Wills Amira Prasetya tidak pernah merasa terburu-buru dalam hidup. Usia dua puluh empat tahun, belum menikah, dan tidak merasa itu masalah. Baginya, tujuan akhir kehidupan bukanlah pernikahan, melainkan bagaimana ia bisa hidup dengan tenang dan bermakna.
Ia cantik, tapi tidak pernah memakainya sebagai senjata. Rambut ikalnya jatuh sebahu, bagian depan lebih pendek sehingga membingkai wajahnya. Kulit kuning langsatnya tampak hangat di bawah cahaya matahari, tubuh tinggi atletis hasil bertahun-tahun latihan, dan lesung pipi di pipi kiri muncul saat ia tersenyum tipis. Orang-orang sering memuji, tetapi Wills selalu menganggap itu sekadar bonus hidup.
Apartemen yang ia tempati sore itu dipenuhi koper, ransel, dan beberapa kardus kecil. Wills sibuk membereskan barang, sebagian untuk dibawa, sebagian lagi untuk ditinggal. Ia akhirnya mendapatkan libur panjang setelah enam bulan tanpa jeda menangani kasus-kasus yang menguras tenaga dan pikiran. Semua terselesaikan dengan sempurna, dan atasannya berkata, “Pergilah. Ambil waktu untuk dirimu sendiri.”
Saat ia sedang melipat jaket kulit favoritnya, pintu kamar terbuka. Arin Ilejay, sahabat sekaligus rekan apartemennya, berdiri di sana sambil menyandarkan bahu di kusen pintu.
“Kamu beneran mau berangkat hari ini?” tanya Arin dengan nada ragu.
Wills melirik sekilas, lalu kembali memasukkan jaket ke dalam koper.
“Memangnya kenapa? Aku sudah siap semua,” ujarnya.
Arin mendekat, duduk di tepi ranjang.
“Kamu lupa ini Kamis malam Jumat? Katanya hari buruk, apalagi buat perjalanan jauh. Terlebih lagi, kamu pulang ke desa itu,” katanya pelan.
Wills tertawa kecil, nada suaranya datar.
“Arin, aku ini detektif. Hidupku sudah dikelilingi kasus pembunuhan, penipuan, dan kriminal lainnya. Sejauh ini, tidak ada satu pun pelakunya hantu,” jawabnya.
“Tetap saja ....” Arin memainkan ujung rambutnya, gelisah. “Mitos itu ada karena kejadian nyata di masa lalu. Siapa tahu ....”
“Siapa tahu nggak ada hubungannya sama aku,” potong Wills sambil menutup koper. “Aku sudah tiga tahun nggak pulang. Aku kangen Ayah sama Ibu. Lagian, perjalanan panjang ini sudah kusiapkan sejak seminggu lalu.”
Arin menghela napas, lalu berdiri, mengambil botol minum dari meja.
“Ya sudah, tapi kalau bisa jangan nyetir sampai tengah malam,” katanya.
“Hmm,” gumam Wills, tidak berjanji.
Pukul tiga sore, Wills memanggul ranselnya keluar kamar. Arin membantu mengangkat koper besar ke bagasi mobil. Saat Wills hendak masuk ke kursi pengemudi, ponselnya berdering. Nama “Ibu” muncul di layar.
“Ya, Bu?”
“Jangan pulang malam-malam, Nak.” Suara ibunya terdengar tegas, sedikit cemas.
Wills terkekeh. “Ibu pikir aku anak SMA? Aku jago nyetir kok. Aman,” katanya santai.
“Aku serius, Wills. Usahakan sampai rumah sebelum gelap. Kalau pun telat, menginap saja di kota sebelah dulu,” ujar ibunya.
“Kenapa memangnya?”
Hening sejenak. Wills bisa mendengar napas ibunya yang berat di seberang sana.
“Pokoknya jangan,” tegas ibunya.
“Oke, Bu,” jawab Wills akhirnya. Ia memang mengiyakan, tetapi perhitungan cepat di kepalanya sudah jelas: perjalanan ke desa butuh sebelas jam. Berangkat pukul tiga sore berarti ia pasti tiba lewat tengah malam. Dan ia tidak berniat mengubah rencana hanya karena larangan yang tidak jelas alasannya.
Arin berdiri di sisi mobil, menyandarkan lengan di atap.
“Kamu yakin?” tanyanya.
Wills tersenyum tipis.
“Aku cuma mau pulang. Nggak ada yang perlu dikhawatirin,” ujarnya.
“Kalau ada yang aneh, langsung telepon aku,” ucap Arin, setengah bercanda, setengah serius.
“Kalau ada yang aneh, aku foto sekalian,” balas Wills sambil memasang sabuk pengaman.
Perjalanan panjang itu awalnya terasa santai. Musik mengalun pelan dari radio, cahaya lampu jalan memantul di kaca depan, dan jalanan mulai sepi. Pukul delapan malam, Wills sudah memasuki wilayah desa, meski desanya sendiri masih jauh beberapa jam lagi. Perutnya mulai protes, jadi ia memutuskan berhenti di sebuah warung makan sederhana yang berada di tepi jalan besar.
Warung itu diterangi lampu bohlam kekuningan, aroma nasi hangat dan sayur lodeh langsung menyambutnya. Di dalam, seorang bapak tua duduk sambil merokok di sudut, sementara seorang ibu paruh baya sibuk menyendok nasi ke piring.
“Makan sini atau bungkus, Mbak?” tanya si ibu dengan senyum ramah.
“Makan sini saja, Bu,” jawab Wills sambil memilih tempat duduk di dekat jendela.
Tak lama kemudian, sepiring nasi, ayam goreng, dan sayur lodeh terhidang di depannya. Saat makan, bapak yang duduk di sudut ikut bergabung.
“Mau ke mana, Mbak? Bawa mobil sendiri?” tanyanya sambil menyalakan rokok baru.
“Ke desa Projolali, Pak. Pulang kampung,” jawab Wills santai.
Mendengar itu, si ibu langsung menghentikan gerakannya, menatap Wills dengan ekspresi terkejut.
“Malam-malam begini?”
“Iya, Bu. Memang kenapa?”
Bapak itu bertukar pandang dengan si ibu, lalu menunduk sedikit.
“Kalau bisa jangan lanjut malam ini, Mbak. Menginap saja di sini. Besok pagi berangkat,” ucapnya.
“Iya, Mbak. Menginap saja di warung Mbok Sum ini. Aman, dan nggak jauh dari sini ada kamar kosong,” tambah si ibu.
Wills tersenyum sopan. “Terima kasih, Bu, Pak. Tapi saya mau lanjut saja. Saya sudah kangen keluarga, sudah tiga tahun nggak pulang,” katanya lembut.
Mereka berdua mencoba membujuk lagi, tetapi Wills tetap pada keputusannya. Akhirnya, mereka menyerah.
“Kalau begitu hati-hati di jalan ya, Mbak. Jangan berhenti sembarangan,” ucap si bapak pelan.
“Iya, Pak. Terima kasih,” balas Wills sambil membayar makanannya.
Ia kembali ke mobil, menyalakan mesin, dan melanjutkan perjalanan. Belum lama ia meninggalkan warung, gerimis tipis mulai turun, membuat jalanan basah dan berkilau di bawah lampu mobil. Di kejauhan, kabut mulai menggantung di antara pepohonan.
Beberapa kilometer kemudian, gapura desa Projolali mulai terlihat samar. Wills tersenyum lebar, perasaan rindu mendesak di dadanya. Ia bahkan mulai bersenandung pelan mengikuti lagu yang diputar radio.
Senandung itu terhenti saat ia melihat seseorang di tepi jalan. Seorang gadis berdiri sendirian di bawah gerimis, mengenakan gaun putih sederhana dengan rambut panjang terurai.
Wills memperlambat laju, lalu berhenti tepat di sebelah gadis itu.
“Mbak, mari bareng saya,” tawarnya.
Gadis itu menoleh, tersenyum sopan.
“Ah, enggak, Mbak. Saya jalan saja.”
“Nggak apa-apa, mari ikut saja. Ini gerimis, nanti basah,” bujuk Wills. Ia bukan ingin memaksa, tapi rasanya tidak tega membiarkan gadis itu berjalan sendirian di malam seperti ini.
Akhirnya gadis itu mengangguk dan masuk ke mobil, duduk di kursi penumpang.
“Mbak warga Projolali?” tanya gadis itu sambil melirik.
“Iya, betul.”
“Putri Bapak Prasetya?”
“Iya. Kok kamu tahu?” Wills mengernyit heran.
Wajah gadis itu tiba-tiba berubah masam, tapi hanya sesaat sebelum kembali tersenyum. Wills mengira mungkin ia salah bicara.
“Oh iya, perkenalkan, saya Wills,” kata Wills mencoba mencairkan suasana.
“Saya Gendis, Mbak,” jawabnya ramah.
“Rumahnya di mana?” tanya Wills.
“Rumah putih di tengah kebun teh, Mbak.” Senyumnya manis, matanya berbinar.
Perjalanan mereka terasa menyenangkan. Gendis ternyata pandai bercerita, membuat Wills lupa waktu. Sampai akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah besar bercat putih, berdiri di tengah kebun teh yang gelap. Wills menghentikan mobil tepat di gerbang.
“Kalau ada waktu, main ke rumah saya, Mbak,” ucap Gendis sambil membuka pintu mobil.
“Baik. Terima kasih,” balas Wills singkat.
“Eh, harusnya saya yang terima kasih. Mbaknya sudah mau mengantarkan saya,” jawab Gendis masih tersenyum.
Wills hanya mengangguk, tak ingin berlama-lama, karena perjalanan ke rumahnya sendiri masih harus dilanjutkan. Gendis melambaikan tangan, Wills membalasnya dengan senyum.
“Ah, baru sampai sudah dapat teman,” gumam Wills pelan. Tapi senyum itu perlahan memudar ketika ia melihat sebuah rumah tak jauh di depannya. Dari balik jendela, ada seseorang yang menatapnya. Wajah itu terlihat marah, tapi anehnya juga seperti ketakutan.