


oleh pena_bathul · 105 Bab
Menikahi wanita yang tidak dicintai, membuat Alvin begitu membenci Alina. Kebencian itu pun didukung oleh sang ayah yang juga tidak menyukai Alina serta kedua orang tua Alina. Karena alasan yang tidak pasti, sebuah fitnah pun terlontarkan dari lisan ayah mertuanya. Bahwa orang tua Alina bersekutu dengan jin. Hal tersebut membuat Alina marah dan tidak terima. Ia pun bertekad mencari bukti untuk membersihkan nama kedua orang tuanya. Dapatkah Alina mematahkan fitnah tersebut? Lalu, bagaimanakah kisah selanjutnya dengan percintaan rumah tangga Alina dan Alvin?
Setelah pertengkaran hebat dengan ibunya, Alvin membanting pintu kamarnya dengan keras. Dentuman kuat mengguncang dinding di belakang pintu, Alina terlonjak ketakutan dan refleks memegangi dada yang berdebar.
"Apakah semua barangmu sudah siap?" lontar Alvin tanpa menoleh.
"Sudah, Mas."
"Kalau bukan karena paksaan Mama, aku enggak sudi bawa kamu."
Alina hanya bisa mengangguk, matanya berkaca-kaca. "Iya, Mas."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Alina, berdesir jatuh membasahi pipi. Napasnya tersengal menahan kesedihan yang mendalam.
"Nangis saja kamu bisanya, cepat keluar!" bentak Alvin dengan nada mematikan, bagaikan halilintar menyambar.
Alina menunduk, mencengkeram tasnya yang menjadi simbol kekuatan dalam keputusasaan. Alvin beranjak meninggalkan kamar dengan langkah berat penuh amarah, diikuti oleh Alina yang lembut menyeka air matanya berusaha menguatkan hati yang remuk.
Duka mendalam masih menyelimuti hati Alina setelah kepergian kedua orang tuanya. Harusnya suaminya, Alvin, menjadi tempat berlindung di masa-masa sulit ini. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Kekerasan emosional mulai menjadi santapan sehari-harinya.
"Alvin, tolong jangan kasar sama Alina. Kenapa kamu berubah sih?" tegur Lia, ibu Alvin, rasa tidak nyaman tergambar jelas di wajahnya.
Alvin, dengan raut muka merah padam dan nafas yang tersengal, hanya melengos keluar rumah tanpa menggubris. Pintu ditutupnya dengan sebuah hantaman yang membuat jendela bergemericik.
Alina, dengan mata berkaca-kaca, berusaha mempertahankan ketegaran. "Ma, jangan khawatir, aku baik-baik saja," katanya sambil memeluk mertuanya, mencari sedikit kenyamanan. "Kami pamit dulu, Ma."
Lia memandang Alina dengan penuh penyesalan.
"Maafkan mamah, Al. Mungkin mamah yang salah, terlalu memaksamu. Seharusnya kalian diberi waktu untuk saling mengenal lebih dalam lagi," ucapnya lembut, seraya membalas pelukan Alina.
Alina tersenyum tipis, tangan lembutnya dengan perlahan menyentuh tangan mama mertuanya yang berkulit keriput. Namun, senyumnya itu tidak lama, hanya sebentar sebelum dia meninggalkan rumah. Gerutuan suaminya masih terdengar di kejauhan saat dia berlari menuju mobilnya.
Ketika sampai di mobil, Alina menatap ke luar jendela dengan tatapan kosong, tak sadar akan mata tajam suaminya yang menembus pandangan, bagai belati yang siap mengiris hatinya. Pintu mobil terbuka dengan cepat dan Alvin tampak berdiri di sampingnya.
"K-kenapa Mas?" tanya Alina dengan suara gemetar.
"Keluar ... tempat itu untuk tas aku!" jawab Alvin dengan nada berang yang terpotong-potong, matanya menyiratkan kemarahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Alina menelan ludah, kecewa bercampur ketakutan.
Kendaraan roda empat jenis offroad itu melaju meninggalkan keramaian kota. Hanya suara deru mesin mobil serta musik klasik menjadi pengisi suasana di dalam kesunyian tersebut. Keduanya sama-sama mengunci mulut, terlebih Alina tidak ingin kembali terkena semburan sang suami.
‘Mengapa wanita tak tahu diri ini, hadir dalam hidupku! Tuhan ....’ Alvin membatin setelah sekilas melirik wanita yang tengah menutup mata di belakang sana.
Alvin sudah tidak sabar untuk segera sampai ke gunung yang baru saja ditemukan oleh para penjelajah alam. Gunung tersebut diberi nama Gunung Dinding. Dinamakan demikian karena gunung tersebut sangat tinggi, dapat melihat seluruh alam di bawahnya dengan bebas.
Sebagai pencinta alam, ia tidak ingin melewati kesempatan untuk menjelajahi tempat tersebut. Tepat jam lima sore mereka tiba di persimpangan jalan yang membuat Alvin bimbang, karena terdapat tiga jalur tanpa petunjuk.
“Kata orang kemarin belok kanan.”
Dengan mantap Alvin membelokan kendaraanya, ban mobil tersebut menerobos jalan yang ditentukan, melindas rerumputan yang tumbuh liar di jalan setapak. Meskipun hatinya menaruh rasa ragu, hanya karena ambisi ia menepis perasaan tersebut.
‘Kalau tersesat, ya. Tinggal putar balik,” batinnya.
Rute jalan yang rusak sedikit menghambat perjalanan, sehingga membutuhkan waktu sampai pada tempat tujuan. Seketika saja dentuman keras menghantam di bawah mobil, memutuskan Alvin menghentikan kendaraannya, lalu keluar untuk mengecek kondisi di bawah sana yang terlihat aman saja.
Namun, saat ia hendak kembali melanjutkan perjalanan, tiba-tiba saja mobil tersebut tidak ingin menyala sekali pun. Alvin mengusak rambutnya frustasi.
Pria itu mengayunkan tangannya, menghantam dasbor mobil hingga suara dentingan keras memenuhi udara di sekitarnya. Alina yang tertidur tersentak, matanya terbuka lebar, lalu napasnya tertahan sejenak.
"A-apa yang telah terjadi?" Tangannya menekan dadanya yang berdegup kencang. “Mas Alvin, kita di mana?”
“Hutan.”
“Oh ... kelihatannya seru ya! Pasti ramai pendaki lainnya.”
“Cih ... diam saja kamu! Malas aku dengar suaramu.”
“Baiklah ...,” lirih Alina setelah mendapatkan makian dari suaminya.
Alina memajukan sedikit bibirnya, lalu menatap keluar jendela melihat pemandangan yang tak biasa. Pepohonan yang tumbuh saling mengimpit, bahkan saling melilit seolah-olah tidak ingin terpisahkan. Menciptakan dedaunan saling menyatu menghalang sinar matahari yang hendak menerangi.
“Keluar kamu!” lontar Alvin membentak.
Dengan tas masing-masing di pundak, Alvin memutuskan untuk melanjutkan dengan berjalan kaki. Dari informasi yang ia dapati, gunung tersebut tidaklah terlalu jauh.
“Ingat jangan manja, jangan menyusahkan aku!”
“Iya Mas, aman ..., aku suka banget tempat begini.”
“Bullshit ... aku tahu kamu berbohong. Kamu wanita manja dan tak tahu diri, ngerti apa kamu tempat begini!” timpal Alvin seolah-olah menyikut hati Alina.
“Walaupun pertama kalinya, aku suka kok, Mas. Beneran.”
“Terserah, jangan sampai kamu meminta bantuanku,” lontar Alvin semakin mempercepat langkahnya. Mereka terus berjalan tanpa jeda, lantas membuat Alina merasakan lelah yang luar biasa.
“Huff ... Mas istirahat dulu, aku capek!” pinta Alina dengan suara yang tersendat-sendat, dadanya pun terasa sesak seperti ditimpa beton dengan bobot yang begitu berat.
“Kita baru jalan sedikit, begitu aja sudah capek, enggak becus banget sih!”
“Huff ... istirahat dulu yah?”
“Enggak! Kamu pikir waktu kita ini panjang? Sangat mepet Alina, ini sudah mau senja,” omel Alvin membuang wajah kesal.
Alina terpaksa menurut saja. Walaupun sangat lelah dengan kaki yang mulai gemetaran, ia berusaha menyanggupi permintaan sang suami.
“Mas, kaki aku sakit. Istirahat ya, aku mohon!” pinta Alina wajah yang telah bercucuran keringat sebesar biji jagung.
Namun, Alvin tetap tidak menghiraukannya. Ia melempar kayu sebesar tangan anak bayi ke arah Alina. Dengan spontan Alina melindungi kepalanya menghindari kayu tersebut.
“Pakai kayu itu!”
“Percuma Mas, kaki aku sakit."
“Aaakhh! Sialan, kamu itu menyusahkan hidupku tahu. Kenapa sih, kamu lahir ke dunia ini hanya untuk menyusahi aku.”
Meski tersinggung dengan lontaran pedas itu, Alina masih mampu memakluminya. Sebab, pria itu masih belum bisa menerima dirinya.
“Aku tunggu di atas sana, aku tidak mau membuang waktu terlalu lama di bawah sini,” ujar Alvin menunjuk puncak bukit yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berhenti.
“Iya Mas, nanti aku susul.”
Alvin langsung beranjak dari sana, meninggalkan Alina seorang diri di bawah bukit tersebut. Walaupun takut Alina berusaha untuk setenang mungkin, berada di tempat yang asing dan redup dari cahaya matahari.
Mata Alina mulai menelisik di sekitarnya, sesekali suara burung berkicau keras memecahkan keheningan yang tercipta. Wanita itu mengelus-elus tangannya yang merasa tidak nyaman. Mata Alina seketika membelalak saat sebuah pergerakan di dalam hutan bergerak dengan cepat, bersembunyi di balik pohon besar
‘Perasaanku aja kali ya?’ bisik Alina dalam hati.
Alina pun menyandarkan tubuhnya ke dahan pohon yang lumayan besar. Tak lama wanita itu kembali terlonjak, mendengar suara ranting terinjak dari dalam hutan tepat di depannya.
“Duh ... amit-amit kalau itu monyet atau macan.”
Tidak berselang lama terdengar derap langkah yang begitu keras, seperti seseorang tengah menuruni bukit tersebut. Pikir Alina suara itu dari langkah Alvin yang mendatanginya. Namun, kenyataannya, sesosok wanita tengah berlari kencang menuruni gunung kecil tersebut. Sembari menatap tajam ke arah Alina, tangannya terulur panjang ke depan.
“Aaaakkkhhh ....” Alina menjerit kencang dengan tubuh gemetar, saat sosok tersebut melayang-layang di atas kepalanya dengan mata yang mendelik tajam.
“Mas Alvin, tolong ...," jerit Alina. Tubuhnya terasa membeku karena rasa merinding yang mulai menyebar ke seluruh tubuhnya.
Bersambung.

pena_bathul
11 Pengikut · 1 Novel