Meski sudah dua bulan menimba ilmu di universitas yang sekarang, Lana belum terbiasa dengan suasananya–gedung, letak fakultas dan kelas–dia juga belum bisa bergaul dengan teman-teman sekelas, mengikuti obrolan mereka atau ikut nongkrong. Lana merasa dia masih menjadi mahasiswa baru.
Walau begitu, Lana memiliki seorang teman dekat dari kelas yang diikuti–karena mengambil mata kuliah yang sama jadi mereka sering bertemu dan duduk bersebelahan. Namanya Jevan, cowok yang suka sekali memakai topi–entah posisi topinya ke belakang, ke samping atau dipakai dengan benar–tiada hari tanpa topi di kepalanya. Lana menjuluki Jevan, si pencinta topi.
Cowok itu yang banyak membantunya beradaptasi di lingkungan baru. Well, Lana adalah anak rantau. Dia berasal dari kota yang cukup jauh–beda provinsi lagi. Dia berasal dari salah satu lima pulau terbesar Indonesia dan mengambil program beasiswa di salah satu universitas Jakarta–meski harus mengulang dari awal karena sebelumnya dia sempat kuliah di kampung halaman. Oleh sebab itu, Lana menyebut dirinya mahasiswa baru.
Keseharian Lana layaknya kehidupan mahasiswa pada umumnya. Pergi ke kampus, belajar, kumpul bareng teman-teman–meski seringnya dia cuma menumpang badan. Sebab pribadi Lana yang sedikit kesulitan beradaptasi membuatnya jarang ikut mengobrol dan hanya mendengar.
Hari-hari damai Lana yang selalu begitu-begitu saja mendadak berubah saat tak sengaja ia menemukan si mahasiswi famous–kata Jevan–muntah di wastafel umum yang memang tersedia di beberapa sudut gedung dan tiba-tiba tubuhnya merosot ke lantai. Waktu pertama dengar, Lana tidak terlalu peduli informasi tentang si mahasiswi famous yang dianggap menyebalkan juga kurang disukai oleh anak-anak lain karena dia ke kampus bukan untuk bergosip.
“Astaga!" Lana terkejut dan buru-buru membawa perempuan yang kelihatan sakit tersebut ke ruang kesehatan.
Bukannya menerima ucapan terima kasih–Lana tidak berharap, sih–mahasiswi yang dikenal nyebelin itu malah memberikan delikan tak senang ketika sadar membuat Lana salah tingkah. Dia yang bawa gadis itu ke ruang kesehatan dan menungguinya sampai sadar, tapi menerima tatapan tak suka. Jadi, Lana memutuskan undur diri dan pergi. Dia tak mau ada masalah. Dia mendapat perasaan tidak enak ketika kelereng hitam dengan sorot tajam itu memandangnya sinis. Lebih baik menghindar.
Hanya saja, perkiraannya yang ingin menghindar tidak bisa terlaksana. Karena bukan sekali, dua kali, dia menemukan gadis yang tingginya sebatas leher Lana muntah di wastafel disertai muka pucat dan lemas. Terlalu sering. Membuat Lana jadi menaruh kekhawatiran dan prihatin–yang menimbulkan suatu spekulasi aneh di otaknya–tapi, tidak mungkin. Eh, tapi, bisa saja. Karena bukan sesuatu yang aneh jika seorang perempuan yang mengalami.
Benarkah?
Ya ... jujur, Lana tidak akan pernah lupa kejadian yang ingin dia kubur dalam-dalam di ingatannya–semakin ingin dilupakan maka akan semakin ingat. Dia yang baru tiga hari di Jakarta, suka linglung, tak hafal jalan, tak tahu rute bus, angkot yang mesti dinaiki jika ingin pergi atau pulang–sangat buta arah–maka aplikasi ojek online sangat memudahkan cowok ini bepergian–terima kasih pendiri ojol! Ailapiyu tiga ribu! Ahem.
Ditambah mesti mengurus berkas program beasiswa yang diikuti, pendaftaran dan lain-lainnya. Pun belum mengenal orang-orang baru yang ditemui, mana karena kepribadiannya yang agak susah berinteraksi dengan orang lain membuat Lana kesusahan–yang akhirnya berujung musibah. Cowok ini nyasar.
Kenapa bisa?
Karena buru-buru pulang. Waktu itu, hari sudah malam, Lana langsung saja naik angkot yang berhenti di depan gerbang. Di dalam angkot, cowok ini juga sibuk melihat website kampus. Dia mau tahu jadwal kuliahnya. Saking fokus melihat layar handphone, Lana tidak sadar. Entah salah naik angkot atau salah titik turun, dirinya berakhir di tempat asing. Sewaktu mau bertanya pada si sopir angkot, abang sopirnya sudah tancap gas meninggalkan Lana di tepi jalan. Tentu dia langsung membuka map atau peta di handphone untuk mengetahui di mana berada sekarang yang kemudian sadar kalau seorang Maulana Galen tidak pandai membaca peta!
Silakan ejek, tidak apa-apa. Lana sadar akan kebodohannya.
Pilihan terakhir ya pasti, ojek online. Maka Lana membuka aplikasi ojek online yang terinstal di ponselnya. Namun, saat akan memesan muncul notifikasi jika kuota pemuda ini habis. Oke.
Apes!
Pertama kali dalam hidupnya, cowok yang tingginya mau saingan sama tiang listrik ini pengin nangis. Kenapa musibah terjadi berturut-turut dalam sehari? Oh, bukan sehari, tapi dua jam! Cuma dua jam! Lana ingat dia keluar kampus jam tujuh dan sekarang jam sembilan lewat lima menit. Bagaimana cara dia pulang?
Lana tidak tahu mau minta tolong pada siapa. Dia belum kenal teman-teman kampusnya. Belum punya kontak mereka. Pasrah dengan keadaan yang sudah terjadi, Lana memutuskan untuk berusaha lagi. Dia bertanya pada beberapa orang di sekitar–disuruh naik bus, disuruh tunggu angkot warna ini, ada pula yang malah balik bertanya arah. Cowok ini belum menemukan cara pulang. Suasana jalanan mulai sepi. Sekeliling juga tak ada orang.
Lana frustrasi. Apa dia mesti tidur di luar malam ini? Apa mencari emperan toko?
Di saat meratapi nasib–berjongkok di pinggir jalan sambil memainkan kerikil–terdengar suara debum keras yang membuat cowok ini terkejut. Spontan mencari sumber suara yang ternyata tidak jauh dari tempat dirinya menunggu keajaiban datang, sebuah mobil berwarna merah–karena Lana bukan pencinta otomotif, dia tak tahu mobil jenis apa di depan sana–menabrak tempat sampah besar sampai terbalik menyebabkan isinya berserakan. Lana bangkit berdiri kemudian menghampiri mobil yang berhenti itu.
Mengetuk-ngetuk jendela lalu mengintip ke dalam. Ada seorang perempuan yang Lana kira pingsan karena kepalanya terkulai di kemudi.
“Kak! Kak! Mbak!” Lana memukul-mukul kaca pintu mobil berharap orang di dalam mendengar dan sadar.
Tak berapa lama, si pengemudi bergerak. Mengangkat kepala dan melihat ke jendela. Mendapati bayangan orang di luar, ia meraih pengunci pintu dan membukanya. Sewaktu pintu mobil terbuka, Lana yang berada di luar segera mengecek keadaan si pengemudi yang malah tubuhnya jatuh lalu muntah–mengenai celana dan sepatu Lana.
“Iyuh!" Buru-buru dia mengangkat tubuh si pengemudi dan membenarkan posisinya di kursi. Otomatis membuat Lana dapat melihat wajah seseorang yang baru saja memuntahinya. Pertama kali dia dimuntahi orang lain. Jujur saja, Lana jijik juga geli.
Perempuan itu adalah si cewek famous.
Lana tentu ingat wajah orang yang sering menjadi obrolan teman-temannya–gibah bukan cuma untuk perempuan, sst!–menceritakan ketidaksukaan mereka, menceritakan betapa pedas mulut si cewek famous. Tapi, kalau dilihat-lihat, apalagi secara dekat begini, si cewek famous yang Lana tahu namanya adalah Natha memiliki perawakan manis. Kulitnya putih, hidungnya mancung, alisnya tak terlalu tebal, tak tipis juga–tidak pakai apa itu ... erm, pensil alis. Bulu matanya lentik, bibir merah dan dagu kecil.
“Hmph!” Lana segera menutup hidung dan mulut sewaktu bau menyengat menyeruak, dia juga mengibas tangannya guna menghalau aroma tak sedap tadi. “Dia mabuk ya?” tanyanya pada diri sendiri.
Melihat ke kiri dan ke kanan–sepi–cuma ada satu atau dua orang yang melintas–kemudian melihat keadaan Natha yang tampak mengenaskan. Sudah dia tidak bisa pulang, sekarang menemukan si cewek famous dalam keadaan mabuk. Ibarat peribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Bagaimana ini? Apa yang mesti dia lakukan sekarang?
Mendengar Natha batuk-batuk, Lana jadi kasihan.
“Kamu enggak apa-apa?" tanyanya basa-basi. Meski mabuk, mana tahu masih ada sedikit kesadaran gadis itu.
“Hotel.” Susah payah gadis di kursi kemudi bicara. Matanya terpejam dan sesekali batuk.
“Hotel?”
Kok hotel?
“Cepetan!”
Lana bingung. Kenapa hotel? Apa gadis itu mau ke hotel? Oh! Dia bisa menumpang! Setidaknya ada tempat bernaung malam ini. Dia bisa tanya jalan pulang besok pagi atau meminjam hostpot Natha untuk memesan ojol.