Pagi baru saja merangkak naik ketika Studio Elevate mulai dipenuhi suara musik dan derit pelan tiang krom yang bergesekan dengan telapak tangan para atlet. Cahaya matahari menembus dinding kaca setinggi langit-langit, memantulkan kilau keperakan pada delapan tiang yang berdiri berjajar rapi di tengah ruangan.
Di salah satu sudut, aroma magnesium cair bercampur dengan wangi matras baru, menciptakan bau khas yang selalu mengingatkan Nara pada satu hal. Perjuangan.
Sudah hampir dua tahun ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di tempat itu.
Setiap pagi sebelum matahari benar-benar tinggi, ia datang dengan tas punggung lusuh yang berisi pakaian latihan, botol minum, handuk kecil, dan sepasang grip gloves yang warnanya mulai pudar.
Lalu ia pulang ketika studio hampir kosong, membawa pulang tubuh penuh memar dan telapak tangan yang semakin hari semakin keras. Namun, dua tahun ternyata belum cukup untuk membuatnya menjadi atlet terbaik.
"Nara, ulangi dari awal."
Suara Zane Laurent terdengar tenang, tetapi cukup tegas untuk membuat seluruh ruangan seolah ikut diam.
Nara mengangguk. Ia menarik napas panjang sebelum kembali mendekati tiang. Kedua telapak tangannya yang sudah dilapisi magnesium mencengkeram permukaan logam dingin itu. Dengan satu ayunan kecil, tubuhnya terangkat, kemudian kedua kakinya mengunci tiang sebelum perlahan berpindah ke posisi terbalik.
Beberapa detik pertama berjalan mulus.
Ia mulai melepaskan salah satu kaki, menggeser pusat berat badan ke bahu kanan, lalu mencoba menahan tubuh hanya dengan kekuatan kedua lengan.
Sayangnya, keraguan datang lebih cepat daripada keseimbangannya.
Tubuhnya bergoyang. Ia berusaha memperbaiki posisi, tetapi terlambat.
Bruk.
Matras tebal menahan tubuhnya, meski suara benturannya tetap terdengar cukup keras.
Beberapa atlet menoleh sesaat, lalu kembali berlatih. Pemandangan seperti itu bukan sesuatu yang asing. Dalam olahraga ini, jatuh bukanlah pertanda gagal. Jatuh hanyalah bagian dari proses belajar.
Zane berjalan menghampirinya sambil menyilangkan tangan di dada.
"Kamu tahu di mana letak kesalahannya?"
Nara duduk perlahan sembari mengusap siku kirinya yang terasa ngilu. "Aku kehilangan keseimbangan. Itu akibatnya."
Zane menggeleng pelan. "Penyebabnya?"
Nara terdiam. Ia sebenarnya tahu jawabannya, tetapi selalu sulit mengakuinya. "Aku ragu."
Pelatih itu mengangguk tipis. "Persis."
Zane mengambil sebotol air mineral dari bangku terdekat, lalu menyesapnya sebentar sebelum melanjutkan.
"Pole sport bukan cuma soal otot. Kamu boleh saja punya lengan yang kuat, core yang stabil, atau fleksibilitas yang bagus. Tapi kalau pikiranmu lebih dulu takut jatuh, tubuhmu akan mengikuti."
Nara menundukkan kepala. Kalimat itu sudah beberapa kali ia dengar. Ironisnya, semakin sering mendengarnya, semakin sulit pula ia menghilangkan rasa takut tersebut.
Di sisi lain ruangan, Luna berhasil menyelesaikan rangkaian gerakan yang sama tanpa kesalahan. Tepuk tangan spontan terdengar dari teman-teman satu tim.
Luna baru bergabung delapan bulan lalu. Sedangkan Nara hampir dua tahun.
Perbandingan itu tidak pernah diucapkan siapa pun secara langsung. Namun, angka-angka tersebut sudah cukup untuk membuat Nara merasa tertinggal.
"Latihan kita selesai lima belas menit lagi," ujar Zane kepada seluruh atlet. "Besok simulasi seleksi regional. Pastikan kalian datang dalam kondisi prima."
Jawaban kompak terdengar memenuhi ruangan.
Nara ikut mengangguk, meski dalam hati ia tidak yakin kata prima masih cocok untuk menggambarkan dirinya.
*
Satu per satu atlet mulai meninggalkan studio ketika matahari bergeser ke arah barat. Nara tetap tinggal. Ia duduk bersila di atas matras, meregangkan otot paha sambil menatap tiang yang memantulkan bayangannya sendiri.
Bayangan itu selalu terlihat lebih percaya diri daripada dirinya yang asli.
"Kamu belum pulang?" Suara Zane kembali terdengar.
Pelatih itu kini membawa map berisi jadwal latihan minggu depan. Kaus hitam yang dikenakannya sedikit basah di bagian punggung, tanda bahwa ia ikut membantu latihan sejak pagi.
"Aku mau mengulang gerakan tadi sekali lagi."
Zane memandang jam tangannya. "Hampir enam jam kamu latihan hari ini."
"Masih kurang."
"Menurut siapa?"
Nara tersenyum tipis. "Menurut diriku."
Zane tidak langsung menjawab. Ia hanya memperhatikan gadis di hadapannya selama beberapa saat, seolah sedang menimbang sesuatu.
"Aku pernah melatih atlet yang jauh lebih berbakat daripada kamu, tapi dia berhenti setelah satu tahun karena bosan."
Kalimat itu membuat Nara menegakkan punggungnya.
Zane melanjutkan dengan nada datar, "Aku juga pernah melatih atlet yang perkembangan tekniknya lebih lambat daripada kamu. Semua orang menganggap dia tidak akan ke mana-mana."
"Lalu?"
"Sekarang dia jadi pelatih di Singapura."
Nara mengernyit. "Kenapa Coach cerita begitu?"
"Karena kamu terlalu sibuk melihat siapa yang berlari paling cepat." Zane menunjuk tiang di tengah ruangan. "Padahal olahraga ini bukan sprint. Ini maraton."
Untuk pertama kalinya hari itu, dada Nara terasa sedikit lebih ringan.
*
Setelah memastikan studio benar-benar kosong, Nara keluar sambil mengenakan jaket abu-abu yang kebesaran. Helm dipasangnya, lalu ia menyalakan motor matik tua yang setia menemaninya sejak kuliah.
Di perjalanan pulang, ia melewati baliho besar yang menampilkan foto para atlet nasional dari berbagai cabang olahraga.
Di bagian bawahnya tertulis sebuah slogan.
Mimpi Besar Dimulai dari Langkah Kecil.
Entah mengapa, kalimat itu membuatnya tersenyum.
Mungkin karena ia masih percaya bahwa suatu hari nanti wajahnya juga akan terpampang di tempat seperti itu.
Ia tidak membutuhkan ketenaran. Tidak juga kekayaan.
Ia hanya ingin membuktikan bahwa kerja keras yang dilakukan setiap hari tidak berakhir sia-sia. Namun, mimpi tidak pernah bisa dibayar dengan keyakinan semata.
Ada tagihan listrik. Biaya latihan. Uang sewa kamar. Obat untuk ibunya yang tinggal di kampung. Dan semua itu menunggu untuk dibayar sebelum akhir bulan.
Motor Nara tidak berhenti di rumah.
Ia justru berbelok menuju kawasan bisnis yang mulai ramai oleh lampu-lampu malam.
Di antara deretan restoran dan hotel, berdiri sebuah bangunan bergaya klasik dengan papan nama sederhana yang hanya diterangi cahaya keemasan.
VELVET LOUNGE.
Nara memarkir motornya di pintu samping, jauh dari area utama. Ia memastikan tidak ada orang yang dikenalnya sebelum melangkah masuk melalui lorong khusus karyawan.
Lorong itu sunyi, hanya terdengar samar denting piano dari dalam ruangan utama.
"Syukurlah kamu datang. Jadwal malam ini penuh."
Seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh lima tahun menghampirinya sambil membawa tablet. Namanya Mira, manajer pertunjukan di lounge tersebut.
Nara menerima tablet itu. Empat sesi. Ia mengangkat alis. "Bukannya biasanya dua?"
Mira mengangguk. "Biasanya, iya."
"Lalu kenapa berubah?"
Perempuan itu tersenyum, lalu menyilangkan kedua tangannya. "Karena tamu VIP meminta penampilanmu diperpanjang."
Nara terdiam sejenak. "Kenapa aku?"
"Karena mereka tidak datang untuk melihat penari." Mira menatapnya dengan senyum penuh arti. "Mereka datang untuk melihat Noctis."
Nama itu kembali terdengar asing, meski sudah enam bulan menjadi identitas keduanya.
Noctis.
Perempuan bertopeng yang selalu datang tanpa nama dan pulang tanpa meninggalkan jejak.
Tidak seorang pun di tempat ini mengenal Nara Adhisti.
Dan Nara berharap, keadaan itu akan tetap seperti sekarang.
Sebab jika dua dunianya sampai bertabrakan, ia tahu persis dunia mana yang akan hancur lebih dulu.