


oleh Secret02 · 13 Bab
Dua tahun menikah, Nala dan Nathan lebih sering bertukar sindiran daripada kata cinta. Saat Nala mengajukan surat cerai, Nathan tidak menghentikannya—meski jauh di lubuk hati, mereka masih saling mencintai. Namun, gengsi dan sifat keras kepala membuat mereka sulit mengungkapkan perasaan yang sebenarnya. Melihat pernikahan sahabat mereka di ambang kehancuran, Sam dan Amy berusaha menyatukan keduanya kembali dengan berbagai cara. Siapa sangka dengan menyatukan para sahabat mereka, jadi ada bumbu-bumbu cinta? Apakah cinta bisa mengalahkan ego Nala dan Nathan? Ataukah perpisahan adalah satu-satunya jalan? Ketika gengsi menjadi penghalang, apakah mereka masih bisa mempertahankan cinta mereka?
Sudah dua tahun Natalie Larasati (Nala) dan Nathan Surya (Nate) menikah.
Namun, kehidupan pernikahan mereka terasa hambar—bukan karena tidak ada cinta, tetapi karena keduanya sama-sama terlalu gengsi untuk menunjukkan perasaan mereka.
Nala, seorang jaksa agung yang tegas dan dingin, lebih sering sibuk dengan berkas-berkasnya daripada berbicara dengan suaminya.
Sementara Nate, direktur utama Surya Group, terbiasa menghabiskan waktu dengan pekerjaan daripada memahami istrinya.
Hari libur yang membosankan. Nate memilih untuk duduk santai sambil menatap laptopnya sedangkan Nala memilih untuk fokus pada berkas-berkasnya.
Selembar kertas terletak di atas meja Nathan. Pria itu langsung berhenti menyeruput kopinya.
Nathan mendongakkan kepalanya.
"Apa ini?" tanyanya, menatap Nala yang duduk di seberangnya.
Nala tetap diam dengan menunjukkan ekspresi yang sama. Namun, mengetahui sifat istrinya yang tidak banyak bicara, Nathan tidak terlalu peduli.
Ia mengambil selembar kertas itu kemudian membacanya.
"Kamu mau kita cerai?"
Nala mengangguk.
"Hubungan seperti ini tidak perlu dipertahankan," jawabnya.
Nate menatapnya, ekspresinya tetap tenang meski ada kilatan terkejut di matanya.
"Baiklah."
Jawabannya singkat, dingin, dan tanpa emosi.
Namun, setelah percakapan singkat itu, keduanya sama-sama mencari saran dari teman dekat mereka Amy untuk Nala, dan Sam untuk Nate.
"What? Kalian mau cerai?" tanya Amy dengan suara melengking.
Nala mengangguk sebagai jawaban 'iya'. Amy menggeleng tak percaya.
"Ya ampun Nala! Kamu yang ajukan perceraian sama Nathan Surya?"
Nala mengangguk lagi membuat Amy semakin jengkel dengan sahabatnya ini.
"Kau bisa menggunakan mulutmu untuk menjawab," cerca Amy.
"Aku rasa hubungan kami tak bisa dipertahankan, My. Nathan tidak menyukaiku," Nala akhirnya mengeluarkan suara emasnya.
Amy menghela napas.
"Nate itu bukan tidak mencintaimu, dia hanya tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Kalau tidak, mana mungkin dia menikahi mu kan? Kenapa kamu tidak mencoba menunjukkan perhatian lebih dulu?"
Nala menghela nafasnya.
"Dia dingin kali sih."
Seketika suasana menjadi senyap. Nala menatap wajah Amy yang terlihat kesal.
"Kamu lebih dingin bodoh! Bisa-bisanya ada jaksa yang begini," tukas Amy.
"Jadi aku harus bagaimana?"
Amy memperhatikan wajah Nala lamat-lamat.
"Kamu masih cinta Nathan bukan?"
Nala mengangguk.
"Kalau begitu jadilah wanita agresif!"
"Apa? Itu tak sesuai kepribadianku!"
"Kalau begitu kau harus lebih perhatian... Seperti siapkan makanan untuknya, lepaskan dasinya setelah selesai pulang kerja."
Nala mulai mengimbangi perkataan temannya Amelia. Jika ia sudah berupaya namun tetap tidak ada perkembangan juga dengan hubungan mereka, maka berpisah adalah jalan terbaik.
---
Keesokan harinya, ia pulang lebih awal dan memasak untuk pertama kalinya. Ia menata meja makan dengan hati-hati, menunggu reaksi Nate.
"Ini percobaan pertama kali aku memasak. Apa Nate mau memakannya?" batin Nala.
Tidak berapa lama kemudian Nathan datang dan langsung menaiki tangga lantai dua. Nala melihat dengan jelas Nathan lewat di depannya, namun gadis itu tidak berani untuk berbicara.
"A-anuu Nathan, di meja." Nala terlalu gugup untuk berbicara. Kenapa rasanya tatapan Nathan terlalu mengintimidasinya?
Nathan melihat meja makan yang penuh hidangan.
"Kau membelinya?" tanyanya dengan nada datar.
Nala, yang tiba-tiba merasa gugup, berbohong. Ia takut Nathan tak mau memakan makanan masakannya.
"Iya."
Layaknya master chef, Nala merasa deg-degan saat Nathan ingin mencoba masakannya. Nate mengambil satu suapan, lalu mengerutkan keningnya.
"Tidak enak. Ini beli di mana?"
Nala menunduk lemas sudah ia duga Nathan pasti bereaksi seperti ini. Apalagi jika Nate tahu ini masakan Nala, ia semakin menyesal menikah dengan gadis itu.
"Aku pesan makanan yang lain. Kamu mau apa?" tanya Nate sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat wajah Nala yang menunduk.
Nala tersenyum kecut.
"Aku sudah makan kok."
Setelah menjawab singkat, Nala naik ke lantai dua tanpa menoleh sedikitpun. Tapi Nate tidak heran, karena Nala selalu bersikap seperti ini padanya.
Nathan menghela nafasnya ia membuang semua makanan yang ada di piring. Namun pandangannya teralihkan saat melihat banyak tumpukan alat penggorengan yang kotor.
Selain itu, di tudung juga terdapat sedikit sisa makanan yang dihidangkan Nala tadi.
"Ya ampun Nate, kau ini kejam sekali! Ini pertama kalinya Nala memasak untukmu dan kau mengecewakannya. Apa aku harus minta maaf? Tidak-tidak. Pasti Nala tambah malu kalau aku tahu itu masakannya. Pura-pura tidak tahu aja deh."
Nala menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. Hari yang melelahkan dan membosankan. Ia membayangkan kehidupannya yang bisa membahagiakan.
Nala melihat kalender di ponselnya. Dua hari lagi adalah hari ulang tahun ayah mertuanya. Pasti akan ada acara besar makan malam.
"Apa Nathan tahu ini," batin Nala.
Tok tok
"Nala, ini aku. Apa kita bisa bicara?"
Nala segera membuka pintu kamar untuk Nathan. Gadis itu memasang wajah datar seperti biasa.
Nate menatapnya.
"Besok adalah ulang tahun Ayah. Aku harap kau bisa meluangkan waktumu untuk datang."
"Baiklah."
Nala hendak menutup pintu kamar namun Nathan dengan cepat menahan pintunya.
"Makasih ya."
"Atas dasar?"
"Makasih sudah mau menemaniku."
Nala terdiam, lalu mengangguk pelan sebelum menutup pintu. Saat itu, dadanya berdebar aneh. Ia menutupi wajahnya dengan bantal sambil memukuli kasur.
"Makasih ya."
Kalimat itu terus terngiang-ngiang di kepalanya. Ini untuk pertama kalinya Nathan berterima kasih walaupun alasannya tak masuk akal.
Sementara Nathan masih berdiri di depan kamar Nala. Wajahnya bersemu merah, melihat Nala tersenyum padanya.
"Wajahnya tidak sedatar itu saat tersenyum."
Nathan segera mengirimi pesan pada temannya. "Makasih, Sam. Ini sangat membantu."
---
Waktu sore yang indah, dengan hari yang cukup baik. Nala melangkah keluar setelah siap bersolek dengan dandanan sederhana.
Tapi tetap saja, mau bagaimanapun Nala selalu terlihat cantik bahkan saat natural.
Nathan pun ikut turun dari lantai dua. Ia memperhatikan Nala yang sudah siap sedia untuk berangkat.
Pada hari ulang tahun ayahnya, mereka pergi bersama. Nate, seperti yang disarankan Sam, mulai mencoba berbicara lebih terbuka.
"Aku membeli Ferrari terbaru untuk hadiah Ayah. Menurutmu dia akan menyukainya?"
Nala menoleh, terkejut karena Nate memulai percakapan. "Ayah akan menyukai apapun yang kau berikan."
Nate tersenyum. "Terima kasih, Nala."
Interaksi singkat ini saja membuat Nathan dan Nala bahagia. Walaupun keduanya sama-sama menunjukkan wajah arogannya.
Di dalam mobil, Baik Nathan maupun Nala tidak mengeluarkan suara sama sekali. Hanya ada musik yang mengiringi perjalanan mereka.
Walaupun begitu, keduanya menunjukkan sikap yang hangat kepada keluarga mereka.
"Tante Nala!" teriak Bima memeluk gadis cantik nan dingin ini. Bima merupakan anak dari kakak kandung Nathan yang berumur 7 tahun.
Nala tersenyum dan merubah posisinya setengah jongkok.
"Wah, Bima sudah tinggi ya?!"
Bima mengangguk dan tersenyum menunjukkan deretan giginya yang rapi.
---
Kehadiran mereka berdua disambut dengan bahagia oleh keluarga Taehyung. Tapi tidak terlepas dari pertanyaan biasa.
Kapan punya anak?
Di mana pun mereka berada, pasti pertanyaan itu ada. Tapi kali ini Nala tertegun saat Nate menjawab pertanyaan yang dilontarkan kakaknya.
"Pasangan yang sudah menikah itu bukan sesuatu yang harus punya anak. Tapi saling mencintai, melengkapi, membangun suatu hubungan yang baik. Kalau sudah saatnya, pasti kami juga nanti punya anak."
Irene terbungkam. Adiknya sudah dewasa ternyata. Salahnya jika bertanya yang aneh-aneh pada Nathan.
Nate menyudahi acara makannya, dan hendak pergi meninggalkan perkumpulan keluarga.
"Mau ke mana?" tanya Nala mencegat tangan Nathan.
"Aku sudah kenyang. Kamu makan aja," jawab Nathan setelah melepas tangan Nala dari pergelangan tangannya.
Nala tersenyum malu melihat sikap Nathan pada keluarganya sendiri.
"Maaf Ma, Pa. Nala bujuk Nathan dulu."
Ayah dan ibu Nathan mengangguk. "Iya," jawab keduanya.
Setelah Nala pergi, Rena menatap kesal ke arah Irene.
"Maaf Ma, keceplosan," Irene tertawa cengengesan.
Lupakan acara maaf dari Irene, sekarang kembali ke Nala yang mengejar Nathan dari belakang. Gadis itu mengetuk pintu dan masuk ke kamar setelahnya.
"Kenapa kemari? Kamu gak makan?" tanya Nathan mengubah posisinya menjadi duduk bersila.
"Kamu mau kita punya anak?"

Secret02
0 Pengikut · 1 Novel