"Ibu, lihat! Apakah potongan buah ini sudah cukup rapi?"
Suara cicit nyaring dari Eun-ji memecah keheningan di dapur berdesain minimalis itu.
Sepasang matanya yang bulat berkedip jenaka, memancarkan binar polos yang selalu berhasil melelehkan hati siapa saja yang memandangnya.
Seo-yeon menghentikan kegiatannya mengaduk adonan krim manis. Wanita itu berjongkok, menyamakan tingginya dengan sang putri, lalu mengusap puncak kepala Eun-ji dengan kelembutan yang kentara. Senyum tulus mengembang di wajah eloknya yang sore itu dipoles riasan tipis alami.
"Anak Ibu hebat sekali. Potongannya sangat rapi," puji Seo-yeon sembari mengecup pipi gembil Eun-ji.
"Sekarang, mari kita hias bagian atas kue ini bersama-sama. Ayah pasti akan sangat terkejut melihat kejutan ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh ini."
Eun-ji bersorak riang, menepuk kedua tangannya yang berlumuran sisa tepung. Di atas meja dapur, sebuah kue tar berlapis beludru merah sewarna mawar tua telah berdiri dengan anggun. Red velvet, kue kesukaan Jae-wook, sengaja dibuat sendiri oleh Seo-yeon sejak siang tadi.
Baginya, angka tujuh bukan sekadar penanda waktu, melainkan sebuah pembuktian bahwa komitmen yang dibangun sejak masa kuliah mampu bertahan melampaui badai apa pun.
Bagi seluruh kolega dan lingkaran sosial mereka di Seoul, kehidupan Seo-yeon dipandang sebagai perwujudan dari sebuah impian. Ia memiliki segalanya. Suami yang tampan, mapan, dan berdedikasi tinggi sebagai direktur eksekutif di perusahaan properti yang sedang menanjak naik.
Seorang putri yang cerdas dan penurut. Serta latar belakang keluarga Seo-yeon sendiri yang dihormati berkat bisnis sang ayah yang stabil.
Seo-yeon sering kali merenung di tengah keheningan malam, merasa bahwa dirinya adalah wanita paling beruntung di atas bumi ini. Tuhan terlalu baik kepadanya, pikirnya kala itu.
Tepat pukul tujuh malam, seluruh persiapan telah rampung. Lilin-lilin kecil beraroma lavender telah dinyalakan di sudut-sudut ruang makan, menciptakan pendaran cahaya temaram yang hangat dan romantis. Eun-ji sudah terlelap di kamarnya sejak setengah jam yang lalu, kelelahan setelah membantu sang ibu mendekorasi ruangan.
***
Seo-yeon berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke halaman depan mansion mereka. Ia mengenakan gaun sutra berwarna krem, senada dengan dekorasi rumah yang ia tata dengan seleranya yang tinggi. Gaun itu adalah hadiah dari Jae-wook pada perayaan tahun lalu.
Suara deru mobil yang familier memecah keheningan malam. Jantung Seo-yeon berdegup sedikit lebih kencang, letupan kebahagiaan yang kekanak-kanakan masih sering melandanya setiap kali sang suami pulang ke rumah.
Ia bergegas melangkah menuju pintu utama, merapikan sedikit lipatan gaunnya sebelum memutar grendel pintu.
"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang," ucap Seo-yeon lembut begitu pintu terbuka.
Jae-wook berdiri di ambang pintu. Pria itu tampak luar biasa tampan dengan setelan jas abu-abu gelap yang melekat sempurna pada tubuh tegapnya. Namun, ada gurat kelelahan yang samar di sudut matanya.
Mendengar sapaan hangat istrinya, senyum menawan yang selalu memikat hati Seo-yeon itu langsung merekah. Jae-wook melangkah maju, merengkuh pinggang Seo-yeon, lalu mendaratkan kecupan hangat di kening wanita itu.
"Maafkan aku, Seo-yeon-ah. Rapat pemegang saham tadi mendadak molor satu jam. Aku takut membuatmu menunggu terlalu lama," bisik Jae-wook, suaranya yang berat terdengar penuh sesal.
"Tidak apa-apa, yang penting kau sudah pulang dengan selamat," balas Seo-yeon, menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang suaminya. Menghirup aroma maskulin khas maskulin yang selalu menenangkannya.
"Ayo masuk, aku sudah membuatkan sesuatu untukmu."
Jae-wook melepas jasnya, menyisakan kemeja putih bersih yang melekat pas di tubuhnya. Saat mereka berjalan menuju ruang makan, mata Jae-wook membelalak menatap hidangan dan dekorasi yang telah disiapkan.
Sebuah buket bunga mawar merah segar berukuran besar tergeletak di atas kursi, bersanding dengan kue tar buatan Seo-yeon.
"Kau melakukan semua ini sendiri?" tanya Jae-wook, tampak terharu. Ia meraih jemari Seo-yeon, mengecup punggung tangan istrinya dengan takzim.
"Aku benar-benar pria paling beruntung karena memiliki istri sepertimu, Seo-yeon. Tujuh tahun ini terasa seperti mimpi yang indah."
Makan malam berlangsung dengan penuh kehangatan. Mereka saling bertukar cerita tentang perkembangan Eun-ji, rencana liburan musim panas mendatang, hingga proyek bisnis baru Jae-wook yang tampaknya akan menuai sukses besar.
Di mata Seo-yeon, Jae-wook adalah sosok pria tanpa cela, seorang suami yang penuh perhatian dan ayah yang protektif.
Setiap kata yang meluncur dari bibir pria itu terdengar seperti janji suci yang tak akan pernah berkarat oleh waktu. Kilau kebahagiaan malam itu begitu menyilaukan, hingga membuat Seo-yeon abai pada bayang-bayang kegelapan yang mulai merayap di sekeliling mereka.
Setelah sesi tiup lilin dan memotong kue, Jae-wook pamit ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum beristirahat.
Seo-yeon tersenyum menyaksikannya berlalu, lalu mulai merapikan piring-piring kotor di atas meja. Ia membawa jas abu-abu milik Jae-wook yang sempat tergeletak di kursi untuk digantungkan ke dalam lemari kerja.
Saat mengangkat jas tebal tersebut, sesuatu yang mengganjal di saku bagian dalam menarik perhatian Seo-yeon.
Bentuknya persegi panjang dan kaku. Berpikir bahwa itu mungkin dokumen penting perusahaan yang lupa dikeluarkan oleh suaminya, Seo-yeon merogoh saku tersebut dengan hati-hati.
Jemari Seo-yeon menyentuh permukaan benda itu. Bukan bundelan kertas dokumen, melainkan sebuah kotak beludru kecil berwarna merah darah.
Jantung Seo-yeon berdesir aneh. Sebuah kejutan? Apakah Jae-wook sebenarnya menyiapkan hadiah perhiasan untuknya, Ia berpura-pura lupa karena kelelahan kerja? Rasa penasaran yang menggelitik membuat Seo-yeon membuka kotak tersebut dengan senyum yang tertahan di bibirnya.
Di dalam kotak itu, berkilau sebuah cincin emas putih dengan mata berlian berbentuk hati yang sangat indah.
Desainnya begitu mewah, elegan, dan tampak sangat mahal. Namun, senyum di wajah Seo-yeon perlahan memudar, digantikan oleh kerutan dalam di keningnya ketika matanya menangkap sesuatu yang ganjil.
Di balik penutup kotak beludru tersebut, terdapat secarik kertas kecil yang terlipat rapi dengan tulisan tangan yang sangat feminim.
***
Dengan tangan yang sedikit bergetar tanpa alasan yang jelas, Seo-yeon membuka lipatan kertas tersebut dan membaca untaian kalimat pendek yang tertulis di sana.
“Terima kasih untuk malam yang indah di akhir pekan lalu. Cincin ini sangat pas di jariku. Aku merindukanmu setiap detik, Sayang.”
Darah di sekujur tubuh Seo-yeon mendadak terasa membeku. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara tatapannya terpaku pada sebaris kalimat yang seketika meretakkan seluruh dinding kebahagiaan yang telah ia bangun selama tujuh tahun ini.
Belum sempat otaknya mencerna rasa sakit yang menghantam, sayup-sayup terdengar langkah kaki Jae-wook yang mulai mendekat keluar dari arah kamar mandi.