“Lihatlah, Jendra, anak kita sangat tampan,” bisik Kirana dengan suara yang masih terdengar letih.
Matanya berbinar penuh kehangatan saat memandangi gundukan bulu keemasan di dalam pelukannya.
Jendra, sang singa jantan bertubuh tegap, bermoncong gagah, mendekat dengan langkah perlahan agar tidak menimbulkan suara berisik. Bulu lebat di sekitar lehernya bergoyang pelan. Ia menundukkan kepala, mengendus lembut dahi bayinya yang masih basah, lalu mendengkus bangga.
“Dia memiliki sorot mata yang tajam seperti kakeknya,” sahut Jendra dengan nada suara yang berat, rendah, dan berwibawa.
“Aku akan menamainya Tobi. Kelak, dia akan menjadi singa yang paling ditakuti di seluruh sabana ini. Suaranya akan menggetarkan bumi, membuat kawanan rusa berlarian, dan membuat musuh gemetar sebelum bertarung.”
Kirana tersenyum mendengar impian suaminya. Bagi Kirana, yang terpenting saat ini adalah Tobi tumbuh dengan sehat.
Ia menjilat puncak kepala Tobi, membuat bayi singa itu menggeliat kecil. Tobi menguap lebar, memperlihatkan gusi merah mudanya yang belum ditumbuhi gigi, lalu kembali meringkuk di dekat kehangatan perut ibunya.
Kabar mengenai kelahiran putra pertama Jendra segera tersebar ke seluruh penjuru wilayah kekuasaan mereka. Sebagai salah satu pelindung utama di bawah kepemimpinan Raja Hutan, Jendra sangat dihormati.
Oleh karena itu, kelahiran Tobi bukan sekadar urusan keluarga kecil mereka, melainkan sebuah peristiwa penting bagi seluruh kelompok singa yang mendiami area Batu Berundak.
Hari demi hari berlalu dengan cepat. Tobi tumbuh menjadi bayi singa yang sangat aktif dan menggemaskan.
Tubuhnya bulat, bulunya halus sewarna madu murni, dan sepasang matanya bulat besar berwarna hijau jernih.
Setiap pagi, ketika matahari baru saja menyembul di ufuk timur dan menyiram sabana dengan warna jingga, Tobi sudah sibuk mengejar capung atau melompat-lompat kecil mencoba menangkap ujung ekor ibunya yang bergerak-gerak.
Jendra sering kali duduk di atas batu tertinggi, mengawasi gerak-gerik putranya dengan dada membusung bangga.
“Kirana, lihatlah bagaimana dia menekuk kaki belakangnya saat mengintai kumbang itu. Insting berburunya sudah mulai terasah sejak dini. Dia benar-benar darah dagingku,” puji Jendra tanpa bisa menyembunyikan rasa senangnya.
“Jangan terlalu menuntutnya sejak kecil, Jendra. Tobi masih bayi,” ujar Kirana mengingatkan sambil membersihkan sisa makanan di sela-sela jarinya.
Meskipun demikian, Jendra tetap tidak sabar menantikan satu hal yang paling krusial bagi seekor singa, auman pertama.
Di dalam kelompok mereka, auman pertama seorang anak singa adalah simbol dari keberanian, kekuatan, sekaligus tanda bahwa ia siap diterima sebagai bagian dari pelindung sabana.
Tradisi di Batu Berundak mewajibkan setiap anak singa yang telah menginjak usia tertentu untuk maju di depan kawanan dan memperdengarkan suara mereka ke langit luas.
Waktu yang dinanti-nantikan itu pun semakin dekat. Pekan depan, upacara pengenalan generasi baru akan dilaksanakan bertepatan dengan malam bulan purnama. Jendra mulai mengajak Tobi ke tempat yang agak sepi untuk memberikan latihan dasar.
“Dengar, Tobi,” kata Jendra suatu sore di bawah naungan pohon akasia yang rindang.
“Menjadi seekor singa berarti kamu harus bisa menguasai keadaan sekitar. Senjatamu yang paling utama sebelum kuku dan taring adalah suaramu. Ketika kamu membuka mulut untuk bersuara, kamu harus menarik napas dalam-dalam dari perutmu, bukan dari tenggorokan. Rasakan kekuatan tanah mengalir ke kakimu, lalu lepaskan semuanya sekaligus.”
Tobi mendongak, mendengarkan penjelasan ayahnya dengan telinga yang tegak berdiri. Ia mengedipkan matanya yang bulat, mencoba memahami kata-kata yang terdengar sangat rumit bagi anak singa seusianya.
“Coba ayah contohkan sekali lagi,” pinta Tobi dengan gerakan kepala yang lucu.
Jendra tersenyum lebar. Ia mengambil posisi berdiri yang kokoh, mencengkeram tanah dengan kuku-kukunya yang kuat, lalu menarik napas panjang hingga dadanya membusung dua kali lipat dari ukuran biasanya. Sedetik kemudian, Jendra membuka rahangnya lebar-lebar.
ROAAAARRRRR!
Suara itu begitu dahsyat, mengguncang dedaunan pohon akasia hingga berjatuhan. Burung-burung yang sedang bertengger di kejauhan langsung terbang berhamburan ke langit karena terkejut.
Tanah di sekitar mereka seolah-olah ikut bergetar menerima hantaman gelombang suara tersebut.
Tobi terkesima. Matanya berbinar-binar penuh kekaguman. Ia merasa sangat beruntung memiliki ayah sehebat Jendra. Di dalam hati kecilnya, tumbuh sebuah tekad yang kuat untuk bisa mengaum sehebat ayahnya agar Jendra dan Kirana bisa tersenyum bangga di depan seluruh kawanan nanti.
“Nah, sekarang giliranmu, Anakku,” ujar Jendra setelah suaranya mereda, menyisakan keheningan di sore yang mulai temaram itu. “Buka mulutmu, tegakkan dadamu, dan biarkan seluruh dunia tahu bahwa kamu adalah calon penguasa sabana yang tangguh.”
Kirana, yang baru saja datang membawa seekor buruan kecil untuk makan malam mereka, menghentikan langkahnya di balik semak-semak.
Ia memutuskan untuk berdiri diam di sana, tidak ingin mengganggu momen berharga antara ayah dan anak tersebut. Kirana ikut menahan napas, menantikan suara pertama dari buah hatinya yang sangat ia cintai.
Tobi melangkah maju ke sebuah gundukan tanah kecil agar tubuhnya terlihat lebih tinggi. Ia mengingat-ingat semua petunjuk yang diberikan oleh ayahnya baru saja.
Kaki-kaki kecilnya yang berbulu tebal mencoba mencengkeram tanah dengan kuat, meskipun cakarnya yang seukuran biji jagung belum bisa keluar dengan sempurna.
Tobi menegakkan punggungnya yang mungil. Ia mulai menarik napas sedalam-dalamnya melalui hidung kecilnya yang berwarna hitam.
Dadanya yang mungil membusung ke depan. Tobi memejamkan mata, mengumpulkan seluruh tenaga yang ada di dalam tubuh kecilnya, lalu menyalurkannya menuju tenggorokan.
Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dadanya. Ini adalah momen yang paling berharga. Ia membayangkan betapa bahagianya sang ayah dan betapa bangganya sang ibu jika mendengar suaranya menggema membelah keheningan sore ini.
Jendra mencondongkan badannya ke depan dengan senyum yang sudah terkembang di wajah gagasnya, siap menyambut auman pertama sang putra mahkota yang akan menggetarkan seluruh isi hutan. Kirana memegangi dadanya dengan perasaan berdebar-debar penuh haru dari balik persembunyiannya.
Tobi membuka rahangnya lebar-lebar, mendongakkan kepalanya ke arah langit, lalu melepaskan seluruh udara yang tertahan di dalam dadanya dengan satu hentakan kuat.