Pagi di Amsterdam selalu memiliki melodi tersendiri, riuh rendah sepeda yang melintas di jalan berbatu, desau angin yang menari di antara kanal-kanal, dan aroma khas roti gandum yang baru dipanggang dari kedai di ujung blok. Namun, pagi itu, Annelies van der Meer tidak mendengar apa pun. Dunia di sekelilingnya membisu, seolah diredam oleh gumpalan kapas tebal yang menyumbat seluruh indranya.
Ia hanya bisa merasakan dinginnya keramik lantai di bawah telapak kakinya yang telanjang, dan bobot amplop tebal berwarna krem di tangannya yang gemetar.
Dua garis merah jambu pada alat tes kehamilan yang tergeletak di meja dapur bagaikan dua goresan kuas takdir yang baru saja meruntuhkan seluruh kanvas kehidupannya yang teratur.
Annelies, seorang guru les privat berusia dua puluh enam tahun dengan hidup yang tertata rapi, tidak pernah menyangka akan dihadapkan pada absurditas semacam ini. Ia bukan remaja yang takut akan “kecelakaan”, juga bukan wanita dewasa yang sembrono.
Ia Annelies, si pendiam yang hidupnya terangkai dari buku-buku tebal, irama piano klasik, dan secangkir the herbal hangat sebelum tidur. Tubuhnya adalah sebuah kuil yang belum pernah disentuh, sebuah fakta yang ia yakini dengan keyakinan dogmatis.
“Ini, tidak mungkin,” bisiknya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Kata-kata itu terasa asing di lidahnya, seperti bahasa yang baru pertama kali ia pelajari.
Jantungnya berdebar kencang, memukuli tulang rusuknya seolah ingin melarikan diri dari sangkar. Ia mencoba mencari celah, retakan logika dalam kenyataan yang terpampang nyata di depan matanya.
Mungkin, alat tes itu rusak. Mungkin, ia salah membaca. Atau mungkin, ini hanya mimpi buruk yang akan segera berakhir dengan desiran alarm jam weker.
Tangannya terulur meraih ponsel, jemarinya menari gelisah di layar. Ia mencari, mencari apa pun yang bisa membenarkan atau bahkan membantah kegilaan ini.
Forum daring, artikel medis, hingga mitos-mitos kuno tentang “kehamilan tak wajar”, semua dibacanya dengan pandangan nanar. Setiap kata hanya menusuk lebih dalam, menguatkan apa yang ia takuti, gejala-gejala itu, mual di pagi hari, rasa lelah yang tak kunjung hilang, dan perubahan pada tubuhnya yang ia abaikan sebagai “hanya stres”.
Pandangannya beralih ke kalender dinding di dapur, lingkaran merah di tanggal 15 Mei tampak begitu mencolok. Tepat enam minggu yang lalu. Tanggal operasi cabut gigi bungsu di Klinik St. Jude. Klinik ternama dengan reputasi mentereng, tempat dokter-dokter terbaik berkumpul, fasilitas steril, dan pelayanan kelas atas. Sebuah operasi rutin yang ia jalani di bawah pengaruh bius total.
Memori tentang hari itu kabur, hanya menyisakan samar-samar ruang operasi yang dingin, aroma antiseptik yang menusuk hidung, dan suara perawat yang menenangkannya sebelum ia jatuh ke dalam kegelapan.
Itu adalah satu-satunya memori “janggal” yang ia miliki selama beberapa bulan terakhir. Satu-satunya saat ia benar-benar tak sadarkan diri, sepenuhnya pasrah di tangan orang lain. Namun, korelasi antara cabut gigi dan kehamilan? Itu adalah lompatan logika yang terlalu jauh, terlalu fantastis, bahkan untuk pikiran Annelies yang mulai putus asa.
“Tidak, ini omong kosong.” Ia mencoba meyakinkan dirinya lagi, suaranya lebih tegas kali ini, meski tetap gemetar. Ia menekan tombol panggilan darurat pada ponselnya, menghubungi nomor ibunya, Margot. Namun, jari-jarinya membeku tepat di atas layar.
Bagaimana ia bisa menjelaskan ini pada ibunya? Margot, seorang penganut Katolik taat, akan hancur mendengar berita ini. Tidak hanya karena ia hamil di luar nikah, tetapi karena ia hamil tanpa pernah, entahlah, tanpa pernah melakukan apa yang seharusnya dilakukan.
Citra Annelies sebagai anak baik-baik, sebagai lambang kemurnian yang terjaga, akan runtuh berkeping-keping.
Air matanya mulai menetes, perlahan membasahi pipi. Itu bukan tangisan histeris, melainkan tetesan kesedihan yang hening, refleksi dari jiwa yang perlahan terkoyak.
Ia merasa kotor, tercemar, meski ia tahu ia tidak melakukan kesalahan apa pun. Rasa bersalah yang tak beralasan itu membebani dadanya, seolah ia telah melanggar sumpah sucinya sendiri.
Ia bangkit, kakinya terasa seperti jeli. Melangkah menuju cermin besar di kamar tidurnya. Dipandanginya pantulan dirinya di sana.
Wanita dengan rambut pirang kecokelatan yang biasa ia kuncir rapi, mata abu-abu yang biasanya tenang dan memancarkan kecerdasan, kini terlihat kosong dan dipenuhi ketakutan.
Perutnya masih rata, tak ada tanda-tanda yang jelas dari kehidupan yang bersembunyi di dalamnya. Namun, ia tahu, di suatu tempat di dalam sana, sebuah keajaiban biologis yang mengerikan sedang terjadi.
Pikirannya melayang pada konsekuensi. Pekerjaannya, masa depannya, reputasinya. Sebagai guru les privat, ia bergantung pada kepercayaan orang tua murid.
Bagaimana mereka akan memandangnya? Bagaimana ia akan mengajar anak-anak tentang moral dan etika, sementara hidupnya sendiri menjadi sebuah anomali moral? Dunia yang ia kenal, yang ia bangun dengan susah payah, kini berdiri di ambang kehancuran.
Sebuah keputusan harus dibuat. Ia tidak bisa hanya duduk diam dan membiarkan badai ini melindasnya. Jika ini memang kenyataan, maka ia harus menghadapinya. Namun, bukan dengan menerima begitu saja. Ia harus mencari tahu. Ia harus memahami. Apa yang sebenarnya terjadi pada pagi itu, enam minggu yang lalu, di klinik yang seharusnya menjadi tempat yang aman dan steril?
Dengan tekad yang baru, meskipun masih diselimuti ketakutan, Annelies meraih ponselnya sekali lagi. Kali ini, ia menghubungi nomor laboratorium kota, tempat ia sering melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Ia akan melakukan tes ulang. Tes yang lebih akurat, lebih resmi. Ia akan mencari jawaban.
Sinar matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah gorden, menyinari debu-debu yang menari di udara. Udara terasa tipis, Annelies menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya dengan keberanian.
Pagi itu mungkin asing, ia tidak akan membiarkannya menjadi pagi terakhir dari kehidupan yang ia kenal. Ini adalah awal dari sesuatu yang baru, sesuatu yang tak terduga, dan Annelies van der Meer, si pendiam itu, entah bagaimana, tahu bahwa ia harus berjuang.