“Kamu pikir siapa dirimu, hah?”
Suara itu, penuh arogansi palsu, memecah keheningan sore di belakang gedung SMA Wijaya Asmata. Tempat itu adalah wilayah abu-abu sekolah, jarang dijamah guru. Di sanalah Adi, siswa kelas sepuluh yang ringkih, berdiri terpojok oleh Doni dan dua pengikutnya.
Doni, siswa kelas dua belas yang gagal berprestasi, mencari reputasi lewat intimidasi. Ia menyeringai, menikmati ketakutan di wajah korbannya. Bagi Doni, rasa takut adalah bentuk pengakuan paling mudah.
Adi menggenggam erat tali tasnya. Ketakutan di matanya berganti dengan keputusasaan saat Doni mengulurkan tangan. Ia tahu dompetnya yang berisi uang buku bisa raib kapan saja.
“A—aku nggak punya uang, Kak,” bisik Adi. Itu bohong. Tetapi nalurinya berkata menyerah hanya bikin siklus ini berulang.
“Bohong!” bentak salah satu pengikut Doni. “Tiap hari aku lihat kamu makan di kantin. Jangan sok miskin!”
“Bener, tuh!" timpal yang lain. “Kemarin aja kamu beli es teh. Kalau bisa beli minum, berarti ada duit buat bayar keamanan!"
Doni terkekeh, suara kering dan penuh ejekan. “Jangan bikin ribet, Di. Kita cuma mau pastiin kamu aman di sekolah ini. Serahin dompetmu! Sini, biar aku cek sendiri. Cepat! Sebelum aku hilang sabar!"
Saat itu, sebuah bayangan panjang jatuh menimpa mereka. Langit masih cerah, tapi sosok tegap berdiri beberapa meter di belakang Doni, diam tanpa suara. Kehadirannya begitu senyap hingga hanya bayangan yang lebih dulu terlihat. Itu Bima Baskara.
Udara langsung berubah. Dari panas jadi dingin, dari riuh jadi hening. Bima hanya berdiri, berseragam olahraga klub tinju, tangan masuk saku. Wajahnya datar, mata tajam menatap lurus Doni.
Doni merasakan bulu kuduknya berdiri. Senyumnya luntur. “B—Bima!” Suaranya lirih, lebih mirip bisikan ketakutan.
Bima menarik tangannya dari saku. Sepersekian detik jemarinya bergetar, gema masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia mengepalkan tangan, menekan getaran itu dalam-dalam.
Seluruh sekolah tahu siapa Bima. Bukan berandal, tapi kapten klub tinju. Reputasinya dibangun dari keheningan, kendali diri, dan kekuatan yang tidak terbantahkan.
“Jam pelajaran udah selesai,” ucap Bima datar. Suaranya tenang tapi dalam. “Kalian nggak ada kegiatan klub?”
Doni menelan ludah. Keberaniannya hilang seketika. Menghadapi Adi gampang, tapi menghadapi Bima sama saja bunuh diri. Ia melirik ke dua temannya, tapi yang terlihat hanya wajah pucat ketakutan.
“Kita cuma ngobrol, Bim,” dalih Doni terbata.
“Obrolan kalian udah selesai!" Tatapan Bima menusuk. "Pergi!" bentaknya.
Hanya satu kata, tapi bobotnya seperti vonis. Kedua pengikut Doni saling pandang, lalu kabur duluan. Doni ditinggal sendirian, wajahnya merah karena malu. Ia melirik Adi, lalu mendorong bahunya pelan sebelum pergi tergesa-gesa.
Keheningan kembali. Adi masih bersandar di dinding, napasnya terengah.
“Makasih banyak, Kak Bima. Aku bener-bener—”
“Lain kali lewat jalan depan,” potong Bima. Nadanya datar, tanpa emosi. “Tempat ini bukan buat kamu.”
Bima berbalik, meninggalkan Adi tanpa menunggu jawaban. Bagi Bima, itu bukan aksi heroik, hanya pembersihan kecil. Ia berjalan menjauh, napasnya terkontrol, tapi di dalam dadanya, jantungnya berdebar kencang. Bukan karena pertarungan, tapi karena ingatan.
Ia benci perasaan ini, adrenalin yang membangkitkan hantu-hantu yang seharusnya sudah terkubur. Setiap kali ia harus menunjukkan kekuatannya, ia merasa sebagian dari dirinya yang lama kembali, yang lemah dan ketakutan.
Begitu ke luar dari gang, Rian sudah menunggunya sambil membawa sebotol air mineral. “Baru kutinggal sebentar, kamu udah jadi pahlawan kesiangan lagi,” godanya, tapi senyumnya cepat memudar saat melihat wajah Bima yang suram. “Kamu nggak apa-apa? Mukamu tegang banget!"
Bima hanya meraih botol itu dan meneguknya. Koridor sekolah ramai dengan siswa yang baru selesai pelajaran. Di satu sisi, anak-anak populer dari tim basket tertawa keras. Di sisi lain, kelompok OSIS berjalan dengan langkah teratur.
Bima melewati mereka semua, sebuah pulau yang bergerak sendirian di tengah lautan sosial. Tidak ada yang berani mengganggunya, tapi tidak ada juga yang benar-benar menyapanya. Ia adalah anomali, penjaga yang tidak memiliki kawanan.
Mereka melangkah ke sasana tinju, tempat suci Bima. Di sana, di balik bau keringat dan sarung tinju, ia bisa meredam badai di kepalanya.
Ia mulai melilit perban di tangan. Sebuah ritual yang membuat pikirannya fokus. Di depan samsak yang sudah usang, ia mengambil posisi.
Pukulan pertama mendarat keras. Lalu, disusul pukulan kiri, kanan, kaitan, pukulan atas. Tubuhnya bergerak seperti mesin, terlatih, efisien. Inilah meditasinya, cara bertahan hidup dengan mengubah kebisingan di kepala jadi sesuatu yang bisa ia kendalikan.
Setiap pukulan ke samsak adalah sebuah kata yang tidak bisa ia ucapkan. Pukulan lurus untuk amarah. Kaitan untuk frustrasi. Pukulan atas untuk ingatan yang menyakitkan. Keringat yang membasahi tubuhnya bukan hanya hasil dari latihan fisik, tapi juga proses pembersihan emosional.
Ia mengubah rasa sakit menjadi kekuatan, mengubah ketakutan menjadi disiplin. Di sinilah, di dalam ring tinju ini, ia bisa mengendalikan dunianya. Ia bisa menulis ulang akhir ceritanya, lagi dan lagi, hingga ia menang.
Setelah lama berlatih, Bima bersandar di tali ring. Napasnya stabil, tubuhnya basah oleh keringat. Ia memejamkan mata, mencari keheningan.
“Bim—" Suara Rian pelan, kali ini berbeda. Ada nada khawatir.
Bima membuka mata. Rian berdiri di depannya sambil menyodorkan ponsel.
“Kamu mesti lihat ini. Baru aja masuk grup chat kelas.”
Bima meraih ponsel itu. Matanya menyipit membaca judul utas dari akun anonim bernama Manusia Bertopeng.
“Viral! Kapten tim basket kebanggaan sekolah, Harris, kepergok lakuin hal nggak senonoh di toilet Guru?”