


oleh Crimson · 10 Bab
Dikhianati dan mati terkena sihir kutukan, Rubia Arbenolis Lucarissa, Grandmaster Sihir terkuat, diberi kesempatan kedua oleh Dewi Kedamaian. Kini, ia terlahir kembali sebagai putri seorang raja tirani dengan satu misi: mengubah sang raja menjadi raja yang baik pada kerajaannya. Dengan kecerdasannya dan kekuatan sihirnya yang luar biasa, Rubia berusaha memperbaiki sikapnya di masa lalunya di dunianya kali ini. Namun, di istana yang penuh intrik dan pengkhianatan, perilaku kejam sang Raja yaitu Ayahnya sendiri. Perjalanan penuh sihir, strategi, dan penebusan dimulai!
Semua orang menganggapku tidak layak mempelajari ilmu sihir hanya karena keadaanku yang masihlah hanya seorang gelandangan. Hanya karena itu mereka semua menganggapku rendah dan bahkan tidak layak mempelajarinya. Seorang yang lemah dan tidak memiliki apa pun, aku hanya bisa memandang iri mereka semua dari kejauhan.
Setiap harinya aku melihat para bangsawan mempelajari ilmu sihir di tempat terbuka demi melatih keterampilan sihir mereka dengan melawan beberapa monster kecil. Sementara itu aku dari kejauhan di atas pohon memandangi mereka dengan tatapan kagum dan senang melihat ilmu sihir yang begitu hebat yang telah mereka lafalkan.
Meskipun aku hanyalah gelandangan. Aku juga mempunyai inisiatif mempelajarinya sendirian, berbekal niat dan tekad mempelajarinya hanya dengan melihat seluruh bangsawan yang sedang belajar menggunakan sihir dari kejauhan.
Aku pun lalu berjuang keras mempelajarinya demi semua orang mengakui keberadaanku sebagai seorang manusia. Meskipun hidup miskin seperti ini, aku harus mencapai puncak kehidupan di mana diriku akan menjadi lebih layak di hadapan semua orang.
Tanpa orang tua maupun saudara, aku terus berusaha menaikkan derajatku sebagai seorang manusia, dan aku sangat ingin semua orang mengakui keberadaanku, kuingin mereka memuji kehebatanku, hanya itu saja. Hingga akhirnya diriku sekarang menjadi seorang penyihir agung yang memiliki kekuatan setara Dewi. Tidak ada yang tidak menghormati diriku yang kuat ini, tidak ada pula yang menyangkal kecantikan yang kumiliki.
Mereka semua saat ini patuh dan menghormati kehendakku, Sebagai seorang Arc Mage, atau biasa disebut sebagai Grandmaster sihir yang akan mengubah dunia busuk ini menjadi lebih baik. Kulihat lautan manusia dari atas balkon kastel sihir yang mengapung ini. Semua manusia menyebut-nyebut namaku, sang penyelamat dunia, sang penyelamat perang.
Duduk di singgasanaku dengan posisi duduk anggun yang mempesona seluruh laki-laki di dunia ini. Tidak ada yang sebanding dengan kecantikanku ini. Aku sungguh beruntung bisa membuat diriku mendapatkan kekuatan dan pengakuan dari semua orang, hingga membuatku besar kepala dan mulai menganggap rendah manusia yang lemah di bawah kastel terbang milikku ini.
Tanpa kusadari ... salah satu hal yang sudah aku buang sebagai seorang manusia telah membuatku terjebak ke dalam situasi bodoh ini—
"Akhirnya aku bisa mengutukmu! Grandmaster bodoh dan arogan!!!"
"SIALAN! BERANI SEKALI KAU!!!!!!"
"HAHAHAA TERUSLAH MERANGKAK LAYAKNYA ANJING!!! PEREMPUAN SEPERTIMU TIDAKLAH LAYAK UNTUK DUDUK DI SINGGASANA PARA PENYIHIR!!!"
Aku telah membuang kepercayaan mereka semua dengan arogannya, mengkhianati kepercayaan mereka yang telah kubangun selama ini. Akibatnya salah satu tangan kananku, seorang penyihir yang sudah kubesarkan dari kecil kini justru merapalkan mantra sihir terkutuknya padaku.
Satu-satunya kelemahanku sebagai seorang Penyihir Agung. Sihir kutukan level 1 yang setara dengan 1 komandan iblis 7 Deadly Sin. Dia mengutuk tubuhku berulang-ulang kali hingga tulang-tulangku remuk, darahku perlahan-lahan terasa terhisap sampai terasa kering, kulit-kulit lembutku perlahan mengerut hingga akhirnya kehilangan kecantikan yang kumiliki.
Aku pasti akan membalas semua hal yang dia lakukan padaku saat ini!!! AKAN KUINGAT BAIK-BAIK NAMAMU!!! ROZARD!!!!!!!!!!
Dengan dendam yang bercampur amarah di dalam hatiku. Aku pun mati dalam keadaan terkutuk. Tak kusangka hal sebodoh ini terjadi padaku seorang perempuan Grandmaster Magic jenius, mati hanya karena terkena kutukan iblis level 1—
"Sangat memalukan."
"Benar sekali ... kamu adalah orang bodoh yang percaya bahwa dunia akan selalu berjalan sesuai keinginanmu"
"Huh!?"
Tempat apa ini? Kulihat sekelilingku saat ini hanyalah sebuah ruangan putih kosong tanpa ada apa pun di dalamnya. Tubuhku masih terasa sakit. Aku lihat kedua belah tanganku tiba-tiba saja terlihat kecil.
"Aku di mana? Perasaan tadi aku sudah—"
Tiba-tiba saja kuteringat lagi dengan kejadian mengerikan yang baru saja kudapatkan. Entah apa yang terjadi dan sekarang aku malah di tempat aneh ini. Terakhir yang aku rasakan adalah seluruh darah di dalam tubuhku menghilang perlahan-lahan dan juga energi sihirku terkuras ke dalam lingkaran sihir kutukan.
"Jangan bilang ini adalah dunia roh, di mana para manusia yang sudah mati berkumpul? Tidak aku sangka tempat yang kuanggap mitos itu benar-benar ada!?"
"Iya tempat ini memang benar ada, tak kusangka kamu justru seperti manusia yang tidak percaya akan adanya Dewi, Rubia."
"Huh!?"
Seorang gadis berambut hitam panjang berdiri di belakangku. Sesosok gadis dengan sayap putih dan lingkaran malaikat menunjukkan jarinya padaku yang masih merasa kebingungan. Tanpa kusadari kekuatan sihir yang di miliki oleh gadis itu berada di level yang sangat tidak wajar, energi sihirnya terasa menelanku hidup-hidup ke dalamnya, saking banyaknya membuat seluruh tubuhku gemetar ketakutan.
"Siapa kamu!?"
"Tak kusangka manusia yang selalu menganggap Dewi tidak ada kini malah gemetar ketakutan seperti ini. Lihatlah dirimu itu, Rubia, apakah kamu takut dengan keberadaan Dewi yang sudah berdiri di hadapanmu?"
"Hah? Takut? Mana mungkin aku takut dengan—"
Sebuah pedang emas melesat sangat cepat melukai pipiku. Serangan sihir cepat tanpa rapalan sihir ini sudah berada ditahap sihir level unknown, aku yang Grandmaster Sihir pun tidak menyadari serangan mendadak ini.
"Apakah kamu percaya sekarang?"
"...."
"Kalau kamu berlutut sekarang juga maka aku akan maafkan secuil dosa yang kamu lakukan sebelumnya di dunia, wahai Grandmaster Sihir Rubia Arbenolis Lucarissa."
"MAAFKAN AKU! AKU TIDAK BERMAKSUD AROGAN TERHADAP DEWI MANA PUN ITU."
Untuk sekarang sepertinya aku hanya bisa berlutut di hadapannya. Lagi pula aku sudah mati. Meminimalisir siksaan Dewi di dalam neraka adalah satu-satunya prioritasku sekarang. Kekuatan sihirnya yang tidak normal ini juga telah membuktikan bahwa dia adalah entitas tertinggi di dalam tempat ini.
“Bagus. Tetaplah seperti itu, manusia arogan.”
“Baiklah!”
Entah ada apa gerangan yang terjadi sampai-sampai aku mendapatkan situasi aneh seperti ini. Apakah ini yang namanya hukuman dari Dewi? Apakah tempat ini adalah ruangan penghakiman untuk semua perbuatan yang telah kulakukan semenjak diriku masih hidup?
“Kumohon, Dewi. Bisakah engkau mengurangi siksaan yang nantinya akan kudapatkan? Aku sungguh tidak bermaksud untuk menjadi arogan dan bahkan tidak percaya adanya Dewi, tapi itu memang kesalahanku karena sudah terlalu terpukau akan kekuatanku sendiri? Ta-Tapi kumohon setidaknya jangan hancurkan kulit-kulit mulusku ini.”
“Pfft ... hahaha!”
Dewi itu tertawa melihatku yang sekarang memohon demi pengurangan siksaan di neraka nanti. Tapi apa boleh buat, dikarenakan saat ini aku juga tidak bisa menandingi kekuatan sihir yang Dewi ini miliki. Dari yang kuketahui di dalam buku. Seorang Dewi memiliki energi sihir yang sangat banyak hingga tidak terbatas, jika penyihir manusia dengan level S, energi sihirnya seperti sebuah air lautan yang bergelombang deras menghempaskan daratan, maka sihir para Dewa dan Dewi seperti seluruh aliran energi sihir dunia yang sangat besar dan tidak akan pernah bisa dikuasai oleh manusia.
Aliran sihir dunia bisa dibilang sebagai Order Line Magic di mana secara keseluruhan aliran energi ini mengalir di mana-mana tanpa batas, bagi kami para penyihir menyebutnya sebagai aliran kehidupan atau bisa juga disebut sebagai energi sihir berunsur energi alam.
Dan sekarang sesosok terkuat seperti itu sedang duduk di hadapanku dengan santainya.
“Ehem. Aku di sini bukan untuk menghukum manusia laknat seperti dirimu, Rubia.”
“Huh? Lantas kenapa aku harus berada di tempat ini?”
“Kamu berada di sini karena aku ingin kamu mengubah sikap seseorang yang saat ini sedang dalam keadaan yang sangat buruk.”
“Mengubah sikap seseorang?”
“Benar.”
Dewi itu menjentikkan jarinya. Secara tiba-tiba, aliran “mana” membentuk sebuah kotak yang perlahan-lahan memperlihatkan gambar seseorang di dalamnya. Seorang lelaki berambut merah memegang sebilah pedang artefak sihir tua membantai sekian banyak manusia.
Seluruh tempat yang kusaksikan di dalamnya hancur berantakkan. Semua orang yang sudah mati ditumpuk layaknya sampah. Aliran darah itu terus mengalir membasahi tanah dunia yang perlahan-lahan rusak menjadi aliran sihir hitam.
Tulang-belulang yang patah terdengar setiap kalinya pedang itu diayunkan, tebasan-tebasannya dengan mudahnya membelah kulit manusia layaknya kertas.

Crimson
2 Pengikut · 1 Novel