedikit paksaan, dan dia akan patuh tanpa banyak perlawanan. Michael menyukai tipe seperti itu. Yang bisa ia bentuk sesuka hati.
"Amelia Greville." Michael menyeringai kecil saat menyebut nama itu "Kirimkan surat ke keluarganya. Pastikan mereka menjual putri mereka."
Ren mengangguk tanpa ekspresi, mengambil kembali map itu seolah keputusan barusan hanyalah bagian dari rutinitas biasa.
Michael memiringkan kepalanya, menatap keluar jendela besar yang menghadap kota. Malam mulai jatuh, dan lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang buatan.
Di luar sana, kehidupan terus berjalan seperti biasa. Orang-orang bekerja, mencintai, bermimpi, tanpa menyadari bahwa dunia mereka bisa berubah hanya dengan satu perintah dari seseorang seperti dirinya.
Ia tersenyum tipis, mengangkat gelas wiski ke bibirnya.
***
Di tempat lain, di Kota East Lavina, sebuah daerah di mana para bangsawan kelas menengah ke bawah berusaha bertahan di tengah tekanan ekonomi.
Di sana sebuah mansion tua berdiri dengan megah namun tidak semegah dulu. Cat dindingnya mulai mengelupas, taman yang dulunya rapi kini dipenuhi rumput liar, dan keheningan menggantung di udara, seolah mencerminkan kondisi keluarga yang tinggal di dalamnya.
Di taman belakang, seorang gadis dengan rambut panjangnya yang bergelombang keemasan duduk di atas ayunan kayu yang sudah tua. Jemarinya yang mungil menggenggam tali ayunan, mendorong dirinya perlahan ke depan dan ke belakang, menikmati embusan angin sore yang dingin. Mata birunya menatap langit yang mulai berubah menjadi gelap.
Kehidupannya dulu jauh lebih indah, tetapi sekarang? Kedua orang tuanya sibuk berusaha menyelamatkan bisnis keluarga yang nyaris runtuh, sementara para pelayan mereka satu per satu pergi setelah gaji tak lagi bisa dibayarkan. Hanya ada dia dan kakaknya, mencoba bertahan di tengah keterpurukan.
"Amel, ayo makan dulu. Kakak sudah buatkan sup ayam." Suara lembut kakaknya memecah keheningan.
Seorang pemuda dengan wajah kelelahan berdiri di depan pintu belakang rumah, mengenakan celemek lusuh yang pernah dipakai ibu mereka. Matanya penuh kehangatan, meskipun ada kekhawatiran yang tak bisa ia sembunyikan.
Amelia menoleh, tersenyum tipis sebelum perlahan turun dari ayunannya. "Baik, Kak."

Shyvraauthor
5 Pengikut · 3 Novel