


oleh Shyvraauthor · 12 Bab
Setelah ciuman di balik kemewahan acara tunangan Jack, Amelia tenggelam semakin dalam pada cinta yang ia yakini tulus. Namun, di kegelapan taman hotel, sebuah kamera merekam segalanya. Seseorang menulis berita. Dan sebuah kesalahan kecil mulai menagih harga yang mahal. Musuh-musuh lama Michael akhirnya bergerak—menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan nama Revander dan menjadikan Amelia celah paling rapuh dalam pertahanannya. Di Season 2 The Devil Possession, harga dari permainan yang Michael mainkan memaksanya memilih. Kekuasaan yang selama ini ia bangun, atau cahaya satu-satunya yang tersisa dalam hidupnya.
Acara pertunangan itu akhirnya selesai, Jack menutup pesta dengan pertunjukan dari para wanita keluarga Laurent yang menari dengan sangat anggun, gaun mereka yang sederhana berputar seirama.
Jack tersenyum, jemarinya mengurung tangan Gracie—lembut, tapi jelas tidak memberi ruang untuk dilepaskan.
"Penari dari keluarga Laurent benar-benar berbakat, apa kamu yang mengajarkan?"
Gracie mencubit tangan Jack karena malu.
Para tamu mulai berkurang. Deru mobil para bangsawan, politikus, dan pebisnis satu per satu menjauh, meninggalkan halaman yang perlahan kembali sunyi.
Jack mengantar Gracie kembali ke kediaman keluarga Laurent sebelum pulang ke rumahnya sendiri.
Di sisi lain, Michael dan Rina duduk berdampingan di kursi belakang mobil Revander, masing-masing tenggelam dalam ponsel mereka.
Sementara itu, Zene sudah berada di kendaraan terpisah—suara dinginnya terdengar singkat dan terukur saat ia kembali mengatur pasukannya melalui intercom.
Axel melangkah menuju orang tuanya. Ia ingin pulang bersama mereka. Namun, sebelum sempat mendekat, dua pengawal Revander sudah berdiri menghadangnya, mengarahkan Axel ke tempat Ryker, Averly, dan Elena menunggu.
Axel ingin menolak. Namun, ia tahu, menolak Revander sama artinya menempatkan keluarganya sendiri di ambang kematian.
Akhirnya, Axel menghela napas. Ia tersenyum ke arah orang tuanya untuk terakhir kalinya malam itu, lalu berbalik dan pergi bersama para pengawal Revander.
Di arah yang berbeda, Clyda menaiki sebuah mobil—kendaraan yang jauh dari kata mewah jika dibandingkan milik keluarga Revander, tapi cukup untuk membawanya menjauh dari sorot pesta yang telah usai.
Malam berakhir.
Dan masing-masing dari mereka melangkah menuju takdir yang tak saling menunggu.
***
Pagi hari di kediaman Revander selalu tenang.
Semuanya berjalan teratur, nyaris mekanis.
Ryker duduk di ujung meja makan, menyesap kopinya dengan gerakan santai dan terukur. Elena berdiri di dekat pelayan, membantu menata hidangan seolah ia bukan nyonya rumah, melainkan bagian dari sistem yang sudah lama ia kuasai.
Zene dan Jack telah duduk di tempat mereka masing-masing.
Rina, Averly, dan Xion sibuk dengan ponsel mereka sambil menunggu makanan tersaji.
Terakhir, Axel muncul di ambang pintu ruang makan. Ia melangkah masuk tanpa suara, lalu duduk di samping Zene—posisi yang tidak pernah ia pilih sendiri, tetapi selalu ditentukan.
Semua sudah berada di tempatnya. Dan biasanya, akan selalu begitu.
Hingga Ryker membuka tabletnya.
Alisnya terangkat tipis saat membaca judul berita yang memenuhi layar.
“Pewaris Revander Corp selingkuh di pesta adiknya sendiri?” gumamnya datar. “Berita apa lagi ini.”
Nada suaranya tidak menunjukkan kemarahan—hanya kejenuhan. Bagi Ryker, sorotan media terhadap keluarganya sering kali berlebihan dan cepat berlalu.
Elena menyentuh pergelangan tangan Ryker dengan lembut, gerakan kecil yang hanya dipahami oleh mereka berdua.
“Sudah,” ucapnya tenang. “Makan dulu.”
Ia meletakkan omelet yang masih hangat di depan Ryker, seolah berita itu tidak lebih penting dari sarapan pagi.
Michael datang belakangan. Ia mengenakan kaus polos berwarna gelap, pakaian yang benar-benar berbeda dari biasanya, tanpa jas, tanpa kesan formal yang selalu melekat padanya.
Tatapan Ryker terangkat.
“Kamu terlambat dua menit.”
Michael berhenti di belakang kursinya, lalu membungkuk sedikit, sikap hormat yang rapi, nyaris otomatis.
“Maaf, Ayah. Tadi habis mandi.” Nada suaranya datar, seolah keterlambatan itu tidak berarti apa-apa.
Rina melirik ke arahnya dan tersenyum jahil.
“Tumben banget, Kak Micha pakai kaus. Biasanya jas lengkap.”
Michael menarik kursinya dan duduk dengan tenang, sama sekali tidak terlihat terusik.
“Pagi ini aku tidak punya rapat,” jawabnya singkat.
Tidak ada penjelasan lebih. Dan justru di situlah letak keanehannya.
Ryker memulai sarapan lebih dulu, baru disusul yang lain.
Bagi mereka, itu tata krama yang tidak pernah perlu diajarkan. Axel yang telah tinggal bersama keluarga Revander lebih dari sebulan tinggal bersama mereka sudah memahami aturan tak tertulis itu dengan baik.
Setelah sarapan selesai, barulah Ryker mengangkat tabletnya, layar menyala menampilkan berita yang sejak tadi ia baca.
“Bisa jelaskan maksud berita ini, Michael?” tanyanya datar sambil menunjuk layar tersebut.
Michael melirik sekilas. Ia lalu mengelap mulutnya dengan tisu, gerakannya tenang, wajahnya kosong tanpa emosi.
“Itu hanya berita, Ayah,” jawabnya ringan. “Lagi pula pewaris Ayah bukan hanya aku.”
Ryker tersenyum. Senyum yang nyaris menyerupai tawa kecil.
“Benar,” katanya pelan. “Pewaris Ayah memang bukan hanya kamu.”
Ia menyandarkan tubuhnya sedikit, matanya menyapu meja makan satu per satu.
“Jack ... walaupun gemar bermain wanita—tidak akan melakukannya di pestanya sendiri. Zene terlalu sibuk mengurusi keamanan sampai tidak punya waktu untuk berselingkuh. Xion masih remaja, dan hampir selalu berada di sisi Zene.”
Ryker kembali menatap Michael.
“Jadi hanya kamu yang tersisa,” lanjutnya tenang. “Dan tadi malam, di saat terakhir, kamu tidak berada di ballroom.”
Ruangan kembali hening.
Bukan karena tuduhan melainkan karena semua orang tahu, Ryker tidak pernah berbicara tanpa alasan.
Michael tetap tenang.
“Hmm, tadi malam aku cari angin,” ucapnya santai.
Ia berdiri dari kursinya. Sebelum sempat melangkah, jari Ryker mengetuk meja sekali. Pelan, tapi cukup jelas sebagai peringatan. Isyarat bahwa Michael tidak diizinkan pergi.
“Duduk,” perintah Ryker lirih, ketegasan dalam suaranya tidak memberi ruang untuk dibantah.
Michael menurut. Ia kembali duduk tanpa ekspresi.
“Aku tidak peduli siapa wanita itu,” lanjut Ryker, nada bicaranya datar. “Apa asal-usulnya, dari keluarga mana, atau bagaimana kamu mengenalnya.”
Ia berhenti sejenak, lalu menatap Michael lurus.
“Tapi jangan buat kotor teras rumah.”
Elena menatap Michael dengan lembut. Senyum tipis menghiasi wajahnya. Namun, bagi siapa pun yang cukup jeli, tatapan itu menyerupai ular putih. Hangat, tenang dan beracun.
“Michael, Sayang,” ucapnya halus. “Nanti kalau sudah beres, kenalkan dia ke kami, ya.”
Jack tersenyum. Tatapannya beralih pada Michael, nakal dan penuh seloroh yang tidak pernah benar-benar polos.
“Lagi pula,” katanya santai, “kenapa Kakak tidak menyadari kalau ada yang mengikuti, sih?”
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada menggoda, “Atau … Kakak memang sengaja bikin masalah?”
Michael sama sekali tidak terusik. Ia menoleh sekilas ke arah Jack, tatapannya tenang, nyaris bosan.
“Aku tidak sesantai kamu,” balasnya datar, “yang bisa membuat sensasi di mana pun dan kapan pun.”
Tidak ada senyum. Tidak ada pembelaan.
Dan justru dari ketenangan itu, semua orang di meja tahu, Michael sadar ia diikuti. Dan ia membiarkannya.
Ryker menutup tabletnya, isyarat sunyi bahwa sarapan telah berakhir.
Xion dan Averly yang masih menikmati dessert terpaksa berhenti, sendok mereka menggantung di udara sebelum akhirnya diletakkan kembali dengan patuh.
Rina melirik sekilas ke arah Ryker. Lalu, karena tahu dirinya tidak termasuk dalam hitungan, ia dengan cepat melahap suapan terakhir pudingnya.
Sendok itu masuk tanpa ragu.
Satu-satunya pemberontakan kecil yang diizinkan di meja Revander.

Shyvraauthor
5 Pengikut · 3 Novel