Nara masih terdiam di tempatnya. "Tu-Tuan, kenapa di sini ada pemandangan seindah ini?" Nara benar-benar tidak menyangka jika di tempat itu dia akan menemukan tempat yang indah.
"Kamu tidak akan menyangka jika di sini memang ada tempat yang indah. Oleh karena itu mendiang ayahku membelikan rumah di sini untuk ibuku karena ayahku tau jika wanita yang sangat dia cintai itu sangat menyukai pemandangan alam."
Jaden mengingat saat dia masih kecil sering diajak kedua orang tuanya bermain di danau itu.
"Tuan mau ke mana?" Nara tiba-tiba melihat Jaden berusaha turun dari kursi rodanya.
"Aku mau turun dan masuk ke dalam danau itu."
"Hah? Untuk apa? Tuan mau bunuh diri?" Pekik Nara yang kaget melihat apa yang akan dilakukan oleh Jaden.
"Kalau aku mau bunuh diri, nanti siapa yang akan menyiksa kamu jika kamu gagal dalam perjanjian yang sudah kita buat?"
Nara kembali mengerucutkan bibirnya kesal mendengar jawaban Jaden. Nara membantu Jaden duduk pada batu besar di tepi danau. Nara pun ikut duduk di sebelah Jaden.
"Airnya jernih sekali. Aku jadi ingin masuk ke sana, tapi–." Nara melirik pada Jaden.
"Kenapa? Kalau mau mandi di sini, tidak akan ada yang melihatmu. Lagipula aku juga tidak akan tertarik walaupun kamu membuka bajumu."
"Sebenarnya aku tidak bisa berenang, Tuan JL. Jujur saja aku takut sebenarnya berada di dekat tempat yang banyak airnya seperti pantai atau danau, tapi aku selalu mencoba melawan ketakutan itu dengan datang ke sana karena pemandangannya sangat indah bagiku."
"Kenapa tidak mencoba melawan ketakutanmu sama suara petir dan guntur dengan berdiri di luar sewaktu hujan?"
"Aku pernah coba, tapi selalu saja kejadian mengerikan itu yang muncul. Itu yang belum bisa aku lupakan." Nara tampak terduduk sedih.
"Kejadian? Kejadian apa?" Entah kenapa Jaden malah penasaran dengan cerita Nara.
"Waktu aku masih duduk di bangku SMP, aku pernah ditinggal di rumah sendiri oleh kedua orang tuaku karena mereka ada urusan ke luar kota, aku yang tidak mau ikut karena besok ada ujian memilih tinggal di rumahku sendirian karena berpikir besok kedua orang tuaku juga sudah pulang. Ibuku menitipkan aku sama tetangga sebelah rumahku." Nara mengusap air matanya.
Jaden dapat melihat kesedihan di wajah Nara. "Lantas, apa yang terjadi?"
"Malam itu, saat aku mau tidur. Pintu rumahku diketuk oleh seseorang dan memang di luar sedang hujan deras. Aku yang membuka pintu melihat ada suami dari tetangga sebelah rumahku datang. Dia bilang ingin memeriksa apa aku takut tidur sendiri, tapi saat aku bilang tidak apa-apa, dia malah masuk dan bilang akan menemaniku sebentar di sana. Aku bilang jika aku tidak takut dan tidak mau menyusahkannya, tapi dia malah mendekap mulutku dan membawaku ke dalam kamar." Nara malah menangis lebih keras.
"Apa dia sudah menodaimu?" Wajah Jaden tampak serius.
Nara menggeleng pelan. "Aku berhasil lolos karena menusuk perutnya dengan gunting yang ada di atas meja. Aku yang sangat ketakutan mencoba berteriak minta tolong, tapi suara petir dan guntur yang kala itu hujannya sangat lebat sehingga tidak ada yang mendengar karena sudah malam juga. Aku benar-benar bingung, apa lagi melihat tanganku berlumuran darah. Aku berjalan keluar dan pergi ke rumah istri pria itu. Setelah itu aku jatuh pingsan dan tidak tau apa yang terjadi. Dua hari setelah kejadian itu, kedua orang tuaku membawaku pergi dari tempat tinggalku yang lama dan kami pergi ke suatu tempat yang baru. Di sana aku tinggal sampai aku dewasa."
"Pria itu iblis. Bisa-bisanya dia melakukan hal seperti itu pada anak kecil." Kedua rahang Jaden tampak mengeras menahan marah karena mendengar cerita Nara.
"Oleh karena itu aku sangat takut saat hujan lebat, apa lagi disertai suara petir dan guntur yang sangat keras karena hal itu mengingkatkan aku pada wajah pria yang ingin menodaiku." Nara menghapus air matanya.
"Aku tidak menyangka, di balik sikap keras kepala dan sok kuatmu, ternyata kamu memilik masa lalu yang sangat buruk. Sudah, kamu jangan menangis lagi."
"Tuan JL, jangan mencipratiku dengan air!" Nara mencoba menghindar dari cipratan air yang Jaden ciptakan dengan tangannya.
**
Jaden melihat Nara yang masuk lebih dalam ke tengah danau karena Nara ingin melawan ketakutannya di dalam air.
"Tidak perlu takut karena kamu tidak akan tenggelam. Danau ini tidak terlalu dalam dan kamu bisa berjalan perlahan di dalamnya."
Nara mencoba mengambil napasnya beberapa kali. Dia mencoba menenangkan dirinya.
"Ternyata menyenangkan sekali bisa berada di dalam air seperti ini."
"Suatu hari kamu harus belajar untuk bisa berenang agar kamu benar-benar tidak merasa takut atau khawatir saat berada di dalam air."
"Tuan JL apa tidak mau belajar berenang walaupun hanya menggerakkan kedua lengan saja? Aku pernah membaca artikel di mana orang yang lumpuh masih bisa tetap berenang hanya dengan menggerakkan kedua lengannya."
"Aku juga pernah membaca tentang hal itu, tapi aku tidak mau melakukannya." Jaden ini bisa berenang, tapi sejak kakinya lumpuh dia seolah takut untuk melakukannya lagi, apa lagi setelah kejadian buruk yang dia alami akibat terapisnya yang dulu.
"Kenapa? Tuan, takut?"
Jaden seketika memberikan tatapan tajamnya. "Kenapa? Kamu mau memaksaku?"
Nara mengangguk beberapa kali dengan wajah tanpa rasa takut. "Aku ingin Tuan JL melakukannya karena itu juga bisa menjadi salah satu terapi untuk Tuan."
Nara berjalan perlahan mendekat pada Jaden. Pria itu mencoba memundurkan tubuhnya menjauh dari Nara.
"Nara, sebaiknya kita pulang saja karena aku sudah lapar."
"Aku juga lapar, tapi aku ingin melihat Tuan JL melakukan hal baru."
"Itu bukan hal baru, Nara! Aku sudah pernah melakukannya dan berakhir dengan aku hampir mati tenggelam jika Reno tidak menolongku karena terapis bodohku dulu yang malah menertawakan aku."
Langkah Nara seketika terhenti dan dia meraih perlahan tangan Jaden. Jaden yang tertegun dengan sikap Nara malah terdiam menatap wanita di depannya.
"Tuan JL jangan khawatir karena aku tidak akan meninggalkan Tuan JL, walaupun aku juga takut di dalam air, tapi aku tidak akan membiarkan Tuan kenapa-napa di sana. Ikutlah sebentar denganku dan Tuan bisa memelukku."
Nara menarik Jaden perlahan dan memeluknya sembari berjalan menuju tengah danau.
"Kita akhirnya bisa sampai ke tengah danau. Jujur saja sebenarnya aku masih ada sedikit rasa takut, tapi aku coba melawannya."